
“JANGAN BERANI KAU MENGUNCI KAMARMU AZKA.. AWAS JIKA KAU MELAKUKANNYA SEMENTARA GADIS ITU BERADA DIDALAMNYA..! TETAP BUKA PINTUNYA AGAR AKU BISA MENGAWASI KALIAN..”
Astaga..
Bisakah aku mengukur berapa oktaf dalam nada teriakannya tadi..
“AZKA..! KAU MENDENGAR MAMA..!”
“IYA MAMA.. AKU TAU..! Yuna kemarilah..”
Sialan..
Aku mengumpat dengan keras didalam hatiku, saat Azka kembali memanggilku. Dengan wajah mengeras, aku menghampirinya.
Menunjukkan keengananku untuk membantunya, juga kemarahan setelah bagaimana semalam dia memperlakukanku dengan menunjukkan betapa brengseknya dia dihadapanku..
“Apa yang bisa saya bantu, Pak..?”
“Oh, tunanganmu ini sedang membutuhkan kemejanya.. Bisa kau mencarikannya untukku..”
Aku memutar tubuhku dan menyadari betapa luasnya sebuah kamar yang ditempati olehnya. Lebih luas daripada kamar yang kutempati. Melihat begitu banyaknya lemari yang berjejer dan dipenuhi oleh semua pakaian-pakaiannya.
Bukankah seharusnya dia bisa mengambil salah satu diantaranya, tanpa perlu meminta bantuan oranglain.
Menyebalkan..
“Perlu berapa lama untukmu mengagumi kamarku? Kau bisa memilikinya setelah menikahiku.. Kau ingin aku untuk secepatnya menikahimu?”
Aku mendecak melihat seringai diwajahnya. Setidaknya dia tidak akan macam-macam seperti semalam setelah ibunya memberikan ancaman tadi.
“Jangan membicarakan hal-hal yang tidak mungkin, sajangnim.. Saya tidak akan menanggapi..”
Aku bergerak mendekati salah satu lemari, membukanya dan mendapati kemeja dengan berbagai jenis warna berada didalamnya.
“Aku membutuhkan yang berwarna putih..”
Dia memberitahuku, dan masuk kedalam kamar mandi setelah terlebih dulu menyambar sebuah celana panjang yang tergantung. Aku bisa mencium aroma dari sabun mandi yang menguar dari tubuhnya.
Berbau harum dan segar..
Astaga..
Itu bukan sesuatu yang seharusnya kunikmati.
Dia keluar tak berapa lama setelahnya dan menerima kemeja pemberianku. Memakainya dan lantas mengambil sebuah dasi yang justru dia ulurkan padaku..
“Kau bisa memakaikan ini?”
“Anda tentu bisa memakai itu sendiri..”
Dia akan bersikap mengesalkan lagi, karna itu aku segera berpikir untuk menghindar. Namun yang terjadi dia tidak membiarkanku beranjak menjauh darinya, dia menarik pinggangku dan membuat dada kami bersentuhan, tubuhku nyaris menempel pada tubuhnya.
“Pak.. Anda akan membuat Nyonya salah paham lagi..”
“Tunanganmu membutuhkan bantuan.. Kau tidak seharusnya mengabaikannya..”
Aku mencoba melepaskan diri, namun dia justru menarikku lebih kuat.
Brengsek..
“Pakaikan ini untukku atau kau takkan pernah kulepaskan..”
“Pak Azka..!”
Aku mengambil dasi itu dari tangannya dan menyentakkan lengannya dari pinggangku.
Mengalungkan dasi itu pada kerah kemeja di lehernya dan dengan kencang mengikatnya.
Aku ingin membuatnya tercekik dan sepertinya aku sudah melakukannya saat dia mulai terbatuk..
Namun aku terpaksa menghentikan dan menjauhkan tanganku ketika mendengar seseorang bersuara dibelakangku..
“Apa yang sedang kau lakukan pada putraku, Yuna! Kenapa Azka sampai terbatuk seperti itu..?”
benar-benar sial..
Mengapa sih ibu Azka selalu berada pada waktu yang tidak kuinginkan. Mungkinkah dia memiliki indra keenam yang bertugas untuk mengawasiku..
Aku melihat Azka ingin mengatakan sesuatu namun aku menghentikannya dengan lebih dulu menyingkir dari hadapannya dan lantas berbalik menghampiri ibunya yang sudah kuduga memberikan tatapan marah padaku..
“Ibu..”
Dia melebarkan mata dengan bagaimana aku mengubah caraku memanggilnya..
“Ibu.. Maafkan aku, Azka memintaku untuk memasangkan dasi miliknya. Tapi sepertinya aku menyakitinya.. Maaf, aku belum pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya.. Aku tidak pernah memasangkan dasi pada seorang pria..”
Aku melihat kilatan dimatanya berkurang, itu berarti aku harus berkata dengan manis padanya..
“Ibu harus mengajarkan padaku bagaimana caranya.. Aku tak ingin membuat Azka tersakiti lagi..”
Aku mengarahkan tatapanku pada Azka, pria itu memutar mata kearahku dan aku memberikan tatapan kesal kepadanya.
“Jadi itu masalahnya?”
Aku mengangguk, memberikan sedikit senyum ketika kusadari dia mulai melunak..
“Perhatikan bagaimana aku melakukannya..”
Aku mengikuti ibu Azka mendekat padanya, dan bagaimana caranya memakaikan dasi itu untuk putranya.
Aku tidak memperhatikan sebenarnya..
Aku justru memicingkan mata, menahan senyum puas diwajahku.
“bagaimana Yuna.. Kau bisa melakukannya?”
“euh.. Ya, aku mungkin bisa mencobanya nanti..”
Aku kembali tersenyum pada Ibu Azka..
“Tidak perlu.. Aku bisa terlambat.. Terimakasih ma, aku harus pergi..”
Dia mencium pipinya dan beralih mengambil tas kerjanya, setelahnya dia berhenti didepanku. Aku melihat seringai diwajahnya dan berharap dia tidak akan melakukan apa yang seperti dia lakukan pada ibunya dengan menciumku.
Aku akan mencekiknya lagi bila dia berani menciumku…
Dan kemudian dia mencondongkan tubuhnya, berbisik dengan suara yang sangat lirih dengan napasnya yang menggelitik dibelakang telingaku..
“Cium aku.. Atau aku yang akan menciummu..!”
Sialan…!!
***
**to be continue