For A Great Love

For A Great Love
episode 27 Kesal



Tok Tok Tok aku mengetuk ruang kerja Pak Pandu


"Masuk... " terdengar suara Pak Pandu dari dalam ruangan


"Pagi pak! " sapa ku setelah membuka pintu dan melihatnya tengah duduk di sofa


"Hmmmm...." dia hanya berdehem tanpa memalingkan wajahnya dari sebuah buku yang ia pegang "Ada perlu apa? " tanyanya


"Pak Pandu sudah sarapan? " tanyaku lembut sambil berjalan kearahnya


"Bukan urusanmu! " jawabnya ketus, ada apa dengan dia, baru saja semalam dia menangis di pelukanku, sekarang sudah jutek lagi


"Pak...! " aku berusaha membuat Pak Pandu melihatku , tapi sepertinya buku itu jauh lebih mengasikan


"Sa-saya bawa sarapan untuk bapak" Aku menaruh lunch box di atas meja, tepat di hadapannya


"Hmmm taro aja disana, saya sudah sarapan" jawabnya menyebalkan


"Kapan Pak Pandu sarapan? " tanyaku karena aku tidak melihat ada tanda-tanda bekas makanan di ruangannya


"Kenapa kamu selalu banyak tanya sih? " Pak Pandu menutup bukunya dan menatapku kesal, aku sedikit heran saat dia melihatku, kenapa dia begitu marah? apa yang salah denganku


"Kenapa bapak harus marah, kalau bapak nggak mau yah bapak bilang aja! " sahutku tak kalah kesal


"Karena kamu berisik! kamu mengganggu konsentrasi saya, nggak bisa sedetik aja bikin hidup saya tenang" jujur ucapannya terlalu menyakitkan, dia membawaku pada hidupnya, sekarang dia sendiri yang membuat aku mengganggu hidupnya


"bukannya selama ini bapak yang ganggu hidup saya? bapak selalu membuat saya repot dengan aturan bapak, harus ini, harus itu, bapak juga yang menjebak saya dalam permainan bapak, sekarang bapak bilang saya mengganggu hidup bapak? " balasku tak kalah kesal


"Sudah saya nggak mau ribut, taruh aja kalau kamu mau kasih saya sarapan! " Pak Panda beranjak dari duduk nya dan berjalan kearah meja kerja, sama sekali tak pedulikan ku


"Nggak jadi, mending sarapannya di kasih kucing! " aku kembali mengambil lunch box dan hendak bergegas pergi, namun saat akan membuka pintu Pak jefry sudah lebih dulu membukanya


"Ehhh ada kiand! " sapa Pak Jefry "Kenapa lo? " tanyanya saat melihatku dengan raut wajah kesal dan sedikit menangis


"Permisi saya mau kerja ! " jawabku


"Eits jawab dulu! " Pak jefry malah menghalangi jalanku, padahal aku ingin segera lari le kamar mandi untuk meluapkan amarahku "kok tempat makannya di bawa lagi? " Pak Jefry melihat tempat makan yang ku siapkan untuk Pak Pandu


"Nggak papa, misi pak, saya harus kerja! " jawabku


"kenapa? Pandu nggak mau sama sarapannya? " tanya jefry, aku hanya terdiam sambil terus memasang muka kesal "Sini buat gue aja kalau nggak mau! " Dengan cepat tangan Pak jefry mengambil lunchbox yang ku pegang


"Pak siniin ihhh! " aku berusaha mengambil lunch box itu dari tangan Pak Jefry


"Udah buat gue aja, sayang kalau ngga di makan, mubajir... " Pak jefrypun berjalan ke arah Pak Pandu sambil membuka lunch box tersebut


"Hmmm wanginya enak, jadi ini sarapan spesial yang tadi hue minta nggak boleh" ledek Pak Jefry. aku yang semakin kesal memilih untuk meninggalkan ruang kerja pak Pandu.


