At First Sight

At First Sight
Episode 103



Hari itu yang menjadi hari pertamanya mengikuti beberapa kelas diuniversitas, hari yang dirasanya memiliki perputaran jarum jam yang cukup lamban, akhirnya berhasil juga dilalui oleh Yuna tanpa meninggalkan catatan dibuku sang dosen pengajarnya semisal dirinya melamun disela mata kuliah yang diikutinya. Hal yang cukup melegakan baginya ketika kemudian dapat keluar meninggalkan ruang kelas terakhirnya dihari itu.


“Yuna..! Yuna..!!”


Yuna menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya begitu mendengar suara seseorang yang memanggil namanya.


“Yuna..”


Dan akhirnya menemukan sumber suara itu yang berasal dari seorang pria yang sedang dalam langkah menuju kearahnya.


“Oh, dokter Ahmad.. Selamat siang..”


Dokter itu memberikan senyum terbaiknya..


“Aku tak menyangka akan melihatmu disini, Yuna..”


“Iya, saya juga tak menyangka bertemu dokter disini. Apa yang sedang dokter lakukan?”


“Sesekali jika diminta, aku memberikan pengajaran materi disini.. ”


“Oh, benarkah?”


Sang dokter tersenyum dan mengangguk meyakinkan..


“Dan sepertinya kau adalah salah satu mahasiswa baru disini? Aku tak sekalipun pernah melihatmu berada disini sebelumnya..”


Yuna mengangguk membenarkan..


“Jadi ini sebabnya dokter tidak bisa melakukan terapi pada Kak Yuri..”


“Aku minta maaf, Yuna..”


“Tidak apa-apa dokter..”


“Tapi tidak masalah dengan nanti malam kan? Kau bisa membawa kakak mu kerumah sakit?”


“Yuna..”


Yuna tak sempat menjawab apa yang ditanyakan oleh Fariz, saat melihat Ny.Dania sudah berada tak jauh darinya dan langsung menghampirinya. Meraih dan menarik tangannya menjauh dari Fariz.


Meski merasa tak enak hati pada Fariz yang ia tinggalkan begitu saja, namun Yuna tak bisa melakukan apa-apa. Ny.Dania sudah langsung membawanya memasuki mobil, meninggalkan gedung universitas itu.


“Kau mengikuti semua kelas dengan baik kan?”


Yuna hanya mengangguk-anggukkan kepala sebagai jawaban.


“Kau menghabiskan bekal makan siangmu?”


Yuna sedikit meringis, namun kemudian kembali mengangguk. Walau sesungguhnya ia tak sedikitpun memakan bekal makan siangnya, dan justru memberikannya pada beberapa teman yang baru dikenalnya dalam kelas yang diikutinya tadi. Merasa bersalah sebenarnya terhadap Ibu Azka yang telah memperhatikannya sampai seperti itu, tapi ia benar-benar tak berselera makan sama sekali.


Sisa hari itu berlalu dengan Yuna yang menjadi gadis super penurut terhadap apa saja yang diinginkan oleh Ny.Dania terhadapnya. Seperti yang sudah-sudah pernah dilakukannya, dan seolah tak ada yang namanya bosan, Ny.Dania terlebih dulu membawanya ke sebuah salon yang telah menjadi langganannya. Melakukan beberapa treatmen wajah hingga beberapa jam lamanya, sampai melakukan perubahan tampilan rambutnya dengan tatanan poni dan sedikit memangkas dibagian belakangnya. Tak cukup dengan itu, Ny.Dania juga mengajaknya berbelanja, dan terakhir membawa Yuna bertemu dengan teman-temannya.


“Ya ampun.. Semakin hari, calon menantumu terlihat makin segar saja. Dia benar-benar gadis muda yang cantik..”


Komentar salah satu temannya saat itu, langsung membuat Ny.Dania tersenyum senang. Tapi, bukan wanita itu tak menyadari, disampingnya, Yuna justru sedang menekuk wajahnya.


Walau Yuna menjadi super penurut dan tak sekalipun melakukan bantahan, namun gadis itu jelas terlihat murung, dia bahkan cenderung gelisah saat itu. Sampai-sampai membuat Ny.Dania tak tahan melihatnya. Hanya sekitar tiga puluh menit saja acara berkumpul dengan teman-temannya, selanjutnya Ny.Dania meminta maaf karna harus lebih dulu pulang. Ia mencoba mengerti keadaan Yuna. Kemurungan gadis itu, mungkin karna lelah dengan aktifitasnya hari itu.


