For A Great Love

For A Great Love
episode 15 terjebak di dalam lift



"Huffffft! " Aku menarik napas panjang sambil mengitari semua sudut ruangan Pak Pandu. Ruangan yang memiliki luas melebihi luas kontrakan ku dengan di dominasi element kayu. Di belakang meja kerja Pak Pandu kita bisa langsung melihat pemandangan kota jakarta dari lantai delapan belas, selain itu terdapat juga lemari berisi buku-buku tebal berbaris dengan rapih, sungguh ruangan yang mewah, semua fasilitas begitu lengkap mulai dari sofa , tv plasma dispenser semua lengkap disini, tentunya dengan kualitas nomer satu.


Aku berdiri di sudut ruangan sambil membuka tirai agar bisa melihat suasana luar. Sudah tiga jam aku menunggu di ruangan ini, tapi Pak Pandu masih belum mengabari ku, aku juga tak berniat untuk mengirimnya pesan aku takut mengganggu waktu yang sangat di rindukan Pak Pandu yaitu berduaan dengan Bu Bintang.


"hoaaammmm! " aku terus menguap rasanya berada di ruangan dingin seperti ini membuatku mengantuk, aku berjalan menuju sofa dan membaringkan tubuhku di atasnya, rasanya begitu empuk, sangat berbeda dengan kasurku yang berada di kontrakan.


ahhh Kiand pasti kalah jauh lah kalau lo bandingin sama semua barang yang lo punya, gumamku


Aku mulai memejamkan mata dan larut ke dalam alam bawah sadar ku.


"Mbak Kiand! mbak...! mbak kiand!" Aku seperti mendengar suara seseorang memanggil namaku, tapi rasa kantuk ini membuatku berat untuk membuka mata


"Mbakk! mbak nggak pulang? " suara itu terdengar pelan namun jelas


"Hehhhh nunggu pak Pandu! " jawabku lemas dan masih dengan mata tertutup


"Ohhh ya sudah, saya pulang duluan ya! "


"Hmmmmm! "


"Nanti jam enam akan ada pemadaman listrik, Mbak Kiand pulang jangan terlalu sore ya! "


"Hmmmmm! "


"Ya sudah kalau begitu"


Suara wanita itupun sudah tidak terdengar lagi, membuatku semakin nyenyak tertidur.


Aku terperanjat dari sofa saat mendengar suara ponsel berbunyi, ternyata aku tertidur cukup lama.


dengan mata yang masih sayup aku berusaha meraih ponsel dari kantong blazerku, ku lihat hanya sebuah nomer tanpa nama.


"Halo...! " sapaku dengan nada lirih


"Kak Kiand, kakak dimana? " ternyata itu suara Arga


"Kakak masih di kantor Ga! sepertinya kakak lembur lagi! "


"Kak, tadi waktu Arga pulang ke rumah, laki-laki yang waktu itu mau bawa Arga pergi, lagi berdiri di depan pintu, untung Arga liat, Arga langsung lari ke rumah Dimas, Arga takut kak! " Suara Arga terdengar begitu khawatir


"tapi orang itu nggak liat kamu kan ? " yang tadinya mengantuk mata ku langsung terbuka lebar karena terkejut mendengar cerita Arga


"Nggak kak! tapi Arga masih takut! "


"Ya udah kakak pulang sekarang ya! kamu tunggu di rumah Dimas, jangan kemana-mana!


" Iya ka! "


Aku langsung menutup sambungan telpon, jam sudah menunjukan pukul enam kurang lima menit, aku langsung bergegas ke luar ruangan, tak perduli dengan pesan Pak Pandu yang memintaku harus menunggunya, keselamatan Arga jauh lebih penting dari pada kemarahan Pak Pandu.


Ruangan Pak Pandu benar-benar kosong tak ada satu orangpun yang terlihat tidak seperti biasanya, security yang berjaga di depan pintu juga sudah tidak ada.


Puntu lift terbuka, aku segera masuk, dan menekan tombol GF, saat lift berada di lantai 13 tiba-tiba aku merasakan hentakan yang cukup keras, hingga membuat tubuhku terbentur pada sisi lift, Siku lenganku terasa nyeri akibat benturan itu, tapi tak aku hiraukan, aku merasakan lift berhenti dan kemudian lampu lift padam.


