
POV Kiand
Perlahan ku buka pintu rumah, untunglah Bi Nur dan Ayah sudah tidur. Bi nur terlihat sudah terlelap di ruang TV dengan televisi yang masih menyala, dia mungkin menungguku pulang. Aku sengaja tak membangunkannya, dan hanya mematikan televisi lalu menyelimuti tubuh Bi Nur. Setelah memastikan Ayahpun sudah terlelap, aku kembali ke kamar.
Ku jatuhkan tubuhku di atas kasur, langit langit kamar yang biasa hanya ku acuhkan kini ku tatapnya lekat, bayangan Pak Pandu saat memohon padaku membuat hatiku semakin teriris, aku terluka, sangat terluka.
Yang ku lakukan malam ini hanya meringkuk di balik selimut sambil meluapkan semua air mata hingga dadaku terasa sesak, semua ini begitu melelahkan di saat logika dan perasaan bertolak belakang, satu sisi otak memaksaku untuk melepaskan, sedang hati memaksaku untuk bertahan.
Terkadang aku bertanya pada Tuhan, sekuat apa pundak ini di ciptakan, hingga aku harus menanggung beban seberat ini.
...****************...
Di kantor Pak Pandu tiba-tiba mendatangi meja kami, aku yang saat itu sedang berbincang-bincang dengan Wulan mendadak kikuk, dan tak tahu harus berbuat apa, apa lagi saat Pak Pandu memintaku untuk menemaninya meeting
" Kok aku curiga ya, kalau Pak Pandu naksir sama kamu" ujar Wulan dengan nada sedikit berbisik
"Ihh apaan sih, nggak mungkinlah, Pak Pandu tuh udah punya tunangan" elakku, mungkin jika di lihat, wajahku kini menjadi salah tingkah
"hmmm apa jangan-jangan, kalian malah sudah ada hubungan ya! " Wulan berusaha menerka-nerka, dia menatapku dengan tatapan penuh kecurigaan
"Hush! enak aja! aku bukan perebut pacar orang ya! " sahutku, melihat gelagatku yang semakin terpojok Wulan tertawa lepas, di ikuti Daniel di belakangku
"Biasa aja kali mukanya, nggak usah panik gitu! " sahut Daniel
Apa aku terlihat begitu panik tadi? padahal aku sudah mencoba biasa-biasa saja.
"Oke, selesai!!!! " wulan terlihat mematikan laptopnya, "Yu..ki! " ajaknya. Ku tarik napas panjang kemudian ku hempaskan, aku merasa canggung harus pergi bersama Pak Pandu, lagian ngapain sih, Pak Pandu pake ngajak aku segala, kalau sampai Wulan atau yang lain tahu tentang aku dan Pak Pandu, kan aku nggak enak. Aku terus menggerutu dalam hati, sambil berjalan ke ruang pak louis, terlihat pak louis justru meninggalkan ruangannya
"Pak! " panggil wulan sambil berlari ke arah pak louis yang henda menuju pantry
Pak Louis menghentikan langkahnya, dia menoleh kearah kami "Ada apa wulan? "
"Pak louis mau kemana? bukannyakita mau ada meeting dengan Pak Pandu? " tanyaku
"Ohh iya, saya mau ke pantry sebentar, perut saya keroncongan, sepertinya saya tidak ikut! udah kamu duluan ke ruangan saya, Pak Pandu sudah di sana! " ujar Pak Louis sambil mengelus perutnya yang sudah buncit
"ohh... ya sudah, kita langsung ke ruang Bapak ya! "
Aku dan Wulan bergegas menuju ruangan Pak Louis yang hanya berjarak kurang lebih 100 meter dari mejaku, saat mendekat keruangannya, terlihat pintu tidak tertutup. Aku sempat melihat seorang wanita berdiri seperti sedang menghadap seseorang, dan benar saja, langkahku tiba-tiba terhenti saat aku melihat wanita itu tengah merapikan dasi Pak Pandu. Dadaku terasa terbakar api, rasa tak rela langsung menyelimuti hatiku, cukup lama aku melihat pemandangan yang menyakitkan ini, sampai pak Pandu sadar jika aku dan Wulan sudah berdiri di depan pintu persis yang berada di sampingnya.
"Udah nggak usah makasi! " ujar Pak pandu pada wanita di hadapannya, di melepaskan tangan wanita yang tengah merapikan kerah kemejanya
"Ihh, ini belum rapih Pandu! " wanita itu tampak bersikap manja pada pak pandu, tidak salah lagi mungkin dia yang di bilang Daniel
"Kiand, wulan masuk! " titah pak pandu, dia melemparkan tatapan penuh makna, dan aku mengerti!
