
" Pi.... Papi, bangun pi...! " teriak kak candra sambil menggoyangkan tubuh papi.
Semua panik, Yoga kemal yang kebetulan ada disana tak kalah panik melihat papi pingsan di atas pangkuan kak candra, Aku Yang saat itu hendak pergi memilih kembali untuk melihat kondisi papi
"Pi... papi! " teriakku. Kak candra menatapku penuh amarah, yah ini semua karena aku
"Kemal, siapin mobil! kita bawa papi ke rumah sakit! " titah mami. Kemal pun dengan cepat berlari menuju garasi, ada rasa bersalah dalam hatiku, aku hanya menunduk menatap semua orang yang mencoba membangunkan papi.
"Puas lo Du! " teriak kak candra " kalau sampai terjadi apa-apa sama papi! gue nggak akan tinggal diem! " ancamnya
Aku terima cacian dan ancaman Kak candra kali ini, karena memang ini salahku
"Ada apa sih rame-rame ?" tanya Reina yang terlihat berlari dari arah kamarnya
"Papi...! papi kenapa? " tanya Reina saat melihat kondisi papi, tak ada satu orangpun yang menjawab pertanyaan Reina
"Mobilnya sudah siap! " ujar kemal
Kak Candra di bantu Yoga membawa Papi menuju mobil, aku yang kala itu ingin membantu, langsung di tolak oleh kak candra
"Jangan sentuh! atau gue hajar lo! " ujarnya. Duniaku hancur benar-benar hancur, apa yang akan aku lakukan setelah ini, kehilangan kiand, dan sekarang papi sakit karena aku
"Ayo Bro, kita naik mobil lo! " ujar Yoga sambil menepuk pundakku
"Kak Pandu papi kenapa? " Tanya Reina menangis,
"Papi nggak papa, Reina tunggu di rumah ya, nanti kakak kabarin, Reina doain papi ya! " ujarku menenangkan Reina
Terlihat mobil papi, sudah melaju, di sana ada kak candra dan mami yang menemani papi, sedang aku mengikuti dari belakang.
Sesampainya di rumah sakit, Papi segera di tangani Oleh Dokter, Mami hanya duduk sambil menangis di kursi tunggu, sedang kak candra terlihat begitu cemas, dia terus mengawasi pintu ruang darurat, ingin rasanya aku memeluk mami saat itu, tapi rasa bersalah ini terus menyelimuti, aku tak sanggup menatap mata mami yang menyimpan kekecewaan padaku.
"Semua akan baik - baik aja! " ujar Yoga. Aku hanya bisa berharap seperti itu, bagaimanapun perlakuan papi padaku, dia adalah papiku, dan aku menyayanginya.
Waktu sudah berjalan kurang lebih 45 menit, tapi belum ada satupun dokter yang keluar, kami masih cemas, mami masih menangis, dan kak candra berusaha merangkul mami untuk menenangkan, aku memilih berdiri agak jauh dari mereka. Tak lama seorang pria kurang lebih berumur 40 tahun mengenakan sergam dokter, keluar dari ruang UGD
dengan cepat mami dan kak candra menghampiri pria itu, dan aku hanya mengawasinya dari kejauhan
"Bagaimana kondisi papi saya dok? " tanya kak candra,
" kondisi pak bagaskara sudah membaik, tadi memang sempat terjadi fibrilasi ventrikel yaitu irama jantung yang tak terkendali, biasanya di sebabkan oleh stres atau kejutan yang membuat kontraksi yang sangat cepat pada jantung, untunglah kalian cepat membawa Pak Bagaskara ke rumah sakit, sehingga semua bisa di atasi" jelas pria tersebut. Aku sedikit lega mendengarnya, meski ke khawatiran itu masih menyelimuti hatiku.
Aku memilih menunggu di ruang tunggu, karena akan percuma jika aku menemui papi sekarang, kak candra pasti akan melarangku, dan aku memakluminya.
"Nih minum! " Yoga menyodorkan sebotol air mineral saat aku tengah duduk di kursi taman rumah sakit
"Thanks ! " jawabku sambil meraih botol tersebut, dan langsung meneguknya
"mending lo pulang dulu, baju lo masih basah, cuaca rumah sakit juga dingin banget" ujar Yoga.
