
Author POV
Yuna seakan tak mempercayai pendengarannya, Ia meminta sang dokter untuk kembali mengulang kalimatnya.
Dan apa yang didengarnya tetaplah sama, bahwa Sulis, sang dokter mengatakan padanya Yuri tidak sedang berada diluar negri.
Kecurigaan mengenai sesuatu yang disembunyikan yang kemudian membuat Sulis mengajak Yuna untuk berbicara.
Di sebuah kafe yang berada disebrang jalan dimana Yuna seharusnya mengikuti kelas hari itu, Sulis mencoba berbicara dengan Yuna yang terlihat memucat pada wajahnya atas apa yang sebelumnya dikatakan olehnya.
“Kau benar-benar tidak tahu dimana kakak mu sekarang berada?”
Sulis bertanya setelah memesan dua minuman hangat dari seorang pelayan yang menghampiri mereka.
Yuna hanya menggeleng sebagai jawabannya.
“Kau benar-benar mengira kakakmu berada diluar negri?”
Yuna mengangguk..
Ya..
Itu apa yang dikatakan Doni padanya dengan penuh keyakinan bahwa kakaknya akan disembuhkan bila berada disana karna akan ditangani oleh dokter kejiwaan yang lebih ahli.
“Yuri masih berada disini, Yuna..”
“Tapi, bagaimana dengan yang mas Doni katakan padaku? Kakak ku.. Bukankah Kak Yuri sedang dirawat oleh dokter ahli disana?”
Sulis menghela napas dan menggeleng kearahnya..
“Jadi dimana.. Dimana Kak Yuri, dokter? Jika tidak diluar negri, apa itu berarti Kak Yuri kembali berada dirumah sakit? Anda mengetahuinya.. Maka saya mohon katakan dimana kak Yuri? Aku.. Aku harus bertemu dengannya..”
Yuna berdiri dari duduknya dengan panik, hingga menyenggol sang pelayan kafe yang kebetulan hendak mengantarkan apa yang menjadi pesanan Sulis. Nampan yang berisi dua gelas minuman hangat terlepas dari tangannya dan jatuh dengan suara pecahan gelas yang kemudian menarik perhatian pengunjung kafe yang lain.
“Maafkan aku.. Aku akan mengganti semuanya, dan tolong buatkan lagi yang sama..”
Sulis juga yang lantas menarik tangan Yuna agar kembali duduk.
Ia jelas belum selesai berbicara dan gadis muda itu telah kehilangan kendali atas dirinya. Sulis bisa menangkap kepanikan itu di mata Yuna.
“Tolong, tenangkan dirimu..”
Ketika Yuna menggelengkan kepalanya dengan arti ia tak dapat bersikap tenang seperti yang diingkan sang dokter, Sulis meremas jari-jari tangan Yuna yang berada dalam genggamannya. Itu jelas menunjukkan dirinya mengerti dengan apa yang dirasakan Yuna pada saat itu. Ia seorang dokter yang setidaknya telah banyak menangani pasien dengan berbagai reaksi dan tingkat emosi yang beragam dari berbagai kasus.
“Aku tidak akan bisa tenang, dokter.. Tidak, sebelum bertemu dengan Kak Yuri. Dimana Kak Yuri dokter? Katakan dimana dia sekarang?”
“Dia dalam keadaan baik-baik saja, tenanglah..”
Sulis menatapnya dengan maksud agar Yuna mempercayainya.
“Dan lebih dari itu Yuna, kurasa kita perlu membicarakan tentang sesuatu. Sesuatu yang.. Yang berhubungan dengan Doni”
Yuna menatap Sulis dengan penuh tanda tanya dan kebingungan untuk menyerap apa yang sebenarnya dia maksud.
“Aku ingin kau mengatakan padaku apalagi yang Doni katakan padamu? Selain Yuri yang berada diluar negri..”
Yuna menggeleng..
“Kurasa Mas Doni hanya mengatakan itu padaku, dokter..”
