For A Great Love

For A Great Love
episode 22 hujan



Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah, Arga tak ada di rumah aku baru ingat, tadi aku menyuruhnya menginap di rumah Bagas, untunglah kami selalu membawa kunci cadangan.


Ku rebahkan tubuhku di atas kasur, sungguh terasa nyaman, ku pandangi langit-langit, sambil memikirkan nasibku ke depan, apa setelah kejadian ini aku harus berhenti di perusahaan Pak Pandu? tapi mencari pekerjaan di ibu kota tak semudah itu, apa lagi dengan gajih yang lumayan seperti yang aku dapatkan di perusahaan ini.


Tuhan... kenapa ENGKAU pertemukan hamba dengan monster yang menyebalkan itu rintih ku


waktu menunjukan pukul 3 pagi, aku harus tidur, besok pagi aku kerja. Nasibku kedepannya aku serahkan pada Tuhan, biarlah aku mengikuti kemana takdirku melangkah.


...****************...


Alarm di ponsel berbunyi cukup keras, mataku terasa berat, bagaimana tidak, aku baru tertidur pukul 3 pagi dan alarm ku berbunyi pukul 6 pagi.


Tok Tok Tok terdengar suara ketukan pintu


"Kak, kakak di dalam? Arga nggak bisa buka kuncinya" teriak Arga


Aku terpaksa beranjak dari tidurku, dengan mata setengah terbuka


"Hoaaammmmm! " ku buka pintu sambil menguap


"Katanya kakak nggak pulang? " tanya Arga yang bingung melihatku sudah di rumah


"Urusan kakak sudah selesai" jawabku sambil menutup pintu


"Ya udah Arga mau siap-siap dulu, Arga harus berangkat sekolah " ujarnya berlalu ke kamar


"Kamu udah mandi? " tanyaku sambil kembali merebahkan tubuhku di lantai, karena kantuk yang tak tertahan


"Udah tadi di rumah bagas! " teriaknya dari dalam kamar "Kakak nggak kerja? "


"Kerja, bentar lagi kakak siap-siap, kamu jalan duluan aja! " Rasanya tak ada semangat yang menggebu saat aku akan berangkat ke kantor.


Tak lama Arga keluar dengan pakaian rapih "Arga jalan ya kak! " Dia mencium tanganku


"Hati-hati... " pesanku


Arga melambaikan tangannya dan menghilang di balik pintu.


Meski dengan rasa kantuk, aku harus bersiap pergi ke kantor


Jalanan sudah mulai ramai, mataku masih terasa berat, hingga membuat kepalaku sakit


"Ki! " Panggil seseorang yang ternyata Nauval "Ya ampuun ngantuk bener romannya! "


"Gue baru tidur tiga jam" sahutku sambil tapping kartu untuk masuk ke halte


"ngapain? masih bikin kue? " tanya Nauval sedikit berteriak, karena aku sudah masuk ke dalam Halte


aku hanya melambaikan tanganku dan segera memasuki transjakarta yang sudah berada di depanku


Cuaca jakarta terlihat mendung, semakin membuat aku mengantuk, di halte beberapa kali aku hampir terjatuh, karena rasa kantuk ini. Transjakarta berhenti tepat di depan kantorku, aku bergegas turun dan berlari memasuki gedung. Tak ada tanda-tanda kedatangan Pak Pandu, karena biasanya dia akan memarkirkan mobilnya persis di depan lobby "ahhh kenapa aku jadi mikirin dia, dia mau masuk kek, nggak kek, bukan urusanku" tampik ku


Aku langsung menuju ruangan kerja, Kak Nanda dan Dian terlihat sedang berbincang di meja kerja Kak Nanda


"Pagi Pacar Pak Pandu...! " ledek Dian


"Apa sih lo Di.... " jawabku kesal, aku langsung duduk dan menaruh kepalaku di meja


"Gue ngantuk! " jawabku ketus


"Lo berantem sama Pak Pandu? apa lo abis berantem yang lain? " Dian masih saja meledek


"Bisa diem nggak! berisik tau nggak, gue ngantuk! " jawabku jutek


"Ihh sensi banget sih lo! " Dianpun menyerah dan segera kembali ke mejanya


"Lo nggak papa? " tanya Kak Nanda


Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.


