For A Great Love

For A Great Love
episode 42 sebuah siraman



POV Kiand


Aku terbangun dengan tangan Pak Pandu melingkar di tubuhku, tak pernah aku senyaman ini, Dekapannya membuatku merasakan sesuatu yang melebihi dari rasa aman. Seolah aku tak perlu takut apapun lagi, tapi entah kenapa terkadang sedikit terlintas di pikiranku, apakah rasa aman ini akan terus aku rasakan, atau mungkin suatu saat akan berubah menjadi ketakutan, ketakutan kehilangan seorang Pak Pandu. Satu hal yang aku sadari sampai saat ini, bahwa cinta Pak Pandu untuk Bu Bintang masih tersisa.


Dengan perlahan aku mengangkat tangannya, dan berusaha turun dari tempat tidur tanpa mengganggu tidur Pak Pandu. Dia tampak begitu lelah. Ku balut tubuh Pak Pandu dengan selimut, kemudian aku keluar menuju kamar ku.


...****************...


Pak Pandu meminta kami berkumpul di restoran hotel untuk sarapan sekaligus ada yang ingin ia diskusikan. Setelah membersihkan tubuh dan mengganti pakaian aku dan Kak Nanda bergegas ke restoran yang terletak di lantai bawah.


Pak Pandu, Pak jefry dan Pak Yoga sudah terlihat duduk di meja yang berada di ujung , terlihat tangan Pak Jefry melambai, memberi intruksi jika aku dan Kak Nanda untuk segera menghampirinya.


"Pagi Kian, Nanda... " sapa Pak Jefry, dia seakan ingin menggodaku


"Cerah banget hari ini" sahutnya "Duduk Ki... sini! " Pak Jefry menarik sebuah kursi yang berada di samping Pak Pandu, sedang Pak Pandu sendiri hanya diam fokus pada sebuah laptop


Aku pun duduk di sebelah Pak Pandu dan Kak Nanda duduk di sebelahku. Aku perhatikan Pak Pandu sedari tadi, dia sama sekali tidak menoleh ke arahku, berbeda sekali saat semalam di kamarnya, kenapa manusia ini mudah sekali berubah gumamku dalam hati


"Kalian nggak sarapan? ambil gih sana? " titah Pak Yoga. Restoran ini sangat luas, ada beberapa meja besar dan selebihnya meja yang hanya di peruntukan untuk 4 orang, menu makanan yang di sediakan juga beraneka ragam, dari mulai makanan indonesia sampai makanan luar.


"Iya pak! " jawabku mengangguk


Aku kembali melirik ke arah Pak Pandu, dia masih fokus pada laptopnya, aku belum melihat makanan di depan mejanya, itu arti ya dia belum mengambil sarapannya .


"Pak Pandu mau saya ambilkan sarapan? " tanyaku gugup


"Nggak usah, saya bisa ambil sendiri" jawabnya ketus.


Ada apa dengan dia? pikirku, apa aku melakukan kesalahan? aku menatap ke arah pak yoga dan pak jefry, mereka memberi tatapan seolah aku untuk diam saja. dan segera mengmabil makanan untukku sendiri.


Aku dan Kak Nanda bergegas mengambil makanan, dan memilih duduk di meja lainnya, sampai selesai sarapan. seteleh selesai aku kembali ke meja sebelumnya


"Gue dapet info, Kak Candra on the way ke sini, dan dia berniat ketemu pak jonathan " ujar Pak Pandu


"Terus rencana lo apa? " tanya Pak Jefry


"Proyek ini belum pasti di serahkan ke gue, gue khawatir Kak Candra ngasih penawaran yang lebih menggiurkan, jadi intinya, kita harus gagalin pertemuan Kak Candra dan Pak Jonathan" jelas Pak Pandu.


Kami mulai berdiskusi mengatur cara untuk menggagalkan pertemuan Pak candra dan Pak Jonathan, ternyata begitulah dunia bisnis, akan selalu ada intrik di dalamnya, jujur karyawan biasa seperti aku merasa tidak sependapat dengan ide Pak Pandu saat itu, ini sih namanya curang gumamku, tapi Pak Yoga menjelaskan karena dalam bisnis itu orang akan melakukan berbagai macam cara untuk bisa sampai pada tujuannya


Rencananya Pak Pandu akan bertemu Pak jonathan pagi ini, karena dapat info jika Pak Jonathan akan bertemu dengan Pak Candra jam 9 pagi, dia akan mengulur waktu pak jonathan, dia tahu Bintang itu orangnya on time, dan dia akan hilang respect saat ada partnernya yang telat, sedang pak candra saat ini sangat bergantung pada Bu Bintang.