“Dia tidak mengatakan padamu mengenai penyebab depresi yang dialami kakakmu?”
“Mas Doni mengatakannya.. Dia mengatakan penyebabnya karna Kak Yuri mendapatkan penolakan dari seorang pria yang dicintainya”
“Dan kau mempercayainya?”
Yuna mengangguk..
“Tidak ada yang lebih ku percayai didunia ini selain kakak ku dan mas Doni.. Aku mengira memang benar seperti itu, Kak Yuri tak bisa mengatasi patah hatinya”
“Apa maksudmu dengan kata ‘mengira’? Jadi sebenarnya kau sendiri tidak yakin dengan alasan yang seperti itu?”
“Awalnya aku mempercayai hal itu, dokter. Tapi.. Tapi, aku menjadi ragu setelah seseorang yang dicintai Kak Yuri mengatakan padaku jika Kak Yuri adalah wanita yang pintar dan tidak mungkin menjadi seperti itu hanya karna cintanya mengalami penolakan. Dan aku menjadi memikirkan hal itu..”
Keduanya kemudian sama-sama diam ketika sang pelayan kembali membawakan pesanan mereka. Sulis sempat mengucap terimakasih sebelum kemudian mengambil gelasnya untuk sedikit menyesap minuman hangatnya.
“Jadi dimana Kak Yuri, dokter?”
Mengetahui keberadaan Yuri saat itu menjadi hal utama bagi Yuna.
“Mengapa kau tidak mempertanyakan kenapa Doni membohongimu tentang keberadaan Yuri saat ini?”
“Ku pikir, ku pikir aku akan menayakan hal itu nanti langsung pada Mas Doni. Dia mencintai Kakak ku, dan pasti yang dilakukannya adalah untuk kebaikan Kak Yuri. Saat ini Aku hanya sangat ingin untuk bertemu dengan Kak Yuri. Tolong katakan padaku, dokter..”
“Doni mengurungnya, Yuna. Dia mengurung kakakmu dan hal itu bukanlah demi kebaikan Yuri apalagi kesembuhannya, tapi kebaikan dirinya sendiri. Doni menginginkan Yuri menjadi miliknya sendiri, bahkan kau pun tidak diijinkan..”
Yuna tercekat, namun Sulis masih terus melanjutkan..
“Lebih dari sekedar patah hati, kakakmu.. Yuri, telah mengalami pelecehan seksual. Itulah apa yang menjadi penyebab depresinya..”
Tidak..
Yuna merasakan limbung, informasi itu tidak dapat diterima olehnya.
“Membuatnya ketakutan setiap kali berdekatan dengan kaum pria. Dia terluka secara fisik dan sekaligus mentalnya yang kemudian jatuh terpuruk, terguncang. Itulah mengapa Yuri menjadi melihat dirinya sendiri sebagai wanita yang tak layak untuk diinginkan”
Yuna seakan merasakan gonjangan disekitarnya.
Tapi tidak..
Ia tidak merasakan apa-apa.
Bisakah ia mendapatkan mati rasa?
Ia tidak ingin..
Tidak ingin merasakan kesakitan yang luar biasa dari perasaannya yang tercabik saat itu, setelah mengetahui apa yang sudah menimpa Kakak nya.
Ia masih tak ingin mempercayainya..
“Tidak dokter, itu tidak mungkin..”
Sulis kembali meraih tangan Yuna ketika airmata gadis itu dengan bebasnya meluncur turun membasahi wajahnya yang sayu.
“Aku yang melakukan pemeriksaan dihari pertama kau dan Doni membawanya ke rumah sakit. Ada luka bekas kekerasan seksual dan visum yang ku lakukan menguatkan semua itu”
“Mengapa.. mengapa dokter tak mengatakannya padaku waktu itu?”
