For A Great Love

For A Great Love
episode 89 Masak bersama



"Tunggu! " Pak Pandu menghadang tubuhku saat kami ingin menghampiri Bu monic dan Wulan di lobby


"Kenapa pak? " tanyaku bingung


"Kita lewat lobby timur! biar mereka nggak liat kita, nanti kamu hubungi wulan, untuk ajak monic keluar dari hotel ini! " titahnya, aku pikir ini adalah ide bodoh, ini hanya akan menimbulkan masalah baru nantinya.


"Pak Pandu udah gila ya! Bu monic bisa marah besar kalau tahu aku justru jalan sama Pak Pandu! "


"Udah kamu tenang aja, yang jelas saya sekarang lagi mau sama kamu! "


"Pak Pandu sehatkan? " tanyaku sambil menempelkan tangan di keningnya


"Maksud kamu? " dia terheran-heran


"Pak Pandu tahukan resikonya kalau sampai Bu Monic tahu tentang kita? " tanyaku. Kami malah berdebat di samping lift yang berada di lobby


"Tahu, sangat tahu... dan menurut saya, saya akan lebih sakit kalau saya harus berhubungan dengan wanita se toxic Monic! "


Aku menghela napas beberapa kali, membayangkan apa yang akan terjadi jika aku dan Pak Pandu nekat pergi! Ku lihat lagi dari kejauhan, tampak Bu Monic begitu gelisah, dia terlihat melihat jam di tangannya, dan memainkan ponsel


"Ayo! " ajak Pak Pandu


Aku merasa dilema, antara aku harus ikut pak pandu, atau balik sama mereka


"Ini masih jam kerja loh ki! dan kamu tau saya atasanmu, jadi apa yang saya ucapkan adalah perintah yang harus kamu turuti " tegasnya.


"Ihh Pak Pandu ! itu namanya menyalahgunakan kekuasaan! " aku berusaha protes dengan kata-katanya


"saya nggak perduli, asal saya sama kamu apapun akan saya lakukan! " Pak Pandu langsung menarik tanganku, tanpa membiarkan aku menjawab ajakannya itu.


Dia tampak menghubungi seseorang!


"Can! saya di lobby timur, kamu jemput Bu Monic, dan bilang sama dia, saya masih ada urusan? " ujarnya pada sambungan telpon


"Saya akan pesan taxi online! "


Hatiku tak tenang kali ini, aku takut masalah besar justru akan menghampiri kami setelah ini, berkali-kali aku menoleh ke arah Bu Monic, tapi Pak Pandu terus menarik tanganku


"Kamu tunggu disini, saya akan minta petugas untuk mencarikan taxi! itu lebih cepat dari pada kita harus menunggu! "


Tak Lama, Pak Pandu kembali menghampiriku, seperti yang biasa dia lakukan, dia akan membukakan pintu mobil untukku, dan membiarkanku lebih dulu masuk.


Entah aku harus senang atau sedih dengan kejadian ini, yang jelas hari ini aku merasa nyaman, hal yang selalu ku inginkan yaitu berada di samping pak pandu. Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri dengan apa yang kita lakukan! hal yang tidak terpikifkan olehku sebelumnya, kabur dari Bu monic yang adalah calon tunangan pak pandu.


"Kamu sudah hubungi wulan? " tanya Pak Pandu yang duduk di sampingku


Aku hanya menggelengkan kepala


"cepet hubungi dia! kasian dia kalau harus terjebak lama-lama sama monic" ujarnya


"tapi pak? " aku terdiam sejenak, aku merasa tak nyaman jika aku menghubungi wulan, dan dia akan semakin curiga denganku dan Pak Pandu


"Kenapa? kamu takut wulan tahu hubungan kita? " tanya Pak Pandu dan ku jawab dengan anggukan


"Udah, itu bukan masalah, toh lambut laun mereka akan tahu" dengan entengnya dia berkata seperti itu,


"Pak! " rengekku


"udah lama saya nggak liat ekspresi seperti ini" katanya sambil tersenyum kearahku, aku benar-benar di buat salah tingkah olehnya


"Ya sudah kalau kamu nggak mau! paling bentar lagi monic yang akan menghubungiku" Tak lama pak pandu berkata seperti itu, ponselnya berdering


"tuh kan benar! " tepampang nama "crazy girl" di ponselnya, dan itu membuatku tak bisa menahan tawa.


