For A Great Love

For A Great Love
episode 20 Luka yang perih



POV KIAND


"Pak sudah ya minumnya, bapak sudah terlalu banyak minum" Pak Pandu terlihat begitu kacau, beberapa kali dia mengisi gelasnya dengan minuman beralkohol, meski sudah ku ingatkan untuk berhenti.


"Ini bukan urusan kamu, kenapa kamu terus mengikuti saya, kamu tuh sangat mengganggu Kiand" ucapnya dengan mulut yang beraroma tak alkohol yang menyengat.


"Terserah bapak bilang saya mengganggu atau apalah,tapi saya akan tetap disini menemani Pak Pandu, saya nggak mau Pak Pandu kenapa-kenapa"


"Hemmm, " Pak Pandu meringis "Saya sudah terlanjur kenapa-kenapa Ki, hati saya sudah hancur, jadi buat apa kamu masih disini, toh kamu tidak bisa mengubah keadaan untuk mengobati luka saya bukan? " dia terus berbicara dalam keadaan setengah sadar.


"Mas satu botol lagi ya! " pinta Pak Pandu pada seorang bartender.


"Nggak mas, udah stop! " tolakku


"Jangan pernah ikut campur dalam hidup saya Kiand! " Pak Pandu melirik kearahku dengan tatapan marah "Tolong ambilkan saya satu botol lagi" lanjutnya


"Saya bilang stop! " Aku terpaksa sedikit berteriak


"Apa maumu Ki? kamu cuman seseorang yang saya bayar untuk menjadi pacar pura-pura saya, tidak ada hak kamu mengatur hidup saya" dia terus mengoceh meski terkadang suaranya tak terdengar jelas


"Saya nggak perduli bapak mau ngomong apa, sekarang kita harus pulang! " Aku berusaha menarik lengan Pak Pandu, tapi Pak Pandu berusaha untuk menolak. Ku keluarkan tenagaku untuk terus membawa Pak Pandu keluar dari tempat menjijikan ini, dia tidak pantas ada disini.


"Kenapa kamu perduli sama saya Kiand? " tanyanya lemah "Bintang saja tidak perduli pada saya, tak ada yang mengerti bagaimana sakitnya hati saya, kenapa kamu masih perduli hah? " Aku tak menjawab pertanyyaan Pak Pandu yang semakin lama semaking melantur, aku terus berusaha membawanya jalan meski dia terus sempoyongan


Bagaimana dengan mobil Pak Jefry? pikirku, sedang aku sendiri tidak bisa membawa mobil.


Aku harus telpon Pak Jefry. Dengan tangan yang terus membopong Pak Pandu, aku berusaha mencari ponsel dalam tasku, dan langsung menghubungi Pak Jefry


"Halo pak! "


"Halo Ki? kalian dimana? gue telpon handphone Pandu kok nggak aktif? " tanya Pak Jefry


"Pak, Pak Pandu mabuk berat, saya bingung mau bawa Pak Pandu kemana? terus mobil bapak gimana?"


" Hadeh anak ini, nggak bisa apa, nggak ngerepotin gue sekali aja! " gerutu Pak Jefry


"Saya sudah di luar cafe, tapi saya bingung mau kemana? "


"Kamu ke apartemen Pandu aja ya! nanti gue kirim alamatnya, abis ini gue sama Yoga ke cafe buat ambil mobil, terus langsung ke apartemen, lo kirim alamat cafenya aja ya"


"baik pak, jadi saya naik taxi ya! "


"Iya kamu naik taxi aja"


"oke pak kalau gitu"


Setelah mematikan handphone, aku segera mencari taxi yang berada di sekitar cafe, untunglah aku cepat mendapatkan taxi.


Aku meminta supir taxi menuju apartemen di daerah kemang. Pak Pandu tertidur pulas di sandaran bahuku, dia terlalu banyak minum hingga dia sudah tidak sanggup untuk membuka matanya, hanya sesekali saja bibirnya menyebut nama Bintang, dengan suara yang terdengar perih.


