
"Gimana wanita itu? " terdengar suara monic, mungkin wanita yg di maksud monic adalah kiand
"Dia aman ada pak candra yang jagain" jawab seorang pria, aku tidak bisa melihat dengan jelas pria itu
"oke, kamu pantau terus, jangan sampai wanita itu terluka sedikitpun, target saya cuman Pandu, wanita itu hanya alat, agar pandu mau kembali sama saya" tegas monic
dari percakapan monic dan pria itu, aku menyimpulkan, kiand dan arga tidak ada disitu, aku kembali menuju kamar berikutnya, dulu kamar ini adalah kamar mami dan papi. pintu kamar sedikit terbuka, aku melihat kak candra tengah berhadapan dengan kiand, tapi posisinya membelakangiku, kiand yang saat itu sadar dengan kedatanganku mengisyaratkan agar aku pergi. dari sorot matanya dia terlihat begitu takut, rasanya aku ingin menikam kak candra saat itu juga, tapi aku melihat ada pisau di tangannya, aku kembali mencari cara bagaimana agar aku bisa membawa kiand tanpa ia terluka sedikitpun
ku ambil sebuah handuk, yang kebetulan menggantung di samping kamar mandi yang terletak tak jauh dari kamar
aku mencoba masuk kamar dengan hati2 dan dengan cepat ku lingkarkan handuk di leher kak candra, dan membawanya ke kamar mandi, agar kiand punya kesempatan untuk kabur
"pak pandu jangan! " teriak kiand
aku sengaja menutup pintu kamar mandi, dan menguncinya, aku yakin tidak mungkin kak candra tega menyakitiku
kami adu fisik disana, pikiranku salah, kak candra begitu emosi, beberapa kali dia sempat menusukan pisaunya ke arah tubuhku, tapi untungnya aku segera menghindar
"kak, stop kak! " teriakku
"buat apa gue stop? lo udah ambil segalanya dari gue! " teriaknya
"kak kita bisa bicarakan ini baik-baik! " aku terus berusaha menenangkan amarah kak candra, tapi sepertinya nihil, pisau utu berhasil menyayat sedikit lenganku.
"pak pandu please keluar! " kiand terus mengetuk pintu kamar mandi
"pandu, candra... keluar! " monic pun demikian
Aku masih berusaha menyelamatkan diri, dari kemarahan kak candra
"Semenjak lo lahir, hidup gue selalu sial! semua yang bokap, dan nyokap minta dari gue, itu buat lo! " ujarnya dengan amarah yang tak terkendali
"gue nggak ngerti apa yang lo omongin! " sahutku dengan tangan yang terus menghadang serangan kak candra, bahkan rasa sakit dari sayatan pisau tak aku hiraukan
"gue bukan anak mereka, gue sadar!!!! lo anak mereka!!!!! dan lo tahu? mereka adopsi gue, demi bisa dapetin lo, dan apa hasilnya, setelah lo ada, semua mimpi gua pupus, lenyap gitu aja" aku benar-benar terkejut, mami dan papi tak pernah menceritakan hal ini padaku, aku justru iri pada kak candra, dengan semua perlakuan papi dan mami yang menurutku tidak adil
"kak, selama ini lo yang disayang mereka, bukan gue, lo tahu, gue selalu di suruh ngalah sama mereka cuman buat lo! "
"iya, karena mereka takut, gue bocorin semua rencana dan kebohongan mereka! " kak candra menjatuhkan pisau yang ia gunakan, tampak kesedihan dari wajahnya "Bintang! gue nggak cinta sama bintang, semua papi dan mami yang rencanain, mereka cuman mau kerjasama bisnis, mami, papi sebenarnya tahu, lo cinta banget sama bintang, makanya mereka nggak mau jodohin bintang sama lo, mereka nggak mau semua kerjasama yang mereka susun berantakan cuman gara-gara perasaan lo ke bintang, bagi mereka, tidak ada cinta dalam ikatan bisnis"
Kenyataan paling pahit yang aku terima, ternyata orang tuaku jauh lebih jahat dari pemikiranku,
"itu juga alasan kenapa lo di jodohin sama monic, disaat lo lagi cinta-cintanya sama kiand! "
"cukup kak, gue nggak mau denger apapun dari lo! "
"harusnya lo buka mata lebar-lebar, bagi papi dan mami, anak itu adalah alat, alat untuk memperluas bisnis mereka! " tetiak kak candra
aku benar-benar kecewa, jika itu benar adanya... rasa menyesal karena telah di lahirkan oleh orang tua seperti mereka
"sekarang gue aja gak tau arti hidup buat gue! "ujar kak candra di iringan isak tangisnya
Aku mencoba mendekat, tapi kak candra langsung mengambil pisaunya dan mengarahkan padaku
" jangan deket gue! " teriak nya
Di luar, monic dan kiand tetus mengetuk pintu kamar mandi,
"kak, turunin pisaunya! " titahku "kita sama-sama terluka, kita sama-sama korban keegoisan orang tua kita! "
"gue nggak mau manggil mereka orang tua! buat gue mereka hanyalah bajingan yang memanfaatkan hidup gue ! "
"kak, kita akan bicarakan ini baik-baik, jujur gue sayang sama lo, sampai kapanpun lo adalah kakak gue, lo pahlawan gue, gue bisa hidup sampai detik ini karena lo kak! "
"omongan lo bulshit!!!! nyatanya selama ini gue hidup sendiri! mana arti keluarga yang mereka janjiin sama gue? "
di kamar mandi ini, kami hanya duduk saling berhadapan, kak candra larut dengan kesedihannya, dan aku sendiri larut dengan kekecewaan yang sangat besar pada orang tuaku
"kadang gue berpikir buat apa gue hidup? apa ada yang perduli sama gue, bahkan bintang sekalipun, yang katanya mencintai gue! di otaknya masih ada lo, lo , dan cuman lo!!!!!! " ujar kak candra "lalu gue apa? apa arti gue dalam hidupnya? heh..."
