
POV Pandu
"Ngapain kesini! " tanyaku saat beberapa orang suruhan papi sudah berada di hadapanku ketika aku membuka mobil
"Maaf Tuan, tapi pak Bagaskara meminta kami membawa anda! " ujar salah satu pria itu
"nggak perlu, saya bisa pulang sendiri! "
"Maaf tuan, tapi ini perintah pak bagaskara! " Tanpa menunggu ijinku, mereka langsg membawaku masuk ke dalam mobil, sekuat apapun aku berontak, tenaga mereka lebih kuat.
"apa apaan ini! lepasin nggak, saya masih ada urusan yang harus saya selesaikan" ujarku
"Maaf tuan, saya hanya mengikuti perintah pak bagaskara, ohh ya! " salah satu pria yang berada di samping ku merogoh saku jasku dan mengambil ponsel
"hey, itu ponsel saya! kenapa kamu ambil juga! " teriakku
"ini perintah tuan! "
Papi memang keterlaluan, Monic pasti sudah cerita semuanya sama papi, bagaimana aku bisa ngabarin kiand?
Mobil melaju menuju bandara, Papi bahkan sudah menyewakan pesawat pribadi untuk menjemputku
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa diam, sambil berpikir bagaimana caranya aku bisa menghubungi kiand
"Mana ponsel saya, saya mau menghubungi teman saya! " pintaku pada salah satu penjaga
"Nggak bisa tuan! selama tuan dalam perjalanan ke jakarta, tuan tidak boleh menghubungi siapapun! "
aku semakin gelisah, kala ponseluku terus berdering
"itu ada panggilan masuk, bagaimana kalau klien penting yang menghubungi saya! "
"semua klien tuan, sudah di handle oleh pak bagaskara "
"aghhhh!!!! sial! "
satu setengah jam menjadi sangat lama ku rasakan, hingga akhirnya pesawat ku mendarat di bandara halim PK. Sesampainya disana aku di jemput oleh kak candra tapi dia tidak bersama bintang melainkan Dian, yang dulu adalah teman kiand
"Sorry, gue harus jemput lo dengan cara seperti ini! " ujar kak candra
Aku hanya memandangi mereka dengan tatapan sinis, kemana Bintang? pertanyaan yang muncul di kepalaku saat itu
" apa maksudnya ini? " tanyaku
Kak Candra menarik tangan ku menjauh dari orang suruhan Papi dan juga Dian yang sedari tadi tampak berdiri di samping kak candra
"lepasin tangan gue, nggak usah tarik-tarik" ujarku kesal
"oke oke! " Kak candra melepaskan tangan ku
"kenapa lo jemout gue kaya gini, lo pikir gue buronan? "
"semua ini ide papi, bukan gue! "
Aku menoleh kearah Dian yang masih berdiri agak jauh dariku dan kak candra
"apa maksudnya itu? " tanyaku
"Bukan apa-apa, gue kebetulan ketemu dia, terus gue ajak aja buat jemput lo! " jawabnya, anehnya aku melihat kak candra sedang berbohong
"Bintang mana? "
"kenapa sih? lo masih perduli sama dia? "
"Bintang mana! " kali ini penuh penegasan
"Bukan urusan lo! " jawabnya santai
"Gue tanya sekali lagi Bintang mana? " kali ini suaraku agak meninggi
"Bintang di rumahnya lah, nggak mungkinkan gue dua puluh empat jam sama dia terus! "
Aku semakin kesal mendengar jawaban kak candra, yang seolah tak perduli pada Bintang , ku tarik kerah kemeja kak candra, hingga wajah kami saling berhadapan begitu dekat
"Kalau sampai lo berani nyakitin Bintang, lo tahu apa yang bakal gue lakuin ke lo! "
Kak Candra langsung menyingkirkan tanganku dari kerah kemejanya,
"Kenapa lo masih perduli? lo masih sayang sama dia? lalu cewek murahan lo itu gimana? " Darahku terasa mendidih saat itu, ingin rasanya aku menghabisi kak candra, tapi itu tidak mungkin ku lakukan
"Jaga mulut lo! kiand bukan cewek murahan! harusnya lo sadar, cewek yang sekarang sama lo itu yang murahan! " ku arahkan telunjuk tepat di wajah kak candra
"Gue nggak mau debat sama lo, yang jelas papi minta gue bawa lo pulang, karena papi tahu, apa aja yang lo kerjain di surabaya" Kak candra berjalan begitu saja, dengan santainya dia menggandeng tangan Dian, dan langsung menuju mobil.
