For A Great Love

For A Great Love
Bab 6 hati yang bergetar



Aku menarik napas panjang setelah keluar dari ruangan dengan tuntunan salah satu pengawalnya, Pria besar yang tadi menjemput Arga di rumah. Akhirnya aku harus menanggung beban orang lain, aku tak bisa menyalahkan Arga sepenuhnya, hatinya terlalu lembut hingga ia rela membantu seorang yang ternyata bermasalah.


Kadang aku tak mengerti dengan jalan hidupku, mengapa tuhan memilihku untuk memikul beban seberat ini, setelah Ibu meninggal, ayah sakit-sakitan, dan aku berjuang sendirian untuk kelanjutan hidupku dan Arga, belum lagi saat Bibi ku meminta uang untuk pengobatan Ayah di kampung, sekarang ada beban baru yang harus aku tanggung.


Pikiranku tak mampu menyelami rencana-Nya, kata orang akan ada pelangi setelah hujan, tapi sampai saat ini aku tak pernah menemukan pelangiku, mengeluh memang tak menyelesaikan masalah, tapi setidaknya mampu untuk meluapkan sedikit beban di pundakku.


"Ka maaf! " Agar berjalan sambil tertunduk penuh penyesalan


"Gak papa! kita jalanin semua sama-sama ya! " ku belai kepala Arga. Anak sekecil itu belum waktunya memikirkan beban kehidupan, masalah terberat mereka hanyalah pelajaran, tapi Arga? yah balik lagi semua adalah takdir yang tuhan berikan untuk kita, Tuhan menganggap kita mampu, itu artinya kita memang mampu.


Kami terus berjalan menelusuri pinggir jalan Ibu kota yang ramai dengan kendaraan di malam hari, belum lagi hilir mudik orang yang masih melakukan aktivitas pekerjaan malam mereka, jakarta memang tak pernah sepi, apa lagi di pinggiran kota seperti ini, hidup mereka banyak di habiskan di jalan, harusnya aku lebih bersyukur, karena masih memiliki rumah untuk bernaung.


"Cepet Woi! " teriak seorang pria bertubuh besar pada seorang pria bersepeda motor yang kebetulan sedang parkir di depanku. Pria itu terlihat oanik dan segera menghampiri pria yang berlari kearahnya, kemudian mereka pergi dengan menancap sepeda motor mereka. Untuk sesaat aku dan Arga sempat takut, saat pria itu lari mendekat, tapi untunglah mereka langsung pergi.


"Kayanya copet ka! " ujar Arga. Tempat ini memang banyak copet, mereka kerap beraksi di malam hari. Meski sudah pernah di jaga ketat oleh polisi mereka akan kembali beraksi, sepertinya beberapa warga disini sudah berkomplot dengan para pencopet.


Aku dan Arga kembali meneruskan perjalanan namun saat melewati mobil hitam yang terparkir, aku melihat seorang pria yang sudah tergeletak tak berdaya di samping mobil tersebut, tak ada warga yang melihat, karena posisinya pria tertutup oleh mobil dan trotoar. Aku dan Arga menghampiri pria itu, betapa terkejutnya aku saat aku melihat wajahnya yang sudah babak belur.


"Pak Pandu! " teriakku


"Kakak kenal? " tanya Arga menoleh ke arahku


"Dia itu atasan kakak" jawabku


"Pak Pandu, pak...! papa bisa mendengar saya? " tanyaku cepat sambil mengecek luka lebam dan darah pada wajah Pak Pandu


"tolongin kakak Ga! " pintaku pada Arga. Aku mencoba membantunya bangkit, namun Pak Pandu hanya bergumam tak jelas, tercium bau alkohol dari mulutnya.


"Ka ini! " Arga menemukan sebuah dompet berwarna hitam yang tergeletak tak jauh dari mobil yang terparkir


"Mau saya antar ke klinik pak! di dekat sini ada klinik kok! " kataku sambil berusaha membantunya bangkit


"gak usah! bawa saya ke apartrmen! " ucapnya dengan mata yang masih tertutup dan keseimbangan yang kacau hingga sulit untuk berjalan


"Tapi Pak! "


"Cepat bawa saya pulang! " bentaknya "kepala saya sudah sakit! "


Aku tersentak saat Pak Pandu membentakku, rasanya ingin ku jatuhkan tubuhnya yang berat. Tak ingin beradu mulut aku segera memesan taxi untuk membawanya ke rumahku yang tidak begitu jauh jaraknya.


Sesampainya di rumah aku membaringkan tubuh Pak Pandu di sebuah kasur yang berada di kamar, Kontrakanku hanya memiliki satu kamar kecil, ruang tamu, dapur dan kamar mandi .


