At First Sight

At First Sight
Episode 113



Pagi harinya, saat terbangun dari tidurnya Yuri mendapati Yuna tengah berdiri diam didepan jendela kamar. Pandangannya lurus kedepan, entah apa yang sedang dilihatnya. Yang Yuri sangkakan sang adik sedang melamun, karna keadaan diluar villa masihlah terlalu gelap untuk dapat mengamati sesuatu.


“Yuna..”


Tak ada sahutan, bahkan setelah Yuri mengulangnya sekali lagi.


“Yun..”


Kali ini Yuna menoleh, dan sesuatu seakan menghantam Yuri dengan begitu keras, saat melihat Yuna yang kemudian tergugup berusaha menghapus airmata diwajahnya.


Bila dibandingkan dengannya, dilihat dari muram diwajahnya, Yuna pastilah jauh lebih sakit. Dan itu karna dirinya. Karna kurangnya kehati-hatiannya untuk menutup mulut dan mengontrol emosi dalam dirinya.


Hingga kalimat tak pantas serta kenyataan yang tak seharusnya terungkap, dapat ia ucapkan dengan tanpa memikirkan perasaannya.


Tuhan..


Ampuni aku..


Yuri menggumam dalam hati seraya menahan airmatanya sendiri. Ia lantas meminta Yuna untuk mendekat padanya..


“Iya, Kak..”


“Kemarilah..”


Yuri yang telah dalam posisi duduk dipinggiran tempat tidur, menepuk bagian disampingnya, mengisaratkan agar Yuna berada disana.


“Apa kau tidak tidur semalam?”


Yuna menggeleng, meski itu benar. Ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Perasaannya kacau, campur aduk menjadi satu dan memenuhi kepalanya.


“Tidak, aku baru saja terbangun”


Senyumnya dipaksakan. Yuri ikut memaksakan senyumnya, tak membahas airmata Yuna karna dirinya tahu jika ia melakukannya, hanya akan membuatnya dengan mudah dapat menangis lagi dengannya. Yuri memilih meraih tangan Yuna dan menggenggamnya.


“Yuna..”


“hm..?”


“Ayo kita pulang”


“Maksud kakak?”


“Ayo kita pulang ke rumah kita. Rumah peninggalan Ayah dan Ibu. Rumah kecil namun memberikan kebahagiaan yang begitu besar untuk kita. Aku harap kau masih beranggapan sama seperti itu”


Yuna meremas tangan Yuri memberi respon..


“Tentu saja Kak.. Tak ada yang lebih indah dan membahagiakan selain berada disana bersama Ayah, Ibu dan juga Kakak”


“Rumah kita masih ada kan? Kau tidak menjualnya?”


Yuna menggeleng..


“Maafkan aku karna saat itu tak mengatakannya pada kakak. Aku hanya…”


“Tidak apa-apa, aku mengerti..”


Yuri tersenyum lalu kemudian menarik Yuna untuk berdiri..


“Ayo kita bersiap..”


“Bersiap kemana nona-nona?”


Jena masuk dengan membawa lebih dari dua paper bag ditangannya.


“Jena..”


“Ini pakaian untuk anda, semalam Arkhan memintaku untuk membelinya. Dan aku mengalami kesulitan saat memilih pakaian untuk wanita feminim. Tapi, semoga kalian menyukainya..”


Jena tersenyum, meletakkan paper bag ditangannya keatas tempat tidur.


“Terimakasih Jena, maaf merepotkan”


“Jadi apa maksudnya kalian akan bersiap?”


“Kami akan pulang kerumah kami..”


Yuri yang memberi jawaban kemudian mendapatkan anggukan persetujuan dari Yuna.


“Tapi nona, anda masih belum pulih”


“Aku tidak apa-apa..”


“Tidak, Tidak.. Aku akan memberi tahu Tn. Azka”


Yuna reflek menarik pergelangan tangan Jena yang telah merogoh saku celananya begitu mendengar nama Azka disebutkan olehnya.


“Jangan menghubunginya.. Aku minta kau jangan menghubunginya, Jena”


“Tapi nona..”


Yuna memberinya tatapan permohonan..


“Baiklah kalau begitu, tapi Arkhan harus mengetahui rencana kalian”


Jena meninggalkan keduanya yang sedang sama-sama mengerutkan dahi, heran saat Jena berjalan cepat keluar dari dalam kamar dengan memanggil-manggil Arkhan.


Tak berapa lama, belum hilang keheranan yang menggurat diwajah Yuna maupun Yuri, Arkhan masuk dengan memberondongkan pertanyaan kearah keduanya.


“Apa yang Jena katakan benar? Apa maksudnya? Kalian berencana pulang? Pulang kemana, kalian bisa tinggal disini. Kau belum pulih Yuri.. Jawab aku Yuna, kalian tidak akan kemana-mana kan?”


“Arkhan..”


Yuri yang lebih dulu mendekat..


