
Sekitar pukul tujuh malam ketika Azka tiba dirumah, Ia mendapati keadaan yang sepi didalamnya. Melangkah ke ruang makan, Ia hanya mendapati Bibi Lia yang berada didapur dan sedang berurusan dengan peralatan memasaknya.
“Bibi..”
“Oh, Azka.. Kau sudah pulang..”
Bibi Lia tersenyum, melepas sarung tangan karet yang dikenakannya dan meninggalkan setumpuk peralatan memasak yang sedang Ia cuci, untuk kemudian menghampiri Azka.
“Dimana Papa dan Mama..”
“Tuan masih belum pulang.. Dan Ibu mu berada didalam kamar”
“Oh..”
Azka tak berkomentar banyak, mendudukkan tubuhnya dan lantas meminum segelas air putih yang dituangkan Bibi Lia untuknya.
“Kau tidak menanyakan dimana gadis yang telah menjadi tunanganmu?”
Azka sedikit ragu untuk menjawab apa yang dikatakan Bibi Lia padanya..
“Hm.. ya, dimana Yuna?”
“Dia sedang menjalani hukuman..”
“Apa..! Hukuman?”
Bibi Lia mengangguk..
“Sepertinya gadis itu membuat kekacauan saat menghadiri acara amal tadi. Ibu mu hanya mengatakan padaku jika Yuna berkelahi dengan Jessica..”
Azka melebarkan mata mendengarnya..
“Berkelahi?”
“Hm, itu yang ibumu katakan..”
“Dimana Yuna sekarang?”
“Ibumu menghukumnya untuk membersihkan taman bunganya dihalaman belakang. Sudah sejak beberapa jam yang lalu Yuna berada disana..”
Azka meletakkan tas kerjanya dan langsung melangkah cepat ke halaman belakang rumahnya. Mencari-cari keberadaan Yuna disana, yang sepertinya sedang mengalami kesusahan karna ibu nya telah memberikan hukuman yang cukup berat untuknya. Hingga Yuna perlu berjam-jam berada dihalaman belakang rumahnya hanya untuk menyelesaikan hukumannya.
Namun ketika mendapati Yuna tersenyum dibawah sinaran lampu taman yang meneranginya, saat memainkan selang air ditangannya dan Azka sepintas mendengar gadis itu bersenandung, menggumamkan nyanyian dari bibirnya, Ia menilai gadis itu justru tengah menikmati hukuman yang diberikan oleh ibunya.
Yuna memang hanya tinggal menyiram semua tanaman bunga yang tertanam dengan indah disana. Setelah sebelumnya Ia menyelesaikan mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh dalam setiap pot bunga, memotong daun-daunnya yang kering dan menyemprotkan pupuk cair atau sejenis obat penyubur tanaman, Ia tak paham mengenai itu. Yang pasti, Ibu Azka lah yang mengajarkannya untuk melakukan semua itu.
Setelah sebelumnya terlebih dulu Yuna mengganti gaunnya yang basah dan bernoda merah dari anggur, dengan hanya mengenakan celana pendek dan atasan berwarna biru. Menyisir rambutnya yang kusut dan lantas mengikatnya menjadi dua bagian. Ia juga sempat mengumpat kesal pada Jessica yang telah menggoreskan luka cakaran yang terasa perih pada bagian atas lehernya. Bukan hanya kata-kata nya yang tajam, wanita itu juga memiliki kuku-kuku yang sama tajamnya.
Benar-benar sial dan
Menyebalkan..
Selesai dengan mengganti pakaian dan merapikan dirinya, Yuna langsung keluar dan turun dari kamarnya untuk menemui Ny.Dania. Wanita itu juga langsung mengatakan sebuah hukuman yang diterimanya akibat ulah perkelahiaannya dengan Jessica, ialah menggantikan tugas tukang kebunnya untuk membersihkan tanaman-tanaman bunganya yang jumlahnya mencapai ratusan.
Yuna sempat melebarkan mata mengetahui dirinya harus menyelesaikan pekerjaan itu seorang diri. Namun hanya itu respon yang ditunjukkannya sebelum akhirnya mengangguk patuh. Tak bisa melakukan protes dibawah tatapan mengerikan dari Ibu Azka, menjadi kesialan lain dirinya dihari itu..
