
Yuna POV
Hanya beberapa menit saat kemudian aku mendengar suara dari ponsel yang berbunyi. Ponsel milik Azka dan Aku melihatnya yang kemudian menggeliat..
Dia belum benar-benar tidur?
Apa dia menyadari apa yang telah kulakukan dengan memberikan selimut ditubuhnya?
Apa dia juga mendengar apa yang kukatakan..
Permintaan maaf dan ucapan terimakasih, apakah dia mendengarnya tadi?
Oh Ya ampunn..
Aku merasakan sesuatu yang agak panas seakan sedang merayap diwajahku.
Aku mengerjapkan mata ketika Azka kemudian mengambil ponsel itu dari dalam saku kemeja hitam yang masih dikenakannya. Dia hanya sedikit membuka matanya untuk mengetahui siapa yang menelpon, namun setelahnya matanya kembali terpejam dan dia justru mengulurkan telpon itu padaku tanpa menoleh.
“Jawablah, ini Mama..”
Azka menggoyangkan ponsel itu agar aku meraihnya..
“Jawablah Yuna.. Dan biarkan aku mendapatkan sedikit waktu untuk tidur..”
maka aku meraih ponsel itu dari tangannya. Azka kembali terlihat melipat tangannya didepan dada, meneruskan kembali tidurnya. Sementara aku lantas menyentuh pada layar ponsel itu untuk menjawab panggilan dari ibunya.
“Ibu..”
“Oh, Yuna.. Bagaimana denganmu? Kau sudah baik-baik saja kan?”
Aku merasakan sesuatu dalam hatiku berdebar ketika mendengar suaranya yang mengkhawatirkanku.
“Iya Ibu..”
“Oh, syukurlah.. aku begitu cemas memikirkanmu”
Sekarang aku bahkan bisa tersenyum mendengarnya..
“Apa kau berada diruang perawatan?”
“Iya, Bu.. Aku sedang menjaga kakakku.”
“Oh, dan dimana Azka? Kenapa kau yang menjawab ponselnya?”
“Dia tertidur beberapa saat yang lalu, kemudian terbangun dan memberikan ponselnya padaku agar aku yang menjawab dan membiarkannya kembali tidur”
“Oh, ya.. Azka pasti membutuhkannya. Setelah semua yang terjadi, kita semua terguncang dengan musibah ini. Lalu bagaimana dengan kakakmu..?”
“Dia sudah sadar, Bu..”
Aku lantas mengatakan padanya jika tadi aku juga telah berbicara dengan dokter dan mendapat penjelasan darinya. Yang kukatakan sesuai dengan apa yang sang dokter katakan padaku, mengenai kondisi kritisnya yang sudah dilewati, operasi yang telah dijalani hingga kemungkinan Kak Yuri harus menjalani terapi untuk berjalan. Aku mengatakan semua itu pada ibu Azka yang sesekali menimpali ucapanku.
“Baiklah Yuna, mungkin aku dan suamiku akan datang besok. Beristirahatlah..”
Aku mengatakan ‘ya’ padanya dan menggumamkan terimakasih sebelum kemudian dia memutus sambungan telponnya.
Aku membiarkan ponsel Azka berada ditanganku, karna bila mengembalikan padanya sekarang, itu berarti aku perlu untuk membangunkannya dari tidur. Dan aku tidak akan melakukannya. Azka masih membutuhkan tidur lebih lama.
Yang kemudian bisa kulakukan disamping Azka yang sedang tertidur, hanyalah terdiam dan termenung. Aku memikirkan banyak hal. Banyak hal yang telah dan mungkin akan terjadi dalam hidupku setelah kejadian-kejadian yang terjadi diluar dugaanku, diluar pemikiranku.
Aku tidak menghitung waktu berapa lama aku hanya terdiam, tapi aku merasa telah cukup lama saat itu. Saat aku kemudian tersentak oleh suara jeritan dan itu suara Kakak ku.
Kak Yuri menjerit dan membuatku panik. Aku pasti telah melempar ponsel milik Azka dari tanganku, akibat dari kepanikanku ketika aku kemudian berlari dan mendorong pintu ruang ICU itu. Menemukan kakak ku dalam keadaan yang pucat berkeringat..
