For A Great Love

For A Great Love
episode 38 Bintang Lainnya



POV Pandu


Sebuah bayangan melintas di depanku, berlari menjauh tapi aku seperti mengenali sosok itu


"Tunggu! " panggilku. Dia tetap berlari menjauh dan menghilang di sebuah persimpangan.


tubuhku berhenti sesaat, kebimbangan muncul saat aku harus memilih lorong mana yang akan ku lalui,


"Pandu...! " Panggil suara yang begitu aku kenal , panggilan ini ku dengar untuk yang ke tiga kalinya,


Aku berjalan menuju lorong yang begitu gelap, tak ada penerangan apapun di sini, untuk bisa berjalan aku hanya meraba-raba sebuah dinding


Sekelibat bayangan itu kembali muncul, tapi aku tidak bisa melihatnya, aku terus berjalan berjalan dan berjalan hingga aku melihat sebuah cahaya. Di bawah cahaya itu Kiand berdiri dengan senyumnya yang khas, tak ada kata yang terucap dari bibirnya, dia hanya tersenyum padaku.


Saat aku berusaha mendekat ke arahnya, dia justru berjalan mundur, aku mencoba memanggilnya dan meminta untuk berhenti, tapi dia mengabaikan dan tetap berjalan mundur dengan melambaikan tangan dan jatuh pada sebuah jurang yang dalam, aku berusaha berlari untuk meraihnya tapi aku gagal.


Saat aku sadar kepalaku membentur kening Kiand, ternyata tadi itu hanya mimpi. Aku lega saat melihat Kiand berada di hadapanku.


aku merasa nyaman berada di samping Kiand, aku bahagia saat melihatnya tersenyum, dan aku resah ketika aku tak melihatnya. Kadang ada sebagian dari diriku yang ingin menghentikan rasa ini, tapi entah kenapa sebagian lagi justru menginginkan hal itu.


Aku benar-benar tidak mengerti, Namun satu hal yang pasti ku tahu, aku begitu nyaman bersama dia, meski memintanya untuk tetap bersamaku adalah hal yang sulit, aku akan berusaha menjaganya dan memastikan dia aman bersamaku.


...****************...


Hari ini terpaksa aku harus bekerja di rumah, karena kondisiku yang masih lemah. Kiand tak membiarkanku sendiri, dia memutuskan untuk mengambil cuti demi bisa menjagaku. Urusan kantor sudah ku serahkan pada Jefry dan Yoga sementara aku tetap memantau dari apartemen, aku juga meminta Yoga dan Jefry untuk tidak menceritakan tentang kondisiku pada orang kantor, begitupun Karin.


Setelah membaringkan tubuhku, Kiand bergegas ke dapur, katanya dia akan memasak bubur spesial untukku, dia memintaku tetap berbaring di kasur, tapi rasanya aku tidak betah jika dia tidak bersamaku, aku memutuskan untuk menemaninya memasak


"Dasar keras kepala! " ujarnya sambil melanjutkan memasak.


Aku menarik sebuah kursi di meja makan agar aku bisa menunggunya sambil duduk karena saat aku berdiri kepalaku terasa berat .


"Memang kamu bisa masak? " tanyaku sambil memandangi Kiand


"Kalau saya nggak bisa masak, saya mau makan apa! " jawabnya sambil mengaduk bubur


Aku hanya terus memandanginya, sambil memberikan senyuman kecil saat dia menoleh ke arahku


"Pak Pandu mau coba? " tanyanya dengan menawarkan sendok yang berisi bubur


Aku masih terdiam dan menatapnya, tatapan ini pernah ku berikan pada Bintang, saat kami sedang bersama.


Perlahan aku bangkit dari kursi dan berjalan mendekat ke arah Kiand. Kiand masih menyodorkan sendok yang sudah ia tiup sebelumnya, tapi aku justru memegang pergelangan tangannya , berjalan semakin dekat hingga tidak ada jarak antara aku dan Kiand, Wajah Kiand mulai memerah, tubuhnya mematung seolah terhipnotis oleh tatapanku, Aku mencoba mendekatkan bibirku pada bibirnya, dan tanpa disadari aku sudah merasakan lembab nya bibir Kiand. Aku pikir dia akan berontak, tapi ternyata Kiand hanya diam mematung mengikuti alurku. Aku bisa merasakan napas Kiand menerpa wajahku. Ia mulai memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan bibirku. cukup lama kami melakukan itu, sampai suara sendok menggemakan benturan di lantai.


Aku melepaskan bibirku, dan kembali menatapnya, Manik hitam tepat menatap mataku, begitu penuh makna dan cinta, aku merasa bersalah kala tiba-tiba bayangan Bintang hadir. Ku tarik tubuh Kiand dan ku dekap, aku mencoba mengalihkan bayangan itu, dan berusaha menyalurkan cintaku untuk Kiand


"Maaf! " ucapku, Aku merasakan anggukan kepala Kiand di dadaku, beberpaa kali ku layangkan kecupan di kepalanya, dan lagi-lagi bayangan Bintang tak lepas dari pikiran ku, apapun yang aku lakukan pada Kiand selalu mengingatkanku pada Bintang.