Sungguh hati Pak Pandu sangat terluka dengan pertunangan Bu Bintang dan Mas Candra, seandainya Pak Pandu mau saja sedikit membuka hati, meski bukan aku yang bisa masuk ke dalam hatinya, tapi setidaknya ada wanita yang mampu mengobati luka hatinya. Dengan ragu aku mengelus pipi Pak Pandu, hal yang mungkin takan bisa ku lakukan ketika dia sadar


"Bi.. Bintang, bagaimana mungkin kamu lebih memilih Mas Candra dari pada aku" gumamnya dalam keadaan mata yang masih tertutup. Dia meraih tanganku, menggenggamnya begitu erat


Aku bisa merasakan sakitnya, kala orang yang kita cintai justru memilih orang lain.


"Jangan lepasin tanganku Bi" Tiba-tiba air mataku menetes, saat Pak Pandu justru menganggapku adalah Bu Bintang.


Taxi sudah memasuki loby apartemen, untunglah Pak Pandu selalu membawa kunci apartemen dalam sakunya, sehingga memudahkan akses untuk masuk ke apartemennya. Aku meminta supir taxi untuk membantuku membawa Pak Pandu ke dalam apartemen.


"Terima kasih banyak ya pak!" ucapku sambil memberikan dua lembar uang seratus ribuan


"Neng ini sih kebanyakan! "


"Nggak papa pak, sisanya buat bapak"


"terima kasih ya neng" ucap supir taxi itu, lalu pergi


Aku langsung menutup pintu apartemen dan membantu Pak Pandu jalan ke kamarnya, Saat aku menjatuhkan tubuh Pak Pandu ke kasur, Pak Pandu menarik tanganku.


"Jangan pergi Bi" dia terus memanggilku Bintang


Aku kembali duduk di sampingnya, dia menggenggam tanganku erat, seolah tak ingin aku meninggalkannya.


"Kamu tahu serapuh apa aku saat kamu memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita? " ucap Pak Pandu dalam keadaan setengah sadar


"Aku seakan kehilangan separuh jiwaku Bi" Air mata jatuh dari mata Pak Pandu, hatinya sungguh sakit, sangat sakit. Saat aku menghapus air mata Pak Pandu, tangannya meraih tanganku, dan menciumnya beberapa kali.


"Sudah cukup kamu buat aku mati rasa, kembali padaku Bi, jangan pergi lagi" melihat kondisi Pak Pandu batinku menangis, sangat menangis, pilu itu begitu terasa hingga ke lubuk hatiku. Bagaimana bisa aku mengobati luka yang teramat dalam.


"Saya disini pak, saya tidak akan meninggalkan bapak, meski bapak menganggap saya sebagai Bu Bintang, setidaknya hanya itu yang bisa saya lakukan agar bapak sedikit lebih tenang " gumamku sambil mengelus kepala Pak Pandu.


Aku berbaring di samping Pak Pandu, dia terus menggengam tanganku, dan menyadarkan kepalanya di bahuku, dia terlihat begitu nyaman. terpancar ketenangan dari wajahnya yang sedari tadi gelisah.


Aku mungkin tidak bisa menjadi Bu Bintang Pak, tapi setidaknya bapak bisa nyaman dengan menganggap jika aku adalah Bu Bintang. ucapku dalam hati.


Tanpa sadar aku tertidur satu ranjang dengan Pak Pandu, entah berapa lama, karena saat aku sadar handphoneku terus berbunyi, dengan cepat aku mengambil handphone yang ku taruh di tas kecil milikku, sudah ada tiga panggilan tak terjawab dari Pak Jefry. Aku langsung menghubunginya.


"Hallo pak, maaf tadi saya tidak dengar suara telpon" ucapku berbohobg


"Kamu sudah di apartemen? gue on the way ya, nanti lo tunggu gue di lobby" ucap Pak Jefry


"Pandu gimana kondisinya? "


"Dia udah tidur pak" jawabku


"Ohh ya sudah bagus kalau gitu, sepuluh menit lagi temui gue di lobby" perintah Pak Jefry.


"Baik pak! "


Setelah sambungan telepon terputus, perlahan aku melepaskan genggaman tangan Pak Pandu, pelan-pelan aku menuruni kasur dan bergegas menuju ruang tamu.


