At First Sight

At First Sight
Episode 80



Yuri terjaga sepanjang malam itu, Ia tidak benar-benar tertidur. Yuri bahkan mengetahui ketika Azka meninggalkannya sesaat setelah dirinya berpura-pura menutup matanya. Dan tak bisa ia pungkiri, hal itu membuatnya sedih.


Namun keberadaan Yuna yang belum juga pulang, lebih mengkhawatirkan dan terus-terusan memenuhi pikirannya. Jadi mana mungkin ia bisa tertidur sementara yang berada didalam pikirannya adalah Yuna yang terpaksa harus melakukan pekerjaan sepanjang malam karna pada pagi harinya sang adik malah mengurus dirinya dan membuat Ny.Dania kesal karnanya.


Dan Yuri merasakan kesedihan karna dirinya justru tak dapat melakukan apa-apa untuk melindungi Yuna.


Namun kemudian lamunan Yuri terusik oleh deru suara mobil yang memasuki halaman. Ia mendapat celah untuk melihat dari balik jendela kamarnya dan mengetahui saat Yuna keluar dari dalam mobil itu, disusul Azka yang keluar dari sisi pintu pengemudi.


Yuri melihat dengan tertegun, saat Yuna berjalan lebih dulu dan Azka yang berjalan cepat menyamakan langkahnya dan kemudian menarik pinggang Yuna.


Yuna sepertinya menolak, dengan terlihat menyingkirkan lengan Azka, namun pria itu kembali mengejarnya dan kembali melakukan hal yang sama dengan merengkuh pinggang Yuna agar berjalan sejajar dengan dirinya..


“Yuna..”


Yuri menggumam serak pada apa yang baru saja dilihatnya..


***


Yuna POV


Sejak beberapa waktu yang lalu Aku benar-benar berpikir Azka memang telah kerasukan hantu yang berasal dari rumahku, seperti lelucon yang dikatakannya dan berhasil membodohiku semalam.


Dia bertingkah menyebalkan..


Ya..


Aku harus mengatakan bahwa dia sangat menyebalkan sekarang dan telah menjadi seorang yang keterlaluan.


Bagaimana bisa hanya karna pesan yang dikirim oleh Dr.Ahmad dan kenyataan aku memberikan nomer ponselku padanya, bisa sampai membuatnya seperti itu.


Dia benar-benar berlebihan..


Selain sisi pemarah dalam dirinya aku juga tak menyukai sikap konyolnya saat ini.


Demi Tuhan, dia sudah dua puluh delapan tahun. Aku tak percaya ada seorang pria dewasa seusianya yang bertingkah seperti remaja belasan seusiaku. Itulah yang sedang aku saksikan sekarang.


Dia bahkan bisa terus mengoceh disepanjang perjalanan pulang menuju rumahnya dan itu membuatku mual. Tapi aku bersyukur setidaknya aku belum sampai mengalami muntah ketika mobil yang dikemudikannya berhenti tepat dihalaman rumahnya.


Aku keluar dengan cepat, benar-benar harus menghindarinya.


“Yuna.. Yuna..”


Dia keluar dan mengikutiku dan menarik pinggangku untuk menyamakan langkahnya.


“Lepaskan aku..”


Aku menyentakkan lengannya yang melingkari pinggangku dan mempercepat langkahku. Namun lagi-lagi dia menyusulku dan kembali menarikku untuk berjalan bersisian dengannya.


“Kau marah padaku?”


“Kau menyebalkan, Pak..”


“Jadi aku seperti itu?”


Aku mengabaikan ucapannya dan membalasnya dengan kalimat yang lain..


“Jangan menyentuhku sebelum hantu yang merasukimu itu keluar dari tubuhmu..”


Aku mendengus dan dia malah menertawakanku, tetap tak melepaskan pinggangku dan justru tangannya semakin mengerat disana. Dia memiliki tangan yang kuat, yang membuatku tak dapat melakukan apa-apa kecuali membiarkannya.


Dia membawaku masuk melewati pintu yang berada digarasi, kukira masih terlalu pagi untuk ada yang terbangun, namun ternyata salah karna sekarang aku justru dapat melihat Ibu Azka yang sedang duduk disalah satu sofa, dengan kedua tangan bersedekap, kaki yang menyilang dan matanya yang awas menatap padi kami.


Oh Tuhan..


Ini akan menjadi masalah untukku. Hanya untukku. Karna yang kulihat Azka sama sekali tak risau dengan keberadaan ibunya disana. Dia masih tidak menjauhkan tangannya dariku dan malah menarikku untuk menghampiri Ibunya.


Oh..