“Aku dan Yuna ingin kembali kerumah kami. Aku tak ingin terlalu banyak merepotkanmu..”


“Omong kosong, rumah yang mana? Apa rumah yang bahkan tak layak untuk kalian tinggali itu? Kalian akan pergi kesana? Demi Tuhan Yuri, aku tidak merasa direpotkan. Sama sekali tidak..”


“Kau menyakiti ku Arkhan. Kau melukai ego ku dengan menyebut rumah peninggalan orangtua ku seperti itu”


“Maaf, tapi aku tak bermaksud.. Mengertilah Yuri, aku masih tak bisa membiarkanmu pergi. Setidaknya tunggulah beberapa hari sampai kau benar-benar pulih”


“Aku baik-baik saja. Aku merasa tak nyaman disini. Aku ingin kembali kesana dengan Yuna. Mengertilah, kami perlu bersama-sama dan memperbaiki apa yang telah terjadi dan membuat kami saling merasa tersakiti. Aku tak ingin mengulang yang seperti itu”


Arkhan meremas rambutnya frustasi, setelah tak menemukan satu kalimatpun untuk menyanggah dan menahan keinginan Yuri.


“Baiklah, berikan kunci rumah kalian.. Aku akan menyuruh orang untuk membersihkannya terlebih dulu sebelum kalian sampai disana”


Yuri beralih dari Arkhan, mengarahkan tatapannya pada Yuna untuk tahu kemana sang adik menyimpan kunci rumah mereka. Namun Yuna menggeleng sambil menggigit bibir bawahnya.


“Maaf, tapi aku menyimpan kuncinya didalam tas dan meninggalkannya dirumah Azka”


“Kalau begitu jangan menyalahkanku karna aku akan menyuruh orang yang akan membersihkan rumah kalian agar mendobrak pintunya”


Arkhan tak hirau dengan apa yang kemudian Yuri maupun Yuna katakan, ia telah sibuk dengan ponselnya dan berbicara dengan orang yang dihubunginya.


“Bersiaplah, aku akan mengantar kalian”


“Terimakasih Arkhan”


Yuri menunjukkan senyum diwajahnya, membuat pria itu bersumpah dalam hati untuk melakukan apapun yang bisa membuat senyum itu terus bertahan diwajah gadis yang dicintainya.


“Aku akan meninggalkan kalian..”


“Tunggu Kak..”


Yuna menahan langkah Arkhan..


“Ada apa?”


“Tolong jangan memberitahu Azka jika aku..”


“Maaf tapi itu bukan permintaan yang bisa aku kabulkan, Yuna. Kau tak tahu berapa kali semalam dia menghubungiku? Dia benar-benar mengganggu..”


Ucap Arkhan santai, tak perduli Yuna menunjukkan wajah memberengut mendengarnya. Ia hanya mengangkat kedua bahunya dan sedikit menunjukkan senyum sambil lalu meninggalkan kamar itu.


Tak kurang dari satu jam setelahnya, mereka meninggalkan villa. Jena yang mengemudi sementara Arkhan berada dikursi sebelahnya dan membiarkan Yuri berada dikursi belakang bersama Yuna.


Di dalam mobil Yuna mengatakan permintaannya yang cukup mengejutkan. Setidaknya mengejutkan bagi Yuri. Yuna mengatakan ingin mengunjungi makam kedua orangtua nya sebelum kembali kerumah mereka.


Setelah beberapa saat terdiam, Yuri akhirnya mengiyakan dan meminta pada Arkhan untuk menemani Yuna, sementara dirinya justru tetap berada didalam mobil bersama Jena. Bukan ia tak mau menemani Yuna. Yuri hanya merasa tak sanggup bila harus kembali kesana dan berada didepan pusara orangtua nya setelah ia melanggar janjinya, setelah apa yang dilakukannya pada Yuna.


“Aku akan membeli bunga”


Ucap Arkhan saat keluar dari mobil..


Menerima anggukan dari Yuna, ia kemudian berlari menghampiri penjual bunga yang berada tak jauh dari area pemakaman. Kembali beberapa saat setelahnya dengan dua rangkaian bunga ditangannya yang kemudian diserahkannya pada Yuna.


“Terimakasih.. Kurasa aku bisa sendiri, kau tidak perlu menemaniku, Kak”


Yuna melangkah lebih dulu, sementara Arkhan berada dibelakangnya.


“Aku benar-benar menyukaimu memanggilku seperti itu”


Arkhan tak menanggapi apa yang dikatakan Yuna, tapi malah mengomentari bagaimana cara gadis itu yang kini memanggilnya dengan sebutan Kakak.


“Bukankah kau yang memintaku melakukannya?”


“Apa dengan kata lain kau merestui aku menjadi kakak iparmu?”


“Apa Kakak ku sudah menerimamu?”


Yuna membalikkan pertanyaan dengan senyum seakan mengejek yang diperlihatkan diwajahnya.


