
Satu minggu berlalu dengan perubahan hidupku yang sangat drastis, aku merasa mungkin ini semua adalah jawaban setiap doaku selama ini. Setelah semua yang aku lalui bersama pak pandu, akhirnya hari ini aku benar-benar di terima oleh keluarga bagaskara, itu alasan perubahan hidupku yang pertama, dan perubahan hidupku yang kedua Ayah kini berangsur membaik, setelah beberapa kali terapi, kemajuan kesehatan ayah cukup pesat, aku bisa mendengar ayah kembali memanggil namaku meski dengan terbata-bata, sudah cukup lama aku tidak mendengar suara itu dan hari ini aku kembali mendengarnya
"Ki... a.. n.. dd...!!!!! " Ayah berusaha mengucapkan namaku siang itu, setelah kami menjalankan terapi di rumah sakit, rasa haru seketika menyelimuti perasaanku, ku gigit bibirku kuat-kuat menahan tetesan air mata.
"iya ayah, ini kiand" jawabku. Aku yang saat itu tengah mendorong kursi rodanya, berjalan ke hadapan pria yang menjadi cinta pertamaku selama ini, bibirnya yang kaku berusaha mengembang saat tangannya menyentuh pipiku
"ki... a.. ndd" ayah mengulangi menyebut namaku
Hari itu kami memang ke rumah sakit berdua saja, Bi Nur menjaga arga di apartemen, setelah kejadian penculikan, kami melarang arga untuk keluar sendiri
Pak Pandu sedang sibuk mengurus perusahaan yang sedang dalam masalah, aku saja sudah tiga hari tidak bertemu dengannya, tapi rencananya malam ini dia akan menjemputku untuk makan malam atas undangan pak bagaskara.
"Ayah, bagaimana kondisi ayah sekarang? " tanyaku sambil menggenggam tangannya yang mulai keriput
Dia mengangguk "ba.. ik!!! " aku benar-benar tak bisa menahan air mataku "jaaa... ngaan na... ngis" ujar ayah, tangannya berusaha mengusap air mataku
Aku mengangguk sambil tersenyum lebar, begitupun ayah, aku memeluk tubuh pria yang masih duduk di atas kursi roda itu.
(Kiand janji, akan berusaha untuk kesembuhan ayah, ) batinku
Setelah menunggu beberapa menit di lobby rumah sakit, akhirnya taxi online yang sudah ku pesan tiba, dan kami kembali ke apartemen.
Di Apartemen aku menceritakan apa yang terjadi di rumah sakit, bukan hanya aku yang bahagia, Bi Nur, Arga mereka merasakan kebahagiaan yang sama denganku, yah kesembuhan ayah adalah harapan kami semua.
...****************...
Jam menunjukan pukul 19.00, Pak pandu sudah menghubungiku, ia akan menjemputku pukul delapan malam, karena masih ada meeting yang belum selesai.
Aku masih berdiri di depan kaca, sambil mencoba pakaian yang mana yang cocok untuk aku kenakan,
"ini....! " aku mencocokan dress lengan panjang, berwarna dasar krem dngan outer coklat "ini terlalu formal! " gumamku
"Masih belum tau mau pakai baju apa? " tanya Bi Nur yang melihatku dari ambang pintu
"belum bi, kiand bingung! kiand takut salah costum" jawabku sedikit merengek
Bi Nur berjalan mendekatiku, ia duduk di pinggir kasur, sambil melihat beberapa baju yang tergeletak menutupi hampir permukaan kasur berukuran 160x 200
"Jadilah diri kamu sendiri kiand, jangan terlalu ingin terlihat sempurna, kamu itu cantik, jadi pakai apa saja cantik" sebuah pujian yang selalu terlontar dari Bi Nur
"bi nur...! " aku memeluk tubuh wanita yang menyayangiku, seperti ibuku sendiri.
"Jadi kiand mending pakai baju yang mana? " tanyaku lagi
"sebentar... " Bi nur kembali melihat beberapa bajuku, bajuku tidak terlalu banyak, aku hanya membawa beberapa saja, selebihnya ku tinggalkan di surabaya
"ini bagus... " Bi Nur menunjukan sebuah dress hitam, berbahan moseecreape lapis tile, dengan lengan panjang yang sedikit mengembang, dress hitam itu juga di hiasi pita yang menyatu di bagian pinggang, sehingga membuatnya terlihat lebih anggun dan manis.
