
Sementara Yuna yang kemudian mendorong kursi roda Yuri menuju mobil, Azka masih terus mencekal pergelangan tangan Jessica, membawanya menjauh hingga kemudian wanita itu yang merasa tak terima dengan perlakuan Azka, menyentakkan tangannya.
“Apa yang kau lakukan padaku, Azka..!?”
Jessica memperhatikan pergelangan tangannya yang nampak memerah.
“Kau tau, kau tak bisa memperlakukanku seperti ini..”
“Apa yang sedang kau lakukan disini?”
“Apa yang sedang kulakukan disini? Oh, apa aku perlu memberitahumu? Apa itu akan menjadi penting bagimu..”
Azka tidak menanggapi. Mungkin ia telah salah mengajukan pertanyaan seperti itu. Seharusnya ia langsung saja memberi peringatan atas ucapan kasar yang telah keluar dari mulut wanita itu. Namun kemudian Jessica melanjutkan..
“Baiklah jika kau ingin mengetahuinya.. Aku berada disini karna memiliki janji untuk bertemu dengan dokter bedah. Aku sudah merencanakan untuk melakukan beberapa operasi dibagian tubuhku.. Bagaimana? Kau tertarik setelah mendengarnya? Aku tidak memiliki dendam denganmu meski kau telah menginjak-injak harga diriku. Jadi, mungkin aku masih bisa berbuat baik padamu..”
Senyumnya nampak tidak tulus dan malah cenderung seperti mencemooh, ketika kemudian Jessica sedikit maju untuk mendekat, dan lantas mengusap pada bahu Azka..
“Aku bisa memberimu kontak dokter bedahku, siapa tau setelah mendengar apa yang ingin kulakukan, kau juga ingin melakukan perubahan pada tubuh pelacurmu. Melihat bagian dadanya yang sekecil itu, Aku tak yakin dia bisa memuaskanmu. Teknologi semakin canggih, operasi bisa membuat payudaranya menjadi penuh, meski harus juga aku katakan, itu tidak akan sesempurna seperti yang asli. Seperti milikku..”
Azka masih memiliki rahang yang mengeras, kedua sorot matanya menatap tajam saat kemudian mendorong bahu Jessica hingga tubuhnya bersentuhan dengan dinding rumah sakit itu. Membuat Jessica bahkan terkesiap dengan apa yang pada saat itu dilakukan Azka kepadanya..
“Seharusnya kau bisa menjaga mulutmu..”
Azka menggeram..
“Wanita terhormat sepertimu tidak pantas mengatakan hal menjijikkan seperti itu..”
“Menjijikkan katamu? Kau lah orang paling menjijikkan di dunia ini..”
Mendesis kemarahan dalam kalimat yang diucapkannya..
“Dan tak perlu terlihat sebagai wanita terhormat saat berhadapan dengan pria tidak terhormat sepertimu..!”
Jessica kemudian membalas dengan mendorong dada Azka dengan cukup keras, agar pria itu menjauh dari hadapannya.
“Ku peringatkan padamu.. Aku bukan salah satu dari wanita rendah disekitarmu. Jadi jangan berpikir kau bisa memperlakukanku seperti ini..”
Mendorong bahu Azka, Jessica kemudian melewatinya dengan senyuman puas. Ia pergi begitu saja meninggalkan Azka yang kemudian hanya bisa memberikan tatapan keras padanya.
Namun kemudian Azka memaklumi Jessica yang jelas masih menyimpan kemarahan padanya, meski wanita itu tadi mengatakan tak memiliki dendam terhadapnya, tapi kalimat-kalimat kasar bernada cemooh tadi, sudahlah cukup untuk menjelaskan isi hatinya yang sebenarnya.
Azka lantas menghela napasnya, sebelum akhirnya beranjak darisana untuk kembali pada Yuri dan Yuna yang sudah pasti sedang menunggunya.
***
Jena yang mendapatkan tugas menyetir saat itu, menghentikan laju mobilnya didepan sebuah rumah makan yang sepertinya sedang tidak memiliki banyak pengunjung disana, terlihat dari tidak banyaknya mobil yang berparkir didepannya.
Mereka keluar dari dalam mobil, dengan Azka yang mendorong kursi roda Yuri masuk kedalamnya, sementara Yuna kemudian memilih untuk memesan tempat. Saat kemudian ia menyingkirkan sebuah kursi yang nantinya akan menjadi tempat untuk kursi roda Yuri, lengannya tidak sengaja bersinggungan dengan seseorang yang berjalan didekatnya. Seorang pria yang mungkin sedang memilih tempat yang dirasa nyaman, sama sepertinya..
“Oh, maaf..”
Tuna sedikit membungkukkan badannya untuk meminta maaf..
“Tidak apa-apa nona..”
Responnya ramah, membuat Yuna kemudian menatapnya dan merasa pernahmelihat wajah yang sama seperti pria itu yang kini berdiri dihadapannya.
“Oh, Arkhan..”
