
POV Kiand
Malam ini aku meminta ijin pada noval tidak pulang ke rumah melainkan ke apartemen Pak Pandu, Noval yang awalnya keberatan akhirnya mengijinkan ku setelah aku menjelaskan alasannya.
Aku benar-benar menikmati kebersamaan kami, meski dengan hati yang gelisah, lusa aku akan meninggalkannya, menghilang hingga tak terendus jejak ku.
Sesampainya di apartemen ku jatuhkan tubuhku di atas sofa, rasanya badanku lelah, mataku masih saja mengantuk padahal aku sudah tertidur di mobil.
Aku merasakan seseorang menggendong tubuhku, dan menaruhnya dengan hati-hati di atas kasur, saat itu aku tidak benar-benar tertidur, tapi aku enggan membuka mataku, rasanya aku nyaman saat tubuhku berada dalam pangkuannya, semua ketakutan ku lenyap tak berarti.
Sulit untukku memejamkan mata, meski rasanya tubuh ini sangat lelah, membayangkan aku tidak akan bisa lagi melihat pak pandu setelah ini. Pikiranku saat ini tidak fokus. Ku putuskan untuk bangkit dari tempat tidur, membersihkan wajahku dan mengganti pakaianku. karena aku tidak membawa baju aku mencari baju pak pandu yang mungkin bisa ku kenakan, ternyata semua isinya hanya kemeja, dan kemeja pak pandu sangat over size saat ku kenakan.
Aku berjalan menghampiri pak pandu di ruang kerjanya, yang dulu pernah ku gunakan sebagai kamar, cukup lama aku menatap pria itu, dan jantungku masih terus berdegup saat matanya menatapku.
Aku selalu berusaha tetap ceria di matanya, meski sebenarnya aku sedang menghitung hariku bersamanya, cinta memang tidak pernah salah, ketika jatuh pada hati kita, tapi kondisi dan keadaan yang membuat cinta itu salah, seandainya dari awal aku bisa me manage perasaan ku, mungkin rasanya tidak akan sesakit ini saat aku harus merelakan Pak Pandu.
Kala itu Pak Pandu memintaku memasak untuknya, sebagai syarat dia akan menonton drakor bersamaku, aku memasak kwetiau goreng, aku pikir dia akan menungguku di ruang tv, ternyata dia menemaniku, hingga fokusku hilang, dan tanpa sengaja telunjuk ku teriris, gerakan spontan pak pandu justru membuatku semakin patah hati, perhatian yang pak pandu berikan membuatku tak sanggup untuk menahan lagi perasaan ini, ingin aku menolak tapi bagaimana dengan ayah? kadang aku ingin marah dengan keadaan, " kenapa tuhan mempertemukan ku dengan pak pandu, jika akhirnya aku harus berpisah dengannya? " " kenapa aku harus mencintainya sedalam ini? " Aku berpaling dari pak pandu, aku kesal, aku marah, aku terluka, tapi tak bisa ku lampiaskan semua perasaanku.
Pelukan Pak Pandu selalu membuatku tenang, rasanya aku enggan melepaskan walau hanya satu detik, kenyamanan yang tak pernah ku rasakan setelah ibu meninggal dan ayah sakit, terkadang aku ingin menanyakan banyak hal pada pak pandu, "apa yang membuat dia mencintaiku? lalu bagaimana perasaannya pada bu bintang saat ini? tapi bibirku terkunci aku hanya ingin menikmati hari-hariku bersamanya tanpa pertanyaan-pertanyaan itu, aku hanya ingin tahu jika pak pandu mencintaiku, dan aku menginginkannya.
Aku benar-benar menikmati malam bersama, sekecil apapun moment itu, karena semua akan ku bungkus menjadi kenangan bahagia, saat aku benar-benar harus berpisah dengan pak pandu
Kami duduk di sofa sambil menonton drakor yang sudah ku pilih, ku sandarkan kepalaku pada dada Pak Pandu, rasanya begitu nyaman, dan aku tak membayangkan rasanya akan seenak ini, aku lebih tenang daan aku merasa aku aman. Pak Pandu sesekali memainkan rambutku mengusapnya dengan lembut, dan mengecup keningku , semua sentuhan yang pak pandu berikan seolah memekarkan semua bunga di dadaku dan menerbangkan ratusan kupu-kupu.
Tanpa sadar aku sudah terlelap dalam pelukannya , kami berdua tidur di sofa. satu tangannya di jadikan sebagai tumpuan kepalaku dan tangan satunya lagi melingkar di perutku. Televisi masih menyala, bergantian menonton kami.
Dekapannya membuatku merasakan sesuatu yang melebihi dari kata aman. seolah aku tak perlu takut akan apapun lagi, meski pada kenyataannya aku akan menghilang setelah ini dan semua ketakutan ku akan muncul, pelukan pak pandu seakan menjanjikan sesuatu padaku, bahwa dia akan tetap bersamaku menjagaku, yah semuanya tampak akan baik-baik saja, meski aku tahu akhir dari kisahku, namun satu hal yang ku sadari sejak aku mengenal pak pandu, hidup jauh lebih berwarna saat kau sedang jatuh cinta
...****************...
