For A Great Love

For A Great Love
episode 69 pertemuan



Tepat pukul 3 kurang 15 mobilku berhenti di sebuah gedung perkantoran mewah, yang berada di pusat kota, saat hendak keluar mobil, aku melihat seorang wanita bertubuh langsing memakai dress putih, sambil menenteng sepatunya mengarah ke mobilku dengan tergesa-gesa, ia membuka pintu mobilku begitu saja.


"mas... mas jalan cepetan mas.... " ujarnya ketakutan seperti ada yang mengejarnya


"mbak maaf saya harus turun, saya ada meeting jam 3 " jawabku sambil menoleh ke kursi belakang


"Mas tolongin saya, please, ayolah... jalan sampai depan aja... " pintanya, dia begitu cemas, matanya terus menatap ke arah lobby, aku semakin penasaran apa yang di lakukan wanita ini?


"mbak nggak bisa, mending mbak turun sekrang juga, saya ada meeting jam 3, saya bisa telat "


Wanita itu langsung bersembunyi di bawah jok, saat ku lihat ke arah lobby, ada 3 orang bertubuh tegap menggunakan baju hitam, perses seperti tukang pukul yang pernah ku hadapi dulu


"mas, saya bilang jalan , jalan.... ayo saya akan bayar berapapun yang mas minta, please.... !!!! "


Tak ingin berdebat semakin panjang, ku nyalakan mesin mobilku, dan memacunya menjauh dari gedung tersebut. kurang lebih 500 meter ada sebuah halte, ku hentikan mobilku dan meminta wanita aneh itu untuk turun.


"ini sudah jauh dari gedung, orang-orang itu nggak mungkin mengejarmu sampai kesini! "


"ohh oke, thanks.... " wanita itu dengan santainya pergi begitu saja, bukannya tadi dia bilang dia mau membayar berapapun yang aku minta


"mbak.... mbakkk !!! " panggilku, tak ingin membiarkan wanita itu pergi begitu saja, aku berniat menagih janjinya


"Apa lagi? " tanya wanita itu dengan ekspresi kesal padahal harusnya aku yang kesal, karena dia aku jadi telat untuk meeting.


"Mana? bukannya tadi anda mau bayar saya? " tanyaku sambil mengadahkan tangan


"ohhh.. itu... berapa? " tanyanya, dari ekspresi wajahnya ia ragu,


"lima ratus ribu! " ucapku sambil melentangkan lima jari ke arah wajahnya


"gila kali ya, anda mau memeras saya! " wanita itu memasang ekspresi terkejut


"saya tidak memeras anda, anda sendiri yang tiba-tiba naik mobil saya, dan meminta saya menjauh dari gedeng, sedang saya ada meeting jam 3, gara-gara anda saya telat! " bentakku


"oke, saya akan kasih lima ratus ribu! " dia seperti mencari sesuatu...


"kenpaa? " tanyaku "nggak bisa bayar? mau alasan? "


"tas saya ketinggalan! " ujarnya sambil menepuk jidat, dia berjalan ke arahku, sedikit membungkuk menatapku melalui kaca mobil


"saya akan bayar uang tumpangan tadi lima kali lipat, tapi tolong pinjamkan saya uang, dompet saya ketinggalan, saya harus segera pergi sekarang juga! "


apa aku nggak salah denger dengan apa yang di ucapkan wanita aneh ini, setelah membuatku telat, sekarang dengan pede nya dia hendak meminjam. uang


"anda pikir saya akan percaya? "


"kamu bisa ambil sepatu ini, harga sepatu ini 10 kali lipat dari yang kamu minta " ucapnya sambil menyodorkan sepasang high heels dengan merk terkenal, aku tahu merk sepatu itu saat mengantar bintang membelinya.


"ini pasti palsu! "


"enak aja, ini asli, tuh liat asli..... " dia terus menunjukan sepatunya


"oke, taro sepatu kamu di belakang, "


"anda yakin mau ambil sepatu saya? " tanyanya


"sangat yakin! sekarang berapa uang yang ingin kamu pinjam? "


"satu juta! "


"oke...! ku keluarkan uang pecahan seratus ribu 10 lembar, wanita ini benar-benar harus di beri pelajaran. " nih! lain kali pikir dulu sebelum menyusahkan orang lain"


setelah memberikan uangnya, aku segera menutup jendela dan berlalu pergi, dari spion ku lihat wanita itu terus menggerutu.