"kak....! "
"lo juga! gue berharap lo ngerti apa yang gue mau! tapi setelah lo ketemu kiand, lo semakin benci sama gue, dan yah....!!! gue pun semakin sadar kalau gue adalah pengecut,"
"kak, gue nggak benci lo kak! "
Beberapa saat kemudian, aku tidak merasakan apapun, tak ada pisau yang menusuk tubuhku, aku langsung membuka mata, dan ku lihat kak candra, tubuhnya penuh dengan darah, dia menusuk dirinya sendiri.
" kak.....!!!! " teriakku
Aku langsung mengakat tubuh kak candra yang penuh darah, ku buka pintu kamar mandi , aku langsung berlari mencari pertolongan, aku bahkan tak perduli kiand, monic, atau siapapun yang ada disana
"tolong.....! " teriakku
saat itu aku merasa betapa aku takut kehilangan kak candra, aku sadar dengan semua amarah, dan keegoisannya, aku tetap menyayanginya
"kak lo gila! gak seharusnya lo lakuin ini! gue sayang sama lo kak! " teriakku
aku mendengar suara sirine dari luar, dengan cepat aku berlari ke luar
"pak pandu....! " panggi kiand
aku masih berlari dengan menggendong tubuh kak candra yang semakin lemah, darah terus keluar hingga semua bajuku di penuhi dengan darah
Polisi satu persatu masuk ke dalam rumah,
"pak tolong kakak saya pak;" teriakku pada salah satu polisi
"ayo... masuk ke mobil! " ujarnya
"Candra! " aku bertemu bintang di luar saat aku hendak memasukan tubuh kak candra ke dalam mobil "kalian berantem? " tanya bintang
"nanti aku jelasin di rumah sakit, kak candra udah terlalu banyak ngeluarin darah" ujarku
"oke, aku ikutin kamu dari belakang" ujar bintang
Akhirnya kami segera bergegas ke rumah sakit, sedang polisi lainnya, berusaha menangkap bebebrapa orang di dalam, termasuk pak wijaya, dan monic
Sepanjang perjalanan aku begitu khawatir, aku terus memanggil nama kak candra, dia hanya tersenyum , sambil merintih menahan sakit
"lo goblok kak, lo bego! buat apa lo lakuin ini! " umpatku
"bodoh! ngapain lo nangis? " ucap kak candra dengan santainya
"gue mau lo bertahan, please!!! kita bisa perbaiki semua! "
"apa yang perlu di perbaiki, dari kakak kaya gue? "
"kak, please jangan ngomong lagi, ! " aku terus menekan bagian tubuh kak candra yang mengeluarkan darah
"kalau gue mati, jangan benci papi dan mami! " pesannya
"lo nggak akan mati, gue janji, gue bakal selamatin lo! "
mobil terus melaju, menuju rumah sakit terdekat, dan sesampainya di rumah sakit, beberapa perawat membawa brangkar dorong dan langsung membawa kak candra ke ugd
"dok, pasien menghabiskan banyak darah! " ujar salah satu sustet
"labgsung ke ruang operasi! " titah dokter
akhirnya kak candra di bawa ke ruang operasi, aku benar-benar tak tenang saat itu, bahkan aku tak perduli dengan pakain yang sudah berlumuran darah, aku tak ingin beranjak sedetikpun dari ruang operasi
"Pandu, apa yang terjadi? " bintang menghampiriku, di ikuti kiand, dan yoga
"aku nggak bisa cerita sekarang! " ujarku
Bintang menyadari betapa aku gelisah dan khawatir, aku terus mundar mandir di depan pintu operasi
"Pandu tenang dulu! " ujar bintang
"gimana aku bisa tenang bi, kak candra di dalam dengan kondisi antara hidup dan mati" ku tinggikan nada bicaraku
"aku tahu, tapi candra sudah di tangani dokter" jawab bintang
"semua karena aku bi, karena aku, aku bodoh, aku nggak peka dengan perasaan kak candra! " aku terus menyalahkan diri sendiri
Bintang selalu tahu ketika aku sedang kacau, dia menarik ku dan menjatuhkan ku dalam pelukannya.