Saat itu jam menunjukan pukul 8 malam, dengan kondisi cuaca yang berangin setelah hujan, aku bahkan tak merasakan kedinginan, sampai Yoga berkata seperti itu
"Nggak usah! nanti juga baju gue kering! " jawabku
"Sampai kapan lo mau nyiksa diri lo sendiri? " tanya Yoga yang kemudian duduk di sebelahku
"Entahlah Ga, Gue juga nggak tahu apa setelah ini gue bisa tetap hidup atau nggak! " sahutku
"Hush sembarangan lo kalau ngomong! " sergah Yoga
"Bintang ninggalin gue, Kiand ninggalin gue, dan gara-gara gue juga papi kena serangan jantung! jadi apa gunanya gue ga? "
"Du, kalau lo memang cinta sama Kiand, lo nggak boleh nyerah! surabaya masih ada di indonesia bung! masih bisa buat lo jelajahi dimana keberadaan Kiand! " ujar Yoga
"Kiand udah bener-bener menjauh dari gue, dia memilih untuk menyerah menghadapi keluarga gue Ga! jadi buat apa gue cari kiand! " sahutku sambil kembali meneguk air mineral yang di berikan Yoga
"Kalau jodoh nanti dia balik lagi kok, percaya deh...lo jangan menyerah! "
"Kalau memang doa jodoh gue, dan dia cinta sama gue, harusnya di nggak akan pernah pergi" sahutku
"Yah, keadaannya sulit ga, kiand pasti punya alasan kenapa dia pergi! "
"Terserah lo deh! yang jelas life must go on Bro! " Yoga menepuk pundakku
Kali ini aku benar-benar menyerah dengan hidupku, tak akan lagi ku kejar kebahagiaanku, biarlah semua berjalan sesuai alurnya, sampai tuhan menunjukkan titik kebahagiaanku
"Pandu! " Aku mendengar suara Bintang memanggilku, benar saja, dia terlihat berlari dari lobby
"Kamu kenapa? kok bajumu basah? kondisi om bagaskara gimana? " tanya Bintang. Aku hanya terdiam menatap kecemasan dari wajah Bintang, dan hatiku kembali mengiba diriku sendiri
"Pandu! ada apa sebenarnya? " tanya Bintang
Yoga yang duduk di sebelahku, hanya diam, diapun bingung apa yang harus di katakan pada Bintang
"Mending lo langasng aja ke UGD! " ujar Yoga
"Pandu! jawab pertanyaanku, kamu baik-baik aja? " Bintang menggenggam tanganku, dulu aku akan merasa tenang saat menatap wajah itu, tapi kali ini sebagian sisa sakit itu masih ada, hingga membuat hatiku terasa dingin
"Aku nggak mau ada kesalah pahaman lagi, lebih baik kamu langsung temui papi dan kak candra! " ujarku melepas genggaman tangan Bintang.
"Oke! aku pergi! " Bintang berjalan meninggalkanku, saat melihatnya aku semakin merindukan Kiand, seandainya kiand ada disini, mungkin aku tak akan selemah ini
...****************...
Dengan pakaian yang setengah kering, aku melangkah menuju kamar perawatan, Setelah melakukan observasi beberapa jam, malam ini papi sudah di pindahkan ke ruang perawatan di lantai 3 kamar VIP. Kami berkumpul di sana, tidak terkecuali, Bintang dan Kak Candra. Sedang Reina masih di perjalanan ia di jemput oleh kemal.
Mami Menghampiriku yang duduk di sofa sebrang Tempat tidur Papi
"Beruntung Papi mu bisa melewati masa kritisnya" ujar mami sambil duduk di sampingku, dan itu membuat Yoga menjauh, seolah memberi ruang untukku dan Mami
"Maafin Pandu mi! " ucapku, jelas papi sakit karena aku, meski aku pun terluka saat ini
"Nak, kamu adalah harapan papi, papi sangat menggantungkan kesuksesan perusahaan yang sudah ia rintis di tanganmu" ucap mami yang sedari tadi mengelus kepalaku. "Mami tahu kamu kecewa, kamu marah, tapi semua itu papi lakukan untuk kita, biar bagaimanapun nama baik kita harus benar-benar di jaga, dan wanita itu dia tidak layak untuk mendampingi mu nak! " Lagi-lagi mami memandang kiand wanita yang tak layak untukku, meski mami tahu aku bahagia dengannya.
