For A Great Love

For A Great Love
episode 95 titik terang



"Ki, lo nggak papa? " Noval berlari menghampiriku setelah Pak Pandu meninggalkan ruangan


"nggak papa kok val! " jawabku


"Apa yang terjadi di dalam? " tanya Bu Bintang


"Pak Bagaskara terlalu emosi, sampai-sampai dia kena serangan jantung"


" Kiand, ayo ikut gue! pandu mau lo ke rumah sakit! " ujar Pak Yoga


"aku ikut! " Sahut Bu Bintang


"gue juga! " lanjut noval


"Oke! kalian ikut mobil gue aja, je.. lo gimana? " tanya Pak Yoga pada Pak jefry


"Gue nggak usah ikut, nanti terlalu banyak orang disana! "


"iya, gue juga balik deh....! " ujar Kak Nanda


"oke kalau gitu, ayok, pandu pasti butuh kita! " ajak Pak Yoga


Aku, Pak yoga Bu Bintang dan Noval bergegas ke rumah sakit, aku sempat menghubungi Pak Pandu tapi sepertinya suasan sedang genting, dan aku memakluminya saat Pak Pandu tak menjawab telponku.


Sesampainya di Rumah sakit, kami langsung menuju meja reseptionis untuk menanyakan dimana pak bagaskara di rawat, dan ternyata pak bagaskara sudah berada di ruang operasi yang terletak di lantai 3


Kami semua segera kesana, dari kejauhan aku melihat Pak pandu yang tengah berdiri memeluk sang ibunda yang duduk di kursi tunggu, sedang Reina masih duduk di samping sang ibu, tak terbayang kecemasan yang mereka rasakan. Kami sempat terdiam sesaat memberikan waktu untuk Pak Pandu dengan keluarganya, tapi pak pandu menyadari keberadaan kami, ia pun menghampiri memelukku dan mencium keningku "thanks udah dateng" ucapnya


"gimana kondisi pak bagaskara? " tanyaku


"ini adalah serangan jantung yang kedua, papi harus segera di operasi pemasangan ring, karena akan riskan jika dia terkena serangan jantung lagi! " jelas Pak Pandu


"Pak! " panggilku merasa bersalah "maaf ya, semua karena saya" ucapku menunduk


Aku tak sanggup melihat tatapan kebencian yang tersorot dari ibunda Pak Pandu


"syuuut.... jangan ngomong gitu, semua bukan salah kamu kok ki! " Pak Pandu meraih tanganku dan menggenggamnya " kita akan hadapi ini bersama! " kata yang menjadi obat kegelisahanku


"Udah kalian tenang aja, aku akan bantu kalian" tambah Bu Bintang " sekarang kamu jaga Kiand, aku yang akan temenin tante, moment nya gak baik kalau kiand ada disini!" ujar Bu Bintang mengelus pundakku, "nanti kalau operasinya selesai aku kabarin kamu "


"thanks ya Bi! " ujar pak pandu


"its oke ! nggak papa kok" jawabnya tersenyum "val, lo ikut gue, Yoga lo juga, tenangin Reina, dia butuh temen pastinya" titah Bu Bintang


Sesuai dengan saran Bu Bintang, aku dan Pak Pandu memilih menunggu di kantin.


"Jalan yang kita lalui tidak akan mudah Kiand, aku harap kamu tidak menyerah"


kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut pak pandu, saat aku dan dia tengah menikmati secangkir kopi


"saya janji, saya akan tetap disini, kita hadapi semunya bersama! " Pak Pandu tersenyum lega mendengar ucapanku, ia menyentuh tanganku yang ku biarkan di atas meja.


Ponsel Pak Pandu berdering, aku pikir Bu Bintang yang menghubunginya, tapi tenyata bukan


"apa? kok bisa? harusnya tidak semudah itu mencairkan uang perusahaan" ujar pak pandu, di lihat dari ekspresinya, ada masalah di kantornya


"saya tidak pernah menandatangani apapun ! mengerti kamu! harusnya kamu lebih cermat dong, tidak boleh ada anggaran yang keluar tanpa tanda tangan saya!!!! "


"ya sudah, tolong kamu keep masalah ini, saya akan urus papi terlebih dahulu, setelah itu buat rapat penting besok, saya mau semua petinggi hadir! oke terima kasih informasinya"


Pak Pandu mengakhiri sambungan telponnya, ekspresinya berubah, masalah yang di hadapi sepertinya sangat berat


"ada apa pak? " aku memberanikan diri bertanya


"kok bisa ambil anggaran segitu banyaknya? " tanyaku


"entahlah, aku yakin ada orang kepercayaan kak candra di perusahaan" ucapnya "tapi ki, kemarin saya liat kak candra sama temen kamu, siapa? di.. di.. "


"dian! " jawabku


"nah iya dian! " tegasnya


"Hmmm nanti saya coba temui dian ya pak! "


"kita temui bareng-bareng" ujarnya


Keadaan semakin keruh, pak bagaskara saja belum siuman pak candra sudah membuat ulah.