***


Tiba dirumah, rupanya Azka mencegat keduanya diambang pintu. Melihat Yuna yang lebih dulu keluar dari dalam mobil, disusul dengan ibunya yang kemudian keduanya berjalan bersisian kearahnya. Azka justru melebarkan mata dan menggeram didalam hati atas kelakuan ibunya.


Apa-apaan itu?


Apa yang dilakukan ibunya terhadap Yuna?


Gadis itu..


Ya Tuhan..


Bagaimana bisa ibunya justru membuat gadis belia itu kini terlihat seperti remaja lima belas tahun?


Astaga..


Azka kembali menggeram saat sang ibu sudah berada dihadapannya dan menunjukkan senyum padanya..


“Oh, Azka.. Kau sudah pulang..”


“Ini sudah jam sebelas malam, Mama. Papa bahkan sudah tidur..”


“Oh, ya..? Astaga, jalanan tadi pasti sangat macet, Mama sampai tidak sadar sudah selarut ini. Kalau begitu, ayo masuk dan beristirahatlah, Yuna..”


Azka memicingkan mata mendengar alasan ibunya. Dan ketika sang ibu melepaskan rangkulan tangannya terhadap Yuna, mencoba untuk beranjak dari hadapannya, Azka justru menahan lengannya.


“Apa yang sudah Mama lakukan?”


“Ya..? Apa yang kau maksud, sayang?”


Azka mencoba menahan kesabarannya..


“Yuna, Ma.. Mengapa Mama justru membuatnya terlihat seperti remaja lima belas tahun? Apa yang akan dikatakan orang-orang ketika nanti aku mengajaknya keluar.. Tidakkah mereka akan menilaiku sebagai…”


Azka tak meneruskan kalimatnya karna sang ibu sudah lebih dulu menertawainya..


“Jadi kau tak suka dengan penampilan Yuna yang sekarang? Kenapa..? Bukankah Yuna terlihat lebih muda dan segar?”


“Itu masalahnya, Mama?”


“Mama rasa bukan masalah, teman-temanku bahkan terus-terusan memuji Yuna tadi..”


“Tapi tidak denganku..”


Azka semakin kesal karna ia tahu ibunya mengetahui masalah apa yang dimaksudnya, tapi sang ibu dengan sengaja membuatnya agar menyuarakan dengan jelas maksudnya.


“Yuna seharusnya berpenampilan lebih dewasa untuk mengimbangi usiaku, Mama..”


Ny.Dania yang kian menertawainya, membuat Azka memberengut dan akhirnya melangkah masuk kedalam. Hal yang kemudian tanpa sadar membuat Yuna ikut menarik senyum diwajahnya. Wajahnya yang sedikit masih terasa kaku akibat dari beberapa perawatan tadi.


“Ya ampun.. Putraku yang malang. Masalahnya ada pada dirimu sendiri, sayang.. Salahmu yang memilihnya. Jadi sebaiknya kau yang mengimbangi penampilan muda Yuna jika tidak ingin terlihat tua saat bersama dengannya..”


Sang ibu yang masih saja terkikik ketika kemudian meninggalkannya untuk masuk kedalam kamar, membuat Azka kembali menggeram kesal.


“Pak..”


Azka menoleh, Yuna yang masih berada dibelakangnya kemudian mendekatinya.


“Pak..”


“hm..”


Yuna menunduk, sesaat memilin jemarinya kemudian kembali mendongak dan bertemu tatap dengan Azka yang memandanginya dari ujung kaki hingga kepala.


Azka bukan tak menyukai penampilannya.


Tapi lihatlah..


Yuna yang sekarang, dia sungguh cantik seperti kuncup bunga yang baru saja merekah. Seperti kupu-kupu yang baru menetas(?) maksudnya, maksudnya adalah..


Astaga..


Azka bahkan merasa kesulitan menemukan perumpamaannya. Mungkin memang tak ada perumpamaan yang benar-benar tepat untuk menggambarkannya.


Gadis itu cantik.


Ya, cantik seperti kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong-nya. Begitu indah, luar biasa..


Dan bukankah ibunya sangat keterlaluan mendandaninya secantik itu..


“Pak..”


“hm..”


“Apa kau sudah mencoba membujuk Kak Yuri? Bagaima, kakak mau untuk di terapi lagi kan?”


Apa yang ditanyakan Yuna membuat Azka kemudian beralih dari mengagumi gadis itu dan menjadikannya teringat dengan sedikit obrolannya yang dilakukan dengan Yuri tadi.


“Aku sudah melakukannya.. Tapi Yuri berkeras, tidak mau menjalani terapi itu lagi”


Wajah Yuna makin terlihat muram saat mendengarnya. Azka menjadi satu-satunya harapan baginya agar dapat membujuk Yuri, tapi kini harapan agar kakaknya mau kembali menjalani terapinya telah padam seiring dengan apa yang Azka katakan.