Setelah Pak Pandu berbaring, aku mencoba membersihkan lukanya. Dia tampak tenang dalam tidurnya , terlihat begitu tampan meski sudah di penuhi luka lebam


"Arga, ambil obat luka di kotak obat! " perintahku pada Arga


Setelah membersihkan lukanya, aku membubuhkan obat luka di sudut bibirnya yang berdarah dan lebam pada tulang pipinya. Aku fikir dia akan menjerit kesakitan, ternyata tidak, dia hanya meringis beberapa kali, sampai tiba-tiba saja satu bulir air mata keluar dari pelupuk matanya.


"Aku gak Rela Bi! " Gumamnya lirih


Matanya masih tertutup, namun aku bisa merasakan luka yang begitu dalam di hatinya


Bi...? baby maksudnya? fikirku


Berbagai pertanyaan mulai melompat dari otakku, siapa Bi yang di maksud Pak Pandu? apa Pak Pandus sedang patah hati? tapi dengan siapa? apa ini alasan kenapa dia memintaku berpura-pura untuk menjadi pacarnya? rasanya banyak misteri yang harus aku ketahui setelah ini.


Pak Pandu terlihat begitu rapuh, di balik keangkuhan nya, dia memiliki hati serapuh lidi. Entah kenapa rasanya dadaku bergetar saat melihat Pak Pandu serapuh ini. Seperti ada lecutan kecil yang menekan keras dada ini.


Ohhh Kiand! bangun, bangun, apa yang lo fikirin sih? .


Tak ingin tenggelam dalam perasaan ini, aku memilih untuk keluar, dan membiarkan Pak Pandu beristirahat.


...****************...


Alarm handphone berbunyi tepat jam tiga pagi, seperti biasa aku akan bangun untuk membuat kue yang akan ku titipkan di warung. Aku pun mencuci mukaku, meski sambil terus menguap. Mataku masih terasa berat, aku baru saja tidur jam satu dini hari dan harus bangun jam tiga pagi, seandainya ada alat untuk memperpanjang waktu, mungkin aku bisa tidur lebih panjang


"Arga... bangun! " Aku membangunkan Arga untuk membantuku membuat kue


"Hmmmm! " seperti biasa agak sulit membangunkan anak ini


"Arga, ayo bangun, bantuin kakak! " Aku terus menggoyangkan tubuh Arga


"Lima menit lagi kak! " jawabnya malas


"Ini sudah jam tiga lewat lima belas menit Arga! " Aku pun menarik tangan Arga agar dia bangun.


"Iya iya! " akhirnya diapun mengalah dan segera bangkit dari tidurnya.


Setelah mencuci muka dan bersiap-siap, aku masuk ke kamar ku terlebih dahulu untuk melihat kondisi Pak Pandu, Pak Pandu masih tertidur pulas, sepertinya dia memang sangat lelah.


Aku dan Arga mulai sibuk di dapur, membuat adonan kue donat dan putu ayu, jumlahnya tidak banyak hanya dua puluh lima buah per kue. Biasanya aku menitipkan kue ku di warung Mpok Niam pemilik warung yang berada di ujung gang.


"Kak! " panggi Arga di sela kesibukan kami membuat kue "Kakak suka ya sama cowok itu? "


Aku terkejut mendengar pertanyaan Arga, bagaimana mungkin dia bisa menanyakan hal itu padaku


"eng-engga kok! mana mungkin kakak suka sama Pak Pandu, derajat kita tuh jauh, dia atasan kakak, sedang kakak, cuman karyawan baru! " jawabku


"Lah emang kenapa? namanya juga suka doang! " sahut Arga dengan senyum yang menggoda


"Lagian kamu masih kecil, belum saatnya ngerti begituan! " ujar ku sambil mengacak-acak rambutnya "Ya udah kakak mau liat kondisi Pak Pandu dulu! "


Setelah membuka celemek, aku kembali masuk ke kamar untuk melihat kondisi Pak Pandu,


"Pak! Pak Pandu! " panggilku untuk membangunkannya


Tak ada pergerakan dari tubuh Pak Pandu, meski sudah berkali-kali aku membangunkannya


Duh masih hidup gak sih ni cowok !


hmm untunglah dia masih bernapas Aku menarik napas lega.


Ku amati wajah tampan Pak Pandu, aku memang suka mengamati pria tampan, tapi rasanya berbeda saat aku menatap wajah Pak Pandu, entah mengapa dadaku berdegup kencang, dan tak ingin melepas tatapanku dari wajah tampannya


"Pak! " Aku mencoba memanggilnya lagi tapi tetap tak ada pergerakan


Ku beranikan diri untuk mencolek pipi Pak Pandu, namun sepertinya sia-sia, akhirnya aku memutuskan untuk mencubit hidungnya agar dia tidak bisa bernapas. Awalnya dia masih saja terlelap sampai akhirnya ia tebatuk-batuk dengan mulut yang terbuka lebar, seperti ikan yang terdampar di daratan.