"Tolong untuk kali ini, dengarkan kata-kata papi mu, tadi dokter bilang, jika papi terkena serangan jantung lagi, kemungkinan nyawanya tidak akan tertolong! apa kamu mau itu terjadi? "
Aku hanya diam dan menunduk, menahan air mataku yang mulai membendung, meski sesekali ku biarkannya terjatuh. Ingin marah dengan keadaan, tapi aku tak mampu. Aku sadar, jika hidup tak bisa kita atur sendiri, aku hanyalah pemeran disini, yang ku lakukan hanya mengikuti arahan sang sutradara.
Seberapa erat aku menggenggam kiand! nyatanya kiand tetap pergi, meski aku memohon padanya, tapi dia menyerah, lalu aku bisa apa?
"Tolong minta maaf pada papi mu, dan kembalilah dengan kami! " permintaan mami, memang terdengar ringan, tapi untukku terasa berat, setiap aku melihat papi, aku kembali teringat kiand, bagaimana kiand meninggalkanku, meski aku tidak tahu alasan kenapa ia memilih pergi
"Baik mi! " jawabku berat hati.
Aku bangun dan melangkah kearah tempat tidur dimana pria tua yang ku sebut papi terbaring, dengan beberapa selang di tubuhnya, yang menyambung pada monitor kecil, tangan kananya terpasang infus dan oximetri yang terjepit di ibu jarinya.
"Sekali lagi lo buat papi seperti ini, gue yang akan bunuh lo! " Bisik Kak Candra yang saat itu berdiri di samping papi, namun memilih pergi saat aku mendekat
Aku duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur papi, ku genggam tangannya yang mulai keriput, Pria ini membuat hatiku hancur berkeping-keping, tapi pria ini juga yang memberikan kasih sayang untukku, lalu aku harus apa? apakah aku mampu membencinya? atau membiarkannya saat ia terkapar seperti ini? Sebuah gerakan kecil terlihat dari jemarinya, aku yang terkejut, segera menatap wajahnya , berharap ia segera membuka mata.
"Pi, maafin pandu" tuturku sambil meneteskan air mata, Ku angkat genggaman tanganku, dan ku usapkan ke pipiku. "Saat itu pandu benar-benar emosi, pandu rapuh pi, pandu harus kembali terluka," aku merasakan kembali gerakan jemari papi, tapi papi masih belum membuka matanya
"Pandu harap papi mengerti! sekarang pandu disini, dan pandu tak akan pergi lagi, jadi pandu mohon bangun pi! "
Ruang perawatan papi berubah haru, Mami yang sedari tadi mendampingi papi, terus menangis, melihat orang terkasihnya tak berdaya, kak candra, bintang bahkan yoga, tak luput dari kesedihan ini, melihat hal itu aku semakin merasa bersalah, seandainya papi tak bangun lagi, entah bagaimana cara aku bisa memaafkan diriku sendiri, mungkin aku tak akan mampu menatap mata mami yang akan merasa sangat kehilangan belahan jiwanya
"Tangan papi gerak mi! " ucapku sambil menunjukan tangan papi yang ku genggam
"Panggil dokter! " titah mami, kak candra memanggil dokter dengan menekan tombol nurse call, dan tak lama seorang perawat datang bersama dokter yang berjaga
Mereka mulai memeriksa kondisi papi, dari mulai detak jantung, nadi dan kedua matanya
"Semua bagus, dan mulai normal! " ucap dokter pada seorang suster
"Syukurlah...! " sahut Mami
"Kita hanya tinggal tunggu Pak Bagaskara sadar ya bu, mungkin karena masih dalam pengaruh obat, membuat pak bagaskara sulit untuk sadar sepenuhnya" jelas sang dokter
Kami hanya mengangguk mendengarkan penjelasan dokter yang lihat bernama Nikol
"Terima kasih dok! " ucapku