Sepuluh menit pertama yang dilakukan Yuna adalah menggerutu kesal pada Ibu Azka yang sudah meninggalkannya disana. Tapi sepuluh menit berikutnya, Ia sudah cukup bisa menikmati apa yang harus dilakukannya, hingga sepuluh menit setelahnya Yuna merasakan kesenangan berada disana.
Berada diantara warna-warni bunga itu, membuatnya menemukan keceriaannya sebagai seorang gadis, sesuatu yang telah lama tak dirasakannya. Dan keharuman dari bunga-bunga yang mengelilinginya bagaikan sedang merilekskan dirinya dari perasaan tertekan yang dirasakannya.
“Tunggu sampai besok pagi, aku pasti akan merangkai kalian menjadi lebih indah..”
Yuna mencium salah satu bunga mawar yang masih menguncup. Menghirup wanginya yang segar dihidungnya dan kembali menyiramkan air dari selang ditangannya..
“Jika aku tahu Nyonya tidak terlalu marah dan hanya memberikan hukuman semacam ini.. Aku menjadi menyesal, seharusnya aku tak menghentikan perkelahian dengan wanita itu dan membalas cakarannya. Dia benar-benar wanita gila menyebalkan..”
Azka tersenyum sedikit geli mendengar gerutuan Yuna saat itu. Ia masih hanya diam memperhatikan gadis belia yang berada tak jauh darinya itu memainkan selang dan bermain-main dengan air yang keluar dari dalamnya.
Dengan celana pendek yang dikendalamnya. Azka baru menyadari jika gadis itu sedang mengekspos kaki jenjangnya.
bagaimana bisa gadis yang bahkan baru berusia delapan belas tahun memiliki kaki sepanjang itu dan indah. bagaimana dia tumbuh secepat itu?
apa yang dia konsumsi hingga dapat menumbuhkan kaki sepanjang itu?
mungkin dia juga perlu mengkonsumsi sesuatu itu untuk membuat dada nya semakin bertumbuh. hingga ibu nya tak perlu lagi untuk mencelanya.
Astaga..
Sial..
Azka mengerang dalam hati dan menggeleng-gelengkan kepalanya. berharap apa yang berada didalam pikirannya mengenai Yuna bisa terlepas.
Dan jangan sampai ia dibuat limbung hanya karna sepasang kaki.
Beralih dari pikirannya yang kacau, Azka lantas mendekat pada Yuna yang masih tak menyadari keberadaannya disana..
“Jadi se-seru apa pertarunganmu dengan Jessica?”
Yuna terkejut dengan suara berbisik dari Azka yang tiba-tiba telah berada dibelakangnya, hembusan napas ditengkuknya membuat nya meremang. Berbalik, Yuna tanpa sengaja menyiramkan air dari selang ditangannya ketubuh Azka. Membuat Azka berjingkat terkejut memundurkan tubuhnya..
“Yuna..! apa yang Kau lakukan..!!”
“Oh, Pak Azka maaf.. Aku tidak sengaja. Maafkan aku..”
Yuna melempar selang ditangannya dan langsung mendekati Azka. Mencoba mengeringkan kemeja Azka yang basah dengan menggunakan tangannya.
“Ya ampun.. Bagaimana ini?”
“Kenapa Bapak tiba-tiba muncul dibelakangku?”
“kenapa kau justru menyalahkanku!?”
Ucap Azka dengan kesal, membuat Yuna menghentikan usahanya untuk mengeringkan kemejanya dan justru menunjukkan wajahnya yang memberengut..
“Aku tidak sengaja..”
“Kau tidak sedang berniat untuk memandikanku kan? Jika iya.. Bukan disini tempatnya..!”
Yuna memutar mata, dan Azka kembali merasakan geli ketika mengetahui telah berhasil menggoda gadis itu.
“Aku akan menyiramkan lebih banyak air jika bapak memang ingin di mandikan, seperti kuda mungkin..”
Yuna sepertinya serius dengan apa yang dikatakannya. Ia sudah akan mengambil selang air yang tadi dilemparnya, ketika kemudian ia mendengar seruan memanggilnya..
