
Deggggg! jantungku berdegup lebih cepat, saat tangan Pak Pandu menarikku ke dalam pelukannya, tangan satunya melingkar di punggungku dan yang lainnya menangkup leherku. Aku merasa tubuhku menegang, dan merasakan gelenyar aneh, karena ini kali pertama aku di peluk laki-laki.
Atu napas Kiand, kontrol jantungmu, jangan sampai Pak Pandu merasakan degupan jantungmu
Cukup lama Pak Pandu memelukku, aku berusaha melepaskan pelukannya, tapi Pak Pandu mendekapku begitu erat
"Saya minta maaf Kiand! bukan maksud saya bicara seperti itu! " Ucap Pak Pandu
"Bapak saya maafin, tapi lepasin pelukannya, saya nggak bisa napas! " sahutku, dengan cepat Pak Pandu melepaskan pelukannya, dan dengan wajah tanpa dosa dia kembali bersikap seperti biasa, seolah tak pernah terjadi apa-apa
"Peluk-peluk saya sembarangan! " gerutuku sambil merapikan kemeja yang kusut akibat pelukan Pak Pandu
"Hmm Yah abis kamu pake acara nangis, sayakan paling nggak bisa lihat wanita nangis! " sahutnya salah tingkah
"Yah bapak, kalau ngomong asal, wanita mana yang nggak sakit hati di bilang cewek gampangan!" balasku. Aku dan Pak Pandu benar-benar salah tingkah, Pelukan Pak Pandu memang membuatku merasa nyaman tapi aku tak mau menunjukannya
"Iya iya saya minta maaf untuk hal itu! lain kali kamu juga jangan ulangi kesalahan seperti hari ini lagi, nanti kita bisa ketahuan, kalau kita cuman pura-pura pacaran! " Ujar Pak Pandu . Padahal awalnya aku marah banget sama dia, tapi kenapa aku bisa seluluh ini saat dia memelukku.
Ayolah Kiand sadar, kamu tuh hanya pacar pura-pura, dan pelukannya juga pasti pura-pura
"Iya iya saya juga minta maaf, lain kali nggak akan saya ulangi lagi! " jawabku sambil menundukkan wajah
"Ya sudah, hapus air mata kamu! " titah Pak Pandu "Nih pake! " Pak Pandu menyodorkan sapu tangan dengan motif abstrak berwarna dasar coklat yang di padukan dengan warna merah dan putih.
"Makasih! " ucapku sambil meraih sapu tangan yang di berikan Pak Pandu yang kemudian ku pakai untuk mengusap air mataku.
"Hmmm! " balasnya datar "Ya sudah sekarang temui Karin di luar, saya sudah serahkan apa saja tugas kamu hari ini pada Karin" Ujar Pak Pandu
"Baik Pak! " jawabku. Aku pun berbalik badan berniat meninggalkan ruangan Pak Pandu masih dengan memikirkan pelukan yang baru saja Pak Pandu berikan padaku, jadi Pak Pandu sudah memelukku dua kali, saat di lift, dan barusan, tapi kenapa rasanya berbeda.
"Kiand, ngapain kamu masih diem di situ? " Suara Pak Pandu membuatku terkejut, ternyata aku masih di ruangannya, aku pikir tadi aku sudah keluar
"Eng-nggak Pak, saya mau ke bu karin! mari pak! " Aku segera membuka pintu dan langsung menemui Bu Karin di meja kerjanya yang tak jauh dari ruangan Pak Pandu
"Permisi Bu! " Sapaku pada Bu Karin yang sedang fokus pada laptopnya
"Ehhh Bu Kiand! Ayo ikut saya, semua sudah di siapkan! " Bu Karin langsung menutup laptopnya dan bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiriku dan mengajakku ke salah satu ruangan lain yang berada di lantai delapan belas ini.
Aku melihat ada dua orang wanita menggunakan blazer berwarna hitam yang di padukan dengan kemeja putih.
"Sudah siap? " tanya Bu karin pada kedua wanita itu,
"Sudah bu! " jawab salah satu wanita yang sedang menyiapkan sebuah meja bundar
"Bu maaf tugas saya apa? " tanyaku agak sedikit heran
"Bu Kiand akan belajar bagaimana cara berjalan yang baik yang lebih feminin, dan belajar table manner yaitu cara makan yang baik, menata makanan gitu deh bu! " jelas Bu Karin
"Serumit itu kah orang kaya? " gumamku
"Maksud Bu Kiand? " Bu karin agak bingung dengan ucapanku
"Ngaak kok, tidak mengandung maksud apapun, " jawabku "BAy the way jangan panggil saya Ibu ya! panggil aja kiand" pintaku, Karena aku merasa risih dengan panggilan ibu, rasanya belum sepantasnya aku di panggil IBU
"Nggak enaklah Bu, kan Bu Kiand pacarnya Pak Pandu , rasanya tidak sopan kalau saya cuman panggil Ibu, " jawabnya
"Ya sudah panggil Mbak aja! "
"Oke mbak Kiand! " Bu Karin menarik tanganku menghampiri dua wanita tersebut
"Pagi Bu, perkenalkan nama saya Tiwi, saya yang akan mengajari Ibu beberapa cara duduk, berjalan dan cara makan di meja makan yang baik dan benar! " Salah satu dari wanita itu memperkenalkan dirinya
"Pagi...! " jawabku dengan terheran-heran, untuk mengatur hidupku aja aku sudah pusing, apa lagi begini aku harus mengatur cara jalanku, cara makan dan yang lainnya.