Sepanjang perjalanan aku menggerutu kesal, ada yah laki-laki kaya Pak Pandu, sesaat dia bisa baik, tapi sesaat dia bisa berubah seperti monster, apa sebenarnya yang ada di otaknya


"Brakkkk!!! " aku menaruh tasku di atas meja dengan kesal


"Kenapa lo? " tanya Kak Nanda


"Sebel.. " jawabku dengan bibir yang ku tarik


"Pacar? " tanya Kak Nanda dengan nada meledek


" Gue tuh kadang heran ya ka! ada manusia kaya dia! " ku balikan tubuhku ke meja Kak Nanda yang ada tepat di belakangku


"Ada...! " jawab Kak Nanda


"Kakak.... " rengekku, Kak Nanda tersenyum melihat sikap ku yang persis seperti anak sd


"Emang kenapa lagi? " tanya Kak Nanda


"Dia tuh ya kak, bisa berubah 180 derajat, sesaat bisa baik, tapi abis itu berubah kaya hulk" aku cerita panjang lebar pada Kak Nanda, mengeluarkan kekesalanku tentang sikap Pak Pandu, dan kak Nanda hanya tersenyum


"Susah ya pacaran sama atasan sendiri" sahutnya


Gara-gara Pak Pandu mood ku hari ini berantakan, padahal tadi pagi ekspetasiku hari ini akan lebih baik, ternyata hidup tidak selalu sesuai dengan ekspetasi.


POV Pandu


Sebenarnya aku belum sarapan pagi ini, tapi aku sengaja membuat Kiand kesal, aku tak mau Kiand sampai jatuh cinta padaku, rasanya belum sanggup untuk mengganti Bintang saat ini, aku takut justru kiand hanya akan menjadi pelampiasanku saja.


"hmmm wanginya enak! " tempat makan itu sudah berada di tangan jefry kali ini, dan entah kenapa rasanya aku tak rela


"Taro nggak! " titahku pada jefry sambil melempar sebuah pena


"Aoooo.... " teriak jefry "dihh kenapa? " bukannya di taro, dia malah memakan mie buatan Kiand yang hendak di berikan padaku,


"tadi lo bilang nggak mau" goda jefry


"Udah taro...! " aku masih menyuruhnya menaruh tempat makan itu


"enak aja, gue laper... " Jefry hendak menyuapkan mienya lagi, namun dengan cepat aku berlari dan merebutnya


"Ngeyel ya...! gue bilang suruh taro malah di makan" ujarku kesal


"Diiih, tadi katanya lo nggak mau, " ledek jefry


"Siapa bilang, emang tadi gue bilang gitu? "


"jangan belaga amnesia deh....!


" Gue lupa... " dengan membawa tempat makan kiand aku kembali duduk di meja kerja. Aroma mie goreng ini sungguh menggugah selera, membuat cacing di perutku berteriak. Jefry hanya memandangku sambil menggelengkan kepala


"Kalau suka bilang... " celetuk jefry saat aku hendak menyuapkan sesendok mie goreng buatan Kiand


"Siapa? gue? suka sama kiand? "


"Iya lo lah, masa gue! tapi nggak papa sih kalau kiandnya mau" seperti biasa bukan jefry namanya kalau nggak ganjen, dasar buaya darat.


entah kenapa saat jefry mengatakan itu, ada rasa tidak rela di hatiku, aku sendiri masih bingung dengan perasaan ini, ahhh entahlah....


"emang kiand masih belum bisa gantiin Bintang? " pertanyaan itu juga yang ada di otakku


"nggak tau gue" jawabku sambil menikmati mie buatan kiand, ternyata enak juga...


"Mau sampai kapan lo kaya gini? Toh Bintang udah sama Kak Candra, apa yang lo harapin lagi? " dia mulai sok menceramahiku seperti biasa, aku saja sampai bosan mendengarnya "Bagi dong.... " Tangan jefry dengan cepat mengambil mie yang sedang ku nikmati, refleks aku memukul tangannya


"Beli sarapan sana, ini punya gue! " sahutku


"Ya ampun pelit banget Du, tadi aja di tolak, sekarang di kekepin" gerutu Jefry


"gue laper, lo cari sarapan di bawah sana"


"Lo nggak mau jawab pertanyaan gue? " tanya Jefry


"Gue bosen jef jawabnya"


"Kalau lo belum siap, lo bisakan penjajakan dulu, anggap aja Kiand itu Bintang, you don't need to love her, toh kiand juga nggak kalah cantik sama Bintang, perlakukan dia seperti lo memperlakukan Bintang, siapa tahu cara itu bisa buat lo move on"


"Maksud lo? lo nyuruh gue jadiin kiand pelampiasan gue dari Bintang? "


Jefry tersenyum tipis " Yah itu kan awalnya, siapa tau lama kelamaan timbul benih benih cinta"


Aku hanya terdiam, mungkin ide jefry juga ada benarnya, tapi... senadainya rasa itu tetap sama, bagaimana dengan kiand? bukankah aku justru malah akan melukainya !


