For A Great Love

For A Great Love
episode 30 Hati yang rapuh



Setelah kejadian tadi, rasanya tidak ada semangat untuk melakukan apapun, aku hanya duduk meringkuk di meja kerjaku. Sekarang aku tahu mengapa orang yang merasakan jatuh cinta di sebut jatuh Cinta, karena saat kita merasakan Cinta, kita sudah harus mempersiapkan hati kita jatuh dan terluka.


Hal seperti ini yang membuatku enggan untuk jatuh Cinta, dulu aku pernah merasakan mencintai orang lain, tapi rasa itu segera ku kubur karena aku harus fokus sekolah.dan sekarang aku merasakan hal itu harus terulang, mencintai Pak Pandu adalah kesalahan.


"Lesu banget kayanya? " Celetuk Dian sambil berjalan kearah mejaku bersama Kak Nanda


"Kenapa Ki? " tanya Kak Nanda, "Tadi gue denger ada ribut-ribut di bawah? "


"Nggak papa kak" jawabku dengan menampakan sebuah garis di bibirku


"Lo yakin? " Tanya Dian


Aku hanya bisa mengangguk, belum saatnya aku cerita pada mereka meski sebenarnya aku sangat ingin menceritakan hal ini. Hubunganku dan Pak Pandu adalah hubungan pura-pura, harusnya dari awal aku tak boleh menaruh hati padanya dan sepertinya, setelah kejadian ini, akan ada jarak antara aku dan Pak Pandu.


Aku butuh sedikit menenangkan pikiranku, kebetulan beberapa tugas sudah ku selesaikan.


"Lo mau kemana? " Tanya Dian dan Kak Nanda berbarengan


"Ke toilet sebentar ya" jawabku


"Mau gue anterin? " Tanya Kak Nanda


"Nggak usah.... " jawabku


"Ohh ya, Toilet lantai ini, kayanya masih di peebaiki deh" ujar Kak Nanda


"Oke Kak Nanda Thanks infonya" kataku yang kemudian berlalu pergi


Terpaksa aku harus berjalan ke lantai 13, walaupun cuman satu lantai tapi rasanya kakiku terlalu malas untuk naik tangga, toh lift juga sepi, hanya ada beberapa karyawan yang mengantre.


"Parah ya Pak Pandu dan Pak Candra, sampai baku hantam kaya gitu, paling bentar lagi masuk majalah nih" ujar seorang karyawan yang berdiri di sebalah ku


"Mereka dari dulu memang nggak akur katanya, di tambah Pak Candra jelas-jelas merebut Bu Bintang dari Pak Pandu" tambah karyawan lainnya


"Kadang gue kasian sama Pak pandu, dia tuh banyak ngalah sama Pak Candra, tapi Pak Candra nggak tau diri," mereka sibuk membicarakan Pak Pandu dan Pak Candra, yang membuatku semakin sesak.


Jujur rasanya tadi itu aku ingjn tetap bersama Pak Pandu, apa lagi saat melihat luka di wajahnya, tapi dadaku semakin sesak saat aku harus menerima kenyataan jika aku tak mungkin bisa bersamanya


Denting lift terdengar membuyarkan lamunanku. Saat hendak keluar lift, mataku menangkap Pak Pandu pun tengah keluar dari lift khusus direksi .


Kami saling melempar tatapan cukup lama, aku merasakan darahku mengalir lebih deras, jantungku berdebar lebih cepat, hingga aku bisa merasakan detakkannya. Sebuah luka terlihat jelas di wajah Pak Pandu, aku yakin dia belum mengobati luka itu.


Ku beranikan diri berjalan mendekat ke arah Pak Pandu, kebetulan lorong lift juga tidak ada orang, disaat jam kerja seperti ini, karyawan jarang sekali berkeliaran, karena mereka sedang sibuk di ruang kerjanya masing-masing.


"Bapak Nggak papa? " tanyaku sambil menyentuh luka di bagian pipi dan sisi bibir nya


Namun dengan cepat Pak Pandu menangkis tanganku "Nggak papa! " ujarnya


"Itu harus di obati" rasanya aneh bersikap sedingin ini pada Pak Pandu


"Baik pak kalau begitu, permisi! " melihat penolakan Pak Pandu, hati ku semakin teriris, dengan cepat aku berjalan menuju toilet. Aku langsung membasuh wajah dengan air dari wastafel . air mataku terus mengalir membayangkan tatapan Pak Pandu tadi.


"Berhenti Kiand, stop! cukup kamu menyakiti dirimu sendiri, buka mata kamu, siapa kamu dan siapa Pak Pandu, please lupakan Pak Pandu, hapus air matamu" mohonku pada diriku sensiri


Setelah ku rasa lebih tenang, aku memutuskan untuk keluar dari kamar mandi, sungguh hal yang tak ku bayangkan sebelumnya, Pak Pandu tengah berdiri di samping pintu masuk kamar Mandi wanita


"Udah nangisnya? " tanya Pak Pandu membuat aku terkejut


"Pak Pandu? ngapain bapak disini? " tanyaku


"saya cuman mau mastiin kamu baik-baik aja! " ujarnya


Aku tidak mengerti dengan sikapnya, baru saja beberapa menit yang lalu, dia begitu acuh padaku, dan sekarang..... dia begitu perhatian padaku


"Saya baik-baik saja! " jawabku dan berlalu pergi meninggalkan Pak Pandu.


"Ki....! " suaranya menghentikan langkahku "Bisa obati luka saya? " ujarnya . Aku menoleh ke belakang, ku lihat Pak Pandu tersenyum, kali ini bukan senyuman seperti biasanya, nampak lebih tulus.


"Ayo kita ke ruang P3k" ajakku. Aku berjalan lebih dulu dan membiarkan Pak Pandu di belakangku


Saat memasuki ruangan, Pak Pandu langsung duduk di sebuah Brangkar dan aku sibuk mencari obat apa yang bisa ku gunakan , aku mengambil tisu, kassa, alkohol dan obat oles khusuh lebam .


"Tahan sesikit ya" pintaku saat hendak membersihkan bagian luka di ujung bibirnya, terlihat Pak Pandu meringis


"Sakit ya? " tanyaku , Pak Pandu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, di situ hatiku semakin berdetak oencang, respon tubuhku seketika memberikan singal, jika aku semakin jatuh hati padanya


Aku berusaha mengontrol perasaanku, dengan menghindari tatapan Pak Pandu, ku oleskan obat di bagian pipinya, tak tega rasanya melihat setiap luka di wajahnya


"Lain kali, coba untuk kontrol emosi" aku mencoba menasehatinya, aku takut dia akan kembali terluka


"hmmmm" dia hanya mengangguk


"Sudah selesai ya! "


"Ki...! makasi ya" keadaan ini begitu aneh, biasanya aku akan bisa mengatakan apa yang kurasakan pada Pak Pandu, tapi kali ini, bibirku seolah terkunci


"Pak...! " panggilku , dia mengangkat kepalanya menatapku " saya akan keluar dari apartemen bapak, toh Pak Candra sudah tahu jika kita pacar pura-pura, saya minta waktu satu minggu " ujar ku


Pak Pandu hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun.


"Saya kembali bekerja ya pak! " Aku meninggalkan Pak Pandu yang masih berada di ruang P3K


Bagaimanapun aku menolak perasaan ini, rasanya dadaku semakin sesak, aku tidak lagi seperti kiand yang kuat, kali ini aku rapuh karena perasaanku.


...****************...