For A Great Love

For A Great Love
episode 46 memilih pergi



Perlahan ku lepaskan ciuman Pak Pandu, ku tundukan wajahku, air mata semakin tak tertahan, Pak pandu menyentuh kedua pipiku ia mendekatkan wajahnya hingga hidung kami saling bersentuhan .


"Ki saya mohon" ucapannya terdengar perih "Tetap disini! "


Aku hanya bisa menangis, begitu sulit rasanya untuk pergi dari Pak Pandu, sisi lain hatiku merasa tak rela, tapi sisi lainnya mengatakan aku harus pergi


"Maaf pak, tolong jangan paksa saya untuk tetap disini" Ku lepaskan tangan Pak Pandu


"Nggak ada kesempatan untuk saya Ki? " ujarnya


"Pak, saya lelah, saya mau istirahat... " aku berbohong karena tak ingin terus menatapnya, hatiku semakin berat saat dia mengiba kepadaku


"Baiklah, kamu istirahat aku harapan kamu bisa pikirkan permintaan saya" ujarnya dengan melayangkan sebuah kecupan sebelum ia meninggalkan kamar Arga.


Ku jatuhkan tubuhku di balik pintu, aku menangis hingga dadaku sesak, aku tak tahan dengan perasaan ini. ku putuskan untuk tetap pergi dari sini, tapi aku belum tahu harus pergi kemana? tak mudah mencari kontrakan secepat ini, akhirnya aku menghubungi Noval, mungkin dia bisa bantu


"Halo Val" sapaku melalui sambungan telpon


"Iya Ki, ada apa? " tanya Nouval


"Val, gue bener-bener butuh bantuan lo! gue harus dapet kontrakan hari ini" ujarku dengan tangis yang tertahan


"Ki...! lo baik-baik aja kan? " tanya nouval, dia menyadari dari suaraku jika aku tengah menangis


"Val...! gue mau pergi dari sini! " tangisku pecah saat itu


" Ki, lo sharelock gue jemput lo sekarang! " ujar Nouval


Aku hanya bisa menangis saat itu, bayangan Pak Pandu terus menancapkan luka di hatiku


"Ki, gue jalan sekarang, cepet sharelock...!"


Tanpa berkata apa-apa, aku memutus panggilan telpon dan mengirimkan kokasi dimana aku berada


Ku hapus air mataku, aku beranjak berjalan keluar, berniat ingin memberitahu Arga, jika Nouval akan menjemput kami, tapi ternyata Pak Pandu masih ada di ruang tamu, dia masih duduk di sofa


"Arga...! " Panggilku, karena aku tak melihat keberadaan Arga


"Dia kebawah beli makan" jawab Pak Pandu


Aku tak menghiraukan keberadaan Pak Pandu, aku kembali merapikan beberapa barang yang akan ku bawa, sambil menunggu Noval, selang beberapa waktu arga datang, untunglah, begitu canggung berdua saja dengan Pak Pandu dalam suasanan seperti ini


"Arga, barang kamu sudah selesai di kemas? " tanyaku


Arga yang terlihat bingung, langsung menoleh ke arah Pak Pandu, terlihat sekali Arga begitu berat pergi dari sini


"Kamu nggak bisa tunggu seminggu atau beberapa minggu lagi? " tanya Pak Pandu


"Maaf pak keputusan saya sudah bulat" jawabku


Pak Pandu hanya melihatku berkemas tanpa bisa melakukan apa-apa, tatapannya begitu mengiba, tapi aku tak boleh lemah, mungkin ini yang terbaik untukku dan Pak Pandu.


Aku masih menunggu Noval di kamar, sedang pak pandu berada di luar bersama arga, rumah terasa begitu hening, aku harap ini memang keputusan terbaikku. Jam menunjukan pukul dua siang, tepat 1 jam setelah aku menghubungi Noval, tak lama ia mengirimiku pesan jika ia sudah ada di lobby.


Aku keluar untuk memberi tahu arga jika kita harus pergi.


"Arga ayo kita pergi! " ajak ku sambil mendorong koper dan menggendong tas biru milikku.


"Ki, tolong jangan lakukan ini sama saya" Pak Pandu berjalan menghampiriku, ia menggenggam tanganku, bahkan menahan koperku


"Ki, saya tahu saya salah, saya bodoh, saya minta maaf, kasih saya kesempatan sekali lagi" ujarnya mengiba


"Pak tolong, jangan membuat hati saya semakin sakit dengan sikap Pak Pandu yang seperti ini, " mohon ku


"Kamu mau kemana? " tanyanya masih menahan koperku


"Itu bukan urusan Pak Pandu, mulai detik ini, hubungan kita sudah berakhir" tegas ku "Ayo ga! " Arga terlihat begitu berat meninggalkan Pak Pandu, ia mungkin merasa Pak Pandu sudah banyak membantuku dan dia


Aku berjalan bersama Arga menuju pintu, sedang Pak Pandu masih berdiri menatapku dengan air mata yang tak tertahan


"Ka, apa nggak sebaiknya di pikirin lagi? " Arga sempat menahan langkah ku


"Sudah kakak pikirin berulang-ulang, dan ini keputusan kakak" tegas ku.