Apa yang harus kukatakan padanya.


“Mama.. Apa kau sedang menunggu kami?”


“Menurutmu begitu?”


Aku mulai menggigit bibirku ketika yang kulihat kemudian adalah Ibu Azka beranjak dari sofa yang didudukinya dan melangkah, menghadang dengan berdiri didepan kami.


“Darimana saja kalian? Semalaman tidak pulang.. Jadi apa saja yang kalian lakukan?”


“Ma.. Aku tak bisa menjelaskannya. Aku harus bersiap kekantor.. Yuna yang akan mengatakannya padamu..”


Aku membulatkan mata kearahnya saat dia menjauhkan tangannya dari pinggangku dan bergerak mendekati ibunya hanya untuk terlebih dulu memberikan ciuman dipipinya dan pergi begitu saja meninggalkan kami.


“Pak..”


“Ceritakan saja apa yang semalam kita lakukan, Yuna. Mama pasti akan mengerti..”


Sialan..


Dia malah mengedipkan matanya padaku. Dan Aku bersumpah benar-benar ingin melepas alas kakiku dan melemparkan benda itu kearahnya.


Mengapa dia justru meninggalkanku bersama dengan ibunya, disaat wanita itu sedang terlihat ingin memangsaku.


Ya Tuhan..


Bagaimana ini?


“I-Ibu..”


Aku sedikit melengkungkan bibirku untuk menciptakan senyum diwajahku, meski hal itu terasa percuma. Ibu Azka tetap tak mengubah tatapannya padaku.


“Ibu.. Semalam aku.. Yang terjadi semalam adalah, aku.. Aku sama sekali tidak..”


“Sudahlah, kau pikir aku tertarik untuk mendengar ceritamu. Kalian pasti sengaja mencari tempat yang aman untuk berduaan kan?”


Dia mendengus..


“Aku sudah menduga yang terjadi pasti tak akan jauh dari apa yang berada dipikiranku..”


Apa yang ada dipikiran ibu Azka sekarang?


Sungguh aku bisa menjelaskannya bila memang saat ini dia memiliki pemikiran yang salah.


“Astaga.. Apa yang dilalukan anak itu? Azka tidak membiarkanmu tidur semalam? Kau memiliki lingkaran hitam dimatamu.. Cepatlah mandi dan kembali temui aku. Aku akan mengurus masalah dimatamu itu sebelum kita pergi nanti.”


“Ibu..”


Aku meraih pergelangan tangannya ketika dia ingin beranjak dari hadapanku.


Aku melihatnya yang memutar mata padaku..


“Kau sudah melakukan itu kemarin, dan aku membiarkanmu. Tapi tidak hari ini, Yuna. Aku memiliki acara dan yang harus kau lakukan adalah ikut denganku.”


“Ibu.. Tapi..”


“Aku tidak ingin mendengar alasan yang seperti itu. Sebaiknya sekarang kau mulai bersiap.. Jena yang akan mengantar dan menemani kakakmu. Dia lebih dari sekedar mampu untuk diandalkan”


Aku menghela napas ketika dia beranjak. Setidaknya aku lega wanita itu tidak lebih mengkritisi dengan mulutnya yang biasa mengeluarkan kata-kata tajam, mengenai ketidak pulanganku dan Azka semalam.


Maka setelah melihatnya masuk kedalam kamar, aku memutuskan untuk melihat Kak Yuri. Sebelum mencapai kamar Kak Yuri, Aku terlebih dulu melewati bagian dapur dan melihat Bibi Lia yang sudah memulai aktifitasnya disana. Bibi Lia pasti sedang sibuk menyiapkan menu sarapan. Aku senang melihatnya seperti itu, setidaknya Bibi mencoba untuk meneruskan hari-harinya meski kini tanpa kehadiran Mas Doni.


“Bibi..”


Aku memutuskan untuk menghampiri, dan mencari tahu apa yang sedang dikerjakannya.


“Oh, Yuna.. Sepertinya kau baru pulang?”


“Iya..”


“Dan berada dimana kau semalam? Bersama Azka?”


“Aku merasa merindukan rumahku. Kami bermalam disana..”


Bibi Lia memberiku senyum mengerti dan kembali fokus pada apa yang saat itu dikerjakannya.


“Bibi.. Adakah yang bisa aku bantu?”


“Tidak, tidak usah Yuna. Nyonya melarangmu berada didapur. Sebaiknya kau pergi sekarang sebelum dia melihatmu..”


“Dia tidak akan melihat.. Aku melihat Ibu masuk kedalam kamarnya tadi”


Aku memaksa mengambil spatula dari tangan Bibi Lia dan menggantikannya mengaduk-aduk masakannya yang berada didalam wajan.


