
"Ehh pak! hati-hati! " Ku taruh piringku lalu bangkit secepat kilat untuk meraih tangan Pak Pandu karena tubuhnya mulai oleng "Bapak istirahat aja dulu di dalam! "
"Saya lapar! " sahutnya membuatku harus menahan tawa
"Ohh iya maaf pak saya lupa! ayo saya bantu duduk di situ! " Ku papah Pak Pandu hingga ke ruang Tv lalu membantunya duduk, setelah itu ku ambilkan sepiring nasi goreng
"Nih pak di makan! maaf ya pak cuman ada nasi goreng! " ucapku sambil menyodorkan sepiring nasi goreng
"Hmmm! " jawaban yang singkat seperti biasa
Aku, Pak Pandu dan Arga melanjutkan makan, sesekali aku melirik Pak Pandu yang begitu lahap menyantap nasi goreng buatanku, tidak ada pujian yang keluar dari bibirnya, tapi dari ekspresinya ku lihat dia menyukai masakanku entah kenapa aku jadi senyum-senyum sendiri
"Ka? " Arga terlihat melambaikan tangannya di depan mukaku
"Ka.....kak....! "
"Ah... eh, oh, iya apa? " tanyaku cengengesan dan tak tahu harus bereaksi apa
Arga hanya tersenyum menggodaku, untunglah Pak Pandu tidak menyadari ke kikukan ku, dia terlalu fokus pada nasi gorengnya
Saat ini aku merasa aneh, benar-benar aneh, entah kenapa aku senang Pak Pandu ada disini, menikmati masakanku meski dengan ekspresi yang datar dan biasa saja, Aku tidak merasakan persaan seperti ini sebelumnya.
"Ki! " panggil Pak Pandu memecah lamunanku tentang dia
"I-Iya pak! "
"Boleh saya minta minum? " Aku mengangguk dan segera mengambilkan air mineral untuknya
"Ini pak! "
"Makasi ya ! " kata itu terucap lagi dari bibirnya, biasa sih, tapi hatiku menanggapnya luar biasa
ayolah Kiand cinderela itu hanya ada dalam dongeng, sadar....
Arga hanya memperhatikan gestur tubuhku yang mulai salah tingkah di hadapan Pak Pandu, sesekali dia tersenyum seakan ingin menggodaku
"Kak! Arga berangkat duluan ya! takut kesiangan, pagi ini ada jam olah raga! " pamit Arga sambil mengambil tas yang ia taruh di pojok ruangan
"Loh kok kamu gak bilang kalau ada olah raga pagi? bukan biasanya hari jumat ya olah raganya? " tanyaku curiga, dia pasti hanya ingin meninggalkanku berdua dengan Pak Pandu, dasar anak ingusan....
"Iya ka, ganti hari, soalnya hari jumat ada kegiatan sekolah! " jawabnya berusaha mencari alasan
"Ya sudah hati-hati, kamu yakin bisa naik bis nya sendiri? " tanyaku sedikit khawatir, selama ini aku selalu mengantarnya hingga depan gerbang sekolah
"Tenang aku berani kok! " Arga pun berpamitan padaku dan Pak Pandu, aku melihat Pak Pandu menatap Arga begitu lekat entah apa yang ia fikirkan tentang Arga
Setelah Arga pergi tinggalah aku dan Pak Pandu, ruangan kecil ini serasa lebih luas, karena suasananya yang hening, aku dan Pak Pandu hanya duduk sambil menunggu jemputan Pak Pandu. Jam sudah menunjukan pukul Tujuh pagi, jemputan Pak Pandu masih belum datang, sedang aku harus buru-buru ke kantor, Pak Darma pasti marah besar jika aku terlambat, sudah cukup kemarin aku melakukan kesalahan hari ini aku tak ingin ada masalah lagi di kantor.
"Pak! " panggilku memecah keheningan
"Ya!" jawabnya singkat
"saya berangkat duluan gak papa ya? bapak tunggu disini aja, nanti kalau mau pergi kuncinya taruh di bawah keset yang ada di luar, saya takut terlambat, nanti Pak Darma marah lagi! "
"Pak Darma marah? sama kamu? kapan? " tanyanya
"Kemarin pak, waktu saya nganterin bapak, ehh tepatnya waktu bapak nganterin saya waktu beli baju! " jawabku cengengesan sambil menggaruk kepala
"Oh...! " lagi-lagi responnya dingin, hanya ohh , ya, hmmm
Tok.. Tok.. Tok...