Aku benar-benar geram dengan sikapnya, apa bintang tahu kalau kak candra sudah mengkhianatinya? perasaan cinta memang sudah tak ada untuk bintang, tapi tak bisa di pungkuri aku masih perduli.
Aku menaiki mobil yang berbeda dengan kak candra, mobil ini melaju membawaku pada rumah yang menurutku tak layak di sebut rumah, sesampainya di rumah, mami terlihat berdiri di halaman dengan mata yang sembab, dia seakan sedang menanti kedatanganku.
"Pandu! " mami berlari memelukku saat aku keluar dari mobil, aku bingung, apa yang sebenarnya terjadi!
"mi, kok mami nangis? "
"Pandu, adikmu! " ujar Mami. Aku yang saat itu sangat khawatir langsung membawa mami masuk ke dalam rumah
"Ada apa ini? " aku melihat Papi yang tengah berdiri di hadapan kemal dengan wajah yang memerah, kemal sendiri hanya tertunduk lesu
"Bagus akhirnya kamu bisa pulang juga! kenapa telpon papi nggak kamu angkat? " Papi berjalan mendekat kearahku
"Harus papi menjemput pandu seperti itu? " aku yang sudah kesal dari awal, tak menjawab pertanyaan papi justru malah bertanya balik
"Yah, seandainya kamu angkat telepon papi, papi tidak akan menjemput kamu dengan cara seperti itu! " jawab papi
"Mau papi apa? "
"Tinggalkan wanita itu! "
"Nggak bisa pi, pandu sayang sama kiand! "
"Tinggalkan wanita itu, atau kembalikan semua aeet papi! " Kata-kata papi sontak membuat aku terkejut, bukan hanya aku, mami pun yang sedari menangis di sampingku ikut terkejut
"Pi, papi ngomong apa sih? " sela mami
"Oh, oke pandu akan serahkan semua aset papi, asal papi tahu, pandu nggak butuh semuanya! " ku keluarkan ponsel, dan menaruhnya di atas meja,
"Kunci apartment, kunci mobil semuanya ada di kantor! " ujarku
"nggak pandu, papi mu cuman bercabda! jangan lakukan itu ya nak! " Tangis mami semakin pecah , tapi aku benar-benar sakit hati dengan ucapan papi
"Maafin pandu mi, tapi ini sudah jadi keputusan pandu! "
"lalu bagaimana nasib adikmu kalau kamu pergi! " mami terus mecengkram lenganku tak ingin aku pergi
"Kalian semua sama aja, nggak adik nggak kakak, apa sih yang kalian cari dari sebuah cinta? apa yang kalian dapatkan! " teriak papi
"Maksudnya apa mi? " aku merasa ada sesuatu yang aku tidak tahu
"Adikmu reina! tolong temui dia! " pinta mami
Tanpa pikir panjang aku segera menuju kamar Reina, selama aku sibuk dengan perusahaan papi dan kiand, aku memang jarang pulang dan jarang menemui reina
"reina... reina... buka! " aku terus mengetuk pintu kamar reina yang terkunci " Ini kak pandu, reina di dalam? " tanyaku lagi.
Aku mendengar suara tangis reina di balik pintu, "reina tolong dengerin kak pandu, buka pintunya! " aku terus mengetuk pintu kamar reina, sampai akhirnya Reinapun membukakan pintu kamarnya, matanya begitu sembab, entah sudah berapa lama dia menangis
"reina kamu kenapa? " tanyaku, dia hanya diam berdiri mematung lalu memelukku dengan erat
" Kamu tahu pandu! adikmu hamil! " teriak papi
"hamil? kamu hamil rei? " tanyaku masih tidak percaya. Selama ini Reina adalah gadis baik-baik, diantara kami bertiga reinalah yang paling penurut.