Azka memang telah mencoba, tapi Yuri sepertinya tak mendengarkannya. Yuri bahkan lebih sering membuang muka, tak mau menatapnya. Azka merasakan ada perubahan dalam sikap Yuri tadi. Yuri yang bahkan terlihat enggan berbicara dengannya. Yuri juga yang kemudian meminta ia untuk meninggalkannya setelah menanyakan apakah Azka telah selesai dengan apa yang Azka katakan.


“Tapi tenanglah, besok aku akan mencoba membujuknya lagi. Hari ini mungkin suasana hatinya tidak terlalu baik, mengertilah..”


Yuna mengangguk, namun tak bisa menahan airmata kesedihannya, hingga Azka lantas meraih dan mendekap tubuhnya kedalam pelukan..


***


Namun nyatanya, Azka tetap tak berhasil membujuk Yuri bahkan setelah lebih dari tiga kali ia mencobanya.


Yuri mengatakan tidak, tidak dan tidak. Begitu seterusnya.


Bukan hanya menolak terapi dengan Fariz, Yuri juga tak mau lagi melakukan sesi terapinya dengan Sulis. Tak ada lagi sesi konseling dengan dokter wanita itu yang biasanya membuat Yuri merasa nyaman setelah berbicara dengannya, tapi kini Yuri seperti tak ingin mempercayai siapapun.


Yuna juga merasakan kian hari sikap kakaknya kian terasa dingin terhadapnya. Yuri tidak mau tersenyum, tidak mau menatapnya ataupun menyapanya. Kakaknya seakan mencoba menjauh darinya. Membuat jarak yang Yuna tak mengerti apa sebabnya. Menyebabkan ia terus menangis disetiap malam karna hanya bisa memandanginya saja. Ia rindu mengobrol dengannya. Ia rindu tatapan sayang Kakak-nya terhadapnya. Ia rindu menggenggam tangan lembut yang selalu membelai rambutnya, yang selama ini bekerja keras membesarkannya. Ia rindu pada kedekatannya dengan sang kakak seperti sebelumnya. Ia rindu, benar-benar sangat rindu..


Bukan Yuna diam saja, ia telah mencoba membawa Sulis untuk datang kerumah. Tapi sang kakak tak mau menemuinya. Yuri justru berteriak keras didepannya..


“Apa kau pikir aku berpenyakit jiwa..! Hingga kau terus memaksaku melakukan konseling dengan seorang psikolog. Aku tidak gila, Yuna! Dan jangan pernah berpikir aku seperti itu..!!”


Yuna menangis saat itu..


Sulis yang juga telah mendengar cerita dari Yuna mengenai penolakan Yuri pada terapi di kakinya padahal dokter memastikan Yuri bisa kembali berjalan, mengatakan penyimpulannya secara mental pada Yuna, jika Yuri bukan tidak mau sembuh. Dia hanya takut. Takut bila telah sembuh, dia justru akan kehilangan perhatian-perhatian yang didapatkannya ketika ia sedang sakit.


Yuna jelas mengatakan tidak akan mungkin seperti itu. Ia akan terus memperhatikan sang kakak bagaimanapun keadaannya. Tapi Sulis kembali mengatakan, mungkin bukan perhatian darinya yang dikhawatirkan oleh Yuri akan hilang, melainkan perhatian dari orang lain selain dirinya.


Yuna termenung..


Itu pastilah perhatian dari Azka.


Dengan kembali teringat pada apa yang dikatakan Yuri mengenai keinginannya untuk berbahagia dengan Azka, Yuna menyadari satu lagi kesalahannya adalah membiarkan pria itu mengetahui perasaannya. Seharusnya ia tak pernah mengatakan menyukai Azka. Seharusnya ia memendam perasaannya seperti yang pernah dilakukannya ketika menyembunyikan perasaannya pada Doni. Seharusnya yang ia terus lakukan adalah meminta pria itu agar mencintai Yuri Kakak nya. Bukan justru bermain hati dibelakang kakak nya.


Ya Tuhan..


Yuna terus menangis, menyesali semuanya. Ia tidak ingin melakukan kebohongan lagi. Ia tak ingin semakin menyakiti hati kakak nya. Tapi ia juga tak bisa mengatakan kebenarannya. Serba salah rasanya. Hingga sebuah gagasan untuk menghindar dari Azka tiba-tiba muncul dalam kekalutan pikirannya.


Dan itulah yang kemudian diikuti olehnya.


***


to be continue