Aku mendengar suara ketukan pintu dari luar, terlihat bayangan seorang lelaki dari balik pintu. Akupun segera bangkit untuk membukakaknnya. Disana berdiri seorang pria yang tak kalah tampan dari Pak Pandu, tinggi dan bentuk tubuhnya pun tak berbeda jauh
"Maaf mas ini siapa? " tanyaku memastikan walaupun feeling-ku tau dia adalah orang yang akan menjemput Pak Pandu
"Heiii cantik! Pandu disini! " jawabnya genit membuatku mengerutkan keningk, dia baru pertama melihatku sudah memanggilku cantik, ciri-ciri playboy cap Kabel
"Lo je! semua cewek lo panggil cantik, ampe bosen telinga gue dengernya! " sahut Pak Pandu yang sudah berdiri di belakangku
"Lo kenapa Du? abis tauran? " Pria itu terkejut melihat wajah Pak Pandu sudah babak belur
"Sial lo! emang gue anak STM tauran, gue kecopetan! " jawabnya. Aku hanya memandang dua Pria tampan di hadapanku, sampai lupa mempersilahkan teman Pak Pandu masuk
"Ehh maaf, masuk pak! " Aku pun mempersilahkan Pria itu masuk
"jangan panggil bapak! saya masih muda" jawabnya sambil membuka sepatunya dan melangkah masuk ke dalam rumah
"Ehh iya maaf!" kami pun kembali duduk di ruang tv yang hanya beralaskan karpet
"ngomong-ngomong kita belum kenalan, nama gue Jefry, tapi Anak monyet ini panggilnya Jeje! " Ujar Pria yang ternyata bernama Jefri sambil mengulurkan tangannya
"Kiand! " jawabku membalas uluran tangannya, Pria itu terus menggenggam tanganku cukup lama, meski aku sudah berusaha melepaskannya
Pak Pandu yang melihat segerea bereaksi dengan memukul lengannya "Lepasin! "
"Yaelah Du, gak bisa liat temen usaha sedikit! " sahutnya melepaskan jabatan tangannya
Aku hanya tersenyum melihat Pak Pandu dan Jefry yang terus berdebat seperti anjing dan kucing
"Pak, maaf aku harus berangkat, bapak masih mau disini atau mau pulang? " tanyaku,
"Dengan kondisi seperti ini?
" Yah! "
"Apa gak sebaiknya bapak ke rumah sakit, atau ke klinik dulu, biar di obatin luka bapak! " saranku
"Gak usah! " jawabnya "Ohh ya kamu ikut bareng saya aja, dari pada kamu naik bis! " Ujar Pak Pandu
"Hmmm! " aku berfikir sejenak,
"Kalau kamu gak mau yah gak papa! bagus juga mobilku gak sempit! " ujarnya. Dasar Pria dingin, gak bisa nunggu jawaban sebentar aja, udah langsung menyimpulkan, aku kan cuman pura-pura berpikir.
"Ya udah, saya bisa naik bis kok! " sahutku kesal
"Ya elah Du, kalau mau ngajak berangkat bareng sama cewek tuh gak kaya gitu, kesannya lo gak ikhlas banget ngajaknya! " celetuk Jefry
"Kiand yang cantik, berangkat kerjanya bereng abang yuk! " Ajak Pak Jefry dengan gaya genitnya
Aku hanya tertawa melihat tingkah Jefry, dia lebih humble di banding Pak Pandu. Memang orang seperti Pak Pandu butuh sahabat seperti jefry, agar tidak mati muda karena merasakan hidupnya yang monoton
"Udah gak usah banyak omong, ayo cepet, gue harus ke kantor! " Pak Pandu segera bangkit dan bergegas menuju keluar rumah, diikuti Jefry dan Aku tentunya.
Setelah memasuki mobil Jefry, kami berdua hanya saling berbagi keheningan. Rasanya aku seperti bersanding dengan mayat hidup. Jefry yang saat itu duduk di kursi pengemudi, hanya melihat keheningan yang terjadi di kursi belakang melalui spion tengah
"Pak! " kataku setelah berdehem karena tak tahan dengan keheningan yang terjadi
" Hmm! " Pak Pandu hanya mengeluarkan suara dari tenggorokan tanpa membuka mulutnya, aku melirik ke arah spion depan Jefry hanya tersenyum mengikik melihatku yang mulai kikuk
"Boleh tanya sesuatu? " tanyaku
"Hmmm! " jawabnya menyebalkan
"Kenapa bapak minta saya pura-pura jadi pacar bapak? " entah kenapa pertanyaan itu keluar begitu saja, hingga membuat jefry terkejut dan menginjak pedal rem secara mendadak, membuat kepalaku dan Pak Pandu beradu. Wajah kami begitu dekat, hingga kami saling melempar tatapan sepersekian detik sampai akhirnya dengan cepat Pak Pandu memalingkan pandangannya, dan segera memukul kepala Jefry
"Gila lo! lo mau bikin kita celaka! " sahutnya
"Yah sorry! abis gue shock dengernya! " jawab Jefry sambil tertawa
Pak Pandu menoleh kearahku, tatapannya menakutkan, sepertinya dia tidak suka dengan pertanyaanku tadi.
