
Sesaat setelah Yuri memejamkan matanya dan deru napasnya yang mulai teratur, dan Azka telah meyakininya tertidur, ia baru keluar dari dalam kamar Yuri dan langsung menemukan Jena yang berada didepan pintu kamar itu.
Jena lah yang sebelumnya memintanya untuk membujuk Yuri karna gadis itu terus saja gelisah dan menanyakan keberadaan Yuna secara terus-terusan. Yuri bahkan menolak untuk berada diatas tempat tidur sebelum melihat Yuna pulang. Kegelisahannya jelas beralasan, mengingat bagaimana tadi Ibu Azka itu memperlakukan adiknya.
Hingga kemudian Azka berhasil membujuknya dan meyakinkan Yuna baik-baik saja, karna ia tahu pasti seperti apa ibunya. Ibu nya tidak pernah bermasalah dengan para pekerjanya.
“Apa Yuna sudah pulang?”
Tanyanya langsung pada Jena..
“Nona pulang, tapi tergesa-gesa saat pergi lagi. Sepertinya ada sesuatu yang teradi?”
“Sesuatu yang terjadi? Dia tidak mengatakan apapun padamu?”
“Nona hanya berpesan agar mengatakan pada nona Yuri, jika dia bertanya, bahwa nona Yuna masih memiliki pekerjaan dari Nyonya..”
“Mama..”
Azka langsung merogoh ponselnya dan lantas menghubungi ibunya. Menanyakan apa yang masih harus dilakukan hingga selarut ini. Namun sang ibu mengatakan ia tidak bersama Yuna ataupun menyuruh gadis itu melakukan sesuatu. Ibunya bahkan telah menyuruh supir untuk menjemputnya dan membawa Yuna pulang kerumah.
Jadi kemana gadis itu pergi, sekarang?
Azka memutus sambungan telponnya dan segera menghubungi nomor ponsel Yuna namun gadis itu tidak menjawab, bahkan setelah tiga kali berturut-turut Azka melakukan dial dari ponselnya.
“Astaga.. Gadis itu kembali mengulangi kesalahannya. Untuk apa dia dibekali ponsel jika dalam keadaan darurat seperti ini, dia bahkan tak menjawab ponselnya..”
Azka tak bisa berdiam diri dan menunggu. Maka kemudian Ia menyambar kunci mobilnya.
***
Setelah terlebih dulu membeli beberapa ramen dari mini market yang terletak disekitar rumahnya, Yuna lantas menuju rumah kecilnya yang telah beberapa lama tak ditempati.
Menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai pintu rumahnya, Yuna merutuki kebodohannya setelah menyadari ia tak membawa kunci rumahnya. Dan bagaimana caranya untuk membuka gembok pada pintu itu?
Yuna akhirnya menemukan cara dengan menggunakan batu, dan justru kemudian merasa miris karna gembok pada pintu rumahnya dapat dengan mudah terbuka hanya dengan sekali pukulan batu yang dilakukannya.
“Menyedihkan..”
Yuna bergumam lirih, sambil membuka pintu rumahnya dan masuk kedalamnya, setelah terlebih dulu kembali mengunci pintu itu dari dalam.
Dengan mengabaikan pengapnya udara, Yuna lantas menekan saklar untuk menyalakan lampu yang kemudian menerangi bagian kecil dari ruang tamu rumahnya. Terdapat satu sofa lusuh disana, yang kemudian digunakan Yuna untuk meletakkan tas selempangnya.
Selanjutnya, Yuna menuju bagian yang menjadi favoritnya, dapur. Yuna sangat menyukai berada didapur rumahnya yang kecil dan melihat Yuri menyiapkan makanan untuknya. Tapi kali ini ia yang akan melakukannya. Yuna lantas mengeluarkan beberapa bungkus mie instan yang tadi sempat dibelinya, dan mencari-cari peralatan memasaknya.
***
Setelah menemukan dimana keberadaan Yuna melalui alat pelacak yang dipasang didalam ponselnya, Azka memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan langsung saja memarkir kendaraannya itu dipinggiran jalan begitu mencapai tempat yang menjadi tujuannya.
Selanjutnya, Ia berlari untuk mencapai sebuah tangga yang kemudian akan menghubungkannya dengan sebuah pintu. Pintu rumah Yuna.