Gara-gara wanita menyebalkan itu aku jadi telat gerutuku sambil berjalan masuk ke lobby


"permisi mbak, saya ingin bertemu pak wijaya" ujarku pada seorang customer service yang bertugas


"Maaf apa bapak sudah punya janji sebelumnya? " tanya wanita berpakaian rapih di depanku


"sudah, kebetulan saya ada meeting jam 3 dengan pak wijaya"


"dengan bapak siapa? " tanyanya


"pandu dari pt bagaskara group " jawabku


"oke baik di tunggu ! "


aku menunggu wanita itu menghubungi seseorang, yang berhubungan dengan pak wijaya


"baik pak! "


wanita itu menaruh gagang telponnya "Pak pandu! " panggilnya "anda sudah di tunggu di ruang pak wijaya di lantai 16 " jelas wanita yang ku tahu bernama sarah, terlihat jelas pada id card yang ia gunakan


"oke baik mbak, terima kasih! "


Aku bergegas menuju lantai 16 menggunakan lift, Pintu lift terbuka tepat di lantai 16. aku langsung berhadapan dengan tiga lorong besar berselimut kaca yang terkesan mewah. setiap lorong terlihat jelas ruangan yang megah.


Aku terdiam sejenak, melihat lorong mana yang kiranya menuju ruangan Pak wijaya.


tengah


"permisi dengan pak pandu? " tanya wanita bertubuh langsing


"ohh iya mbak, saya mau ketemu pak wijaya"


"iya pak, pak wijaya sudah menunggu di ruangannya. " ujarnya


wanita itu membawaku menuju ruangan presiden direktur.


Tok tok tok ketuk wanita itu


"permisi pak, pak pandu sudah datang "


"ohh iya, suruh masuk" suara dari dalam ruangan


"silahkan pak! " titah wanita itu


aku segera memasuki ruangan, dengan gaya interior modern namun tetap minimalis. saat pertama masuk aku langsung di sambut hangat oleh seorang pria bertubuh sedang tidak terlalu tinggi, usianya kurang lebih sama dengan papi,


"sore pandu...! " sapa pria itu sambil berjalan ke arahku


"sore pak! " kami saling berjabat tangan "maaf saya telat, tadi kebetulan di jalan ada sedikit gangguan "


"ohh nggak papa! kita hidup di kota metropolitan, wajar jika banyak hambatan di perjalanan" ujarnya ramah "ayo duduk "


aku duduk pada sebuah sofa berwarna abu-abu yang berada di depan meja kerja pak wijaya,


"mau minum apa? " tanya pak wijaya


"apa aja pak! " jawabku


"jangan panggil pak, kayanya terdengar kaku, panggil aja om ya! " pintanya


"ohh baik om! "


pak wijaya memerintahkan sekertaris nya membawakan orange jus untukku.


"Gimana kabar papi mu? " tanyanya setelah kembali duduk di sofa


"baik om! " jawabku


"kemarin katanya sempat sakit ya? " tanyanya


"iya om, papi memang ada jantung, jadi pekerjaan di handle sama aku dan kak candra" jawabku


" ohh iya iya... "


di sela kita berbincang, seorang ob masuk mengantarkan dua minuman orange jus dan beberapa cookies lalu meletakannya di sebuah meja.


"di minum dulu pandu! "


"iya makasi om! "


pak wijaya tampak berjalan ke arah meja kerjanya, ia mengambil sebuah berkas dari laci


"papi mu pasti sudah cerita tentang rencana om ini? " tanyanya


"iya sudah om, tapi nggak banyak, kami sama-sama sibuk" jawabku


"Ohh iya ya, ya sudah kamu bisa baca surat perjanjian perusahaan kita, dan ini proposal pembangunannya, kamu bisa pelajari terlebih dahulu" pak wijaya menyodorkan dua buah map di hadapanku


"ohh iya baik om! " aku mulai membaca proposal itu,


"om benar-benar minta tolong sama kamu pandu, untuk bisa menghandle proyek ini, kebetulan nanti proyek ini anak om yang pegang, hanya saja dia tidak bisa datang karena ada urusan"


" ohh iya om, kita sama-sama saling bantu, aku juga masih belajar sejauh ini"


"aghh kamu masih saja merendah, om sudah dengar proyek yang akan kamu garap, dalam waktu dekat ini, kata papi semua proposal kamu sangat menarik hati para dewan direksi"


"papi terlalu berlebihan om, semua aku kerjakan bersama tim, jadi bukan aku sendiri "


"yah apapun itu, seandainya anak om, memiliki minat bisnis yang bagus seperti kamu! " ujarnya


"wajar om, awalnya aku juga seperti itu, tapi karena tuntutan, yahh mau gimana lagi" ujarku " jadi kapan saya bisa lihat langsung ke lokasi pembangunan? " tanyaku


"sepertinya lusa, karena kebetulan besok itu om masih mempersiapkan model arsitektur bangunan utamanya, " jawab pak wijaya


cukup lama kami berbincang, dari mulai pekerjaan hingga nostalgia pak wijaya bersama papi. sampai tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul lima sore, aku segera pamit untuk pulang, karena memang setelah ini aku janji akan menjemput kiand dan aku tidak ingin sampai telat.


"terima kasih pandu sudah mau datang ke kantor om! " ucapnya sambil saling berjabat tangan


"sama-sama om, terima kasih juga jamuannya" ucapku


aku ke luar ruangan dan langsung menuju lobby, seorang valley parking segera mengambil mobilku yang mereka parkir.