" lo mau sampai kapan menderita begini? uring-uringan setiap liat Bintang sama Kak Candra, sedang lo bakal ketemu mereka tiap hari, lo nggak cape apa terus-terusan lari dari perasaan lo"


"Gue nggak bisa, itu sama aja gue mainin perasaan Kiand, dosa gue udah terlalu banyak ama dia, bawa dia masuk ke kehidupan gue aja , itu udah salah "


" okay gue tahu, kedengarannya ini jahat, tapi apa salahnya lo coba dulu, siapa tahu lo malah bakal jatuh cinta sama kiand, dan bisa move on dari Bintang, bukannya itu lebih baik. " ujar Jefry,


" Tapi gue nggak bisa, kiand sama Bintang itu jauh beda, gimana gue bisa nganggep Kiand itu Bintang"


"Yahhh nggak harus jadiin Kiand Bintang juga, maksud gue, lo perlakukan Kiand layaknya Bintang, kalian lebih intense ketemu, jalan bareng, ngabisin waktu bersama, gimana sih waktu lo pacaran sama Bintang? " jelas jefry


" ahhh saran lo ribet, nggak masuk di otak gue!"


"belum juga di coba, udah bilang nggak bisa! " ujar Jefry. Dia masih menatapku menghabiskan mie yang di berikan Kiand, sambil tersenyum sinis


"gue kadang nggak ngerti sama lo Bas, lo tuh bisa move on dari Bintang, tapi lo kaya nahan perasaan lo biar tetep ada Bintang di hati lo, padahal setiap lo di sakitin Bintang, perasaan cinta lo seakan terkikis"


"sok tahu lo....! " sahutku


"Lo coba aja tanya sama diri lo sendiri, seberapa khawatir lo sama Kiand? atau senyaman apa lo saat ada kiand? dan satu lagi, apa yang lo rasain saat kiand marah atau terluka karna lo? " Perkataan jefry cukup memutar otak dan perasaanku, jujur aku langsung terdiam sejenak, apa mungkin aku mulai mencintai kiand, lalu Bintang? hati ku kenapa seakan masih berat melepas Bintang.


"Tau ahhh.... gue nggak mau bahas ini" ujar ku


"capek ya ngomong sama lo! nih! " jefry melemparkan sebuah papper bag yang berisi pakaian kerjaku "gue jalan dulu, inget... jangan bohongi diri lo sendiri" kata jefry sebelum ia meninggalkan ruangan


Lagi lagi aku terdiam saat mendengar perkataan jefry. Dulu aku berpikir bahwa cintaku hanya untuk Bintang, dan aku janji pada diriku sendiri tak akan mencintai wanita lain selain Bintang, tapi nyatanya Bintang lebih memilih mencintai orang lain.


Selama ini aku memegang prinsip bahwa cinta sejati itu hanya datang satu kali dan aku sudah memberikan cinta sejatiku untuk Bintang. Namun kehadiran Kiand seakan memaksaku untuk berkhianat pada prinsipku sendiri, terlebih rasa sakit yang Bintang berikan padaku berulang ulang,


Apakah aku bisa bersama kiand? pikiran itu sekilas terlintas di kepalaku namun aku selalu berusaha melenyapkannya begitupun dengan rasa ini, rasa yang tak aku inginkan tumbuh untuk wanita lain, anehnya hatiku seakan berontak , seolah ia inginkan haknya untuk tidak terus terluka. Kini ketakutan ku bukan soal Bintang, tapi aku takut Kiand jatuh cinta padaku, dan aku belum siap, aku takut justru akan menyakiti hatinya.