
Selesai dengan Ny.Dania dan juga Bibi Lia, Yuna lantas melangkahkan kakinya menuju kamar Yuri. Didalamnya, Ia melihat sang kakak yang telah meringkuk diatas tempat tidur.
“Kakak..”
Menutup pintu dibelakangnya, ia lantas mendekat kesisi tempat tidur, menghampiri Yuri yang dalam posisi miring membelakanginya.
“Kak.. Kau sudah tidur?”
Pertanyaannya yang tak mendapat sahutan dari Yuri, membuatnya berpikir jika sang kakak mungkin memang telah tertidur. Maka kemudian, ia menarik selimut yang masih terlipat rapi dibawah kaki Yuri untuk selanjutnya memasangkan ketubuhnya.
Yuna sudah akan beranjak, namun dirasakannya tangan Yuri meraih, menahan pergelangan tangannya.
“Yuna..”
“Iya, kak..”
Yuri mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk, yang kemudian bisa membuatnya bertatapan dengan Yuna.
“Kakak menginginkan sesuatu? Aku akan mengambilkannya untukmu..”
Yuna tersenyum sambil sebelah tangannya mengusap tangan Yuri yang memegang pergelangan tangannya.
Yuri merespon dengan menggelengkan kepalanya..
“Yuna..”
“hm..”
“Azka mengatakan dia mencintaiku.. aku mendengar lagi dia mengatakan mencintaiku dan Aku juga mencintai nya.. Kau tahu kan aku sangat mencintai Azka?”
Untuk beberapa saat Yuna hanya bisa diam mendengarnya..
Ia tahu, tentu saja ia sangat tahu tentang hal itu. Terlebih bila melihat tatapan kedua mata kakaknya yang telah menyiratkan segala perasaan yang dimilikinya terhadap pria itu.
“Yang ku inginkan hanya bahagia, Yuna.. Aku ingin bahagia bersama dengan Azka. Bisakah aku mendapatkan hal itu? Setelah semua derita yang kurasakan, dapatkah aku merasakan bahagia yang seperti itu?”
Yuna melihat setetes airmata yang dengan perlahan turun membasahi wajah kakaknya. Dan karna hal itu, sesuatu seakan dengan kuat telah menghantam bagian dadanya. sesak dan perih yang kemudian dirasakannya.
Ia sangat tahu sang kakak begitu mencintai Azka, tapi mengapa ia justru bermain hati dengan pria itu.
Tuhan..
Bukankah ia tak ada bedanya dengan seorang pengkhianat.
Ya..
Ia telah berkhianat.
Mengkhianati kakaknya..
Mendadak Yuna benar-benar merasakan dirinya telah berlaku seperti itu. Dirinya telah menjadi seorang penghianat karna perasaannya yang justru tumbuh untuk seorang pria yang ia ketahui memiliki arti penting bagi kakaknya.
“Apa yang harus kulakukan, Yuna? Bahagia ku hanya Azka.. Aku ingin terus bersamanya. Aku takut kehilangannya.. aku benar-benar takut. Masih layak kah aku untuk mendapatkan kebahagiaan..? Aku telah ternoda, aku kotor.. aku wanita hina.. aku.. aku..”
“Ya Tuhan, kakak.. apa yang kau katakan..?”
Yuna telah menjatuhkan airmata ketika mendengarnya, dan buru-buru menyekanya untuk kemudian menghentikan sang kakak dari merendahkan diri sendiri.
“Kakak, kakak sangatlah layak mendapatkan kebahagiaan. Kau memang haruslah bahagia, kak..”
“Jika seperti itu, apakah kau akan mendukungku, Yuna? Apakah kau akan mendukung aku untuk meraih kebahagianku? Kebahagiannku adalah Azka..”
Yuri menatapnya lekat, namun Yuna merasakan tak menemukan sesuatu apapun dari tatapan sang kakak kepadanya saat itu. Tanpa pancaran cinta, menjadi terasa kosong tak seperti biasanya..
“Tentu saja, kak.. Tentu saja aku akan mendukung apapun itu yang bisa membuat kakak bahagia..”
“Benarkah?”
Yuna memastikan dengan anggukan kepala dan mengeratkan genggaman tangannya ditangan Yuri, namun Yuri justru mengalihkan tatapannya, kemudian melepaskan tangan Yuna dari menggenggam tangannya. Ia kemudian juga kembali merebahkan tubuhnya.
“Bisakah kau keluar, aku ingin beristirahat. Aku ingin sendirian malam ini..”
“Kakak, tapi aku..”
“Kau tidak keberatan jika aku memintamu untuk tidak tidur disini kan? Aku tak ingin ada yang menggangguku..”
Yuna sedikit tersentak mendengarnya..