"Reina! jawab peertanyaan kakak, apa benar yang di bilang papi? " Tangisnya malah semakin pecah
"jawab reina, siapa yang menghamili kamu! " papi kembali berteriak
"sudah pi! sabar... papi ingat, dokter bilang papi harus jaga emosi papi! " mami pun tak henti-hentinya menangis sambil berusaha menenangkan papi.
Dalam keadaan seperti ini, kak candra justru menghilang entah kemana, dan lagi-lagi akulah yang harus membereskan semuanya
"Siapa reina? siapa yang menghamili kamu! " Reina tak menjawab, tapi matamya mengarah ke arah kemal
"apa orang itu kemal? "
Reina masih diam tak mengatakan apapun, dia hanya bisa menangis dan menangis
" kamu nggak usah takut, bilang sama kakak siapa laki-laki yang sudah menghamili kamu! "
"kakak janji jangan lakukan apapun sama dia! " tatapan Reina seakan mengiba
"i'm promise " ucapku memberikan senyuman
Reina menelan ludah keras, dan mulai membuka mulutnya meski ragu-ragu, dia menggigit kedua bibirnya dan mencoba menahan isak tangisnya, matanya mengarah ke arah kemal, yang berdiri di belakang papi
"kemal! "
Seketika telingaku berdengung, aku masih bergeming dalam posisi yang sama
"Kemal? " tanyaku seakan tak percaya
Reina hanya menatapku dengan tangis yang terus mengalir
Detik itu juga sesuatu di kepalaku bergejolak. Aku marah, ku kepalkan tanganku dan segera berbalik hendak menghampiri Kemal
"brengsek lo! " teriakku
"kak! " teriak reina
"Pandu mau apa? " Papi mencegahku " jangan kotori tanganmu itu untuk laki-laki bajingan seperti dia! " ujar papi
"Maaf Pak, maaf... saya khilaf waktu itu! " kemal terus menunduk di depanku
"kenapa lo lakuin itu ke adek gue bangsat! " teriakku kesal
"Aku mencintai kemal kak! " suara lirih reina
" Cinta? cinta macam apa yang kalian jalin? " sahut papi
"kenapa? karena kami berbeda? " ujar Reina
"Kamu dan kakakmu sama saja, kenapa kalian harus mencintai orang yang rendah martabatnya"
"pi, cinta itu bukan soal harta, harkat, martabat atau apapun yang papi pikirkan! " sahutku kesal
"lalu, tentang apa? tentang perasaan kalian?"
"Maaf Tuan! saya memang hanya seorang supir pribadi tapi saya akan bertanggung jawab untuk menikahi Reina, dan berusaha membahagiakannya" Sebenarnya aku sangat marah pada kemal saat itu, tapi sepertinya Reina mencintai kemal, begitupun kemal, dan aku sangat kenal kemal, dia anak yang baik, tapi harusnya ini tidak terjadi
"Bahagiain anak saya? pake apa? jangan omong kosong kamu ya! mau kamu kasih makan apa anak saya? "
"Maaf pak! Saya akan bekerja keras untuk Reina! "
"Saya tetap dengan pendirian saya, gugurkan kandungan itu! " Apa yang aku dengar barusan? hal itu benar-benar terucap dari seorang ayah?