Ketakutan dimatanya..
Ya Tuhan..
Rasanya sesuatu sedang meremas ulu hatiku melihatnya yang seperti itu
.
“Kakak.. Kak Yuri, ,tidak apa-apa.. tenanglah..”
Aku mencoba memegang tangannya namun kakak menepiskannya..
“Azka.. Dimana Azka..? Aku takut.. Doni menyakitiku.. Dia akan datang dan menyakitiku.. Dimana Azka..! Dimana Azka.. Aku benar-benar takut..”
Airmata menetes membasahi wajahku, Kak Yuri seakan tidak menyadari kehadianku. Raut wajahnya panik, matanya hanya terus mencari-cari keberadaan Azka saat itu..
“Yuna.. Ada apa?”
Aku menoleh mendengar suara itu. Azka masuk dengan kekhawatiran diwajahnya ketika kemudian dia mendekat padaku.
“Azka.. Azka, aku takut..”
Begitu Azka berada dekat disisi tempat tidurnya, Kak Yuri langsung meraih tangannya dan bergerak cepat memeluk pada pinggangnya.
Kakak tidak membiarkanku mencoba untuk menenangkannya namun kepanikannya segera hilang dan dia mendapatkan ketenangannya ketika melihat Azka berada didekatnya, dalam pelukannya.
Azka terlihat bingung, saat dia menatap padaku namun aku hanya bisa menggeleng kearahnya. Aku tak tahu apa yang terjadi, juga apa yang sedang dirasakan oleh Kak Yuri, aku tidak memiliki penjelasan untuk itu.
Tapi kemudian Azka menggunakan tangannya untuk mengusap pada rambut Kak Yuri dan mencoba menanyakan padanya..
“Ada apa Yuri? Apa yang terjadi denganmu?”
Yang kulihat Kak Yuri justru semakin mengeratkan pelukannya. Aku sedikit mengkhawatirkan jarum infus ditangannya akan terlepas saat kakak melakukan itu.
“Doni menyakitiku.. Dia menyakitiku. Aku takut..”
Kesedihan menghantamku ketika mendengar itu, dan aku hanya bisa menahan isakanku saat itu..
“Tidak.. Doni akan datang. Dia akan datang dan menyakitiku.. Azka, aku takut.. Aku benar-benar takut..”
Azka kembali mengusap pada rambut Kaka Yuri. Aku sendiri masih tak yakin ini saat yang tepat untuk mengatakan padanya mengenai kepergian Doni untuk selamanya setelah kecelakaan itu. Dia tidak akan lagi bisa menyakiti Kak Yuri..
“Tidak.. Percayalah padaku, kau hanya bermimpi Yuri. Hanya mimpi dan takkan pernah terjadi lagi..”
Kak Yuri perlahan melepaskan pelukannya untuk kemudian mendongak menatapnya..
“Tidak ada yang akan menyakitimu, percayalah padaku..”
“Apa kau akan terus menjagaku? Kau akan melindungiku?”
Azka kembali mengarahkan tatapan matanya padaku, dan aku langsung menganggukkan kepala saat itu dengan maksud agar dia mengatakan ‘iya’ pada kakak ku. Aku tahu itu yang saat ini sedang dibutuhkannya. Seseorang yang bisa menjamin keselamatannya dan membuatnya merasa tetap aman tanpa rasa takut dirinya dalam keadaan terancam.
“Azka.. Kau akan menjagaku. Kau akan melindungiku kan?”
Kumohon katakan ya sekarang, kumohon..
Aku mempergunakan tatapan mataku untuk mengatakan itu padanya, dan sepertinya Azka dapat mengerti maksudku. Setelahnya dia mengangguk pada Kak Yuri..
“Ya, aku akan melakukannya. Maka sekarang, kembalilah tidur.. Kau membutuhkan banyak istirahat Yuri..”
“Apa kau akan tetap disini? Berjanjilah kau akan tetap berada disini dan mengusir Doni jika dia datang dan mencoba menyakitiku. Berjanjilah Azka, Kau akan memaksa Doni pergi dari hidupku..”