Suara Azka yang kemudian terdengar langsung membuat Yuna mengalihkan perhatiaanya.
Oh..
Apakah mereka saling mengenal?
“Azka..”
Terlihat seperti itu, dari cara sang pria tadi yang kemudian mendekat menghampiri Azka dan kemudian menjabat tangannya.
“Kau disini?”
“Ya, aku ingin makan siang..”
“Oh, kebetulan sekali kita bertemu.. Bagaimana jika kita makan bersama sekarang”
Azka mengedik sebagai isarat pada Arkhan yang kemudian tersenyum. Karna sebenarnya pertemuan itu memang sudah direncanakan. Sebagai wujud dari ucapan Azka pada Arkhan yang mengatakan akan membantunya untuk bertemu dengan Yuri.
“Kurasa ide yang bagus.. Tapi kau tidak sendiri?”
“hm.. Aku akan memperkenalkan mereka padamu.. Yuri kuharap kau tidak keberatan..”
Azka memegang kedua bahu Yuri yang kemudian direspon oleh Yuri dengan anggukan kepala..
“Jadi Yuri, perkenalkan dia Arkhan, temanku..”
Arkhan tersenyum, mengulurkan tangannya namun Yuri tidak meresponnya.
“ehm.. kurasa sebelumnya kita pernah bertemu, nona..”
Apa yang dikatakan Arkhan kemudian menarik perhatian Yuri untuk menatapnya.
“Dirumah sakit beberapa waktu lalu.. Apa kau ingat?”
Yuri yang masih hanya terdiam membuat Arkhan kemudian melanjutkan..
“Kau menerima bunga yang salah dariku..”
Yuri menunduk, memilin jemari diatas pangkuannya dan kemudian terlihat gerakan dari bibirnya seiring dengan suaranya yang terdengar, meski sangat lirih..
“Ya, aku mengingatnya..”
Oh Tuhan..
Andai saja dia tau betapa gerak bibir itu yang memunculkan suara lirihnya sebagai respon singkatnya itu telah membuat Arkhan menjadi luar biasa bahagia..
Yuri mengingat pertemuan itu..
Kenyataan itu membuatnya tersenyum.
Arkhan kemudian ikut tersenyum mendengarnya, sebelum kemudian menimpali dengan basa-basi yang dilakukannya..
“Oh, jadi kalian pernah saling bertemu? Satu lagi kebetulan yang tidak terduga terjadi.. Jadi, ayo kita duduk.. Aku merasa kita akan memiliki obrolan yang menyenangkan. Dan Arkhan, perkanalkan dia Yuna, adik Yuri..”
“Halo..”
“Sepertinya kita juga pernah bertemu, tuan.. Dirumah sakit, dan..”
Yuna memutus kalimatnya, mengerjap kedua matanya saat sekelebat ingatan itu muncul. Ketika beberapa hari lalu ia melihatnya berada didepan ruang terapi Yuri, disadarinya itu bukan pertama kali ia melihatnya. Pantas saja ketika itu ia merasa pernah melihat wajah yang serupa sepertinya. Yuna mengingatnya, pria itu juga yang pernah dilihatnya keluar dari dalam kamar rawat Yuri yang berada dirumah sakit jiwa. Jika ia tidak salah mengenali, dalam kepanikannya kala itu, pria itu juga yang sepertinya dilihatnya bersama dengan Azka yang datang ke apartemen Doni sebelum kecelakaan itu terjadi.
Jadi siapa sebenarnya pria itu?
Sekedar teman Azka?
Ataukah…
“Kau juga pernah bertemu dengan Yuna, Arkhan? Woahh.. Betapa banyak kebetulan yang terjadi..”
Apa yang berada dalam pemikiran Yuna buyar ketika mendengar Azka yang kembali bersuara.
Sementara Arkhan, dirinya hanya bisa menggaruk tengkuknya, merasa tak memiliki respon yang tepat untuk menanggapinya. Karna kebenarannya adalah ia terpergok oleh Yuna setidaknya dalam dua kali pertemuannya, hanya saja gadis itu yang memanglah tidak menyadarinya.
“Azka.. Aku tidak ingin berada disini. Aku ingin pulang..”
Gumpalan kekecewaan harus ditelan oleh Arkhan kala mendengar Yuri mengatakannya..
Acara makan siang itu yang memang direncanakan Azka untuk mempertemukan nya dengan Yuri, tak berjalan seperti yang diharapkannya. Bahagianya sesaat lalu atas respon Yuri juga ikut melayang bersama dengan angannya.
Sampai kapan akan seperti ini?
Sampai kapan Yuri tidak mengenali dirinya?
Setidaknya hanya mengingat dirinya sebagai seorang pria yang pernah menyatakan cinta padanya..
Arkhan terpaksa menelan kepahitan itu, saat Azka juga tak bisa membujuk Yuri untuk tetap berada disana.
“Ada apa Kak?”
Yuna terlihat cemas dengan perubahan Yuri saat itu.
