At First Sight

At First Sight
Episode 87



“Selamat malam, Tuan..”


“Apa yang sedang kau lakukan disini?”


Ia cukup kebingungan untuk menjawab pertanyaan tanpa basa basi yang dilontarkan oleh Azka kepadanya.


“Saya.. Saya sedang bertugas, Tuan..”


“Oh, benarkah?”


Azka jelas menangkap kegugupan dan jawaban ragu-ragu dari pria itu. Tidak seperti yang selama ini diketahuinya. Pria itu selalu berkata dengan penuh keyakinan, tanpa nada keragu-raguan sedikitpun.


“Saya sedang menangani sebuah kasus, dan sedang melakukan penyelidikan. Maaf jika anda merasa terganggu dengan keberadaan saya disekitar rumah anda, saya akan segera pergi, Tuan..”


“Tunggu.. Kau tidak perlu seformal itu, Arkhan..”


Azka menahannya..


“Terlalu canggung mendengarmu memanggilku seperti itu sekarang. Aku bukan lagi seseorang yang menyewamu untuk melakukan penyelidikan..”


Pria itu yang disebutkan Azka bernama Arkhan, adalah seorang agen yang sempat disewanya untuk mencari keberadaan Yuri dan mengusut penyebab Yuri yang mengalami depresi pada saat itu. Hingga menemukan berbagai fakta yang tidak terduga, yang sangat jauh dari apa yang diperkirakannya dan juga sangat sulit untuk diterimanya.


Namun begitu, Azka sangat puas dengan kinerja Arkhan saat itu, dan telah membayarnya mahal untuk itu.


“Mungkin aku tidak jauh lebih pintar darimu, Arkhan. Tapi aku juga tidak sebodoh itu.. Kasusmu yang sedang kau tangani saat ini, tidak mungkin tidak berkaitan denganku. Aku beberapa kali melihat mobilmu terparkir disekitar rumahku, dan kau bahkan sempat mengikuti mobilku..”


Azka mengingat saat waktu itu, je mengirim pesan singkat yang mengatakan bahwa Azka sepertinya menyadari ia mengikutinya, dan akhirnya ia pun membelokkan arah laju mobilnya.


“Jadi mengapa kita tidak mencari tempat dan membicarakan ini? Kita jelas perlu bicara, Arkhan..”


Azka tidak perlu persetujuan dari pria itu, ketika kemudian Ia masuk kedalam mobilnya dan menduduki kursi disampingnya.


“Aku tahu tempat yang nyaman disekitar sini, kita bisa bicara disana..”


Segera saat itu, Arkhan merasa tidak akan bisa menghindar. Azka jelas bukan seorang pria yang bisa dianggap remeh. Dia bahkan telah menaruh kecurigaan itu dimatanya.


“Kau boleh melajukan mobilmu, sekarang..”


Arkhan dengan segera melajukan mobilnya. Menuju tempat yang ditunjukkan Azka. Tempatnya memang tak terlalu jauh, tak sampai sepuluh menit bahkan mereka telah sampai disebuah kafe, tempat yang Azka maksud.


Azka memilih tempat yang letaknya persis dipojok, berada jauh dari pengunjung lain dan menawarkan Arkhan untuk terlebih dulu memesan minuman yang diinginkannya. Dua kopi panas yang kemudian menjadi pilihan keduanya saat itu.


“Aku tak tahu jika kita memiliki selera yang sama..”


Ucap Azka sedikit berbasa basi tak lama setelah seorang waiters beranjak dari sana.


Arkhan hanya menanggapi dengan senyuman tanggung, masih banyak yang diantisipasi olehnya. Terutama mengenai apa yang bakal Azka tanyakan padanya dan apa yang nanti akan dikatakannya.


“Jadi, haruskah kita menunggu pesanan diantar terlebih dulu sebelum memulai pembicaraan?”


“Kurasa tidak, Tuan.. Kita bisa langsung berbicara sekarang? Jadi apa yang ingin anda bicarakan, Tuan?”


“Kau boleh memanggilku Azka.. Kau membuatku merasa lebih tua dengan panggilanmu yang seperti itu..”


Arkhan tersenyum mendengarnya..


“Baiklah jika dengan begitu kau akan merasa nyaman, Azka..”


“Terdengar lebih baik..”


Azka menyandarkan punggungnya pada kursi yang didudukinya, menyilangkan kakinya dan berusaha untuk bersikap santai saat didepannya Ia justru melihat kilatan tegang yang sepertinya sedang dirasakan oleh Arkhan pada saat itu.


“Aku tidak bermaksud mengganggu investigasi mu, jika benar itu yang sedang kau lakukan disekitar rumahku. Jadi siapakah yang sebenarnya kau selidiki? Aku?”


Azka jelas tak lagi menggunakan basa-basi. Ia cukup yakin bila Arkhan memang sedang mengawasi seseorang atau mungkin lebih yang berada dirumahnya.


