
Tak setegang sebelumnya, Azka bahkan juga seakan tak sedang merasakan memiliki permasalahan dalam perusahaannya. Hal itu dirasakannya setelah kepergian ibunya dan juga Yuna. kedatangan ibunya yang bersama dengan Yuna, terutama Yuna lah yang telah mempengaruhi perubahan perasaannya. Gadis yang memiliki keberanian itu, tanpa disadarinya justru telah menghiburnya dengan cara yang tak pernah terbayang olehnya.
Usil..
Yuna menginjak kakinya, dan hal itu justru membuat Azka makin menikmati membuat gadis itu kesal ketika dirinya sengaja mencium pipinya dengan tiba-tiba. Apa yang dilakukannya tadi juga membuatnya terus tersenyum geli tiap kali mengingat ekspresi diwajah Yuna. Campuran dari keterkejutan dan juga kesal terhadapnya.
Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, Azka memutuskan sudah waktunya pulang untuknya. Keluar dari dalam ruangannya setelah terlebih dulu menghubungi sang supir untuk bersiap menunggunya didepan gedung, Ia turun menuju lobi dengan mempergunakan lift khusus.
Azka baru melangkah keluar dari dalam lift, ketika sebuah suara menghentikannya.
“Pak , tunggu.. Tunggu Pak..”
Ia menoleh dan mendapati dua orang gadis berseragam resepsionis takut-takut untuk menghampirinya. Keduanya bahkan saling mendorong tubuh satu sama lain. Azka mengerutkan dahi melihatnya. Merasa hanya dipermainkan, Azka berniat untuk mengabaikan mereka. Namun terdengar suara yang lebih keras menghentikannya.
“Tunggu Pak..!”
Husna mungkin tak sadar ia telah memekik pada saat itu.
Ya..
Dua orang gadis resepsionis yang sedang mencoba menghentikan Azka adalah Husna dan Siska. Yang menjadi teman Yuna saat sebelumnya dia bekerja disana. Setelah jam kerja selesai, keduanya memang sengaja menunggu Azka turun. Memberanikan diri berbicara dengannya.
“Apa yang kalian inginkan?”
Azka yang kemudian justru berjalan beberapa langkah untuk menghampiri keduanya.
“Ma.. Maafkan kami Pak..”
Siska menunduk sambil mempergunakan lengannya untuk menyenggol lengan Husna. Mengisaratkan agar sang teman untuk berbicara.
“Katakan kenapa kalian memanggilku? Tidakkah kalian tahu aku mungkin sedang terburu-buru dan tindakan kalian dengan menahanku disini sangatlah tidak sopan..”
Ucapan Azka hanya semakin menciutkan nyali kedua gadis itu.
“Katakan apa yang kalian inginkan dalam tiga puluh detik.. Jika tidak, aku akan..”
Husna dan Siska saling bertatapan, sebelum kemudian mengarahkan kembali tatapan mereka pada Azka.
“Kami ingin bertemu Yuna..!”
Ucap keduanya kompak. Azka justru mengerutkan dahi mendengarnya.
“Kami ingin bertemu dengan Yuna, Pak.. Dia teman kami”
Husna memelankan suaranya, dan Sunny yang kemudian meneruskan. Keduanya bergantian mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Azka pada saat itu.
“Aku tak bisa menghubunginya setelah malam pertunangan itu terjadi. Dan dia juga tidak menghubungi kami.. Yuna bahkan tidak ada dirumahnya”
“Dan tadi kami melihatnya muncul. Itu sungguh melegakan tapi sekaligus..”
Husna dan Siska kembali bertatapan, haruskah mereka meneruskan sementara Azka sedikitpun masih belum menanggapi ucapan mereka.
“Kami merindukannya..”
Sekali lagi, keduanya berucap berbarengan. Nadanya terdengar pelan dan sedih.
Azka berdeham sebelum kemudian menanggapi.
“Hm, baiklah.. Kalian cukup beruntung hari ini. Ikutlah denganku sekarang jika kalian ingin bertemu dengan Yuna.. Dia tinggal bersamaku”
Husna dan Siska melongo mendengarnya. Tidakkah mereka sedang bermimpi?
Azka meminta mereka berdua untuk ikut dengannya?
Oh, Ya ampunn..
Namun Azka yang lantas beranjak dari hadapan mereka, membuat keduanya tersadar. Bukan waktunya untuk mengira-ngira apakah itu mimpi atau bukan. Melainkan yang harus dilakukan adalah mengikuti langkah sang Tuan muda jika keduanya memang menginginkan untuk bertemu dengan Yuna.