Aku dan wulan berjalan masuk ke ruangan Pak louis, wanita itu melihatku dan Wulan dengan tatapan tak suka
"Kalian mau ngapain? " tanya wanita yang bertubuh seksi dengan dress putih polos namun begitu elegan, rambut panjangnya yang ia biarkan tergerai, menambah ke anggunannya, dia terlihat sangat berkelas, berbeda jauh denganku..
ahhh kiand, apa yang kamu pikirkan, mana mungkin kamu menang menghadapi wanita secantik dan sekaya dia,
"Kami mau meeting bareng pak pandu Bu! " jawab wulan ramah.
"meeting? " dia melirik ke arah Pak Pandu, tapi Pak Pandu mengacuhkannya "Kenapa kamu ajak mereka, Pandu.. ini tuh meeting antara atasan, dia itu klien besar bagaimana mungkin karyawan seperti mereka yang kamu tunjuk! " ujarnya sombong.
"Kamu tuh nggak tahu apa-apa, jadi jangan asal bicara! mereka yang buat semua layout periklanan untuk digital marketing projecte ini "
"Kamu harus ingat ya pandu, klien kita adalah pemilik property yang sangat terkenal, jika mereka pakai kita untuk menangani iklannya, akan ada banyak pemilik property-property lain yang juga memakai jasa kita, jadi jangan sampai gagal! " ujar wanita itu
"Kamu tenang aja, semua sudah di atur, dan aku percaya sama mereka! " ujar Pak Pandu " kalian sudah siap? "
"Siap pak! " jawabku dan wulan secara bersamaan
Kami pun bergegas menuju lobby, jujur aku nggak nyaman dengan keberadaan dia yang sedari tadi tak melepaskan tangan Pak Pandu, dia terlihat seperti seorang polisi yang membantu kakek -lakek untuk menyebrang jalan.
Saat di lobby, langkah wanita itu sempat terhenti, dia berbalik menatapku dan wulan yang mengikutinya di belakang
"Kalian naik apa? " tanya wanita itu
Aku dan Wulan hanya saling menatap, tak tahu harus jawab apa
"Mereka ikut sama kita! " jawab Pak Pandu sambil berjalan ke arah mobil yang sudah terparkir di depan lobby
"Pandu, nggak bisa gitu dong! mereka biar naik taxi online aja! " ujarnya sambil mengejar pak Pandu
"Rese banget tunangan pak oandu! emang kenapa kalu kita bareng mereka, toh kita ke arah yang sama" gerutu wulan.
aku hanya menanggapi kekesalan wulan dengan senyum, meski sebenarnya akupun merasakan kekesalan yang sama bahkan lebih dari itu
"Ngapain kalian diam, ayo naik! " titah pak pandu, entah kenapa aku merasa happy aja, saat pak pandu justru perduli padaku ketimbang wanita itu
"yuk! " wulan menarik tanganku untuk masuk ke dalam mobil mewah yang belum pernah kunaiki sebelumnya.
kami meeting di sebuah hotel mewah yang tak jauh dari monumen pahlawan, jadi ternyata yang akan meeting dengan kita itu adalah salah satu direksi hotel tersebut.
"Monic, aku minta kamu tunggu di lobby, aku dan yang lainnya akan meeting di atas " ujar pak pandu
"Kok gitu! nggak bisa nggak bisa, aku harus ikut sama kamu, aku juga kan pemegang saham perusahaan ini! "
"Ya sudah kalau gitu, silahkan kamu aja yang meeting, aku pulang! " pak pandu tampak mengancam wanita yang ku tahu bernama monic
"oke.. oke.. aku tunggu di lobby! tapi aku nggak mau sendiri! " jawabnya " kamu! temanin aku disini! " Wanita itu menunjuk wulan untuk menemaninya
"Tapi bu! " belum selesai wulan bicara pak pandu langsung memotongnya
"Ya sudah, wulan kamu temani Bu monic disini! " titah pak pandu
Aku dan Pak Pandu menuju lantai 12 untuk menemui pak michel, meeting ini sudah di jadwalkan sebelumnya. di dalam lift, pak pandu tak henti-hentinya tersenyum menatapku, membuataku semakin salah tingkah
"Jangan dengerin omongan monic, kadang dia suka terlalu berlebihan" ujar pak pandu tiba-tiba
"Saya nggak pernah dengerin omongan Bu monic kok, pak pandu tenang aja! " jawabku
"Bagus! saya sengaja ngajak kamu biar saya bisa deket sama kamu, lusa saya sudah harus pulang ke jakarta"
Aku merasa tak rela saat pak pandu bilang dia akan kembali ke jakarta, tapi untuk melanjutkan hubungan ini pun rasanya begitu sulit
"Apa pak pandu bakal ke sini lagi? " tanyaku begitu saja
"kenapa? kamu kangen ya sama saya! " Dia benar-benar terlalu percaya diri, meski sebenarnya ya, tapi aku tak ingin menampakkannya
"nggak! saya cuman tanya aja, kalau pak pandu kesini lagi, sepertinya saya harus siap-siap resign lagi! " ujarku dengan nada meledek
"Ki! saya mohon jangan pergi lagi! apapun hubungan kita kedepannya, tetaplah berada dalam jangkauan saya! jangan pergi" kata itu terdengar bergetar di telingaku, hingga aku hanya bisa diam tanpa bisa mengatakan apapun, sampai suara lift memecahkan lamunanku.