Saat ia tersadar Pak Pandu hanya menatapku seolah terhipnotis dan tak mampu melepaskan diri, yang membuatku terkejut adalah saat tangannya dengan lembut menyentuh wajahku


"Bi....! " ucapnya


Aku hanya membisu, seluruh saraf ku seakan menari dan hanyut saat bibir Pak Pandu membentuk sebuah senyuman, tapi otakku kembali bereaksi, mendengar kata "Bi" yang keluar dari mulut Pak Pandu


"Kak! " panggil Arga. Dengan secepat kilat tangan Pak Pandu menjauh dari pipiku, matanya kini tak lagi menatapku, dan tertuju ke berbagai arah seperti salah tingkah


"Dimana? " tanyanya


"Bapak lagi di rumah saya, ini kamar saya pak! " jawabku


"Gimana saya bisa ada disini? " tanyanya bingung


"semalam saya dan adik saya menemukan bapak tergeletak di trotoar, saya mau bawa bapak ke klinik, tapi bapak enggak mau! bapak minta saya bawa ke apartemen tapi saya gak tau apartemen bapak di mana? " jelas ku panjang lebar


"Mobil saya? " tanyanya dia berusaha bangkit, tapi sepertinya dia merasakan pusing di kepalanya, hingga tubuhnya kembali terjatuh


Dengan cepat aku meraihnya "Pak Bapak masih lemes, udah bapak istirahat dulu!


Pak Pandu mengangguk sekilas saat mendengar ucapan ku


" Makasih ! " katanya pelan


"kenapa pak? " tanyaku terkejut. Aku tak pernah mendengar kata itu keluar dari mulutnya Pak Pandu.


"Makasih! " jelasnya


Aku hanya tersenyum sambil mengangguk, hatiku seolah sedang berbunga-bunga meski hanya mendengar ucapan terima kasih


"Kak! " panggil Arga, yang sedari tadi memperhatikanku dan Pak Pandu dari ambang pintu "Kuenya Arga anterin dulu ya! "


"Ohh iya Ga, abis itu kita sarapan ya! " Arga mengangguk dan bergegas mengantarkan kue ke warung Mpok Niam


"Dia adikmu? " tanya Pak Pandu


"Iya pak! " jawabku


"Keluarga kamu yang lainnya kemana? " tanyanya tampak heran


"Aku hanya tinggal berdua dengan adikku " jawabku


lagi-lagi dia hanya mengangguk.


Setelah itu, Pak Pandu seperti mengecek sesuatu di saku celananya,


"Untunglah! " gumamnya saat dia menemukan kunci mobilnya masih berada di saku celana. Tapi kemudian tangannya kembali meraba kantung celananya dan kemeja yang ia kenakan, ia tampak kebingungan.


"Bapak cari dompet? " tanyaku


"Iya! dompet sama ponsel saya! " jawabnya


"Maaf pak! saya cuman nemuin dompet, kalau ponsel, saya gak lihat, bentar ya saya ambilkan dompet bapak! " Aku bangun dan berjalan menuju ruang TV untuk mengambil dompet Pak Pandu yang ku letakan di atas meja TV


"Ini pak! " kataku sambil menyerahkan dompet berwarna hitam milik Pak Pandu


Pak Pandu langsung mengecek dompetnya yang hanya tersisa kartu-kartu miliknya


"saat saya temuin, uangnya memang sudah tak ada pak! " jelas ku


"Iya tidak apa-apa, saya hanya butuh kartu identitas saya! " jawabnya


"Kiand! " panggilnya "Saya boleh pinjam handphone mu? "


"Ohh boleh! tunggu sebentar ya! " Aku pun kembali ke ruang Tv untuk mengambil handphone-ku lalu memberikannya kepada Pak Pandu. Dia tampak menekan nomer yang tertera di handphone-ku, sepertinya dia akan mengubungi seseorang


"Jeje! gue butuh bantuan lo! ini gue Pandu, jemput gue sekarang ya! " katanya berbicara pada seseorang di balik saluran telepon


"Hmm tunggu! " ucapnya "Alamat rumah kamu dimana? " tanya Pak Pandu


Aku pun menyebutkan alamat rumahku, yang kemudian ia sebutkan ulang pada seseorang di balik telpon


"oke thanks! " katanya menyudahi telepon


Nih ponsel kamu! " dia mengembalikan ponselku


"Saya keluar dulu ya pak! saya mau siap-siap ke kantor! " pamit ku dan segera keluar dari kamar.


Ku lihat Arga sudah pulang dari warung Mpok Niam dan sedang menyantap sarapannya, kebetulan selesai membuat kue, aku lanjut membuat nasi goreng untuk sarapan aku dan Arga, dan Pak Pandu tentunya.


"Kak! Arga makan duluan ya? lapar...." ucap Arga sambil menyantap nasi goreng di ruang Tv


"Iya, abis ini kakak sarapan juga kok! " jawabku


"Kakak mau berangkat jam berapa ke kantor? " tanya Arga sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya


"sebentar lagi! " jawabku sambil mengambil piring berisi nasi goreng yang sudah ku siapkan di meja. Saat akan menyantapnya ku lihat Pak Pandu berjalan kearah ku dengan rambutnya yang acak-acakan.