Apakah selama ini sang kakak menganggapnya sebagai seorang pengganggu?
Tidak..
Tidak mungkin seperti itu.
Namun pikiran positifnya mengatakan jika mungkin saja sang kakak memang sedang membutuhkan waktu untuk sendiri, maka kemudian Yuna mengangguk meski pada saat itu Yuri tidak sedang melihat respon yang ditunjukkan olehnya karna kedua matanya telah mengatup rapat.
Yuna juga lantas menarik selimut sebatas bahu, menyelimuti tubuh Yuri, menjaganya agar tetap merasa hangat.
“Baiklah jika kakak ingin sendiri, aku akan keluar.. Aku tidak akan mengganggu kakak. Aku akan tidur dengan Jena, tapi kuharap besok kakak akan memperbolehkan aku untuk tidur denganmu. Aku hanya ingin menjagamu, aku menyayangimu.. selamat tidur Kak..”
Yuna yang kemudian melangkah keluar meninggalkan kamar itu, pastilah tidak menyadari Yuri yang kemudian meneteskan airmata dan menangis cukup lama sambil memandang pada pintu kamarnya yang telah tertutup rapat.
Apa yang tadi dikatakannya?
Mengapa ia menjadi sedemikian tega terhadap adiknya?
Namun ia masihlah merasakan kemarahan, kecewa dan perasaan tersakiti oleh karna kebohongan sekaligus pengkhianatan yang dilakukan Yuna terhadapnya, yang telah pula menghancurkan kepercayaannya.
Rasanya ia tak lagi bisa menatap sang adik dengan perasaan yang sama seperti sebelumnya. Menatap Yuna justru hanya semakin membuatnya merasakan perihnya luka yang sedang dirasakannya..
“Mengapa kau tega melakukannya, Yuna.. Mengapa kau tega mengkhianatiku?”
Yuri masih terus terisak, seakan airmatanya takkan pernah bisa mengering dari sumbernya..
***
Sementara dengan Yuna, setelah menutup pintu kamar Yuri dan sempat beberapa lama hanya berdiri diam disana, tak tahu apa yang selanjutnya akan dilakukannya. Sejujurnya ia tengah dilanda kebingungan. Bingung dengan sikap sang kakak yang ia rasakan berubah begitu dingin terhadapnya.
Yuna bahkan tak menemukan lagi pancaran cinta yang biasa terlihat dari sorot mata sang kakak ketika menatapnya. Ia hanya mendapati kekosongan tanpa rasa didalamnya.
Oh Tuhan..
Apa yang terjadi dengan oenni nya?
Setelah cukup lama bergulat dengan kebingungannya, Yuna lantas beranjak, melangkahkan kakinya untuk menemukan keberadaan Jena. Seperti yang dikatakannya, ia mungkin bisa tidur dengan Jena malam ini. Atau jika tidak, Bibi Lia mungkin juga takkan keberatan memberinya tempat dikamarnya.
Mengapa ia tak kembali saja menempati kamarnya dirumah itu?
Pemikiran yang seperti itu sempat terlintas dibenaknya, namun Yuna buru-buru membuangnya. Ia mungkin takkan pernah lagi kembali menghuni kamar itu.
Helaan napasnya yang berkali-kali, telah menemani langkah-langkah ringannya mengelilingi beberapa bagian dalam rumah itu untuk menemukan keberadaan Jena. Namun sampai saat itupun, Yuna masih belum menemukannya. Jena juga tak sedang berada dikamarnya.
Berniat untuk kemudian menuju kamar Bibi Lia, Yuna justru mendapati pintu ruang kerja Azka yang dilewatinya sedikit terbuka, memperlihatkan bias cahaya yang berasal dari dalamnya, yang kemudian membuat kedua kakinya menghentikan langkahnya.
Yuna justru mendekat pada pintu itu, sedikit mendorongnya hingga kemudian mendapati Azka berada didalamnya. Pria itu sedang duduk dibelakang meja kerjanya, terlihat serius dengan berlembar-lembar kertas dihadapannya. Keseriusan itu pula yang nampaknya sempat membuatnya tak menyadari saat Yuna melangkahkan kakinya masuk kedalamnya.
Azka baru menyadari kehadiran Yuna didalam ruang kerjanya itu, saat tak kurang dari tiga langkah lagi gadis itu akan menjapai meja kerjanya.
“Oh, Hai..”
Wajah serius itu, berubah dengan cepat menunjukkan senyumnya kehadapan Yuna.
“Hai..”
Yuna balas tersenyum kearahnya. Membuat Azka terlihat ingin beranjak dari kursi yang didudukinya, namun dengan segera Yuna mencegahnya..
“Tetaplah disana, aku tidak ingin mengganggumu..”