“Ayahku, ataukah ibuku? Tapi kau ,mengikuti mobilku pada saat itu.. Jadi kemungkinan besar akulah yang sedang kau selidiki?”


Arkhan kembali tersenyum tanggung dan menggeleng..


“Sama sekali tidak, Tuan.. emm, maksudku Azka.. Aku bukan menyelidikimu. Jika memang kau lah yang pada saat ini sedang menjadi target penyelidikanku, aku pastinya akan berada disekitar kantormu. Bukankah kau lebih banyak menghabiskan waktumu disana..”


Azka tanpa sadar mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Arkhan pada saat itu. Sedikit terjadi jeda diantara keduanya, saat seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka.


“Aku tidak tertarik untuk berteka-teki, jadi siapa sebenarnya yang sedang kau selidiki, Arkhan?”


“Apakah anda percaya jika saya mengatakan tidak sedang melakukan penyelidikan?”


“Kau sendiri yang mengatakan itu sebelumnya padaku..”


Azka berkerut dahi samar mendengarnya..


“Jadi?”


“Aku hanya ingin melihat seseorang..”


Arkhan sesaat menghembuskan napasnya, mungkin tak ada salahnya bila ia mencoba mengatakannya pada Azka saat itu, dari pada pria itu berpikir dirinya sedang menyelidiki keluarganya.


“Siapa?”


Tanya Azka kemudian, jelas tak dapat menerima jawaban yang mengambang.


“Yuri.. Aku ingin melihatnya..”


Arkhan kembali tersenyum tanggung kearah Azka yang sepertinya terkejut, atau mungkin hampir tidak percaya mendengarnya.


Pria itu, Arkhan bukan tak memiliki cerita. Nyatanya, jauh sebelumnya Ia telah mengenal Yuri. Ia terpesona, terpikat dan akhirnya jatuh cinta pada Yuri dengan kecantikan polosnya diusia remaja.


Yuri masuk kedalam sekolah yang sama dengan Arkhan kala itu. Ia berada di dua tingkat dibawahnya. Tidak lama sampai kemudian kepopuleran gadis itu terdengar. Yuri tidak hanya bermodal wajah yang cantik, tapi juga dibekali dengan otak yang pintar. Hingga meski berasal dari keluarga sederhana, Ia tak banyak diremehkan oleh siswa-siswi lainnya yang kebanyakan berasal dari kalangan diatasnya.


Sampai pada suatu hari ketika Arkhan berada dimasa-masa terakhirnya bersekolah disana, ia menyatakan perasaan cinta nya terhadap Yuri. Namun sayangnya, Yuri menolaknya. Gadis itu mengatakan masih belum mau memiliki kekasih, dengan alasan keinginannya untuk berkonsentrasi terhadap sekolahnya, mempertahankan nilai terbaiknya agar terus dapat membesarkan hati kedua orangtua nya.


Entah itu alasan yang sesungguhnya, ataukah penolakan halus yang sengaja Yuri katakan karna gadis itu tidak menyukainya. Yang jelas, Arkhan menerima penolakan itu dan membiarkan hatinya terpatahkan oleh karna apa yang dikatakan Yuri pada saat itu.


Karna itu pulalah Arkhan kemudian menyetujui permintaan sang ayah, yang menginginkannya untuk menjalani pelatihan diluar negri.


Sang ayah adalah pemilik perusahaan yang menyediakan jasa pengamanan dan sekaligus memiliki beberapa orang khusus yang dipersiapkan untuk klien yang memerlukan investigasi. Dan berharap kelak, Arkhan akan menjadi penerusnya.


Sang ayah tidak main-main untuk mempersiapkannya, membuat Arkhan bertahun-tahun harus menjalani pelatihan diluar negri. Ditempat pelatihan itulah, setahun sebelum ia keluar, Arkhan bertemu dengan Jena yang menjadi juniornya disana. Gadis tomboy itu entah mengapa kemudian menjadi dekat dengannya. Namun keduanya harus berpisah ketika Arkhan akhirnya bisa keluar darisana.


Berharap setelahnya ia bisa kembali pulang ke negaranya, tapi sang ayah justru masih belum mengijinkannya pulang, Arkhan justru mendengar langsung sang ayah yang mengatakan dirinya telah didaftarkan menjadi agen FBI.


Arkhan merasakan saat itu sang ayah yang benar-benar sedang menempanya. Hampir dua tahun ia menjadi agen FBI dan terlibat dalam menangani berbagai penyelidikan, hingga sang ayah akhirnya memintanya untuk kembali.


Bukan menempati langsung kursi kepemimpinan perusahaan ayahnya yang ternyata berkembang pesat, Arkhan memilih untuk menjadi salah satu agen disana dan terlibat langsung dengan banyak karyawan lainnya. Hal yang kemudian mengingatkannya pada Jena, dan akhirnya meminta ayahnya untuk menghubungi gadis tomboy itu, agar mau bekerja disana. Jadilah, Jena berada dalam daftar orang yang siap untuk melakukan pengamanan, dan jasanya kini, menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang disewa oleh keluarga Azka.