"Lain kali kalau mau bertanya hal yang pribadi tahu tempat!" jawabnya ketus
Aku hanya terdiam kesal memengerutkan bibirku sambil melipat kedua tangan lalu menaruhnya di dada, bukan jawaban yang aku dapatkan malah omelan
"Segitu mirisnya hidup lo, ampe cari pacar aja buat pura-pura! " sahut Jefry dari kursi depan
"Berisik lo! nyetir-nyetir aja! gak usah banyak omong! " Ujar Pak Pandu kesal
Kami kembali berada dalam keheningan sampai mobil berhenti di loby gedung PT Cahaya Bagaskara Group, seseorang terlihat membukakan pintu mobil untukku dan Pak Pandu. Saat aku keluar mobil beberapa karyawan terkejut dan terus menatapku heran. Sampai aku jalan saja mereka masih memperhatikan, aku seperti seorang artis yang baru turun dari mobil dan berjalan di karpet merah.
"Saya duluan! ingat jam dua belas ke ruangan saya! " Bisik Pak Pandu saat aku sedang memerhatikan pandangan orang. Dia terlihat berjalan tegap memasuki lift khusus Direksi, sedang aku masuk melalui lift karyawan
Sesampainya di lantai dua belas, aku segera masuk ke ruangan dan duduk di meja kerja. Dian sepertinya belum datang, karena aku melihat mejanya masih kosong, hanya ada beberapa karyawan yang sudah berada di ruangan ini.
"Pagi Ki! " terlihat kak Nanda berjalan di depan mejaku dan duduk di mejanya yang ada persis di belakangku
"Pagi ka! " balasku
"Ki! denger gosip di kantor pagi ini gak? " tanya Kak Nanda membuatku berbalik menghadap mejanya
"Gosip apa ka? " aku balik bertanya. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan gosip-gosip, fokusku hanya bekerja agar aku bisa dapat uang
"Tadi waktu aku naik lift, beberapa orang ngomong kalau Pak Pandu bawa cewek selain Bu Bintang
Aku terdiam sejenak, cewek yang bersama Pak Pandu saat itukan aku? Bu Bintang? apa hubungan Pak Pandu dengan Bintang? bukannya Bintang itu pacarnya Pak Candra, kakaknya Pak Pandu?
rasanya kepalaku di kelilingi pertanyaan tentang apa yang terjadi dengan Pak Pandu
" Bu Bintang bukan pacarnya Pak Candra ya? kakaknya Pak Pandu? " tanyaku
"Kok kamu tahu? " Kak Nanda terkejut, aku karyawan baru sudah tahu informasi sedetail itu
"Hmmm i-tu, aku denger dari orang-orang! " jawabku
"Ohh...! " untunglah Kak Nanda percaya dengan jawabanku
"Dulu, Pak Pandu memang dekat dengan Bu Bintang, tapi sekedar sahabat, setahuku mereka bersahabat sejak kecil, Bu Bintang juga salah satu direksi disini, tapi kantornya gak disini dia kesini cuman sebentar, kalau kantornya di gedung sebelah, tahukan? " jelas Kak Nanda,
Ohhh mungkin maksud Bi itu Bintang! apa mungkin Pak Pandu sebenarnya menyukai Bintang? pantas saja dia langsung merangkul ku saat Bu Bintang dan Pak Candra masuk ke dalam lift
"Ki.. Kiand! kamu dengerin aku gak sih! " Suara Kak Nanda memecahkan lamunanku
"Ohh i-iya ka, aku denger! "
"Kayanya sih Pak Pandu suka sama Bu Bintang, tapi Bu Bintang sukanya sama Pak Candra, kasian ya! padahal Pak Pandu tuh ganteng banget, aku mau kok jadi pacarnya! " Ujar kak Nanda sambil tersenyum dengan ke haluan nya
Pantes saja Pak Pandu begitu kacau malam itu, ternyata irang kaya banyak uang belum tentu bisa merasakan bahagia. Selama ini aku tidak mengenal cinta, yang aku pikirkan adalah uang, jadi aku hanya tahu masalah itu yah uang!