Yuna..
Jadi Yuna menghilang dan justru tinggal bersama dengan sang Tuan muda? Tunangannya..
Oh..
Betapa beruntungnya gadis itu..
“Bawa mereka bersama kita, paman..”
Azka berucap pada sang supir pribadi yang telah membukakan pintu mobil bagian belakang untuknya. Tapi Azka kemudian memilih membuka sendiri pintu depan dan duduk disamping kemudi. Membiarkan Husna dan Siska yang menempati kursi dibagian belakang.
“Baiklah Tuan.. Silahkan masuk nona-nona..”
Husna dan Siska mengangguk dengan sungkan. Namun pancaran dari kedua mata mereka menunjukkan binar yang antusias.
Tak bisa dipercaya oleh keduanya bisa merasakan masuk kedalam kemewahan mobil itu.
***
Yuna baru saja pulang dan memutuskan untuk langsung mandi dan mengganti pakaian sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ny.Dania padanya. Setelah selesai, Ia kembali melangkah keluar dari dalam kamarnya, turun pada beberapa anak tangga ia dapat mendengar suara Azka didalam rumah itu.
Pria itu sudah pulang?
Darahnya seakan mendesir pada saat itu..
“Apa maksudmu dengan membawa dua gadis itu untuk bertemu dengan Yuna?”
Itu suara dari Ny.Dania. Terdengar keras dan tanpa basa-basi.
“Mereka mengatakan ingin bertemu dengan Yuna, maka aku membawa mereka untuk bertemu dengannya..”
Suara dari Azka lagi..
Mendengar dua kali namanya disebut, Yuna penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Maka kemudian ia mempercepat langkahnya menuruni anak tangga dan pada saat itu, ia mengetahui keberadaan Husna dan Siska disana, tak terlalu jauh dari Azka dan Ibu nya. Keduanya nampak menundukkan wajah mendengar Ny.Dania yang sepertinya tak menyukai kehadiran mereka didalam rumahnya.
“Mereka berdua adalah teman-teman nya, ma.. Dan mereka mengatakan padaku merindukan Yuna, jadi apa salahnya?”
“Tidak.. Yuna tak harus bergaul lagi dengan mereka. Mama akan mencarikan teman yang pantas untuknya..”
Azka menggeleng heran kearah sang ibu.
“Mama terlalu berlebihan.. mama memang bisa mencarikannya pakaian dan apapun yang diperlukannya untuk menjadi pantas, dan semuanya terlihat sempurna. Tapi teman.. mama belum tentu bisa mendapatkan seseorang yang cocok dengan Yuna untuk menjadi temannya. Itu dua hal yang berbeda, Ma..”
Ny.Dania mendengus pada Azka. Sepertinya masih memiliki pendapatnya yang lain, namun ketika hendak mengatakannya, Ny.Dania lebih dulu melihat Yuna yang berjalan mendekat dan sepertinya akan menghampiri kedua gadis yang tadi dibawa oleh Azka kedalam rumahnya.
“Husna.. Siska.. Kalian disini?”
Husna dan Siska langsung mendongak, memperhatikan Yuna yang terlihat senang ketika hendak menghampiri mereka, namun kemudian justru tangan Ny.dania meraihnya dan menariknya untuk berada disisinya.
“Ibu..”
“Aku keberatan kau berteman dengan mereka, Yuna.. Aku akan mengenalkanmu dengan putri-putri dari temanku yang lain. Kau akan bisa berteman dengan mereka nanti..”
“Tapi Bu..”
Yuna sangat ingin menggeleng pada saat itu. Ia bukanlah seorang gadis yang pandai berteman. Ia hanya memiliki beberapa teman semasa disekolah menengah. Itu pun tak terlalu akrab. Tapi ia merasa bisa berinteraksi dengan baik saat bersama dengan Husna dan Siska, meski ia terhitung baru mengenal keduanya.
“Mereka juga temanku..”
Yuna memberanikan diri meski Ny.Dania masih tetap menggeleng pada saat itu.
“Mungkin bukan waktu yang tepat untuk mereka datang dan bertemu denganmu saat ini. Kau baru pulang dan lelah.. Kau butuh tidur dan beristirahat..”
Menggunakan itu sebagai alasan, Ny.Dania benar-benar sedang mencoba untuk menjauhkan Yuna dari kedua gadis itu.
“Mama.. Kurasa ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu”
“Apa?”