“Maafkan aku, itu karna Doni.. Doni memohon padaku untuk tidak memberitahukannya padamu. Dia mengatakan padaku jika hal itu hanya akan membuatmu semakin sedih dan terguncang”
“Lalu siapa pelakunya? Siapa **** itu? Keparat yang telah melakukan itu pada Kak Yuri!! Aku bisa melaporkannya ke polisi dan memastikan dia terpenjara dalam seumur hidupnya.. Atau mati!!”
Yuna berubah emosional..
“Aku mengerti dengan kemarahanmu sekarang.. Tapi tolong Yuna, dengarkan aku selesai berbicara. Hanya dengarkan..”
Sulis memastikan Yuna terlebih dulu mengangguk sebagai persetujuan, sebelum kemudian ia kembali meneruskan.
“Aku baru mengetahui jika bukanlah seperti itu alasan Doni meminta fakta itu disembunyikan darimu.. Melainkan karna, karna sebenarnya.. Yang melakukan hal itu pada Yuri adalah, adalah Doni.. Yuna, aku mendapatkan sendiri kepastian itu dua hari yang lalu dari kakakmu. Yuri hanya sedikit mau berkomunikasi denganku, tapi dia mengangguk saat aku menanyakan dengan hati-hati mengenai Doni yang telah menyakitinya. Dan dia menangis histeris setelahnya..”
Sulis berhenti sejenak untuk melihat bagaimana respon Yuna, namun gadis itu masih diam dan menurutinya untuk hanya mendengarkan dulu sampai ia selesai.
“Doni melarang keras aku untuk mengatakan hal itu padamu karna dia.. dia ingin melindungi dirinya sendiri. Maafkan aku.. Sebelumnya Aku telah mencurigai dia lah pelakunya, tapi aku tetap menutupi itu darimu. Aku bersalah padamu dan juga pada Yuri..”
Sulis juga yang kemudian mengatakan bahwa ketersediaannya merahasiakan hal itu dikarenakan Doni adalah salah satu temannya dan sekaligus seseorang yang disukainya. Maka otomatis Sulis juga berkeinginan melindunginya meski ia sendiri menyadari perbuatan pria itu adalah kriminal.
“Aku mulai menyadari kekeliruanku tadi pada saat mendengarmu mengira Yuri berada di luar negri. Jelas telah terjadi kesalahan dan kebohongan-kebohongan yang dilakukan Doni kepadamu, ataupun padaku. Kenyataannya adalah Yuri ditempatkan di sebuah apartemen, terkurung didalamnya. Ya Tuhan.. Aku sangat ingin membawanya keluar dari sana..”
Sulis bisa saja melapor pada pihak yang berwajib, namun ia tak melakukannya. Hatinya selalu bimbang antara membuka yang sebenarnya ataukah menutupi itu demi untuk tidak melihat pria yang telah menjadi temannya dan bahkan hatinya mengatakan menyukainya, dipenjarakan. Sulis sama hal nya memiliki pemikiran yang rumit untuk dijabarkan.
Itu terjadi dalam beberapa hari yang lalu, namun sekarang, setelah bertemu dengan Yuna dan ketidak tahuan gadis itu mengenai kondisi kakaknya sendiri membuatnya terenyuh dan merasa sangat kasihan..
“Aku tahu Doni memang mencintai Yuri, namun cinta yang dimilikinya adalah cinta yang berkembang menjadi posesif, menuntut, memaksa untuk harus memiliki. Aku telah mulai mencurigai Doni adalah seorang psyco, dia memiliki masalah kejiwaan. Tapi sejauh ini aku masih belum dapat memastikannya. Aku perlu lebih dulu melakukan pembicaraan dan pendekatan padanya, tapi Doni selalu menghindar”
Yuna masih diam, namun kali ini kedua tangannya yang berada diatas meja telah mengepal. Antara percaya dan tidak percaya ketika mendengar Sulis menyebut Doni sebagai psyco, namun Yuna kemudian menjadi bergidik ngeri membayangkan Yuri berada ditangan pria yang seperti itu. Maka Ia bergerak dengan cepat, berdiri dari duduknya dan mendorong kursi dibelakangnya.