Ia sedikit menggeram melihat kondisi pintu rumah itu..
“Sialan..! Mengapa masih ada hal mengerikan seperti ini..”
Azka yakin ia dapat dengan mudah merobohkan pintu didepannya itu hanya dengan sekali tendangan.
Dan fakta bahwa Yuna berada didalamnya, dan mungkin sedang berpikir dia akan terlindungi dengan pintu rumah semacam itu benar-benar membuat Azka marah dan tanpa perlu mengetuk, Azka langsung melakukan gedoran-gedoran kencang pada pintu.
“Yuna..! Apa yang kau lakukan didalam sana? Buka pintunya.. Sebelum aku menghancurkannya.. Yuna! Kau pasti mendengarnya kan..? Yuna.. Yu..”
Azka sedikit terlonjak saat pintu itu terbuka dan Yuna yang langsung membekap mulutnya.
“Benar-benar pria tidak tahu sopan santun. Kenapa berteriak-teriak dan menggedor pintuku? Kau ingin menghancurkannya..”
Yuna menggerutu kesal, dan kemudian meninggalkan Azka berdiri disana. Namun kemudian Azka dengan cepat menyusulnya, menarik tangannya, merengkuh pinggangnya dan langsung memeluknya.
“Kau tidak apa-apa kan?”
“Pak, lepaskan aku..”
“Katakan padaku bahwa kau tidak apa-apa..”
“Pak, kau konyol.. Untuk apa aku mengatakan hal seperti itu. Kau bisa melihat sendiri.. Jadi sekarang lepaskan aku”
“Aku khawatir melihat pintu sialan itu..”
Yuna memutar mata mendengarnya..
“Apa kau baru saja menyebut pintu rumahku ‘sialan’ ”
Azka hanya mengangkat kedua bahunya, seolah apa yang tadi dikatakannya bukanlah masalah karna kenyataannya memanglah seperti itu.
“Bau apa ini?”
Azka menggunakan hidungnya untuk mengendus-endus udara disekitarnya, dan apa yang dilakukannya langsung menyadarkan Yuna dari kegiatan memasaknya..
“Ya Tuhan.. Kau mengacaukan masakanku..”
Yuna terbirit berlari kearah dapurnya, dan Azka juga lantas membuntutinya.
Ia melihat Yuna yang mengaduk-aduk sesuatu yang berada didalam panci, dan menjadi tertarik untuk mengetahui apa yang sedang dimasak olehnya.
“Baunya enak.. Bolehkah aku mencicipinya?”
Yuna merasa bulu kuduknya meremang, Azka tepat berada dibelakangnya dan melihat apa yang sedang dimasak olehnya dengan meletakkan kepala diatas bahunya.
“Hanya mie instan.. Menyingkirlah, aku harus mengangkatnya.”
“Biarkan aku yang melakukannya.. Kau siapkan meja dan jangan lupakan untuk memberiku mangkuk. Aku merasa lapar setelah mencium bau masakanmu..”
Azka menggeser tubuh Yuna agar menyingkir, dan mendorongnya untuk menyiapkan meja, sementara ia kemudian mengangkat panci itu dari atas kompor.
“Aku tidak tahu..”
“Kau bisa membakar rumahku..”
“Percayalah, aku memang sudah memiliki niat untuk melakukannya”
Yuna membulatkan mata mendengarnya, namun memutuskan untuk mengabaikan hal itu, dengan lantas mengambil duduk didepan panci itu dan mulai mengisi mangkuknya dengan menggunakan sendok.
“Tidakkah seharusnya kau melayaniku terlebih dulu?”
Azka memprotes ketika melihat Yuna menyeruput kuah mie instan dari mangkuknya.
“Kau bisa melakukannya sendiri kan.. Gunakan kedua tanganmu, tidak perlu dilayani?”
“Apa kau juga akan memperlakukanku seperti ini jika kita menikah nanti..?”
Yuna tersedak dan buru-buru mencari air minum dari kantong yang berasal dari mini market tadi, sedangkan Azka hanya tersenyum melihatnya. Bahkan terlihat santai ketika ia mulai memakan mie instan itu dari mangkuknya.
“Uwahh.. Ini benar-benar enak, Yuna. Dimana kau belajar membuatnya?”
“Jangan membual, semua orang bisa memasak seperti ini..”