Lagi-lagi kami hanya diam, tanpa saling bicara hanya sesekali pak pandu menanyakan lay out yang akan kami ajukan nanti.
"Permisi! kami ingin bertemu dengan pak michel! "tanya pak pandu pada seorang reseptionis yang bertugas
" Apa sudah ada janji sebelumnya? " tanya wanita yang mengenakan seragam berwarna hitam dengan list gold itu
" Sudah bilang aja Pandu ingin ketemu"
"Oke di tunggu sebentar ya pak! " jawabnya.
kurang lebih kami menunggu 5 menit, sampai seorang pria menghampiri kami, dan mengajak kami ke sebuah ruangan besar.
Awal aku bertemu dengan Pak michel aku merasa tak nyaman, matanya terus menatap kearahku, meski ia sedang berbicara pada pak pandu.
"Oke! semua lay out yang kalian tunjukan sangan bagus, dan kreatif! oleh karena itu kita bisa bekerja sama" ujar pak michel yang duduk di balik meja kerjanya " Ini cek untuk pembayaran pertama, untuk pelunasan akan kami lakukan seteah lay out digital marketing itu selsai dan bisa tayang"
"baik pak! terima kasih atas kerja sama kita , ceknya saya terima ya pak! " Pak pandu dan pak michel saling berjabat tangan, namun saat ia berjabat tangan denganku, tangannya tak kunjung ia kepaskan, pak pandu yang melihat nampak kesal
"ma.. maaf pak! " aku berusaha menarik tanganku
"ohh iya, maaf, saya terpesona dengan kecantikan asisten anda pak Pandu" ujarnya sambil tertawa, namun kata-kata itu seperti sedang merendahkanku
"Maksud bapak apa? " tanya pak Pandu
"Saya hanya menganggumi asisten anda pak pandu! "
"Bisa untuk bersikap lebih sopan? " tanya pak pandu semakin kesal,
" hey! ada apa? bukannya dia hanya sekedar karyawan kamu! ayolah come on! kamu juga bisa bersenang-senang dengannya bukan! " ujarnya
Aku sampai tak paham apa yang ada di otaknya, bisa-bisanya dia berpikir seperti itu
"Anda sudah berlebihan ya, saya harap anda bisa meminta maaf pada karyawan saya! karena apa yang anda bicarakan itu tidak pantas!"
"what's? kamu suruh saya minta maaf ? ohhhh you crazy pandu! bukannya hal seperti ini sudah biasa dalam linkungan kita!" Pak michel nampak tak terima, dan itu membuat pak pandu semakin kesal
"Saya bilang minta maaf! ucapan anda tidak sepantasnya anda ucapkan ! " tegas Pak Pandu
"heheheh....! jangan bercanda pandu! we are businesman, wanita itu menjadi hiburan kita bukan? "
"Maaf! saya tidak seperti anda, wanita bukan hal yang bisa seenaknya anda rendahkan! saya tidak akan bekerja sama dengan orang yang tidak bisa menghargai wanita! " aku terkejut saat Pak Pandu justru melepaskan peluang emasnya demi membela ku
"Ohh oke! it's not a problem for me! justru anda yang akan rugi, karena telah melepaskan project ini hanya karena kwanita ini" pria itu lemparkan jari telunjuk kearahku, namun dengan cepat pak pandu menghempaskan telunjuk itu dari hadapanku.
"Jangan berani-berani menaruh telunjuk anda di hadapan wanita saya!!! " Pak Pandu langsung menarik tanganku untuk keluar dari ruangan itu
Aku sungguh terkejut! sebesar itu dia mencintaiku, bahkan dia berani mengatakan jika aku adalah wanitanya. rasanya aku ingi memeluk pak pandu , tapi itu tidak mungkin. Sekali lagi Tuhan menunjukan bahwa tidak sepantaskan aku menyerah dengan hubungan ini. Aku hanya menatap wajah Pak Pandu yang memerah karena amarahnya, dalam hatiku berkata aku sungguh mencintai pria yang kini bersamaku, dan menggenggam tanganku dengan erat.