Ia harus menemukannya..
Menemukan keberadaan kakaknya..
“Aku sudah cukup mendengar anda, dokter. Aku akan menemui Kak Yuri sekarang..”
Yuna bahkan tak perlu menunggu Sulis mengatakan dimana alamat keberadaan kakaknya. Namun kemudian Sulis mengejarnya setelah terlebih dulu meninggalkan lembaran uang pembayaran diatas meja. Sulis langsung berlari ketika melihat Yuna telah mencapai jalan raya. Ia seperti orang linglung yang terus menggumamkan nama Yuri dibibirnya. Ketika beberapa mobil yang melintas mulai menyalakan klakson untuk memperingatkannya agar tidak berbuat nekat dengan sembarangan saat menyebrang, Sulis yang kemudian menariknya dengan kuat hingga ke bahu jalan.
“Astaga.. Yuna, kau pikir kau sudah tahu dimana kakakmu berada? Kau pikir aku sudah mengatakan dimana Yuri saat ini?! Jangan membahayakan dirimu jika kau benar-benar ingin bertemu dengan kakakmu..!”
Ucapan Sulis menyentaknya, membuat Yuna terduduk dengan lemas diatas trotoar dan menangis. Isakannya terdengar pilu, menandakan Ia yang benar-benar terguncang saat itu.
Mengetahui kakaknya mengalami depresi setelah mendapatkan pelecehan seksual dari pria yang dekat dengannya dan sangat dipercayai olehnya nyaris tanpa cela, membuatnya sangat terpukul.
Yuna tak mengira jika Doni sebejat itu. Setega itu pada Yuri, yang dari berkali pengakuannya, kakaknya adalah wanita yang dicintai olehnya.
Ia ditipu, diperalat dan dibodohi dengan mudahnya.
Benar apa yang Azka katakan padanya, bahwa dirinya hanyalah gadis belia bodoh.
Azka..
Teringat dengan Azka, Yuna menyadari dirinya telah melakukan kesalahan besar pada pria itu bahkan sejak pada pandangan pertama ia melihatnya. Balas dendam yang direncanakannya yang mengatas namakan Yuri, rupanya salah. Ia salah sasaran. Harusnya ia bisa sedikit lebih pintar dalam mempercayai seseorang. Dan tidak dengan begitu saja menyerap semua informasi tanpa penyelidikan.
Doni tak sebaik perkiraannya dan yang selama ini dilihatnya.
Tapi sebelumnya pria itu memang selalu bersikap baik padanya dan juga pada Yuri.
Lalu mengapa dia berubah?
Karena apa dia menjadi begitu tega dan kejam?
Dan apa yang sebenarnya menjadi tujuan Doni dengan melempar segala tuduhan pada Azka?
Sedangkan dari apa yang dikatakan Azka padanya, Doni telah sekian lama mengenalnya. Azka bahkan sampai menyebut mereka tumbuh bersama. Dan Yuna juga sempat menyaksikan kedua orangtua Azka yang bersikap ramah padanya.
Selain mengatas namakan Yuri, Apa sebenarnya yang menjadi alasannya hingga sampai memiliki rencana untuk menghancurkan Azka?
Apa yang diinginkannya?
Dan apa yang menjadi tujuannya..?
Ia tak dapat menemukan jawabannya..
Yuna mengerang dalam tangisnya, menyesalkan seharusnya ia bisa memikirkan semuanya dengan lebih baik.
Bukan justru dengan mudahnya diperdaya oleh seorang yang memiliki ganggungan kejiwaan.
Ya..
Ia mulai memikirkan Doni memanglah pria berpenyakit jiwa. Karna hanya orang yang sakit jiwa lah yang tega melakukan hal-hal keji dan kejam seperti itu.
“Kau sakit jiwa Mas.. Kau sakit jiwa!! Kenapa kau melakukan itu pada Kak Yuri.. Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau membohongiku? Kau sakit Mas, kau benar-benar sakit..!!”
to be continue