Aku keluar meninggalkan semua kenangan yang terpahat di apartemen ini, berat memang, tapi ini yang terbaik, air mataku terus mengalir sulit untuk aku bendung.


Di lobby Noval tengah berdiri di samping sebuah mobil, aku berjalan menghampirinya, tanpa aku sadari jika pak pandu sudah berada di belakangku, ternyata di mengikuti menggunakan lift sebelahnya, aku berusaha tidak menghiraukannya, dan tetap berjalan ke arah Noval,


"hai.. " sapa Noval menghampiriku, ia mengambil koperku dan membantu memasukannya ke bagasi, begitupun arga, aku menoleh ke belakang, Pak Pandu nampak begitu sedih menatapku, matanya penuh harap jika aku tidak pergi,


"Yuk! " ajak Noval, tapi hatiku begitu berat, aku kembali menoleh kearah pak pandu, bulir air mata jatuh di pipi pak pandu, entah kenapa aku ingin berdiri di depannya, menghapus air matanya dan memeluknya tapi itu akan semakin membuatku sakit " gimana kalau kalian saling bicara dulu" titah noval,


"Nggak usah, kita langsung pergi aja" tolak ku, saat noval hendak membukakan pintu, tangan pak pandu menyambar, menahan pintu mobil


"Ki, saya mohon kita bicara sebentar" pintanya


"Apa lagi yang harus kita bicarakan pak? " sahutku


"Ki, saya akan berusaha mencintai kamu ki, kasih saya waktu saya mohon jangan pergi"


"berusaha? sampai kapan pak? sampai saya terus tersakiti saat menyadari jika tidak ada ruang di hati Pak Pandu buat saya! "


"Ki, tolong... saya nggak bisa jauh dari kamu" ujarnya


"kenapa? pak pandu takut terus memikirkan bu bintang? " tanyaku " Pak jangan jadikan orang lain untuk pelampiasan, selesaikan dulu perasaan Pak Pandu, baru Pak Pandu bisa cari saya, terlalu sakit buat saya pak! Pak Pandu tahu hal yang membuat saya terluka? ketika pak pandu ada di samping saya, tapi itu hanya raga, sedang jiwa dan hati pak pandu tetap untuk bu bintang, terima kasih! pak pandu sudah banyak membantu saya, saya tidak akan lupakan itu, dan untuk proyek kita, saya akan tetap meneruskan sampai proyek selesai, setelah itu saya akan ajukan resign" Pak pandu hanya terdiam kaku menatapku dengan air mata yang terjatuh, ku hapus air mata pak pandu, lalu ku berikan pelukan terakhirku sebelum aku masuk ke dalam mobil.


Suasana haru masih aku rasakan hingga tangisanku pecah, saat mobil tengah melaju meninggalkan pak pandu yang masih berdiri kaku, aku sempat melihatnya dari kaca spion, bukan hanya dia yang terluka, aku pun sangat terluka.


"Ki, lo baik baik aja? " tanya Noval


Aku hanya mengangguk, sambil menghapus air mataku,


"Kita mau kemana ? " tanyanya


"Entahlah val, gue harus cari kontrakan" jawabku


"ya udah lo ikut gue aja! "


"kemana? " tanyaku bingung


Karena terlalu larut dalam kesedihan aku bahkan tak menyadari saat Noval menjemput ku dengan mobil, dan dia sendiri yang mengemudi


"Val, but the way, ini mobil siapa? " tanyaku terkejut


"aduh kak kiand kemana aja sih? baru sadar! " celoteh arga yang duduk di kursi belakang


"Heheheh.... ada deh! " sahutnya cengengesan


"Val, gue serius, lo nyewa mobil? " tanyaku


"Udah nggak usah berisik, duduk aja yang tenang" jawabnya sambil melirik ke arahku dan kembali fokus pada kemudi


"Thanks ya, sorry gue udah ngerepotin lo" ucapku tak enak hati


"sama-sama, gue bakal selalu ada buat lo" sahut Noval


Mobil melaju masuk ke perumahan yang cukup mewah


"Kita mau kemana? " tanyaku heran


"udah ikut aja" jawabnya


Mobil memasuki rumah mewah, bercat putih, gerbangnya saja begitu tinggi, aku masih bingung, kemana Noval membawaku


Setelah mobil berhenti, seseorang berlari menghampiri kami, dia membukakan pintu mobilku


"mas Noval, ibu sudah menunggu" ujar orang separuh baya yang menghampiri kami


"iya mang, oh tolong barang yang di bagasi keluarin dan bawa masuk ya mang.. minta tolong bi ema untuk bantu" titah Noval. aku semakin heran dan mulai menebak-nebak, apa Noval pemilik rumah ini? tapi mana mungkin, buat apa dia bekerja menjadi tiketing trans jakarta jika orangtuanya sekaya ini pikirku


aku tetap melanjutkan langkahku sambil terus meraba-raba rumah siapa ini?