"Pak saya nggak bisa napas" ujar Kiand, dengan saling melempar tawa kecil ku lepaskan pelukannya, dia nampak tersenyum manis, wajahnya begitu berseri, aku tahu Kiand, dia bahkan tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


"Mau sa-ya su a pi n? " tanyanya sedikit canggung


"Hmmm... " Aku memasang wajah seperti anak kecil sambil menganggukan kepalaku


Kami berjalan ke meja makan, Kiand menyuapiku dia persis seperti mami saat aku tidak mau makan


"Satu kali lagi Pak Pandu...! " Dia terus memaksaku meski aku sudah memintanya berhenti


"Pak Pandu mau di rawat lagi? " tanyanya saat aku menolak suapan darinya dan berakhir dengan hanya bisa menuruti maunya, sampai mangkuk itu bersih tak tersisa.


Meski dalam kondisi sakit, aku masih harus bekerja, Kiand banyak membantuku, dia memang hanya seorang fit out officer tapi sepertinya sklill yang dimiliki tidak perlu di ragukan lagi, dia banyak memprediksi kemajuan beberapa perusahaan yang ku pilih, banyak masukan Kiand yang membuat aku semakin yakin pada pilihan ku kali ini.


"Kalau di lihat dari strategi tempat, " Pondok Emak " lebih menarik Pak, dia berada tak jauh dari pantai, kebanyakan pengunjung sangat menyukai view yang mengarah langsung ke laut, fasilitas yang di berikan juga cukup menarik, nah satu lagi yang membuatnya lebih memiliki daya tarik di banding hotel-hotel lainnya, Aplikasi asisten dimana dia bisa memilih karyawan mana yang bisa membantunya selama dia berada di hotel, meski berbayar tapi bagi para pengusaha yang menyewa hotel untuk urusan Bisnis aplikasi ini sangat menguntungkan" jelas Kiand, sambil berjalan mundar mandir seperti setrikaan , dengan memegang proposal yang dia baca.


"Oke saya masukan list! " jawabku


Kiand menghentikan langkahnya, dan kembali duduk di sampingku


"Udah jalan-jalannya" tanyaku sedikit meledek


"Ihhh pak Pandu... " ujarnya sambil memukul bahuku


Aku mengambil proposal dari tangan Kiand dan menaruhnya di meja "Sudah jangan bahas ini" ujarku


Ku rangkul bahu Kiand dan menariknya agar dia bersandar di bahuku.


"Memangnya sudah selesai ? " tanya Kiand mendongakan kepalanya menatapku


"Belum, tapi saya lagi nggak mau bahas ini, lagian kamu kesini buat temenin sayakan? bukan buat kerja " ujarku


"Yah, bukannya semua proposal itu harus selesai besok? " tanyanya


"Yah... " jawabku mengangguk


"Ya udah aku bantu sini! "


Aku hanya tersenyum menatapnya, anak ini selain konyol dia juga keras kepala


"Kenapa bapak senyum-senyum? pak Pandu meragukan keahlian saya, biar begini nila akhir kuliah saya cumlaude loh" ujarnya menyombongkan diri


Ku cubit hidungnya, hingga dia meringis "Saya bukan meragukan kamu, saya cuman nggak mau nanti kamu minta bayaran lembur setelah membantu saya"


"Ya enggaklah pak! " jawabnya "Tapi kalau iya, boleh juga " lanjutnya sambil tertawa


"Saya sudah bisa menebak isi kepala kamu! " sahutku


"Pak Pandu...! " panggilnya, sudah resmi pacaran saja dia tidak mengganti panggilannya


"Kenapa kamu masih panggil saya bapak sih? " tanyaku


"Lalu saya panggil apa? " tanyanya polos "Sayang... " dia terlihat mbayangkan sesuatu "eng enggak ahhh" jawabnya geli sendiri


"Siapa yang nyuruh kamu panggil saya sayang? saya juga nggak mau" sahutku


"terus panggil apa? " tanyanya lagi "Baby.... " jawabnya lagi


"Panggil saya pacar, seperti waktu itu kamu panggil saya" jawabku


"Ehhmmm masa pacar, " sahutnya merasa keberatan


"iya kamu panggil saya pacar, tapi ingat hanya di luar kantor, kalau di kantor kamu panggil saya Pak " jelas ku


"Oke deh pacar! " jawabnya sambil mengacungkan jempolnya


Aku begitu menikmati moment ini, hal yang aku pikir tidak pernah aku rasakan kembali saat Bintang pergi. Bintang memang belum mati di hatiku tapi dia mulai redup, Kiand bukan cahaya lain yang membantu Bintang memancarkan sinarnya, Kiand adalah Bintang lain yang bercahaya jauh lebih indah dari Bintang