“Aku hanya merasa tidak nyaman.. Aku lelah, aku ingin beristirahat..”
“Baiklah, kita pulang saja..”
***
Yuri terdiam sepanjang perjalanan pulang menuju rumah Azka. Bahkan ketika Azka turun didepan gedung kantornya, dan mengatakan permintaan maafnya karna tak mengantarnya sampai ke rumah, Yuri hanya menggumam lirih mengatakan tidak apa-apa. Selanjutnya ia membisu, bahkan sampai mobil yang dikemudikan Jena menghentikan lajunya.
Tidak ada yang mengetahui, bahkan Yuna sekalipun yang selalu berada disampingnya dengan apa yang pada saat itu berkecamuk didalam pemikirannya. Benaknya entah mengapa mengingat tentang wanita yang dilihatnya dirumah sakit, serta kalimat kasar yang diucapkan Jessica saat itu.
Tunangan..
Pelacur..
Siapa yang sebenarnya dimaksud oleh wanita itu?
Masuk kedalam rumah dengan Yuna yang mendorong kursi rodanya, sementara Jena mengikuti dibelakangnya, mereka disambut oleh suara Ny.Dania dan langkah wanita itu yang kemudian menghampiri..
“Oh, Yuna..”
Ny.Dania tersenyum dan langsung menuju pada Yuna, meraih lengannya..
“Aku sudah menunggu-nunggu kau pulang.. Ayo ikut denganku, ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan padamu..”
“Tapi nyonya.. Aku..”
Ny.Dania dapat membaca apa yang membuat Yuna terlihat berkeberatan untuk ikut dengannya.
“Jena.. Antarkan dia kekamarnya..”
“Baik Nyonya..”
Sementara Jena mengambil alih kursi roda Yuri, Ny.Dania menarik Yuna kesisinya.
“Kak sebentar ya..”
Yuri mengangguk pada Yuna yang telah ditarik pergi dari hadapannya. Sesaat ia tertegun, melihat wajah penuh senyum dan antusias dari Ibu Azka, ketika wanita itu menghela Yuna untuk kemudian masuk kedalam kamarnya. Hal janggal yang kembali dirasa Yuri untuk status pekerja seperti adiknya.
Yuri akan jauh merasakan kejanggalan andai ia melihat didalam kamar itu, apa yang sedang ditunjukkan Ny.Dania pada Yuna.
Ny.Dania sedang menunjukkan berkas pendaftaran atas nama Yuna dari salah satu perguruan tinggi ternama. Membuat Yuna jelas merasakan keterkejutan karena nya..
“Ibu.. Ini.. Bukankah ini..”
“hm, kau terkejut?”
Yuna mengangguk..
“Kau ingat aku pernah mengatakan rencana untuk ini sebelumnya kan? Karna beberapa kejadian yang kemudian terjadi, kita jadi tak sempat membahasnya. Tapi aku dan juga suamiku sudah memutuskan untuk memilihkan perguruan tinggi yang kompeten untukmu. Dan aku sudah melakukan pendaftarannya tadi, besok kau sudah bisa memulai. Dan mengenai kelas kepribadian itu, aku sudah berbicara dengan pengajarmu. Sepertinya kau tidak perlu lagi mengikuti kelasnya.. Bagaimana Yuna, kau senang dengan hal ini?”
Bagaimana mungkin ia tidak senang..
Lebih dari apapun, masuk perguruan tinggi adalah impiannya.
Dan Ibu Azka, kini dengan mudahnya mewujudkan mimpinya..
Oh, bagaimana cara ia bersyukur setelahnya..
“Ibu..”
Memeluk Ny.Dania adalah hal pertama yang dilakukan oleh Yuna setelah terlepas dari rasa terkejut yang dirasakannya.
“Ibu.. Bagaimana aku harus berterimakasih padamu.. Ini sesuatu yang luar biasa. Ini adalah mimpiku..”
“Aku senang mendengarnya.. Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Selesaikanlah pendidikanmu, maka kau akan menerima restu untuk menikah dengan putraku..”
Yuna merona mendengar kalimat itu. Ia lantas melepas pelukannya ditubuh Ny.Dania, mencium pipinya dan kembali memeluknya. Seolah kata terimakasih saja tidaklah cukup. Memang tidaklah akan pernah cukup..
“Sungguh terimakasih, Bu.. Aku menyayangimu. Aku ingin memiliki ibu sepertimu..”
Ini terlalu banyak..
Apa yang diterima olehnya terlalu banyak untuk dapat ia bendung.Keharuan meluap yang dirasakannya membuat Yuna meneteskan airmata. Ny.Dania menyadari hal itu dan lantas mengusap-usap pada punggungnya. Ia sendiri tak menyangka, gadis belia ini, gadis yang dulu dinilainya liar, kini justru berada dalam pelukannya. Sebuah pelukan yang lantas membuat hatinya menghangat.
Ny.Dania bukan tidak menyadari, Yuna telah menempati ruang didalam hatinya..
***
to be continue