“Menyingkirlah Bibi.. Sementara aku mengerjakan ini, Bibi bisa mengerjakan yang lain..”


“Aku benar-benar tidak mau kau melakukan ini, Yuna. Nyonya bisa saja melihat dan kau akan mendapatkan masalah, sayang”


“Itu tidak akan terjadi Bibi, tenanglah..”


Aku memberinya senyum yakin, sesaat sebelum sebuah suara teriakan kudengar..


“AKU TIDAK MENYURUHMU UNTUK BERADA DISANA, YUNA. MENYINGKIRLAH SEKARANG..!!


Astaga..


Suaranya mengejutkanku dan membuatku menjatuhkan spatula dari tanganku. Aku bahkan nyaris menggulingkan wajan itu. Namun Bibi Lia bergerak cepat membantuku.


“Awhhh…”


Kejadiaannya juga terjadi begitu cepat hingga aku tak bisa menjelaskan bagaimana kemudian aku mengaduh saat kurasakan sakit akibat dari pergelangan tanganku yang tergores pinggiran wajan panas itu.


“Astaga Yuna, Kau tak apa-apa?”


Bibi Lia terlihat panik, aku ingin mengatakan tidak apa-apa padanya, tapi suara kepanikan lain lebih dulu muncul dari belakangku.


“Ya Tuhan.. Aku mendengar teriakan itu. Apa yang terjadi denganmu, Yuna?”


Aku berbalik dan secara refleks menyembunyikan tangan dibelakang tubuhku, saat kulihat ibu Azka yang sedang berjalan cepat menghampiriku.


“Ibu..”


“Katakan padaku apa yang terjadi?”


Aku menggeleng dan tersenyum, namun dia justru mendecakan lidah sebelum kemudian mengarahkan tatapannya pada Bibi Lia yang berada disebelahku.


“Apa yang terjadi, Bibi?”


“Maafkan saya Nyonya, tapi ini kesalahan saya..”


“Aku tidak menanyakan kesalahan apalagi menyuruhmu meminta maaf. Aku hanya ingin bertanya apa yang terjadi pada gadis itu hingga aku mendengar suaranya berteriak..?”


Bibi Lia lebih dulu melihat kearahku, dan aku hanya bisa menggigit bibirku.


“Pergelangan tangan Yuna terkena wajan panas, Nyonya. Maafkan saya karna telah membiarkannya berada disini..”


“Apa..?!”


Aku bisa melihat kedua mata ibu Azka yang membulat sempurna sekarang, saat dia kemudian menatapku.


“Tidak, Ibu.. Ini tidak apa-apa, sungguh..”


Aku menunjukkan pergelangan tanganku yang kini terlihat memerah. Hanya memerah, tidak sampai melepuh, dan aku yakin tidak akan terjadi apa-apa, meski sekarang aku sedang merasakan sengatan dari rasa sakitnya.


“Aku sungguh tidak apa-apa. Bibi, Maaf.. Aku justru mengacaukan masakanmu..”


Bibi Lia mengangguk mengerti sambil mengusap pada bahuku..


“Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak berada disini..”


Ibu Azka menarik pergelangan tanganku yang lain, saat kemudian dia membawaku meninggalkan ruang dapur.


“Maaf.. Tapi ini tidak akan terjadi jika aku tak mendengar suara teriakan Ibu tadi. Aku terkejut karna hal itu, lalu___”


Dia menghentikan langkah mendengarnya. Dan aku sangat ingin menggigit lidahku sendiri saat ini, menyadari kesalahanku yang telah mengatakan hal seperti itu..


“jadi kau menyalahkanku?”


“Tidak..”


Aku menunduk..


“Bukan maksudku seperti itu, Ibu.. Maaf, ini kesalahanku..”


“Kau benar-benar menguji kesabaranku, Yuna. Aku memintamu untuk bersiap, maka itulah yang seharusnya kau lakukan. Ingat apa yang kau katakan padaku tentang menjaga sikap dan tidak membuatku kesal..”


Ibu Azka melepaskan pergelangan tanganku dan meninggalkanku yang masih menundukkan wajah, menyesali kesalahanku yang telah menganggap remeh dan mengabaikan ucapannya.


“Maaf, Ibu..”


Aku menghela napas berat sebelum kemudian menyeret kakiku menuju kamar Kak Yuri. Menekan knop pintu dan sedikit mendorongnya, Aku masuk dan melihat Kak Yuri sudah terbangun. Dia dalam posisi duduk diatas tempat tidur..


***


to be continue