"Pagi Bu! saya Winda saya partnernya Mbak Tiwi! " wanita lainnya memperkenalkan diri
"Pagi! kiand! " Jawabku sambil berjabat tangan
"Ya sudah kita mulai dengan berjalan ya! " Winda mengambil sebuah sepatu yang ber-hak tinggi "Boleh di ganti sepatunya Bu! "
"Saya pakai sepatu ini? " tanyaku sambil menenteng sepatu yang jadi musuh terbesarku, sebagai wanita yang pecicilan aku lebih nyaman menggunakan flat shoes aku bisa bebas mengekspresikan diriku, berjalan, berlari bahkan untuk loncat-loncat, sedang hak tinhgi buat jalan aja susah apa lagi buat lari.
Dengan terpaksa aku menggunakan sepatu yang memiliki hak tujuh centi meter, bisa di bayangkan bagaimana perjuanganku saat ini
"Maaf Bu, badannya di tegakkan, dan pandangannya lurus! " Winda berusaha mengoreksi cara jalanku
Beberapa kali aku hampir terjatuh, karena sepatu yang ku gunakan, bahkan otot kakiku seperti ada yang menarik.
"Coba lagi bu! " kata-kata itu terdengar membosankan
Aku kembali mencoba dan ini sudah ke sembilan kali aku gagal berjalan gaya para istri sultan.
Aku tetap memfokuskan pandanganku, terus berjalan tegap dengan kaki awalnya semua berjalan baik, aku merasa aku mulai terbiasa menggunakan sepatu ini tapi saat di tengah percobaan, hak sepatu kaki kananku bertabrakan dengan hak sepatu kiri yang menyebakan aku terjatuh, namun dengan cepat seseorang meraih tubuhku, dan saat aku lihat ternyata orang itu adalah Pak Pandu, dengan cepat aku mengangkat tubuhku dan merapikan kemeja yang ku pakai.
"Hati-hati makanya! " sahut Pak Pandu, Bu Karin, Winda dan Tiwi hanya tersenyum melihatku yang bingung dengan keberadaan Pak Pandu yang muncul tiba-tiba seperti hantu.
"Saya sudah hati-hati, lagian kenapa bapak bisa ada disini sih! " jawabku sedikit sewot
"Loh ini kantor saya! saya bebas kemanapun saya mau! " jawabnya dengan senyuman sombong "Lagian kamu tuh ya! bukannya terima kasih saya udah tolongin kamu, kalau tadi saya nggak ada pasti badan kamu sudah jatuh ke lantai! "
"Iya iya makasih! " ucapku dengan terpaksa
"Ikhlas nggak! " goda Pak Pandu
"Ikhlas! "
Aku kembali mencoba berjalan menggunakan High heels yang sangat menyiksaku, dan untungnya kali ini berhasil, aku bisa berjalan bak model yang berada di atas catwalk, yah meski masih amatiran
"Gimana? oke kan? " tanyaku sambil menunjukan gaya jalanku
"Seep oke bu! " jawab Winda
Akhirnya aku bisa bernapas lega, setidaknya kakiku bisa kembali nyaman dengan flat shoes kesayanganku.
Pelajaran berlanjut ke table manner, bagainana cara aku makan menggunakan sendok, garpu dan pisau, bahkan cara minum pun aku benar-benar di atur, apa semerepotkan ini menjadi orang kaya! bukannya akan lebih nikmat kalau makan menggunakan tangan kosong, tanpa sendok garpu apa lagi pisau.
...****************...
Hari ini begitu melelahkan, sampai-sampai kakiku serasa mau copot dan pinggangku encok.
Seperti biasa Pak Pandu akan mengantarku pulang, saat di dalam mobil aku membuka Flat shoes ku dan memijit-mijit pergelangan kakiku, tidak mudah berjalan menggunakan sepatu berhak tinggi.
"Kenapa?" tanya Pak Pandu yang duduk di sampingku
"Pegel tahu, memangnya nggak pegel apa? jalan pakai hak tinggi! " gerutuku kesal
"Sini! " Pak Pandu menarik kakiku dan menaruhnya di atas paha
"Bapak mau ngapain! " dengan cepat aku menarik kakiku
"Udah sini! " Pak Pandu menarik lagi kakiku, dan mulai memijit pergelangannya. Seketika pikiranku melayang kemana-mana, apa mungkin Pak Pandu mulai menyukaiku?
aishhhh Kiand, jangan mulai dong, jangan kegeeran, mana mungkin Pak Pandu suka sama kamu?
Mataku tak lepas menatap wajah Pak Pandu yang sedang fokus pada kakiku
"Gimana masih pegel? " Aku mendengar suara Pak Pandu, tapi diriku seakan terperangkap dalam pandanganku pada Pak Pandu
"Kiqnd! kiaandddd! "
"Ehhh ohhhh....! iya pak? " aku terkejut mendengar suara Pak Pandu yang sedikit berteriak
"Apa yang kamu liat? " tanya Pak Pandu "Kamu merhatiin saya ya? "
"enggg-nggaakkk dihhhh geer banget sih! " jawabku mulai kikuk "Udah ahhh, kakiku udah nggak pegel! " Karena malu aku menarik kakiku dari tangan Pak Pandu, padahal pijatannya sungguh enak.
"Kalau suka sama saya bilang aja! nggak usah jual mahal! " goda Pak Pandu, membuat pipiku tiba-tiba memerah seperti udang rebus
"Yehhhh!!! jangan ke geeran jadi laki-laki! " sahutku meski sebenarnya dalam hati aku memang mengaguminya, selama ini jantungku tak pernah merasakan berdebar secepat ini saat dekat dengan laki-laki.