“Yuna.. Yuna..! Kau belum juga selesai..?”
Oh dear..
Itu adalah suara Ny.Dania yang terdengar, yang lantas membuat Yuna maupun Azka menoleh.
Yuna segera berubah panik menyadari wanita itu mencarinya dan pasti sedang dalam langkah menuju taman di halaman belakang tempatnya sekarang berada. Kepanikannya bukan karna ia belum menyelesaikan hukumannya, kepanikannya justru didasari oleh keberadaan Azka disana. Apa yang akan wanita itu komentarkan mengenai keduanya, ketika melihat mereka bersama nanti?
Tuduhan dan pemikiran-pemikiran buruk dan tak senonoh sudah pasti yang akan Ibu Azka lontarkan pada mereka. Terutama pada dirinya..
“Oh, bagaimana ini Pak..? Nyonya akan sangat marah melihat anda berada disini bersamaku..”
“Tidak ada sesuatu yang bisa dipersalahkan diantara kita, Kecuali aku mengatakan pada mama bila kau dengan sengaja menyiramkan air padaku..”
“Aku tidak sengaja..! Melihat anda berada disini, Nyonya pasti akan langsung menuduhku.. Dia selalu menilaiku buruk..”
Yuna menggigiti bibir bawahnya. Ia pasti melupakan ancaman Azka untuk tidak melakukan itu dihadapannya..
“Apa kau perduli dengan penilaian ibuku?”
“Yuna.. berapa lama Kau akan terus berada disana.. kau belum selesai? Dimana kau? Ini sudah waktunya makan malam..”
Yuna berjingkat semakin panik..
“Aishh, cepatlah anda pergi dari sini Pak..”
“Jika aku berlari darisini sekarang, aku akan langsung berpapasan dengan mama..”
“Oh, sial.. Apa yang harus kita lakukan..?”
“Bersembunyi..”
“Euh..?”
Yuna belum cukup mencerna apa yang Azka katakan, ketika kemudian pergelangan tangannya digenggam dan ditarik oleh Azka untuk bersembunyi dibalik batang pohon yang berada tak jauh darinya..
“Pak.. Anda hanya akan membuat Nyonya semakin marah, jika menemukan keberadaan kita disini.”
Yuna kembali menggigit bibirnya, gelisah..
“Diamlah, jika kau tak ingin ibuku memergoki kita..”
Azka menarik pinggang Yuna, lebih merapat pada dirinya, ketika mendengar langkah kaki Ny.dania berada tak jauh dari keduanya..
“Pak.. Sebaiknya kita tak melakukan ini..”
“ssttt..”
“Yuna..! Yuna..! Ya Tuhan.. Kemana gadis itu? Apa dia kabur dari hukuman yang kuberikan? Apa dia justru sedang berada dikamarnya? Gadis itu.. Dia bahkan tidak mematikan keran air nya.. Benar-benar ceroboh.. Yuna! Yuna..!!”
Ny.Dania menggerutu dengan kesal karna tak menemukan Yuna disana. Ia sudah akan melangkah masuk kembali kedalam rumah, namun terhenti saat sepertinya mendengar suara dari ranting pohon yang terinjak dan patah.
“Yuna.. Kau kah itu?”
Yuna melebarkan mata mendengarnya, Ia memang berdiri gelisah dengan tubuhnya yang gemetar. Takut aksinya dan Azka yang justru bersembunyi akan diketahui oleh Ny.Dania dan kembali menyulut kemarahannya.
“Pak.. Nyonya akan tahu kita berada disini..”
Ucap Yuna dengan menggunakan suara lirih..
“Bisakah kau hanya diam..!”
“Tapi Nyonya sudah tahu..”
“Tidak.. Jika kau berhenti bersuara bodoh seperti itu”
“Tapi anda juga bersuara..”
“Aku benar-benar harus membuatmu diam…”
Azka berbisik ditelinganya, dan sepersekian detik setelahnya membuat Yuna membelalakkan mata. Bahkan, darah yang mengalir di tubuhnya serasa terhenti ketika Azka menarik lehernya. Tak menyangka dengan maksud men-diam kan dirinya yang terus bersuara ialah dengan cara mencium bibirnya..
Oh..
***
to be continue