Pak Jefry dan Pak Yoga bertugas untuk memantau Pak Candra, kemungkinan dia akan menginap di hotel ini, sedang aku dan Nanda, fokus mendesign denah terbaik untuk kami serahkan secepatnya pada pak jonathan.


Setelah semua sudah mendapat tugas masing-masing, Pak Pandu pergi menemui Pak Jonathan, aku, Kak Nanda Pak Jefry dan Pak Yoga masih asik berbincang di meja,


" Ki, malem gimana? " tanya Pak Jefry meledek


"Apaan sih pak, ya nggak gimana-gimana, biasa aja" jawabku sambil menarik laptop yang berada di depan Kak Nanda


"Mulai salting dia ... " sahut Kak Nanda


"Syuuut Candra candra... " Pak Yoga memberitahu jika ada pak candra, saat ku lihat ke arah pintu masuk, benar saja, Pak Candra dan Bu Bintang di temani beberapa bawannya berjalan masuk menuju restauran.


Mereka berjalan mendekat kearah meja kami, jantungku berdegup kencang.


"Pagi...! " sapa bu bintang ramah, tapi tidak dengan Pak Candra dia menatapku penuh kebencian, entahlah apa sebenarnya salahku?


"Pagi Bintang....!!! " sapa Pak Jefry seperti biasa dengan gayanya yang genit


"Pandu mana? " tanya Pak Candra sinis


"Hmm itu, pandu masih ada urusan " jawab Pak Yoga, aku dan Kak Nanda saling berpegangan tangan karena takut melihat pak candra. beberapa kali matanya menatapku hingga aku merasa risih


"Kenapa ada dia si sini? " tanya Pak Candra saat dia melihatku


"Ohhh... kiand tim kita kak" jawab Pak jefry cengengesan


"Tim macam apaan kalian, tidak berbobot" sahutnya


"Can...! " Bu Bintang sedikit memberi teguran


"Pandu memang sudah di butakan oleh cinta, gimana bisa dia cari tim yang gak benefit begini, teman-temannya lah, seperti tidak ada manusia lagi " dia terus menghinaku dan yang lainnya,


"Maaf pak! kami mungkin tidak berbobot menurut bapak, tapi kami punya cara sendiri untuk bisa sampai pada tujuan kami" aku yang mulai gerah memberanikan diri berbicara pada Pak Candra


"Sudah berani lancang yah kamu! kalau bukan karena pandu sudah saya keluarkan kamu! " bentaknya


"Udah can, ayo jalan! " kata Bu Bintang sambil menarik tangan Pak Candra


"Alah banyak omong kamu, jangan harap saya bisa lepasin pandu sama kamu, ingat, kalian itu berbeda... pandu layak mendapatkan yang jauh lebih baik, bukan kamu yang bisanya cuman morotin adik saya" kata-kata pak candra semakin di luar batas, sangat menyakitkan kak nanda yang menyadari aku terluka, hanya bisa menenangkanku dengan terus mengusap bahuku, Pak Yoga dan Pak jefry juga tidak bisa membelaku, merekah hanya diam melihat perlakuan Pak Candra padaku, seandainya ada pak pandu mungkin dialah orang pertama yang akan menampar wajah pak candra.


"sekali lagi saya minta maaf pak, tapi tolong bersikaplah profesiaonal, kita masih dalam urusan pekerjaan, jika ada urusan pribadi lebih baik kita bicarakan setelahnya" ucapku ..


Pak Candra terlihat semakin geram, karena aku terus membalas perkataannya, hingga sesuatu tak terduga terjadi, dia menyiram wajahku dengan segelas orange jus yang berada di atas meja,


"Itu baru peringatan awal! " ujarnya dan langsung berbalik meninggalkan mejaku mengambil meja lain yang berada agak jauh.


Air mataku saat itu jatuh, Pak Yoga dengan cepat memberikan tisu agar aku membersihkan orange jus yang mendarat di wajahku


"Ki... lo nggak papa? " tanya Kak Nanda


Saat itu aku hanya bisa menangis, Pak Jefry dan Pak yoga mencoba menenangkanku. Di saat seperti ini aku ingin ada pak pandu. tangisku semkin pecah. Kak Nanda membantu membersihkan bajuku yang terkena orange jus


"Telpon Pandu! " ujar Pak Jefry pada Pak Yoga


"Jangan pak! " aku sengaja melarangnya, aku tak mau terus-terusan menjadi beban untuk pak Pandu.