Aku sedikit terkejut saat membuka mata, karena ternyata aku sudah berada di sebuah tempat tidur, dan saat ku menoleh, aku melihat Pak Pandu yang masih terlelap di sampingku. Ku pandangi wajahnya yang begitu tampan.
"Tidurlah lebih lama" ujar Pak Pandu mengejutkanku, saat itu aku hendak mengusap hidungnya, dan refleks aku pura-pura masih tertidur
Aku merasakan Pak Pandu menatapku, tapi aku enggan membuka mata
"Kamu pasti lelah.. " ucapnya aku masih memejamkan mata, namun ku lemparkan senyum padanya
"Kamu yakin tidak mau bangun? " tanyanya, tapi aku sengaja tak ingin membuka mata
"Baiklah, tidur sejenak.. dasar pemalas! " Dia mengecup keningku lalu turun dari tempat tidur. Tak lama setelah itu aku menyusulnya ke luar kamar, tampak sebuah hidangan di atas meja makan
"Ayo sarapan! " ajak Pak Pandu sambil menata sepotong roti bakar dan telur mata sapi.
"Maaf, cuman ini yang bisa saya masak" ujarnya
Aku benar-benar terenyuh, rasanya semakin berat untukku meninggalkan Pak Pandu , tanpa bisa berkata-kata aku duduk dan menikmati sarapan pagi ini, kami benar-benar menghabiskan waktu berdua.
Jam menunjukan pukul 10 pagi, Aku menemani Pak Pandu di ruang kerjanya, beberapa dokumen sudah dia kirim via email untuk proyek pondok emak, hanya tinggal beberapa hari untuk kami menyelesaikan berkas-berkas serta ijin bangunan.
Terdengar dering ponsel Pak Pandu, awalnya dia enggan mengangkat, tapi aku memintanya untuk menjawab telpon yang terus berbunyi, dan benar saja itu Pak Jefry
"Emang lo nggak bisa handle? " sepertinya ada hal serius
"Kenapa? ada masalah? " tanyaku
"Papi memintaku ke kantor, kamu ikut ya! " Ajak Pak Pandu, mulai hari ini aku sudah tidak bekerja di perusahaan itu, apa jadinya jika pak Bagaskara melihatku masih berada di sana, aku takut dia justru akan menyakiti ayah
"Saya pulang aja pak! nggak enak kan saya sudah ijin cuti sama Pak Darma"
"Saya harus ke bandung hari ini, kamu nggak mau antar saya? "
Aku terdiam "Bukannya pacar besok perginya? " tanyaku
"iya, tapi tadi jefry bilang ada masalah di bandung, aku harus segera kesana, "
"Ohh ya udah, Pacar pergi aja, jangan sampai pak bagaskara menunggu" jujur rasanya berat sekali, tai itulah hidup, terkadang kita harus memilih mengikhlaskan dari pada mempertahankan.
"Kamu yakin nggak ikut? " tanyanya
Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala
"Ya udah aku siap-siap dulu ya... "
"Pacar, aku siapkan bajunya ya! "
Pak Pandu terdiam, dia tersenyum saat aku mengatakan diriku dengan sebutan "aku"
"Booleeh.. " jawabnya sebelum dia bergegas menuju kamar mandi.
Aku segera ke kamar pak pandu menyiapkan keperluannya, mulai dari kemeja, celana, dasi dan jas yang akan dia kenakan, rasanya hatiku bagai tersayat sembilu perihh, tanpa sadar aku menangis, aku pasti merindukannya, seandainya aku bisa memutar waktu ku, aku akan memilih menutup hatiku jika akhirnya aku harus merasakan sakit seperti ini.
"Udah? " tanya Pak Pandu, aku yang saat itu masih berada di atas kasur sambil memeluk kemeja pak pandu sedikit terkejut dan segera menghapus air mataku, untunglah pak pandu tidak sempat melihat aku menangis
"Udah pacar silahkan...! " aku menunggu di luar kamar, dan tak lama pak pandu keluar dengan pakaian rapih, namun belum mengenakan dasi
"Kamu bisa pakaikan aku dasi? " tanyanya sambil menyodorkan dasi ke arahku,
"Bisa...! " jawabku. aku sering memakaikan arga dasi saat dia hendak berangkat sekolah
Ku pakaikan dasi di leher kemeja pak pandu, dia terus menatapku hingga aku salah tingkah
"jangan pernah berpikir untuk pergi dariku, karena aku tak akan melepaskan mu" ujarnya sambil menarik pinggangku, hingga aku jatuh dalam pelukannya .
"Pacar lepasin, ini belum selesai... " ujarku sambil merapikan dasi
"Aku masih mau disini, tapi ... "
"Udah nggak papa, nanti kabarin ya kalau sudah sampai kantor"
Pak Pandu pun pergi ke kantor, dan aku masih berada di apartemen, saat pak pandu keluar, seketika tangis ku pecah, apa yang akan aku lakukan setelah ini, bagaimana bisa aku menyakiti hati pak pandu..
aku benar-benar menangis tersedu-sedu di atas sofa, hanya itu yang bisa ku lakukan