Azka mendekat, merangkul bahu sang Ibu dan kemudian meraih tangannya untuk melepaskan tangan Yuna yang pada saat itu dipegangi oleh ibunya.
“Hm, sebaiknya kita tidak bicara disini ma.. Temuilah temanmu Yuna, mereka merindukanmu. Kau bisa membawa mereka ke kamarmu atau ke tempat manapun didalam rumah ini yang bisa membuat kalian nyaman saat mengobrol, dihalaman belakang mungkin..”
Azka menyarankan, dan merangkul sang ibu yang mendecakkan lidah mendengar apa yang dikatakannya. Sepertinya masih tak rela membiarkan Yuna menemui kedua gadis itu, namun sesaat kemudian wanita itu justru memanggil Bibi Lia..
“Bibi, tolong siapkan minuman dan hidangan untuk kedua tamu Yuna..”
“Baik Nyonya..”
Ny.Dania kemudian beralih menatap pada Husna dan Siska.
“Kalian jangan terlalu lama mengajak Yuna mengobrol, dia lelah dan membutuhkan tidur lebih cepat malam ini.. kulitnya akan lebih cepat mengeriput bila dia tak mendapatkan tidur yang cukup. kalian mengerti..!!”
Husna dan Siska tak bersuara dan hanya bisa mengangguk. Keduanya bahkan telah merasakan merinding, ngeri sedari awal wanita itu memandang dengan tatapan tak suka kearah mereka.
Azka kembali menggelengkan kepala melihat bagaimana sang ibu bereaksi pada saat itu.
“Baiklah.. Buatlah temanmu merasa nyaman berada disini, Yuna..”
Ucap Azka sebelum kemudian beralih pada ibunya.
“Oh, mama.. Apa papa tidak berada dirumah?”
Yuna mendengar Azka mengatakan itu saat membawa ibu nya menjauh darinya. Sebenarnya ia ingin mengucap terimakasih pada saat itu, namun Azka telah lebih dulu berlalu dari hadapannya.
“Yuna..”
Yuna kembali tersadar dengan keberadaan Husna dan Siska disana. Keduanya kini berani mendekati Yuna.
“Hai gadis beruntung.. tadinya aku ingin menyapamu seperti itu. tapi setelah…”
Husna mendengus dan tak meneruskan kalimatnya..
“Mengerikan.. Aku tak menyangka kau tinggal dengan wanita seperti itu”
Siska berucap dengan suara pelan. Yuna hanya menghela napas untuk menanggapi. Dan Husna kemudian menambahi..
“Jika aku jadi kau.. Aku pasti akan meminta Tuan muda untuk membelikan rumah atau setidaknya apartemen pribadi untuk ku tinggali sendiri. Tidak bersama dengan singa semacam itu. Dia pasti bisa setiap saat mengaung kearahmu..”
Yuna memutar mata dan sekaligus ingin terkikik mendengar bagaimana Husna menggambarkan tentang karakter Ny.Dania pada saat itu.
“Jangan mengada-ada.. Dia sudah bersikap baik dalam beberapa hari ini”
“Tapi Aku masih belum melihat yang seperti itu”
Yuna lantas mengajak mereka menuju teras dihalaman belakangdan mendengar decakan kekaguman dari Husna dan Siska tentang megahnya rumah yang pada saat itu menjadi tempat dimana kedua kakinya berpijak di atas karpet mahal ataupun lantai granit nya yang berkilat kemewahan dari benda-benda yang berada disekitarnya.
“Mengapa kau tak mengajak kami kekamarmu? Kurasa aku mendengar Tuan muda memperbolehkanmu tadi”
“Disini saja.. Aku tak enak pada Ibu nya”
Tak berapa lama setelah duduk dikursi yang berada disana, ahjumma Lee datang dengan nampan berisi minuman. Dan kembali lagi dengan senampan penuh yang berisi makanan ringan.
“Terimakasih Bibi..”
“Tidak usah sungkan..”
Bibi Lia tersenyum..
“Oh, Yuna..”
“Iya..”
“Aku mungkin tak bisa menunggumu selesai dengan teman-temanmu. Aku harus pulang..”
“Tidak apa-apa Bi, aku bisa membereskannya sendiri nanti. Bibi pulang saja..”
Meski Yuna telah mengatakan tak keberatan bila dirinya pulang lebih dulu, namun Bibi Lia merasakan tak enak hati padanya. Ia bahkan meminta maaf sebelum kemudian Yuna mendekatinya dan merangkulnya, mengantarnya sampai ke pintu keluar dan membiarkan Bibi Lia pergi.
****
to be continue