Tadi itu aku tidur di samping laki-laki, dan ini untuk pertama kalinya aku lakukan, bagaimana aku bisa terbawa suasana? Cinta memang selalu membuat penikmatnya terbuai, untung saja Pak Pandu tidur, kalau dia masih setengah sadar, bagaimana kalau dia mengajakku melakukan hal yang tidak di perbolehkan? " Aduh Kiand, apa sih yang ada di otak lo? " Aku memukul kepalaku saat mengingat kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi


"Benar kata ayah, tidak boleh berduaan dengan laki-laki karena yang ketiganya adalah setan" ucapku untuk diriku sendiri


Aku menegak segelas air mineral, karena tenggorakan ku terasa kering, setelah itu aku turun ke lobby untuk menunggu Pak Jefry dan Pak Yoga.


tak lama aku sampai di lobby, terlihat Pak Jefry dan Pak Yoga keluar dari mobilnya, dan memberikan kunci pada penjaga valley


"Ki! " panggil Pak Jefry sambil berlari ke arahku "Gimana semua aman? " tanya Pak Jefry


"Sedikit aman pak" jawabku


"Ya sudah ayo kita ke apartemen Pandu" Aku, Pak jefry dan Pak Yoga bergegas menuju Apartemen Pak Pandu, saat kami masuk tidak ada yang berubah, itu artinya Pak Pandu masih terlelap.


"Anak ini, segitu bucinnya sama si Bintang" sahut Pak Yoga saat melihat kondisi Pak Pandu yang masih terlelap.


"Ohh Cinta benar membuat orang menjadi buta" sahut Pak Jefry


"Gantiin baju jef! " titah Pak Yoga


"Gantiin bajunya Ki! " Pak Jefry balik menyuruhku


"Ihhh.. enak aja, bapak lah yang gantiin baju Pak Pandu, sayakan cewek" tolakku dengan mata yang terbelalak kaget


"Maksud gue ambilin bajunya di lemari" sahut Pak Jefry


"Bilang yang jelas"


Aku berjalan menuju lemari jati yang berada di samping tempat tidur, baju Pak Pandu tertata begitu rapih, tapi mataku entah kenapa langsung mengarah pada sebuah box hitam yang berada di atas baju Pak Pandu.


Kotak apa ini? tanyaku dalam hati, aku sempat ingin mengambilnya, tapi ku urungkan karena itu terlalu lancang, ku mengabaikan kotak itu, dan langsung mengambil kaos berwarna biru serta celana panjang berbahan kaos.


"Nih pak " Aku memberikan pakaian Pak Pandu pada Pak Jefry lalu kemudian pergi keluar.


Aku duduk di sofa sambil melihat handphoneku, teringat Arga seorang diri di rumah, aku mencari nomer Bagas, salah satu tetangga kontrakan yang juga berteman baik dengan Arga.


Hallo Bagas! " sapaku


"Iya Ka Kiand, " jawabnya


"Kakak bisa minta tolong sambungin ke Arga? "


"Ohh kebetulan Arga ada disini kak, bentar ya"


"Hallo Kak " suara Arga


" Arga, sepertinya kakak nggak pulang malam ini, kamu nginep di rumah Bagas ya, uang jajan kamu pinjam dulu sama Bagas ya, kakak usahakan besok pagi kakak pulang"


"Baik Ka"


"Ya sudah kamu hati-hati, apa orang berbadan besar itu masih sering datang ke rumah? " tanyaku


"Kayanya nggak ada kak"


"Ohhh baguslah, Ya udah kalau gitu bye Ga! "


Aku menutup sambungan telpon


"ehemmm" seseorang berdehem di sampingku, dan saat aku menoleh, Pak Yoga sudah berdiri sambil menatapku


"Ehh Pak! " Aku menggeser tubuhku agar Pak Yoga bisa duduk di sampingku


"Telepon orang rumah ya? " Tanya Pak Yoga


"Iya pak, " jawabku


"Kiand, Pandu sangat butuh kamu, saya sebagai sahabatnya sudah tak tahu lagi caranya mengobati luka Pandu, saya minta untuk malam ini temani Pandu disini" pinta Pak Yoga


"Baik pak" jawabku


"Saya yakin suatu saat Pandu bisa menghargai kehadiran kamu di sampingnya" Aku tidak begitu mengerti dengan ucapan Pak Yoga


"Maksud Bapak? " tanyaku bingung


"Suatu saat kamu ngerti sama ucapan saya" jawabnya "Ya sudah, saya balik lagi kr kamar, liat kondisi Pandu"


Aku hanya mengangguk sambil mencoba mencerna ucapan Pak Yoga.