"tunggu ya! " dia mengeraskan suara panggilannya


"Pandu, kamu dimana? candra bilang kmau ada urusan, kamu nggak bisa ya ninggalin aku gitu aja! kamu keterlaluan pandu! " suara itu terdengar nyaring dari ponsel pak pandu


"aku ada urusan mendadak lebih baik kamu balik ke hotel! " jawab Pak Pandu santai


"Liat aja, aku bakal bilangin perlakuan kamu sama om bagaskara! " Monic semakin kesal


"Ngancem? " jawab Pak Pandu tapi tetap dengan gayanya yang santai


"Lagian kamu nya, masa aku kamu tinggalin gitu aja! cepet balik ke kantor, aku tunggu disana! "


"Yah kalau urusan aku selesai aku balik ke kantor! udah nggak usah bawel! " Pak Pandu langsg memutus sambungan telpon dan mematikan ponselnya


"Pak! " panggilku pada pak pandu, aku merasa apa yang kita lakukan salah


"kenapa ki? "


"Nggak seharusnya kita seperti ini! " mimik wajah pak pandu seketika berubah,


"Maaf!" Pak Pandu meraih tanganku, "Saya janji akan selesaikan masalah ini secepatnya! "


Bukan hal yang mudah untukku berada di posiai ini, aku mencintai pak pandu sangat, tapi jika harus menyakiti wanita lain aku tak bisa!


...****************...


"Kita mau kemana pak? " tanyaku saat taxi mulai melaju


"ke rumah kamu! " jawabnya santai


"untuk? "


"yah main aja, tapi sebelum ke rumah kamu kita mampir ke supermarket, kayanya saya kangen sama masakan kamu! " Jawab Pak Pandu


"Hmmmm! " Jawabku mengangguk


Kami membeli beberapa bahan mentah seperti telur, ayam, daging dan bumbu lainnya


"Sebenarnya Pak Pandu mau saya masakin apa? kok semuanya di beli? " tanyaku heran


"udah kamu diem aja, tugas kamu masak! tugas saya belanja! " dia kembali mengambil makanan lainnya, setelah merasa puas, dan membayar kami menyewa taxi menuju rumahku.


Bi Nur yang kala itu sedang menemani ayah di teras, terkejut melihatku pulang bersama Pak Pandu, terlebih saat itu bukan waktunya jam pulang kantor.


"Siang Bi! " sapa Pak Pandu begitu hangat dan langsung memeluk Bi Nur,


"Kalian nggak kerja? " tanya Bi Nur


"Sudah pulang! " jawabku


"ohhh!!! kalian sudah makan? " tanya Bi nur


"Belum Bi, tapi Bi nur tenang aja, Bi nur duduk rapih, saya dan kiand yang akan masak buat Bi Nur dan Om! " ujar Pak Pandu, disini bisa-bisanya dia yang mau masak, padahal jelas pasti aku yang akan memasak semua bahan makanan yang dia beli.


"Wahhh!!!! sepertinya ada momen spesial nih! " ujar Bi Nur, saat aku sudah masuk ke dalam di ikuti Pak Pandu yang membawa plastik berisi belanjaan


"Doakan Bi! " teriak Pak Pandu dari dalam


Aku langsung menuju dapur, untuk mengecek bahan apa saja yang harus ku olah


"jadi kita mau masak apa? " tanya pak pandu yang sudah berdiri di sampingku


"Hmmm, ayamnya di bikin ayam bakar aja ya? terus dagingnya nanti saya bikin teriyaki deh kebetulan masih ada bawang bombai dan bumbunya"


"oke cheff! saya sebagai asisten chef siap membantu! " ada aja hal yang membuatku selalu tersenyum saat di sampingnya, ternyata seorang Pak Pandu yang aku pikir kaku bisa bersikap alay juga


"kok kamu ketawa? " tanya Pak Pandu saat melihatku tertawa geli mendengar perkataannya


"Jayus!!!! " ujar ku sambil berjalan menuju wastafel


"dasar! kamu nggak mau saya bantuin? " dia berdiri di sampingku sambil melipatkan kedua tangannya


"Memang bisa? "


"bisa! "


"oke, kupas bawang merah bisa? " tanyaku


"Bisa! " jawabnya berlagak sombong , dia belum tahu apa yang akan terjadi saat dia mengupas bawang merah