"kiand coba ya...! " aku mengambil dress yang sempat ku lupakan, dress ini aku beli saat di surabaya, dan rencananya akan aku pakai, pada saat acara perusahaan bagaskara group waktu itu, tapi aku merasa dress ini biasa-biasa saja, jadi aku urungkan untuk memakainya
Setelah mencoba dress ini, aku merasa nyaman dan lebih percaya diri, tubuhku terlihat lebih ramping dan kakiku terlihat jenjang
"bi nur...! " panggilku
Bi nur tampak terpukau, dia menatapku dengan mata yang terbuka lebar bahkan bibirnyapun ia biarkan terbuka
"cantik.... " puji bi nur
Pujian bi nur selalu terdengar biasa saja, karena sedari kecil bi nur selalu bilang aku cantik, meski saat itu wajahku di penuhi bintik-bintik ketika aku sakit cacar, jadi aku merasa pujian cantik bi nur itu terlalu biasa
"aghh bi nur selalu bilang kiand cantik" gerutuku
"bener sayang, kamu cantik! " ujarnya meyakinkanku
Saat aku tengah berdiri di kaca, meyakinkan diriku dengan ucapan bi nur, terdengar seseorang mengetuk pintu apartemen, arga yang saat itu tenfah bersama ayah di ruang tv segera membukanya,
"malam kak nanda! " benar saja Kak nanda dan Pak jefry yang datang
untunglah, kak nanda datang tepat waktu, karena aku tak tahu harus berdandan seperti apa malam ini
"Jadi princess kiand ini mau aku make over seperti apa? " tanya kak nanda saat aku memintanya merias wajahku
"biasa aja kak, jangan terlalu tebal, tipis tipis aja" pintaku
"serahkan pada ahlinya! " Kak nanda mulai merias wajahku, sesuai permintaanku, baru saja kak nanda selesai, pak pandu sudah datang menjemoutku
"Kiand sudah siap? " aku mendengar suara pak oandu di ruang televisi
"sudah kak, ada di dalam sama kak nandan" jawab arga
"Ayah.. bagaimana kondisinya? " tanya pak pandu, kali ini aku mendengar dia menyebut nama ayah "ya sudah, pandu temui kiand dulu ya"
Langkah kaki pak pandu semakin jelas terdengar, jantungku semakin berdegup kencang, aku takut pak pandu tak suka dengan penampilanku malam ini
"kok gugup gitu? lo cuman makan malam kiand, bukan mau nikah? " ujar kak nanda
"tahu, lagian pandu selalu suka lo apa adanya" sahut pak jefry "kaya gue, yang selalu suka nanda apa adanya" celetuknya
"ihh apaan sih! " ujar kak nanda,
"kiand....! " suara pak pandu memanggil
"aduhh gimana ini, aku beneran udah oke? " tanyaku
"kiand, bibi kan bilang, kamu itu selalu cantik" jawab bi nur
"udah lo tenang aja! pandu pasti terpesona! "
Aku terus menatap gagang pintu, kali ini gagang pintu itu mulai bergerak dan tak lama, pintu terbuka perlahan
"kiand, kamu di da.... " pak pandu tak melanjutkan perkataannya, dia menatapku yang sudah berdiri tepat di hadapannya, itu semua ide kak nanda, dia menarik tanganku dan menyuruhku berdiri di depan pintu.
"ma.. lamm pak! " sapaku gugup
Pak pandu tak merespon, dia ganya menatapku, bahkan tidak berkedip sama sekali
"woy.....! " Pak Jefry melempar sebuah bantal ke arah pak pandu,
"ehh.. itu.. hmm" pak pandu terlihat salah tingkah, begitupun aku, kita benar-benar canggung satu sama lain
"kalian bener-bener kaya pengantin baru, yang nggak pernah kenal sebelumnya " ujar Kak nanda
"Gue mau jemput kiand, berisik banget kalian... "
Aku hanya tersenyum malu dengan tingkah pak pandu yang tak biasa ini,
pak oandu mengulurkan tangannya " yuk nanti kita telat"
aku yang masih merasa gugup sempat terdiam menatap uluran tangan pak pandu, sebelum aku membalasnya.
malam ini terasa seperti aku sedang bermimpi, bahkan jantungku terus berdegup kencang, dan telapak tanganku mulai berkeringat, pak pandu hanya tersenyum menatapku yang gugup sepanjang jalan
"udah tenang aja, jangan tegang gitu dong! " ujar pak pandu sambil menyentuh tanganku
aku mengangguk dan tersenyum, meski aku masih tetap saja merasa gugup.
Mobil melaju melintasi jalan protokol yang mulai senggang, hingga sampai di sebuah rumah mewah, pak pandu membukakan pintu mobil untukku, dan seperti biasa, dia akan menggenggam tanganku , kami berjalan memasuki rumah yang lebih pantas di bilang istana ini.