Meski dalam keadaan yang tidak baik, aku harus profesional kerja, ku selesaikan beberapa pekerjaan yang sempat terbengkalai, Pak Damar tidak memarahiku, karena dia tahu aku adalah kekasih Pak Pandu.


Jam menunjukan pukul 12.00 semua karyawan mulai bersiap untuk makan siang, tapi rasanya aku malas, terlebih cuaca di luar begitu mendung


"Makan yuk di kantin! " ajak Kak Nanda


"Nggak deh kak, kakak duluan aja, nanti aku mau minta tolong sama OB" jawabku


"Ahhh Kiand, nggak seru loh! " sahut Dian yang baru saja menghampiri meja kerjaku


"Beneran deh, gue mau tidur aja" jawabku


"ya udah kalau gitu, mau nitip nggak? " tanya Kak Nanda


"Ngga deh kak makasi" jawabku sambil tersenyum


Merekapun pergi meninggalkanku, dan aku kembali menaruh kepalaku di meja.


kriuuuukkk.... ternyata membiarkan perut kosong juga tidak bisa membuatku tertidur, ku lihat sekeliling ruangan, tidak ada satupun orang tersisa, biasanya seorang OB akan lalu lalang mengantarkan makanan karyawan yang tidak makan di luar, tapi kali ini ruangan begitu sepi.


Aku terpaksa untuk mencari makan di luar, saat aku sampai di lobby hujan begitu deras, tapi perutku tidak bisa di ajak kompromi, aku berlari melewati hujan yang semakin deras menuju kantin, namun tiba-tiba seseorang memayungi ku dengan sebuah jas, saat ku melirik, terlihat dia tersenyum padaku


"Nggak baik hujan-hujannan" ujar pria yang ternyata adalah Pak Pandu, untuk pertama kalinya wajah kami begitu dekat, Deggg!!!! Jantungku berdegup lebih cepat, kakiku terasa lemas .


"Kalau kita tetap disini, kita akan basah" ujar Pak Pandu. Sungguh aku begitu tercengang saat ini, hingga aku lupa jika aku sedang marah padanya "Ayo... " Pak Pandu mengajakku ke sebuah coffee shop yang berada di lobby


"Duduk sini" dia menarik sebuah kursi untukku, aku bak terhipnotis oleh sikap Pak Pandu, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku, namun aku mengikuti apa yang Pak Pandu perintahkan.


"Pakai ini" Pak Pandu memakaikan Jasnya ke tubuhku yang sudah basah terguyur hujan "Tunggu sebentar ya" Lalu ia berjalan ke meja pemesanan, aku masih terdiam sambil melihat sekitar, beberapa orang memandangiku, mereka terlihat iri padaku, ahhh rasanya seperti adegan dalam sebuah film romantis.


Tak lama Pak Pandu berjalan ke arahku membawa secangkir kopi


"Minum nih! kamu pasti kedinginan" ujarnya. aku meraih cangkir kopi yang pak pandu berikan, lalu memegangnya dengan kedua tanganku, benar saja rasa hangat terasa di tangan dan menjalar ke tubuh.


"Makasih ya pak" hanya kata itu yang terpikir di otakku


Dia mengangguk dan tersenyum "Kamu disini aja ya, aku masih ada meeting sebentar, nanti kalau sudah selesai, aku ke sini lagi" ujarnya.


Jujur saat ini perasaanku tak karuan, bak sedang melayang ke udara, ahhh rasanya sulit untuk aku jelaskan.


Pak Pandu meninggalkanku di meja, dengan senyuman sebelumnya, aku yang masih terpaku hanya bisa tersenyum sendiri, loh loh kemana amarahku, kemana umpatan yang


ku sematkan pada Pak Pandu?ahhhh kiand kenapa kamu mudah sekali terlena, Pak Pandu hanya mencoba mengambil hati kamu aja, dia tetaplah monster, liat aja, di sana ada Bu Bintang dan Pak Candra, berarti Pak Pandu hanya akting, jangan percaya Kiand, jangan percaya" Batinku seolah bergelut dengan rasa sayang dan benci.