"oke...! " aku mengambil beberapa siung bawang merah dan meminta pak pandu mengupasnya,


Bawang merah yang harusnya dia kupas justru malah ia potong-potong bagian yang menempel di kulit, hingga tersisa sedikit sekali bagian bawang yang bersih


"Pak pandu saya minta kupas, bukan potong! "


"Loh! apa bedanya? yang penting kulitnya sudah tidak ada! " jawabnya santai


"sini! " aku merebut pisau di tangannya, dan mencotohkan bagaimana cara mengupas bawang


"ohh begitu! bilang dong dari tadi! "


ku perhatikan bagaimana cara dia mengupas bawang, lagi-lagi aku tak bisa menahan tawaku, saat matanya mulai terasa perih


"aduh.. aduh.. kok gini! kenapa mata saya perih? " dia terus mengedipkan mata, air mata mulai mengalir membasahi pipinya


"kiand! jangan ketawa, bantuin saya, saya nggak bisa buka mata! "


"makanya jangan sombong, memang menurut pak pandu masak itu gampang! " aku mengambil tisu untuk menghapus air matanya, saat tisu mulai menyentuh bagian mata pak pandu, tangan pak pandu menggenggam tanganku, dia membuka matanya perlahan, kami saling melempar pandangan getaran itu masih ada, dada yang selalu berdebar saat aku menatap mata pak pandu semakin ku rasakan, wajah pak pandu mulai mendekat, semakin dekat hingga bibir kami hampir saja bersentuhan. aku seolah terhipnotis oleh tatapannya, hingga aku hanya diam tanpa perlawanan


"Jadi kalian mau masak atau mau ngapain? " suara Bi Nur sukses membuat kami terkejut, Pak Pandu dengan cepat menjauhkan wajahnya dari ku, dan melepaskan genggaman tanganku


"Ohh itu, tadi Pak Pandu matanya perih! " aku begitu malu tertangkap basah oleh Bi Nur


Bi Nur menatap kami dengan senyum khasnya, itu membuat pipiku semakin memerah, pak pandu sendiri hanya cengengesan nggak jelas


"Sepertinya makan malam ini akan terasa lebih spesial, karena di buatnya dengan cinta" ledek Bi Nur, "Lanjutin! Bi Nur cuman mau ambil minum" Setelah mengambil sebuah gelas dan mengisinya, Bi Nur kembali ke teras.


"Dasar mesum! " gumam ku dan melanjutkan merapikan bahan makanan mentah


"heh kamu bilang apa? pak pandu tak terima dengan ucapan ku


" Udah masak! jangan mengambil kesempatan! " ujarku sambil menahan senyum. sejujurnya aku bahagia, sangat bahagia, tapi aku takut hubungan ini tidak akan pernah sehat, saat ada orang lain yang justru tersakiti


"ada kerjaan yang lebih mudah, selain mengupas bawang? " keluhnya


"Ada! " jawabku


ya udah, saya nggak kuat kalau harus kupas bawang! "


"Pak Pandu duduk , nonton TV biar saya yang masak! " jawabku


"Kok gitu? "


"Kalau Pak Pandu masih disini, dan ngomong terus, masakan saya nggak akan selesai! "


"Hmmm niat saya kan bantu! "


"NGGAK PERLU! " ucapku persis di depan wajahnya


"Bi Nur! " teriak Pak Pandu memanggil Bi Nur, aku yang saat itu sedang memotong daging, langsung menengok ke arahnya


"Ngapain panggil Bi Nur? " tanyaku


"Bi Nur! " panggilnya lagi


"Ada apa? " Bi Nur terlihat masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju dapur


"Saya boleh bantuin Kiand masak? " tanyanya membuatku mengerutkan kening,


"boleh! " jawab Bi Nur yang terlihat bingung juga dengan pertanyaan Pak Pandu


"Kamu bisa denger Kiand! Bi Nur bilang apa? "


"Ono opo to iki? " tanya Bi Nur


"Nggak papa Bi Nur, makasih jawabannya! " ucap Pak Pandu sambil menggaruk kepalanya


Aku hanya tertawa melihat tingkahnya. akhirnya kami memasak bersama, momen yang tidak oernah aku bayangkan sebelumnya, aku sangat menikmati hari ini, aku begitu menyayangi pria yang saat ini bersamaku, bukan karena siapa dia! tapi karena hatinya yang selalu tulus mencintaiku.