Azka masih belum beralih dari Yuna yang kemudian mendudukkan dirinya pada satu-satunya sofa yang berada tak jauh darinya.
“Ada apa?”
“Tidak apa-apa.. Kenapa kau masih bekerja? Itu pasti karna seharian tadi kau menemaniku kan? Maaf..”
Yuna berhasil mengalihkan perhatian Azka yang lantas juga tersenyum padanya.
“Aku tidak akan berbohong karna memang seperti itu. Aku meninggalkan beberapa pekerjaanku untuk melakukan kencan konyol dengan seorang gadis belia. Tapi kau tidak perlu meminta maaf, aku menyukainya..”
Yuna tak merespon kalimatnya dan hanya terus menatap pada Azka yang masih tersenyum padanya, sampai kemudian pria itu kembali mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang memenuhi meja kerjanya.
“Kenapa tidak tidur saja? Apa kau tidak merasa lelah seharian ini?”
Yuna baru berkedip ketika sesaat Azka mendongak melihatnya dan kembali lagi membolak-balik kertas-kertas yang berada didalam map dan menandatangani beberapa diantaranya.
“Aku belum mengantuk..”
Jawabnya sekenanya, meski sebenarnya ia cukup lelah, bahkan kedua matanya terasa berat. Namun Yuna memastikan tidak akan mengatakan jika Yuri baru saja mengusirnya keluar dari kamar dan tak membiarkannya tidur dengannya, karna itu ia berkeliling mencari Jena untuk menumpang tidur dikamarnya, namun masih belum menemukannya hingga sekarang ia justru tertarik masuk kedalam ruang kerja Azka.
Tidak, ia tidak akan mengatakan yang seperti itu.
“Kalau begitu baguslah, kau bisa disini menemaniku..”
Azka kembali menunjukkan senyumnya. Senyum yang menawan. Yang dirasakan Yuna berkali lipat lebih menawan dari biasanya.
Oh, bahkan sampai menggetarkan hatinya..
“Kau tidak keberatan kan?”
“Oh, hm..”
Yuna seakan linglung dan hanya bisa mengangguk. Benar-benar tertawan oleh senyuman yang telah menggetarkan hatinya sedemikian rupa, bahkan sampai sekarang..
Baru beberapa saat setelahnya, setelah Azka kembali bergelut dengan kertas-kertas nya, Yuna baru kembali bersuara..
“Mau kopi?”
Tawarnya yang dengan cepat ditanggapi oleh Azka..
“Jika tidak keberatan”
“Aku akan membuatnya..”
“Tidak dengan menambahkan garam kan?”
Azka menaikkan alisnya seolah sedang menampilkan kecurigaan diwajahnya, yang kemudian membuat Yuna tersenyum. Teringat pada kejadian yang terjadi beberapa waktu sebelumnya.
“Aku mungkin tidak akan berani melakukannya lagi. Tunggulah, aku akan membuatkannya..”
Yuna lantas beranjak dari sofa yang didudukinya, keluar dari ruang kerja Azka dan selanjutnya menuju kearah dapur. Bergerak membuka beberapa laci yang terdapat disekitar mesin pembuat kopi, dan menemukan kopi instan siap seduh didalamnya. Praktis yang dilakukannya kemudian adalah menuangkannya kedalam cangkir, lalu menyeduhnya. Dan dengan segera meninggalkan ruang dapur untuk kembali ke ruang kerja Azka.
Dalam langkahnya melewati ruang utama didalam rumah itu, Yuna justru berpapasan dengan Tn.Rian yang baru saja masuk melewati pintu depan.
“Oh, Bapak.. Anda baru datang?”
Yuna sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberikan salam, yang langsung ditanggapi dengan senyuman dari Tn.Rian.
“Apa yang kau lakukan malam-malam begini, Yuna.. Kau tidak tidur?”
Tn.Rian memperhatikan sebuah cangkir yang berada ditangannya..
“Kau membuat kopi? Kau tau aku masih tidak suka kau berada didapur, Yuna.. tapi, bau nya sangat enak..”
Tn.Rian juga kemudian menghirup, menikmati harum aroma kopi panas yang mengepul dari cangkirnya.
“Aku membuatnya untuk Pak.. emm, maksudku Mas Azka. Apa bapak menginginkannya? Aku bisa membuatkannya lagi..”
“Oh, aku sangat ingin Yuna.. Tapi aku juga tidak ingin mengambil resiko ibu Azka mengomeliku. Istriku sangat cerewet dan melarangku mengkonsumsi terlalu banyak kafein..”
Yuna terkikik geli mendengarnya, ingin menanggapi keluhan Tn.Rian saat itu, namun sebuah suara lebih dulu menghentikannya..
“Apa aku baru saja mendengar kau menjelekan aku, Pa?”