Sementara Arkhan, ia sendiri masih bergelut dengan posisi agen yang bertugas melakukan penyelidikan kasus yang sifatnya tertutup. Ia telah banyak disewa oleh orang-orang yang menjadi klien perusahaan ayahnya. Dari kasus-kasus kecil dan bahkan dianggapnya konyol, seperti kasus perselingkuhan, sampai pada kasus besar, semacam rekayasa pembunuhan.


Sampai kemudian sang ayah memberikan padanya klien khusus yang dikatakannya menjadi salah satu klien yang banyak menyewa orang-orangnya, yaitu keluarga Azka. Maka dihari itu, Arkhan secara langsung berbicara dengan Azka dan akhirnya bertemu dengan pria itu dikantornya.


Siapa sangka, bila Azka pada saat itu menyodorkan sebuah foto yang teramat sangat dikenalnya. Arkhan jelas tak akan pernah lupa dengan pemilik wajah itu, Yuri.


Maka kemudian, Ia berusaha untuk mengontrol keterkejutannya dan menyimak berbagai penjelasan Azka yang mengatakan gadis itu menghilang setelah pada malam sebelumnya keduanya terlibat dalam pembicaraan pribadi yang berakhir dengan tangisan Yuri saat meninggalkannya. Dan dipagi harinya, Azka justru menemukan surat pengunduran diri yang dikirim Yuri diatas meja kerjanya.


Dari Azka pula, ia akhirnya mengetahui jika Yuri tak lagi memiliki orangtua.


Arkhan bukan tidak merasakan apa-apa. Ia sendiri pun heran, mengapa sesuatu didalam hatinya masih saja bergejolak ketika mendengar nama Yuri. Dan fakta bahwa gadis itu justru sedang tidak diketahui keberadaannya, membuatnya bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Penyelidikan dilakukannya, dan temuan pertama yang didapatkannya adalah keberadaan Yuri yang ternyata ditempatkan disebuah kamar didalam rumah sakit jiwa.


Hatinya seakan diremas hingga membuatnya kesakitan, ketika akhirnya dengan kedua matanya sendiri Ia melihat Yuri benar-benar berada disana. Berteriak, menjerit histeris saat ia mencoba untuk mendekatinya.


Yuri, cinta pertamanya..


Nyatanya justru tidak lagi mengingat apalagi mengenali dirinya.


Lebih dari sekedar menjalankan tugas, lebih dari sekedar kepeduliannya terhadap Yuri, Arkhan memang memiliki niat kuat untuk mengungkap apa yang terjadi sebelumnya yang menjadi penyebab traumatik hingga depresi berat yang dialami oleh Yuri.


Berbagai hal dilakukannya, mulai dari mengorek informasi dari beberapa pekerja dirumah sakit, membuntuti dua nama yang sebelumnya disebutkan oleh Azka, yaitu Yuna dan Doni, hingga sampai menyisir cctv yang berada di jalan-jalan yang berkemungkinan dilewati oleh Yuri.


Hingga kemudian, beberapa rekaman dari cctv yang ditemukannya menguatkan dugaannya pada sang pria bernama Doni yang memiliki kemungkinan kuat mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada Yuri.


Sempat kehilangan jejak keberadaan Yuri yang entah karna apa tiba-tiba dipindahkan dari rumah sakit jiwa itu, membuat Arkhan merasa bersalah dan menilai dirinya lalai, meski rasanya sudah hampir dua puluh empat jam ia mengawasi, jika pun tidak, ia selalu menempatkan beberapa pekerja diperusahaan ayahnya untuk berjaga-jaga disana.


Terlibat dengan perasaan cemas pada kemungkinan yang terjadi pada Yuri, sempat juga membuatnya panik. Namun dengan pengalamannya menyelidiki berbagai kasus, ketenangan itu kembali didapatkannya. Dan meneruskan penyelidikan tidak lagi dianggapnya sebagai tugas dari klien, melainkan keharusan untuk dilakukannya.


Ia menyelidiki berbagai tempat yang kemungkinan menampung Yuri disana, dan bahkan sampai menyelidiki daftar orang-orang yang pergi keluar negri setelah Azka menginformasikan bahwa Yuri telah dipindahkan kesana.


Namun hasilnya nihil, Yuri tidaklah dipindahkan keluar negri. Melainkan disembunyikan oleh seorang pria yang sangat dekat dengan Yuri sebelumnya, seorang sahabat yang tergila-gila padanya. Seorang yang ternyata adalah psyco yang telah tega berbuat bejat terhadapnya.


Mengetahui hal itu, membuat Arkhan benar-benar meradang. Andai saja ia bisa membaca masa depan, Ia tidak akan meninggalkan gadis itu sekalipun Yuri menolaknya. Ia tidak akan menerima tawaran sang ayah untuk mengikuti pelatihan diluar negri. Ia pasti akan menjaga Yuri dan tidak akan membiarkannya dekat dengan seorang psyco.


***


to be continue