"Kak, tolongin Reina kak! Reina nggak mau gugurin kandungan ini! " tangis Reina seraya memohon kepadaku
"Pi, papi udah gila? Reina dan kemal memang salah, tapi menggugurkan Kandungan bukan sebuah solusi pi, janin itu nggak bersalah! "
"Mau di taruh dimana muka papi Pandu! kamu, Reina kalian sudah mempermalukan papi!" ujar Papi " Apa yang sudah kamu lakukan di surabaya? membatalkan kerja sama hanya karena seorang wanita?meninggalkan monic begitu saja, apa yang harus papi katakan pada orang tua monic? "
"Pandu nggak cinta sama Monic, jadi jangan terus menjodoh-jodohkan Pandu ! "
"Pokoknya papi tetap dengan pendirian Papi, papi akan cari dokter terbaik, untuk menggugurkan kandungan Reina, dan papi harap masalah ini tidak sampai keluar, papi nggak akan punya muka untuk menghadapi para rekan bisnis papi! "
"Apa karena itu pi? sebuah nama baik? iya? papi rela menghancurkan kebahagiaan anak-anak papi? papi egois! " aku marah, aku muak, aku bahkan tak habis pikir dengan pikiran papi
"Karena nama baik papi, kalian hidup berkecukupan! kalian memiliki apapun yang kalian mau! "
"Pi, Reina mohon jangan pi! " kali ini Reina berlutut di kaki papi
"Reina kamu masih harus kuliah, bagaimana kuliahmu dengan perut yang semakin membesar nak! " ucap mami sambil mengelus Punggungnya
"Pi, mi! pandu tetap tidak setuju dengan keputusan papi! "
"papi tidak perlu persetujuan kamu! "
"Oke! kalau itu mau papi! " Reina bangkit, dan menatap wajah papi dengan penuh amarah "Kalau papi mau menggugurkan kandungan Reina, silahkan! Tapi reina akan ikut mati bersama janin yang reina kandung! "
"Reina apa yang kamu bicarakan? " sahut mami
"Tuan, saya mohon janin itu tidak bersalah, kami melakukannya dengan dasar saling mencintai, aku sangat mencintai Reina! "
"Harusnya lo nggak lakukan hal ini Bodoh! " ujarku pada kemal
"Kak pandu, tolong! " mohon Reina
"Pandu nggak akan biarkan papi menggugurkan kandungan Reina! "
"Jangan gila kamu! semakin lama perut Reina akan membesar, dan itu akan menjadi pemberitaan dimana-mana! " geram papi
"Nikahkan Reina dengan kemal! " ucapku " mereka tidak akan terus menerus memberitakan kehamilan reina! "
"Tidak! " tolak papi tegas "Tidak akan ada pernikahan! "
"Papi jahat! reina benci papi! " reina berlari ke kamarnya, dan langsung di ikuti mami
"Papi terlalu egois, bahkan pada anak-anak papi, pandu nggak ngerti apa yang ada di otak papi! " aku berbalik hendak meninggalkan papi
"pandu! " panggil papi " malam ini kamu akan bertunangan dengan monic, papi sudah siapkan semuanya! "
"Apa? tunangan? pi! " aku kembali berbalik ke arah papi,
"Yah...! kalian akan bertunangan malam ini! " jelas papi
"Nggak! pandu nggak akan mau bertunangan dengan monic! " tolak ku
"oke, tapi jangan salahkan papi, kalau wanita kamu akan hidup sengsara! " ancam papi .
"papi ngancem pandu? "
"bisa di bilang seperti itu! " jawabnya
"jangan pernah sentuh kiand! " aku berusaha memperingati papi meski aku tahu papi tak akan memperdulikan hal itu
"Kalau kamu bisa bersikap koorperatif, papi tidak akan menyentuh kiand! "
"aghhh! " aku benar-benar kesal
"mudah untuk papi membuat kiand berhenti bekerja, dan sulit untuk dia mencari pekerjaan lain! itu hanya awal, kamu tahu papi bisa melakukan apapun ? "
Entahlah siapa yang sedang ku hadapi saat ini, seorang ayah atau seorang monster
"terserah! " ku tinggalkan papi yang masib berdiri tak jauh dari kamar Reina, bagaimana mungkin aku bisa memiliki papi se egois ini?
"aghhhhh... !!! " ku hancurkan semua yang ada di kamar, untuk meluapkan kekesalanku
Tak ada pilihan lain selain aku harus terima pertunangan Monic , lalu bagaimana dengan kiand? aku langsung menghubungi yoga dan jefry menggunakan telepon rumah, untunglah nomer yoga sudah mendarah daging di otakku.