Yuna kembali mendudukkan tubuhnya, dihadapan Azka dan kembali menikmati mie instan buatannya.
“Kenapa kau berada disini?”
“Kenapa kau bisa menemukanku disini?”
“Jawab dulu pertanyaanku..”
“Aku hanya rindu berada disini..”
“Kenapa tidak mengatakan dulu padaku jika kau ingin pulang?”
“Bukankah itu tak perlu..”
“Apa maksudmu?”
“Tidak.. Lupakanlah. Jadi bagaimana kau bisa menemukanku?”
“Kemana lagi kau bisa pergi.. Kau bukan putri konglomerat, atau gadis dengan karir gemilang yang berinvestasi dengan membeli puluhan rumah dan bisa pergi kemanapun tempat dimuka bumi ini. Kau hanya gadis belia yang memiliki satu tempat, disini..”
Yuna mendengus mendengarnya..
“Aku hanya bercanda.. Sebenarnya aku bisa menemukanmu karna Mama memasang GPS atau semacam alat pelacak, didalam ponselmu”
“Ibumu melakukan itu?”
“hm, dan berguna bukan..”
Azka mengedikkan mata, membuat Yuna dengan cepat mengalihkan tatapannya dengan berkonsentrasi menghabiskan mie didalam mangkuknya.
Melihat Azka yang sudah mendorong mangkuknya yang telah kosong, Yuna pun lantas melakukan hal yang sama.
Ia mengambilnya dari atas meja beserta dengan pancinya yang telah kosong dan kemudian membawanya kedapur untuk membersihkannya.
“Pak.. Apa kau akan..”
Yuna kembali menghampiri Azka dan menemukan pria itu kini sudah berbaring diatas sofa nya yang usang. Dan menggunakan sebelah lengannya sebagai bantal.
“Pak..”
Yuna ingin memastikan apakah saat itu Azka tertidur atau hanya berpura-pura..
“Pak Azka..”
Yuna menggerakkan kakinya, merasa lucu dengan keadaan kaki Yuna yang menggantung karna ukuran sofanya yang lebih kecil bila dibandingkan dengan tinggi tubuh Azka.
“Apa kau benar-benar sudah tidur? Pak..”
Kenapa Azka begitu cepat tertidur?
Ia bahkan masih ingin menanyakan alasan mengapa Azka sampai perlu mencari keberadaanya. Bukankah pria itu tadi mengatakan pada sang kakak, akan berada dikamar Yuri dan menemaninya.
Teringat akan hal itu membuat Yuna merasa kesal dan akhirnya meninggalkan Azka tertidur disana dengan masuk kedalam kamarnya.
Tak lama setelah ia masuk kedalam kamarnya, dan sedikit melakukan bersih-bersih pada tempat tidurnya, Ia mulai membaringkan tubuhnya miring diatas tempat tidurnya yang kecil, yang sangat berbeda jauh ukuran besar dan kenyamanannya bila dibandingkan dengan tempat tidurnya yang berada dirumah Azka, Yuna baru saja ingin memejamkan kedua matanya ketika Ia justru merasakan ranjangnya berderit akibat dari pergerakan seseorang yang naik keatas tempat tidurnya.
Meletakkan tangan diatas perutnya dan kemudian makin merapatkan tubuhnya.
Membuat Yuna langsung dapat merasakan kehangatan dari tubuh dibelakangnya. Dan hanya dari aroma parfumnya yang menguar yang kini memenuhi kamar sempitnya, ia telah mengetahui siapa yang saat itu berani naik keatas tempat tidurnya. Karna memang hanya dia lah satu-satunya orang selain dirinya yang pada saat itu berada dirumahnya.
“Pak..! Apa yang kau lakukan?”
Yuna dengan cepat memutar tubuhnya berbalik menghadap pada Azka, namun apa yang dilakukannya terasa salah karna wajahnya kini justru berhadapan langsung dengan dada kokoh pria itu.
Astaga..
Hal itu untuk sesaat membuatnya menahan napas, namun kesadarannya dengan cepat memukulnya mengetahui Azka telah menanggalkan pakaiannya.
Ya Tuhan..
Apa yang ingin dilakukan Azka padanya.
“Dasar pria mesum.. Pak Azka..! Keluar dari kamarku!”
***
to be continue