Ny.Dania sudah dalam langkah mendekati keduanya, meski nada dalam kalimatnya tadi terdengar ketus, namun wanita itu langsung menghampiri sang suami untuk mengambil mantel hangat ditangan Tn.Rian, yang lantas membuat pria itu tersenyum kearahnya.
Yuna sesaat tertegun melihatnya..
Bagaimana bisa tindakan sekecil itu yang dilakukan kedua orangtua Azka didepan matanya bisa begitu membuatnya merasakan kehangatan oleh karna aura yang begitu kuatnya dari jalinan cinta yang mengikat mereka.
Oh..
Apakah dulu orangtua nya juga seperti itu?
Sayangnya ia sama sekali tak memiliki ingatan tentang keharmonisan kedua orangtua nya.
Betapa Azka sangat beruntung memiliki kedua orangtua yang seperti itu. Yang saling memperhatikan hingga hal sekecil itu.
“Dan apa yang kau lakukan disini, Yuna?”
Yuna mengerjap mendengarnya, tersadar dari kekagumannya terhadap sikap yang ditunjukkan kedua orangtua Azka pada satu sama lain. Ia semakin dapat menilai bahwa Tn.Rian seorang yang sangatlah penyabar, yang mampu mengimbangi sikap sang istri yang cenderung keras dan kadang terkesan tanpa perasaan.
“Ck! Yuna, kau tidak mendengarku?”
Yuna kembali mengerjap..
“Oh, iya Bu.. Maaf..”
Ny.Dania lantas memperhatikan pada cangkir kopi ditangan Yuna. Hal yang sama seperti yang dilakukan Tn.Rian tadi.
“Untuk siapa kau membuatnya, Yuna? Pa.. Aku sudah memperingatkanmu. Kau pikir kau masih muda. Kafein tak baik untuk pria tua sepertimu..”
Merasa ucapannya diabaikan, Ny.Dania menjadi terlihat kesal pada sang suami, yang kemudian justru merangkulnya.
“Yuna membuatnya untuk Azka.., tenanglah aku masih selalu mendengar omonganmu..”
“Untuk Azka?”
“Iya, Bu..”
Yuna mengatakan jika Azka sedang berada diruang kerjanya untuk mengerjakan pekerjaan kantor yang tertunda karna pria itu seharian menemaninya. Mulai dari memberinya perayaan, melakukan kencan seperti yang diinginkannya hingga berada dirumah sakit saat mendadak kondisi Yuri menurun tadi.
“Sebaiknya aku membawakan ini sekarang..”
“Tapi kau tidak boleh menemani Azka hingga larut. Kau jelas terlihat lelah dan membutuhkan tidur, Yuna..”
Yuna mengangguk dan membuat Ny.Dania kemudian mengulurkan tangan, menyentuh kemudian mengusap pada pipi Yuna.
“Aishh.. Berapa lama aku tidak membawamu ke salon kecantikan? Kulitmu kusam dan membutuhkan perawatan”
Yuna sedikit memberengut mendengarnya. Sepertinya tak ada masalah dengan kulit wajahnya. Kecuali ia memang merasakan letih dan lelah seharian ini.
“Besok setelah jam kuliahmu berakhir, kau harus ikut denganku..”
Ny.Dania berpesan itu padanya sebelum akhinya menarik lengan sang suami dan berjalan bersisian masuk kedalam kamar mereka. Yuna yang sempat berdiri diam, kemudian juga meneruskan langkahnya kembali keruang kerja Azka..
Tapi tak ada yang mengetahui dengan keberadaan Yuri disana. Yuri yang tengah berdiri kaku setelah melihat dengan kedua matanya bagaimana percakapan antara Yuna dengan kedua orangtua Azka tadi.
Jadi seperti itukah yang selama ini terjadi dibelakangnya?
Jadi semua orang telah bersekongkol untuk membohonginya?
Yuri merasakan lagi hantaman rasa sakit yang nyaris membuatnya terjatuh dalam keadaan lunglai tubuhnya, ia lantas menyeret kedua kakinya kembali masuk kedalam kamarnya dengan langkah tertatih-tatih.
Niat awalnya keluar dari dalam kamar tadi adalah untuk mencari Yuna, setelah menyadari ia tak benar-benar tega memperlakukan sang adik sedimikian kejam, namun kenyataannya ia justru disuguhi dengan senyuman canda dari Yuna bahkan setelah ia tadi mengusirnya keluar dari kamarnya. Sang adik jelaslah terlihat tak masalah, apalagi bersedih lantaran sikapnya tadi.
Jadi, untuk apa ia menyesali sikapnya..
“Kenapa kau begitu jahat, Yuna.. Kenapa kau begitu jahat padaku?”
***
To be continue