“Jangan menggodaku dengan senyum seperti itu.. Kau akan terkejut saat aku mendapatkan kakakmu”


Yuna mendesah, menghentikan langkah dan membalikkan tubuhnya menjadi berhadapan dengan Arkhan..


“Tapi Kak Yuri sudah mencintai pria lain”


“Apa maksudnya Yuri sudah mencintai pria lain? Apa sebelumnya Yuri mencintaiku?”


“Ck! Kakak ku mencintai pria lain. Itu maksudku..”


Arkhan menahan tawa..


Mengapa rasanya menyenangkan mengetahui ia berhasil menggoda gadis itu.


“Aku tahu, Azka kan maksudmu?”


Yuna mengangguk..


“Jadi sekarang pembahasan beralih ke Azka? Kau ingin membicarakan pria itu? Kau merindukannya?”


Yuna memutar mata menyadari Arkhan mengalihkan kenyataan Yuri yang mencintai pria lain, dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang justru dimaksudkan untuk menggodanya. Tak ingin menanggapinya, Yuna dengan segera kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat meninggalkan Arkhan yang menahan geli melihatnya.


Sampai didepan pusara kedua orangtua nya (rasanya lebih terasa sakit mengingat mereka bukanlah orangtua kandungnya) Yuna meletakkan rangkaian bunga pada masing-masing pusara mereka dan lantas melakukan penghormatan. Setelahnya, ia tak bisa menahan dirinya. Tubuhnya langsung terduduk bersimpuh dengan derai airmata yang dengan begitu deras membasahi wajahnya.


“Ibu.. Ayah.. Aku rindu..”


Yuna seakan tak bisa berkata-kata lagi. Apa yang keluar dari bibirnya tadi bahkan terucap dengan tersendat-sendat. Ia hanya masih tak mempercayai mereka bukanlah orangtua kandungnya, dirinya bukanlah putri kandung mereka.


Yuna terus menangis tersedu, sampai kemudian Arkhan merengkuh kedua bahunya, mengajaknya untuk berdiri.


“Sudahlah.. Kau datang bukan untuk memperlihatkan kesedihan dihadapan mereka kan..”


Arkhan mengusap rambutnya, entah apa yang mendorong Yuna untuk kemudian menghambur kepelukan pria itu dan menyembunyikan tangis didadanya.


“Aku bukan putri mereka, Kak..”


Ucapnya disela isak tangis..


“Kau sedih karna hal itu?”


Yuna hanya mampu mengangguk, tangisnya benar-benar masih tak bisa surut. Tangan Arkhan juga masih berada diatas kepalanya, mengusap-usap rambutnya. Sampai kemudian Yuna tersadar dengan apa yang dilakukannya. Ia dengan segera bergerak mundur dari Arkhan..


“Maaf..”


“Tidak apa-apa. Kau bisa lebih tenang sekarang?”


“Sedikit..”


“Hanya sedikit?”


Yuna mengangguk..


“Bertahun-tahun aku hidup bersama mereka dengan anggapan mereka adalah orangtua kandungku. Tapi…”


“Tapi? Apa mereka tidak menyayangimu?”


Yuna menggeleng..


“Apa kau sedang meragukan kasih sayang mereka padamu tulus atau tidak?”


Yuna kembali menggeleng..


“Jadi apa masalahnya?”


“Aku tidak tahu, aku tak bisa menjelaskan apa yang kurasakan sekarang.. Aku hanya benar-benar bersedih..”


“Dengarkan aku Yuna.. Apa kau tidak berpikir kau sedang membuat mereka ikut menangis melihatmu saat ini? Mereka mencintaimu, mereka memberikan kasih sayang tulus padamu, tapi setelah kau mengetahui mereka bukanlah orangtua kandungmu, apa kau menyesal menerima kasih sayang mereka..”


“Tidak, tentu saja tidak.. Meski kadang kami merasakan sulit, tapi Aku merasa bahagia hidup bersama mereka. Aku mencintai mereka..”


Yuna kembali menghadap pada makam orangtua nya, menyeka airmatanya dan dengan sedikit bersusah payah berbicara didepan tanah pusara itu..


“Ayah Ibu, aku benar-benar merindukan kalian. Terimakasih untuk semuanya.. Aku masih tak bisa membalas apa-apa. Aku justru menyakiti Kak Yuri. Maafkan aku.. Aku janji akan memperbaikinya. Aku janji akan hidup dengan baik bersama Kakak. Sungguh, aku benar-benar ingin kalian adalah orangtua kandungku.. Aku.. Aku..”


Kalimatnya kembali tersendat oleh isak tangis, hingga Yuri tiba-tiba berada disampingnya, dan kemudian memeluknya erat tanpa berkata-kata. Rasanya sama seperti beberapa tahun yang lalu saat keduanya berada disana menangisi kepergian orangtua nya.


***


tbc