"Astagfirullah! " aku terjebak di dalam lift


Dengan cepat aku menekan tombol darurat, sambil berteriak memanggil siapa saja yang berada di luar "Tolong....! tolong liftnya mati, ada orang nggak? "


Tak ada respon dari siapapun, aku semakin panik dan ketakutan, dengan cepat ku raih ponsel untuk menyalakan lampu senter tapi ternyata baterai ponselku hanya tinggal sepuluh persen


"Shiiiit! " umpatku kesal, aku mulai berpikir apa yang harus aku lakukan, dan entah kenapa di dalam otakku langsung terlintas untuk menghubungi Pak Pandu


Aku segera mencari nama Pak Pandu di kontak telepon dan menghubunginya, untunglah Pak pandu langsung mengangkat telepon ku


"Halo Pak Pandu! aku terjebak di dalam lift, lampunya mati aku takut! " suaraku tercekat, sekuat tenaga aku menahan isak tangis, tapi ternyata aku tak bisa.


"Astagaa saya minta maaf ki! saya lupa kalau kamu lagi ngguin saya! kamu tenang ya! saya akan menghubungi keamanan di sana!jangan panik! saya langsung ke kantor sekarang! "


"I-Iya pak! " jawabku terisak


Setelah sambungan terputus ku lihat baterai mulai meredup sekarang hanya tersisa lima persen, tapi aku belum melihat tanda-tanda seseorang datang menolongku. Aku terus membaca surat pendek yang ku hapal, tak bisa aku bayangkan jika aku harus mati di dalam lift, bagaiman Arga, aku belum siap meninggalkannya sendiri, belum lagi dosaku yang masih menggunung, bagaimana aku menjawab pertanyaan Munkar Nakir kelak di alam kubur.


Aku terus menangis sambil duduk di sudut lift, menunggu bantuan datang


"Bu... Bu kiand di dalam! " aku mendengar seseorang teriak dari luar lift, dengan cepat aku bangun dan mendekat ke arah pintu lift


"Iya pak! tolong saya pak! saya takut, baterai handphone saya low bat ! " teriakku


"Oke! ibu tenang dulu ya! kami memang sedang ada perbaikan listrik gedung jadi semua listrik di gedung ini padam, tapi tim engenering sedang berusaha untuk menghidupkan kembali! " jelas seseorang di luar lift


"Iya pak! cepetan ya pak! disini pengap banget...! " ujarku


Aku memang sangat takut dengan ruangan sempit dan gelap, dadaku akan terasa sesak dan sulit bernapas di tambah dengan rasa panik yang semakin membuatku tertekan.


sudah hampir tiga puluh menit aku di dalam lift, tapi lift masih belum bisa menyala, dadaku semakin sesak, keringat dingin mulai membasahi tubuhku.


please kuat kiand! tuhan jangan ambil nyawa saya dulu! doaku dalam hati


Saat aku berusaha untuk sadar dan mengatur napas, tiba-tiba lampu lift menyala, dan perlahan lift bergerak turun ke lantai dasar.


alhamdulillah! " aku mengelus dada dan langsung berdiri tapi kepalaku terasa sakit, pandanganku mulai kunang-kunang. Ku sandarkan tubuhku pada dinding lift agar aku tidak terjatuh. Pintu lift terbuka di lantai dasar, aku melihat Pak Pandu sudah berdiri dengan ekspresi panik bercampur lega saat melihatku, dan Bu Bintang berdiri di belakangnya.


Aku melangkah pelan keluar lift, bulir air mata mengalir begitu saja. Pak Pandu dengan langkah cepat menghampiriku, kemudian menarik tubuhku ke dalam pelukannya, aku bisa merasakan jantungnya berdegup cepat. Aku larut dalam pelukan Pak Pandu, rasanya kepanikan ku perlahan memudar, dan tergantikan oleh rasa nyaman. Tanpa sadar aku melingkarkan tanganku di pinggang serta mencengkram kemeja Pak Pandu.


"Kamu nggak papa ki? " tanyanya dia masih mendekap ku. Aku hanya menggelengkan kepala sambil terus menangis hingga membuat kemeja Pak Panfu basah, rasanya aku tak ingin melepaskan pelukan ini, karena lagi-lagi aku merasakan getaran aneh saat berada dalam dekapan Pak Pandu


"Saya minta maaf Kiand! saya benar-benar lupa! " ucap Pak Pandu


Kepalaku masih terasa berat hingga tubuhku lemas, dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu.