
Sulis, dokter yang menangani masalah kejiwaan Yuri, secara khusus datang pada pagi itu. Setelah Yuna menghubunginya dan menceritakan kejadian semalam mengenai sang kakak yang kembali mengalami mimpi buruk yang mengganggu tidurnya. Dan pagi itu Yuri tiba-tiba menolak untuk pergi ke rumah sakit, hingga Yuna meminta dengan sangat kesediaan Sulis untuk mau datang dan melakukan sesi terapi itu dirumah.
Sulis menyanggupi dan benar-benar datang pagi itu. Mendengar apa yang sebelumnya diceritakan Yuna melalui sambungan telpon, ia mengatakan kemungkinan Yuri sedang merasakan kecemasan yang berlebih yang kemudian terbawa hingga tidurnya.
“Sebaiknya kita terlebih dulu menemukan tempat yang akan bisa membuatmu merasa nyaman, Yuri..”
“Saya akan mengantar anda kehalaman belakang, dokter.. Disana, saya yakin adalah salah satu tempat yang nyaman untuk anda berbicara dengan nona Yuri..”
Usul Jena yang kemudian mendorong kursi roda Yuri keluar dari dalam kamarnya..
“dokter..”
Yuna sesaat mencegah Sulis yang sudah akan mengikuti langkah Jena..
“hm, ada apa Yuna?”
“Apakah keadaan Kak Yuri akan kembali memburuk?”
Sulis tersenyum menanggapi kecemasan yang pada saat itu menggurat diwajah Yuna.
“Aku harap tidak seperti itu..”
“Tapi kakak mengalami mimpi buruk lagi.. Dia panik dan ketakutan..”
“Seperti yang sebelumnya kukatakan padamu, Yuri mungkin sedang memiliki kecemasan dalam dirinya. Biarkan aku berbicara dengannya.. Aku akan mengatakan kesimpulanku padamu, nanti..”
Yuna mengangguk dan mengucap trimakasihnya pada Sulis, sebelum kemudian membiarkan dokter itu untuk menyusul Jena yang telah lebih dulu membawa Yuri.
Setelahnya, Yuna mendudukkan tubuhnya dipinggiran tempat tidur. Ia berniat untuk mandi, tapi terlebih dulu akan melepas kain perban yang membebat pergelangan kakinya. Nyerinya memang masih terasa, tapi tidak lagi sesakit saat setelah terjatuh dan berada dikantor Azka. Karna setelah dibawa pergi oleh Tuan dan Ny.Dania darisana, ia juga dibawa kesebuah rumah sakit untuk memeriksakan keadaan kakinya. Yang untunglah tidak separah seperti apa yang dikatakan Ny.Dania padanya. Ibu Azka itu sempat membuatnya takut dengan apa yang dikatakannya mengenai kemungkinan-kemungkinan buruk pada pergelangan kakinya yang mungkin saja mengalami keretakan atau bahkan patah. Ibu Azka juga terus mengomeli kecerobohan yang akhirnya membuatnya cedera.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Yuna menoleh dan mendapati Azka sedang berdiri diambang pintu kamar itu. Tersenyum kearahnya dengan setelan rapi yang telah dikenakannya. Begitu pria itu mendekat, aroma parfum maskulinnya tercium hingga membuat Yuna tanpa sadar menghirupnya dalam-dalam, dan menjadi tidak menyadari ketika Azka kemudian berjongkok dihadapannya.
Ia baru merasakan terkesiap ketika merasakan ada sesuatu yang terasa menyengat kakinya. Meski pada saat itu yang dilakukan Azka hanyalah meraih kakinya, dan memeriksanya.
“Bagaimana, masih terasa nyeri tidak?”
Namun efeknya, Yuna hanya mampu memberinya jawaban dengan menggelengkan kepalanya. Seolah kosakata bahasanya menghilang entah kemana.
Azka lantas meneruskan apa yang sebelumnya coba Yuna lakukan dengan membuka gulungan perban yang melilitnya. Melakukannya dengan perlahan, yang tanpa diketahuinya hanya semakin membuat Yuna bertambah gelisah. Ia berusaha untuk menarik kakinya, namun Azka justru memegangnya dengan erat.
“Lepaskan.. Aku bisa melakukannya sendiri..”
“Kau sudah pernah menendangku, jangan kira aku akan membiarkanmu melakukannya lagi..”
Seringai yang ditunjukkannya kemudian membuat Yuna memberengut.
“Apa yang selanjutnya akan kau lakukan?”
Tanyanya masih dengan membuka perban itu..
“Aku perlu mandi.. Aku melewatkan itu kemarin karna Ibu melarangku.”
“Baiklah, kurasa aku bersedia membantu..”
“Yakk.. Pak Azka..!”
Yuna memekik saat Azka dengan cepat membopongnya untuk mencapai kamar mandi yang berada didalam kamar itu.
“Turunkan aku.. apa yang kau lakukan?”
“Aku bersedia membantumu..”
“Aku tidak membutuhkannya, aku bisa berjalan.. Turunkan aku..!”
Yuna memukul pelan dada Azka, namun pria itu bergeming dengan tidak menurunkannya dan justru melangkah membawanya masuk kedalam kamar mandi. Azka baru menurunkannya dengan mendudukkan Yuna diatas dudukan kloset.
“Pertama-tama apa yang biasanya kau lakukan lebih dulu?”
Yuna memutar mata mendengarnya..
“Pak, Apa yang akan kau lakukan?”
“Bukankah sudah kukatakan aku bersedia membantumu..”
“Dan aku juga sudah mengatakan aku tidak membutuhkan bantuanmu..”
“Tapi aku memaksa.. dan kau tidak seharusnya menolak. Aku sedang dalam mood yang baik sekarang. Jadi bersikap baiklah dan jangan merusak mood-ku..”
Yuna mendengus melihat Azka yang kemudian menggulung lengan kemejanya, dan lantas memeriksa beberapa peralatan mandi nya.
“Yang mana milikmu?”
Yuna mengambil salah satu dari dua sikat gigi yang pada saat itu disodorkan oleh Azka. Pria itu kemudian juga mengoleskan pasta gigi keatasnya. Membiarkan Yuna menggosok gigi, sementara dirinya tetap berdiri disana, tanpa sekalipun mengalihkan perhatiannya sampai kemudian Yuna menyelesaikannya.
“Kau tidak akan terus berada disini kan?”
“Mengapa tidak.. Aku masih punya cukup waktu sebelum pergi..”
Yuna berdiri untuk kemudian mencoba mengusir Azka keluar.
“Aku perlu mandi, Pak.. Keluarlah..”
Reaksi yang ditunjukkan Azka jelas diluar dari prediksi Yuna. Pria itu kemudian justru mendorong tubuhnya hingga punggungnya menyentuh dinding kamar mandi yang terasa dingin. Mengurungnya dengan kedua tangan yang masing-masing berada disisi tubuhnya.
“Kenapa kau tidak membiarkanku berada disini?”
Yuna membulatkan mata mendengarnya.
Oh..
Apakah pria ini kembali kerasukan?
Dia jelas sedang memiliki pemikiran yang tidak waras..
“Pak..”
“Kau memakai pasta gigi yang berbau segar. Rasanya pasti juga enak, kenapa kau tidak membiarkanku untuk mencicipinya..”
“Huh?”
Azka tidak membiarkannya bereaksi lebih. Dengan cepat ia sudah meraih bibir Yuna dan sedikit mengulum bibir bawahnya, sebelum kemudian tubuhnya terdorong mundur oleh karna kedua tangan Yuna..
“Pak.. Dasar pria mesum!!”
Azka tergelak..
“Bukankah kau sudah mengakui menyukai pria mesum ini..”
Terlihat dari kedua pipi Yuna yang merona merah, menandakan ia telah berhasil menggoda gadis itu.
Ia ingin menghibur gadis itu dengan menggunakan caranya. Yang salah satunya adalah dengan terus menggodanya..
“Pak Azka..”
“hm..”
“Kak Yuri tidak mau pergi ke rumah sakit.. Karna itu aku menghubungi dokter Sulis dan memintanya untuk datang”
“Aku tau, aku melihat mereka berbincang dihalaman belakang. Tidak apa-apa.. Jika dokter itu bersedia datang, dia bisa terus melakukan sesi terapi dengan Yuri disini..”
“Terimakasih.. Dan bolehkah aku meminta ijin padamu?”
“Apa?”
Yuna sesaat menggigit bibir bawahnya. Merasa ragu untuk mengatakannya..
“Apa? Kau ingin meminta ijin apa dariku?”
“emm, bolehkah aku juga menghubungi dokter Ahmad dan memintanya untuk datang..?”
“Tidak..”
Jawaban yang diberikan Azka seolah tanpa perlu berpikir membuat Yuna mendengus mendengarnya.
“Yang benar saja.. kau baru saja meminta ijin untuk memasukkan dokter perayu itu kedalam rumahku? Tentu saja jawabannya adalah tidak.. kau seharusnya tidak menanyakan hal semacam itu, Yuna. Kau pasti sudah tau apa jawabanku..”
“Tapi, Pak.. Kak Yuri masih harus melakukan terapi. Dan aku tidak tau mengapa kakak menolak untuk pergi kerumah sakit. Bagaimana dengan terapinya? Bagaimana kakak ku akan sembuh dan bisa kembali berjalan jika tidak melanjutkan terapi pada kakinya?”
“Kita akan menemukan cara untuk membujuk Yuri agar mau pergi ke rumah sakit, tapi tidak dengan memasukkan dokter perayu itu kedalam rumahku..”
“Kenapa sih kau menyebut dokter Ahmad seperti itu?”
“Jadi kenapa, kau tidak menyukainya aku menyebutnya seperti itu? Apa dia bukan perayu? Sekarang katakan padaku jika dia tidak pernah merayumu..”
Oh, pembicaraan ini jelas salah. Dan Yuna sangat ingin mencari celah untuk menghindar. Terlebih dari tatapan kedua mata Azka yang seakan menuntutnya..
“Katakan, jika dokter itu memang benar-benar tidak pernah merayumu..”
“Dokter Ahmad.. emm, dia.. Dia memang tidak pernah benar-benar merayuku, hanya saja dia.. Dia melakukannya hanya untuk…”
“Dia tidak benar-benar merayuku? Apa maksudnya kalimat seperti itu, Yuna?”
Azka memotong kalimat yang belum diselesaikan oleh Yuna..
“Aku tak tau pada saat itu dia sedang merayuku atau bukan.. Mungkin dia hanya sedang menggodaku..”
Yuna dengan segera menggigit bibir bawahnya.
Ini benar-benar salah..
Sekarang ia merasa terjebak kedalam pembicaraan yang tak semestinya. Kenapa juga dia harus meladeni omongan Azka. Dan mengapa dia tidak menyangkal saja?
Oh, dear..
Sekarang pria itu justru memiliki tatapan keras kearahnya.
“Sialan.. Dan kau berani meminta ijin padaku untuk memasukkan pria seperti itu kedalam rumahku..”
Azka meletakkan kedua tangan diatas kepalanya, dan kemudian menarik-narik rambutnya. Namun kemudian Yuna mendekatinya. Meraih tangannya dan menurunkan dari atas kepalanya, kemudian menggelayuti lengannya.
“Pak.. Aku hanya meminta ijin untuk menghubungi dokter Ahmad agar mau melakukan terapi pada Kak Yuri disini. Tidak ada maksud lain apapun..”
“Dan jawabanku adalah tidak.. Kita akan menggunakan cara lain..”
“Kalau begitu kenapa tidak menggunakan caraku saja.. aku juga masih memiliki cara lain..”
Azka mengerutkan dahi mendengarnya..
“Jika kau tidak memberikan ijin padaku untuk menghubungi dokter Ahmad dan memintanya datang kemari, aku mungkin bisa mendapatkan ijin itu dari Ibu.. Aku bisa mengatakan padanya jika aku akan lebih menurut dan akan menemani Ibu kemanapun, asal dia mengijinkan Kak Yuri melakukan terapinya dengan dokter Ahmad disini. Atau aku akan meminta ijin pada ayahmu. Pada Bapak, aku yakin akan lebih mudah mendapatkan ijin itu darinya..”
Azka memutar mata mendengar cara atau lebih tepat disebut rencana, yang dengan lancarnya diucapkan oleh Yuna.
Namun ia menemukan nada humor disana, dan sepertinya Yuna pun tidak serius dengan apa yang telah diucapkannya.
“Jadi setelah berhasil mendapatkan hati kedua orangtua ku, sekarang kau berniat menggunakan mereka untuk meloloskan segala permintaanmu?”
Yuna kembali melihat seringai diwajah Azka, saat kemudian pria itu mendekat, membuatnya bergerak mundur dan mendapati pria itu kembali menghimpit tubuhnya.
“Gadis pintar.. Tapi jangan harap kau akan bisa melakukannya..”
Apa yang kemudian dilakukan Azka, sama sekali tidak diperkirakan oleh Yuna. Ia mengira pria itu akan mengeluarkan kata-kata kemarahan, tapi yang terjadi justru Azka meraih pinggangnya dan menggerakkan jemarinya untuk menggelitik disana. Sepertinya pria itu memang sudah menangkap ketidakseriusan dari apa yang telah diucapkannya, dan sekarang Azka juga menanggapinya dengan candaan.
Yuna sedikit menjerit ketika Azka tak juga menghentikan aksi konyol nya, dan suara terkikik dari keduanya, yang secara kebetulan didengar oleh Ny.Dania yang sedang melintas didepan kamar itu, lantas membuat wanita itu membawa langkahnya untuk masuk dan mengetahui apa yang pada saat itu terjadi didalamnya.
Dan yang kemudian dilihatnya benar-benar langsung membuatnya menggelengkan kepala. Azka yang sedang berada didalam kamar mandi bersama dengan Yuna, dan bergurau dengan gadis itu disana..
“Wah.. wah...wah.. Apa yang sedang kalian lakukan? Berduaan didalam kamar mandi.. Astaga, apa kalian tidak berpikir sedang berada dimana kalian sekarang?”
Keduanya sama-sama terkejut mendengar suara Ny.Dania saat itu. Namun wanita itu nampak tidak memperdulikan keterkejutan itu. Ia dengan segera meraih pergelangan tangan Yuna, menariknya agar berada disisinya, sedangkan tatapannya mengarah pada sang putra.
“Mama rasa kau telah berpamitan untuk pergi ke kantor tadi? Tapi kau justru berada disini.. Mama sudah peringatkan, jaga kelakuanmu, Azka..”
“Mama.. Aku memang akan pergi kekantor. Tapi tadi aku memutuskan untuk melihat keadaan Yuna terlebih dulu. Dan yang kulihat tadi, dia sedang membutuhkan bantuan. Maka aku hanya berencana untuk membantunya”
Yuna memutar mata kearahnya..
Jelas tadi ia mengatakan tidak membutuhkan bantuannya.
“Membantu Yuna? Didalam kamar mandi.. Ya Tuhan.. pikiran kotor apa yang berada dikepala mu, Azka..!”
Azka tidak mengira jika sang ibu kemudian justru melayangkan pukulan-pukulan dibahunya.
“Yak.. Yakk.. Mam, kau benar-benar telah menjatuhkan harga diriku didepan tunanganku..”
Protes Azka pada sang ibu kala mendengar Yuna terkikik, menertawainya..
“Sebaiknya kau pergi ke kantor sekarang.. atau Mama akan menyiram mu dengan air kran..”
“Ohh.. baiklah baiklah..”
Begitu Azka keluar dengan gerutuan kesal pada ibunya, Yuna juga melakukan hal yang sama. Ia keluar dari dalam kamar Yuri lantaran Ny.Dania yang menariknya keluar dari sana.
***
**to be continue
Jangan lupa mampir di novel terbaru author ya... judul nya Cinderella after midnight. cerita nya tentang seorang gadis yang di jodohkan dengan pria 40 tahun oleh tantenya untuk menyelamatkan perusahaan peninggalan ayahnya. cerita nya beda dari yang lain, kalian pasti suka... thanks 🙏**