"Itu pandu...! " teriak Yoga


Ku angkat kepalaku melihat kearah lobby, Pak Pandu tengah berlari masuk ke dalam restoran ada rasa senang dalam hatiku, tapi aku tahu setelah ini mungkin akan ada pertengkaran lagi, dan itu karena aku.


Aku segera menghapus air mataku, tak ingin Pak Pandu melihat aku menangis


"Ki... Kamu nggak papa? " tanyanya, dia tampak cemas, dengan napas yang tersenggal senggal


"Nggak kok pak...! " Pak Pandu memperhatikan bajuku yang kotor, dan rambutku yang sedikit basah


"Kamu yakin kamu nggak papa? " tanyanya berulang, ia kemudian menatap pak jefry dan pak yoga seperti ingin mendapatkan penjelasan


"Saya nggak papa pak, pak pandu kok balik lagi! " tanyaku


"Du.. tadi itu" ujar pak yoga ragu, ia menatapku, tapi ku isyaratkan untuk tak memberi tahunya


"Tadi kenapa? " tanyanya mengacuhkan pertanyaanku. Dia seolah mengerti, ia menoleh ke arah meja Pak Candra dan bu bintang dengan penuh amarah


"kasih tau gue kenapa tadi? " tegasnya


Kak Nanda dan aku hanya menunduk tak berani menatap Pak Pandu


"Kakak lo kesini! " jawab Pak Jefry dengan nada serius, ia tak pernah seserius ini jika bicara


"Terus...? " tanyanya lagi


"Nggak papa kok pak, tadi pak Candra cuman nanyain Pak Pandu" potongku


"Kamu pikir saya akan percaya dengan jawaban kamu, jelas-jelas baju kamu kotor, rambut kamu basah kamu di siram candra kan? " tanyanya kali ini bahkan dia tidak memakai kata kak seperti biasanya


"engg.. enggak pak" aku begitu gugup dan takut


"Jef, ga...! " panggilnya dengan melempar tatapan setan


"hmm iya, kakak lo nyiram kiand" jelas Yoga


Brakkkkk!!!!! Pak pandu memukul meja hingga suaranya nyaring " Apa sih maunya" dia hendak berbalik ke arah meja Pak Candra, tapi dengan cepat ku cegah, aku langsung menarik tangannya


"Pak, saya mohon jangan bikin keributan lagi kali ini! " pintaku


"Dia udah keterlaluan Ki, apa maksudnya nyiram kamu seperti itu! " ujarnya penuh emosi


"Saya nggak papa pak! " aku terus menahan tangannya, ketegangan semakin terasa tak ada yang berani berkutik baik pak jefry sekalipun


"ini harus kita selesaikan! " ujarnya. kali ini dia berbalik menarik tanganku, menggandengku dengan erat " ikut saya! " ujarnya, tak punya pilihan lain aku mengikuti langkah Pak Pandu, dia membawaku ke meja Pak Candra


"Apa maksudnya? " tanya Pak pandu yang tengah berdiri di depan meja Pak Candra, aku hanya bisa menunduk tanpa berani menatap mereka


"Ohh kenapa? dia ngadu? sampe lo langsung nyamperin gue, bukannya tadi lo ada urusan? " tanya Pak Candra dengan senyum sinis


"Nggak usah banyak ngomng deh! gue kesini cuman peringatin lo, nggak usah ikut campur urusan pribadi gue, kalau lo mau gue anggap kakak! " tegasnya Wajah Pak Candra dan Bu Bintang begitu syok mendengar perkataan Pak Pandu


"Ayo...! " Pak Pandu langsung mengajakku kembali ke meja, namun di ia sempat menghentikan langkahnya dan berbalik ke meja pak candra, masih dengan posisi menggandeng tanganku, dia meraih sebuah gelas yang ada di depan meja Pak candra persis seperti yang pak Candra lakukan padaku, kemudian ia menyiramkan air pada wajah Pak Candra " Ini balasan atas apa yang udah lo lakuin sama Kiand" Bu Bintang tampak tak percaya melihatnya yang di lakukan oleh mantannya itu, ia langsung berdiri dan menatap pak Pandu


"Pandu... kamu! " Bu Bintang tak melanjutkan ucapannya, ia langsung membantu Pak Candra membersihkan wajahnya, sedang kami kembali ke meja.


Sekali lagi aku merasa Pak Pandu benar benar melindungi ku, aku tak perduli dengan rasa yang pak pandu miliki yang jelas aku nyaman bersamanya. aku menatap wajahnya dengan bangga, bangga karena dia benar membelaku di hadapan kakaknya sendiri.