Azka mengangguk dan menggumamkan kalimat yang pasti sangat ingin didengar oleh Kak Yuri pada saat itu. Dia mengatakan ‘Ya’ untuk apapun yang pada saat itu diinginkannya. Dan aku merasa senang Azka pada akhirnya dapat benar-benar menenangkannya dan membuat Kak Yuri dapat kembali membaringkan tubuhnya.
“Yuna..”
Kakak memanggilku, sepertinya setelah mendapatkan ketenangannya dia baru kembali menyadari keberadaanku..
“Aku disini kak..”
Aku mengusap pada bahunya..
“Yuna, tetaplah disini.. Jangan kemana-mana. Mereka akan menyakitimu bila kau berada diluar sana sendirian. Tetaplah disini, Yuna..”
Aku mengangguk padanya dan kakak menggunakan tangannya yang lemah untuk menyentuh pada wajahku, mengusap pada airmataku.
“Apa kau menangis? Jangan menangis, Yuna.. Jangan..”
Aku menggeleng dengan mantap dan kemudian membersihkan airmataku.
“Tidak kak.. Aku tidak menangis, Aku baik-baik saja..”
Kak urii meraih tanganku dan memegangnya dengan erat..
“Ya, kau harus baik-baik saja..”
Aku berusaha untuk tersenyum dan mengangguk padanya. Hingga semakin lama aku dapat merasakan tarikan napas kak Yuri kembali teratur, dan dia kembali tertidur.
Azka menjauhkan diri, dia tidak mengatakan apapun padaku saat kemudian melangkah untuk keluar. Namun saat Azka bergerak membuka pintu, aku melihatnya berpapasan dengan seorang suster pada ambang pintu itu..
“Tuan..”
Suster itu memperhatikannya dan juga langsung mengalihkan pandangannya padaku yang masih berada disisi tempat tidur Kak Yuri.
“Sesuatu terjadi suster, aku bisa jelaskan padamu..”
Azka menutup pintu untuk selanjutnya berbicara dengan suster itu diluar. Entah apa yang dikatakannya, tapi aku menduga itu adalah apa yang telah terjadi pada kak Yuri tadi.
Beberapa saat kemudian sang suster itu masuk dan melakukan pemeriksaan. Dia tidak menyuruhku keluar, mungkin Azka yang telah mengatakan untuk membiarkanku tetap berada bersama Kak Yuri.
“Bagaimana suster?”
“Semua stabil, nona..”
Dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan hanya tersenyum saat kemudian keluar dan meninggalkanku bersama dengan kak Yuri.
Terlalu lama berada diruang ICU yang dingin, ternyata telah membuatku menggigil. Aku melepaskan tanganku dari Kak Yuri, dan menggunakannya untuk mengusap-usap pada lenganku sendiri agar setidaknya mendapatkan sedikit kehangatan dari apa yang telah kulakukan.
Aku menoleh ketika mendengar suara pintu yang kembali terbuka dan melihat Azka masuk dengan membawa selimut ditangannya. Sebuah selimut yang tadi aku pasangkan ditubuhnya.
Dia bergerak semakin dekat, dan yang kurasakan dia memakaikan selimut itu dari belakang tubuhku.
“Yuri sudah kembali tidur, kau bisa meninggalkannya sekarang..”
“Aku ingin disini..”
“Tapi lihatlah, kau mulai menggigil Yuna..”
Aku menggeleng..
“Tidak akan lagi.. Terimakasih untuk selimutnya, aku akan baik-baik saja..”
Aku dapat mendengar helaan napasnya dan tangannya yang kemudian berada diatas kepalaku, mengusap pada rambutku dan bahkan menciumnya sebelum suara dari ponsel miliknya menghentikan itu.
Oh..
Dia mendapatkan lagi ponselnya..
Aku akan meminta maaf karna telah melempar benda itu tadi.
“Aku akan berada diluar untuk menjawab telpon, panggil aku jika kau membutuhkanku..”
Aku mengangguk dan membiarkannya keluar meninggalkanku.
***
to be continue