Kami langsung menemui pak yoga dan yang lainnya, untuk memberi tahu masalah ini, karena tidak mungkin pak pandu meninggalkan rumah sakit, dia masih ingin melihat papinya siuman.


Pak Pandu menceritakan semua yang terjadi, pada Pak Yoga dan Bu Bintang, ternyata bu bintang tahu rencana pak candra, jadi dia mengajak Pak Yoga dan noval ke suatu tempat, sedang aku tetap di rumah sakit bersama Pak Pandu.


Pak Pandu membawaku menghampiri mami nya, jujur kakiku rasanya gemetar, aku yakin penolakan itu akan kembali ku dapatkan, tapi aku tidak boleh menyerah


"mi! " panggil pak Pandu pada wanita tua yang duduk gelisah di sebuah kursi tunggu


"Kalau kamu masih perduli sama papi dan mami mu, jangan bawa dia kesini! " kata-kata itu memang sangat menyakitkan, tapi aku tetap berusaha baik-baik saja, genggaman tangan Pak Pandu yang membuatku kuat


"mi, " pak pandu merendahkan tubuhnya menjadi sejajar dengan wanita yang ia sebut mami, begitupun aku. "please! pandu sayang kiand mi! tolong jangan lihat seseorang dari satu sisi saja! "


"tante! maaf jika saya lancang, saya memang bukan terlahir dari rahim wanita kaya raya, saya juga bukan hidup dan di besarkan dari seorang pengusaha sukses, tapi saya di besarkan oleh orang tua yang mengajarkan saya, bahwa cinta seorang ibu jauh lebih tulus dari apapun , dan cinta seorang ayah, bisa menghancurkan dinding kebencian, bagi ayah kebahagian saya, adalah hal yang utama. Saya harap tante sebagai seorang ibu, bisa lebih memahami, bagaimana pengorbanan Pak Pandu dan pengabdian pak pandu pada tante, dan pak bagaskara, saya mencintai Pak pandu bukan karena apa yang dia miliki, tapi saya tulus mencintai dia tanpa alasan, cinta itu mengalir begitu saja, awalnya saya sadar saya dan pak pandu berbeda, tapi cinta tidak pernah melihat perbedaan"


Wanita itu hanya menatapku dengan sinis, tapi aku tahu hatinya sedikit tersentuh, dia adalah seorang ibu yang melahirkan putranya, aku yakin ketika dia menyakiti hati putranya, hatinya pun sakit


"mi, pandu sayang sama mami, jangan buat pandu justru membenci mami, hanya karena keegoisan mami dan papi"


"mi, kak pandu bener! Reina pun sayang sama mami dan papi, tapi kalau sikap kalian selalu keras kepala seperti ini kami bisa saja membenci mami dan papi" tambah Reina yang duduk di sampingnya


"Mi, Kita tidak pernah bisa memilih pada siapa hati kita berlabuh! jadi jangan paksa pandu untuk mencintai orang lain selain kiand"


"Reina juga mi! " Reina pun bersimpuh dihadapan ibundanya, hingga membuat wanita itu bingung dan berkaca-kaca "reina cinta kemal, reina tahu apa yang reina lakukan salah, semua reina lakukan karena reina nggak mau kehilangan kemal! "


Suasana ruang tunggu berubah sendu, hingga terlihat seorang dokter keluar dari ruang operasi


"Keluarga pak bagaskara" ujarnya pada kami


"Iya saya anaknya! " ujar pak pandu


"operasinya berhasil dan sekarang pak bagaskara masih dalam pantauan tim dokter untuk beberapa jam ke depan, jika semua kondisinya baik, maka pak bagaskara bisa langsung di pindahkan ke ruang rawat inap" ujar sang dokter


"ohh syukurlah, terima kasih dok! " ucap pak pandu sambil menjabat tangan sang dokter


"Pandu! " panggil maminya


"iya mi! "


"maafin mami! " wanita itu mendekap tubuh pak pandu , air matanya jatuh tak terkendali,


note


maaf ya kalau update nya lama karena aku langi banyak hal yang harus di urus, tapi sebisq mungkin tetep update sampai tamat


makasi.