Saat kami masuk, seorang wanita cantik mengenakan pakaian rapi, menyambut kami dengan baik


"sayang akhirnya kamu pulang! " ujar wanita itu, sambil memeluk Noval


"Maaf bunda, Noval sibuk! " hah aku makin terkejut saat Noval memanggil wanita di depannya dengan sebutan bunda, wanita itu sangat cantik dan terlihat lebih muda untuk menjadi bunda Noval


"kapan kamu nggak sibuk" sahutnya " ini pasti kiand! " tebaknya, sambil tersenyum kearah ku, begitu ramah dan hangat


"i.. iya.. tante.. " jawabku ragu, dia memelukku erat


"Ini... " dia menatap Noval


"Itu adik kiand bun, namanya arga... " jelas Noval


"siang tante! " sapa Noval sedikit membungkuk


"Siang, wahh kalian memang mirip" sahutnya "Ayo langsung masuk aja... " Wanita itu membawa kami ke sebuah ruangan besar dengan sofa mewah yang tertata rapi


"Duduk dulu sayang! " titah wanita itu


aku benar-benar bingung, percaya tak percaya dengan apa yang aku lihat, rasanya aku butuh banyak penjelasan dari Noval, Noval yang menyadari kebingunganku hanya tersenyum menatapku, dia tahu mungkin akan banyak pertanyaan yang terlontar UK untuknya


"Mau minum apa sayang? " tanyanya begitu ramah


"Nggak usah tante.. " tolak ku


"Hus..., kalian dari luar pasti haus, bentar ya! " Wanita itu beranjak dan meninggalkan kami, ini ku jadikan kesempatan untuk bertanya pada Noval


"val... itu..! " Noval seperti mengerti apa yang ingin ku tanyakan


"itu bunda gue! ini rumah ortu gue" jelasnya sambil tersenyum


"hah! jadi bener lo anaknya? " aku terkejut


"yahh... bisa di katakan seperti itu"


"Nggak usah syok gitu dong kak kiand" sahut arga


"Terus kenapa lo harus kos, dan kerja di transjakarta? " tanyaku


"itu namanya sebuah pilihan hidup ki! " penjelasannya tertahan ketika bunda Noval datang membawakan tiga gelas minuman di atas nampan


"Ayo minum dulu! " titahnya dan kembali duduk di sofa yang berhadapan denganku


"Makasih tante" ucapku


"Bun, kiand mau tinggal disini untuk sementara boleh? " tanya Noval tanpa berunding denganku terlebih dulu


"Val...! " responku keberatan "eng.. nggak tante, nanti saya cari kontrakan aja" sanggah ku


"Nggak papa kiand, disini banyak kamar kosong kok, tante tinggal sendiri di sini, kebetulan ayah nouval sedang ada dinas ke luar kota" sambutnya hangat


"hmmm jangan tante, nanti ngerepotin"


"apa yang kamu repotkan? nggak ada kiand, tante justru seneng kalau kamu ada disini, Noval pasti akan pulang" ujarnya


Aku menoleh kearah Noval, ia tampak hanya tersenyum


"hmm beneran tante? nggak ngerepotin? tanyaku ragu.. Nouval masih senyum senyu. aja menatap bundanya


" iya beneran, nanti kamu bisa tidur di kamar tamu, dan arga bisa tidur di kamar nouval" jelasnya


"makasih banyak tante, saya akan secepatnya mencari kontrakan" ujar ku


"udah kamu tenang aja! mau lama juga boleh kok" jawab bunda Noval


kamipun berbincang bincang, ternyata Noval adalah anak satu-satunya, ayahnya kerja di salah satu perusahaan BUMN dan memiliki jabatan tinggi , bundanya sendiri memiliki perusahaan florist yang besar dan cukup terkenal, Noval sengaja kos dan bekerja karena dia i gin manfiri dan tidak tergantung dengan orang tuanya, cukup mengagumkan


Setelah berbincang, aku dan arga di antar ke kamat untuk istirahat dan membersihkan tubuhku.


"Istirahat, nanti kita makan malem barrng" ujar nouval saat mengantarku ke kamar, dia mengusap kepalaku, "jangan sedih lagi! " sahutnya dan berlalu pergi menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


Aku beruntung karena di kelilingi orang baik seperti nouval, kak nanda, bahkan pak jefry dan pak yoga merema begitu perduli dan mengkhawatirkan.