At First Sight

At First Sight
Episode 59



Azka melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal, berusaha mengejar mobil Doni yang sudah membawa pergi Yuri. Namun sialnya mereka kehilangan jejak. Yuna merasa sangat gelisah, ia sangat takut tidak bisa menemukan kakak nya, Yuna takut tidak dapat bertemu lagi dengan Yuri.


“Sial, Sepertinya kita kehilangan jejak mereka.” Kata Azka dengan nada kesal.


Yuna yang mendengar nya hanya bisa menangis, ketakutannya sungguh menjadi-jadi membuat badannya lemas seketika.


“Bagaimana ini, Pak. Tolong aku, aku tidak mau kehilangan kak Yuri lagi.”


Yuna memohon pada pria disampingnya yang masih fokus menyetir.


“Kau tenanglah dan berhenti menangis, kita akan temukan mereka.”


Azka melirik Yuna sebentar, kemudian kembali fokus menyetir. Rasanya sakit melihat gadis itu menangis, gadis yang tanpa ia sadari selama ini telah mengisi relung hatinya yang kosong.


Azka mengambil ponselnya dari dashboard mobil dan segera menghubungi seseorang.


“Halo..Apa kau berhasil mengikuti mobil Doni? Aku kehilangan jejak.”


Azka berbicara pada seseorang yang sepertinya Agen yang disewanya.


“Ya, teruslah kejar mereka dan kabari aku secepatnya kemanapun mereka pergi.”


Azka menutup telponnya dan melirik kearah Yuna.


“Tenang saja, orang suruhanku sudah bisa mengejar mereka.”


Yuna mengangguk lega. Rasanya seperti mendapatkan angin segar saat mendengar penuturan Azka.


“Terimakasih Pak, Anda sudah bersedia membantuku.”


Azka tersenyum, tangannya meraih tangan Yuna dan menggenggamnya. Yuna begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Azka. Yuna melirik Pria yang sedang menyetir itu terus tersenyum tapi matanya fokus melihat kedepan.


Yuna sendiri bingung dengan perasaannya sendiri, entah kenapa ada rasa tenang yang menghampiri jiwanya saat tangannya berada dalam genggaman Azka.


“Yuna... Aku tau ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan ini semua. Tapi jujur saja entah sejak kapan perasaan ini mulai ada, yang aku tau aku bahagia saat bersamamu dan aku tidak bisa tenang saat kau hilang dari pandanganku.”


Azka menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Sedangkan Yuna menatap Azka penuh tanda tanya. Azka masih terus fokus menyetir tanpa menatap Yuna yang kini menampakkan wajah bingungnya.


“Apa maksud anda Pak?”


Azka menghela nafas sekali lagi, entah kenapa ia merasakan seperti Remaja yang baru saja ingin mengungkapkan isi hatinya pada sang pujaan hati.


“Aku mencintaimu Yuna, entah sejak kapan aku tidak tau. Yang jelas aku ingin kau tau, aku jatuh cinta padamu.”


Lega, itulah yang dirasakan Azka saat ini. Akhirnya ia bisa mengungkapkan perasaannya pada gadis belia itu, Yuna yang telah memenuhi pikirannya selama ini.


Sedangkan Yuna ia menatap Azka tak percaya. Bagaimana mungkin Azka jatuh cinta padanya setelah pria itu mengetahui niat jahatnya.


“Pak, apa yang anda katakan? Bagaimana mungkin...”


“Yuna, aku mengatakan yang sebenarnya padamu. Itulah yang saat ini aku rasakan padamu.”


“Pak.. Aku...”


“Kau tidak perlu mengatakan apapun sekarang Yuna, aku hanya ingin kau tau perasaanku padamu. Tapi aku berharap kau juga punya perasaan yang sama denganku.”


Bingung. Yuna harus mengatakan apa? Jujur saja Yuna juga merasakan perasaan yang aneh setiap pria itu ada didekatnya, namun selama ini semuanya terhalangi oleh kebenciannya yang ia rasakan pada Azka. Walaupun kini ia tau bahwa dirinya salah menuduh Azka sebagai ****, yang nyatanya sama sekali tidak bersalah. Tapi bagaimana mungkin Pria yang menolak cinta kakaknya, kini justru mengatakan mencintai dirinya?


Drt...drt...drt...


Keheningan mereka tiba-tiba terusik oleh getaran yang berasal dari ponsel Azka. Azka segera menekan tombol hijau saat mengetahui siapa yang menelepon nya.


“APA??? Mobil Doni kecelakaan???”


Azka begitu terkejut saat mengetahui informasi dari sang Agen bahwa mobil yang dikendarai Doni mengalami kecelakaan. Yuna pun tak kalah terkejut, ia shock mendengarnya.


“Ya aku akan segera kesana.”


Azka mengakhiri panggilan nya dan menghentikan laju mobilnya. Ia menatap Yuna yang kini menangis tersedu-sedu.


“Pak, bagaimana... Bagaimana kalau kak Yuri...”


“Ssst...”


Azka langsung memotong ucapan Yuna dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir gadis itu. Azka memegang kedua bahu gadis yang kini terlihat rapuh itu.


“Yuna, dengarkan aku. Yuri akan baik-baik saja, mereka telah dibawa kerumah sakit. Kita akan kesana Sekarang.”


“Tapi bagaimana dengan kak Yuri ku.”


“Tenanglah dan berdoa saja semoga Yuri baik-baik saja.”


Yuna mengangguk lemah, airmata terus merembes membasahi pipinya. Tangan Azka terulur menghapus airmata gadis yang dicintainya itu. Azka berusaha menenangkan Yuna yang begitu shock dengan kabar kecelakaan Doni dan Yuri. Azka kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


***


Sesampainya di rumah sakit, Azka dan Yuna bergegas menuju ruang IGD. Azka melihat agen yang di sewanya berada disana dan langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaan Yuri dan Doni?"


"Nona Yuri masih dalam penanganan dokter, sedangkan Tuan Doni, dia meninggal di tempat kecelakaan itu, Tuan."


Yuna menutup mulutnya, tidak percaya. begitu pun dengan Azka yang rasanya masih tak percaya apa yang ia dengar.


"Doni meninggal?" tanya Azka masih tak percaya.


sang agen hanya mengangguk membenarkan.


***


to be continue