At First Sight

At First Sight
Episode 58



Yuna POV


Ya Tuhan bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan. Aku ketahuan, sungguh aku tidak menduga ini sebelumnya.


“Yuna... Aku takut, bawa aku pergi Yuna...”


Kulirik kak Yuri yang mulai ketakutan, dia memeluk tubuhku erat, bisa kurasakan tubuhnya bergetar.


“Tenang lah kak, kita pasti akan keluar dari sini.”


Kataku mencoba untuk menenangkan kak Yuri, walaupun diriku sendiri tidak bisa tenang, jantungku berdegup kencang, aku bingung apa yang harus kulakukan.


“Kau tidak akan pernah bisa membawa pergi Yuri dari sini, sebentar lagi boss ku akan datang, dan akan menerima akibat dari keberanianmu masuk kesini, gadis belia...”


Kulihat pria itu menyeringai. Sialan, aku tidak menyangka mas Doni yang begitu aku percaya tega melakukan ini semua. Aku bersumpah tidak akan memafkanmu.


Tidak lama ku dengar suara ketukan pintu, pria itu langsung membuka pintu nya dan terlihat lah pria **** yang telah menyakiti kakakku. Dia menyeringai kearahku, aku benci melihatnya. Ingin rasanya aku membunuhnya dengan tangan ku sendiri.


“Hai, Yuna...”


Dia menyentuh daguku, aku langsung menepisnya.


“Apa kau kesini untuk mengantarkan dokumen yang berhasil kau curi dari Azka?”


“Aku sudah tau semuanya mas Doni, aku tidak menyangka ternyata pria **** itu adalah kau.”


Aku berteriak di depan wajahnya, aku benci bahkan aku muak melihat wajahnya, dia tersenyum sinis kepadaku.


“Selama ini aku begitu percaya padamu, tapi kenapa kau tega membohongiku. Kau bilang kau mencintai kak Yuri tapi kenapa kau tega menyakitinya sampai seperti ini? Kau bilang kau membawa kak Yuri keluar negeri, nyatanya kau mengurungnya disini. Kenapa mas, kenapa kau tega merusak masa depan kakakku sampai dia depresi seperti ini, kenapa malah kau melemparkan kesalahanmu pada orang lain? Kau benar-benar **** mas!”


Aku mengeluarkan semua kekesalanku pada pria **** itu, bahkan sekarang aku tidak ingin menyebut namanya.


“Hahahaha...”


Dia malah tertawa, apa dia pikir ini lucu? Dia benar-benar seorang psyco, kenapa aku dan kak Yuri harus mengenal dia, kalau saja dia tidak hadir dalam kehidupan kami, semua tak akan terjadi, kak Yuri tidak akan menderita seperti ini.


“Yuna... Apa kau tidak salah bicara?”


Apa maksudnya, dia benar-benar gila.


Dia beralih menatap kak Yuri, kak Yuri yang ketakutan menyembunyikan wajahnya dalam pelukanku.


“Kau tahu apa yang telah dilakukan adikmu, Yuri? Dia bertunangan.. Yuna bertunangan dengan Azka. Si brengsek itu.. Kau masih mengingatnya? Aku berharap kau tak lagi mengingat pria bodoh itu yang telah menolak cintamu. Tapi aku tetap akan mengatakan padamu bahwa adikmu, Yuna telah bertunangan dengan Azka Rianda, si brengsek yang kau cintai. Bukankah kau merasa tersakiti sekarang..”


Kak Yuri menggeleng sambil menatapku, berharap yang didengarnya tidaklah benar.


“Lihatlah Yuna bahkan masih mengenakan cincin pertunangannya. Apakah kau masih akan mengelak, Yuna? Kaulah yang sebenarnya telah menyakiti kakak mu dan bukan aku..!”


“Tidak, Kak... Itu tidak benar. Pertunangan itu sandiwara. Hanya main-main, bukan sesuatu yang sesungguhnya. Dan cincin ini..”


Aku melepaskan cincin itu dari jari tanganku dan melemparkannya ke sembarang arah.


“Cincin ini juga main-main, Kak.. Hanya main-main..”


Pria brengsek itu benar-benar tidak tau diri, sekarang dia mau memutar balikkan fakta supaya kakakku membenciku.


“Tidak ada pertunangan yang sesungguhnya. Tidak Kak, itu tidak terjadi..”


Aku berusaha meyakinkan kakakku bahwa semua yang keluar dari mulut pria gila itu tidaklah benar.


“Dan bagaimana dengan kalian yang telah tingal bersama.. apakah hal itu juga hanyalah main-main saja..”


“Aaargghh...”


Tiba-tiba Kak Yuri berteriak histeris. Setelahnya Kak Yuri menangis terisak.


“Yuri, ikutlah denganku. Aku akan membawamu ketempat yang lebih aman, jauh dari adikmu yang telah mengkhianatimu.”


Mas Doni menarik paksa kak Yuri dari pelukanku, aku berusaha menahannya, tapi sia-sia. Tenagaku tidak cukup kuat. Sementara kak Yuri menangis histeris.


“Lepaskan aku...” Kak Yuri kembali menjerit.


“Mas Doni, tolong hentikan semua ini, tolong kembalikan kak Yuri padaku.”


Aku berlutut di hadapannya, tangisku pecah. Hanya ini yang bisa kulakukan, memohon.


“Yuri milikku Yuna... Tidak ada seorang pun yang bisa mengambil Yuri dariku, termasuk kau.”


“Kau benar-benar pria kejam, tidak punya perasaan.”


Aku menangis terisak, mas Doni menyeret kak Yuri keluar dari kamar. Tidak. Mas Doni tidak boleh membawa kak Yuri. Aku berusaha mengejar mereka tapi pria penjaga itu mencoba menghalangiku. Dia memegang erat kedua tanganku.


“Lepaskan aku, brengsek.”


Aku menendang selangkangannya, dia berteriak kesakitan dan tangan ku terlepas dari tangannya.


Aku berlari keluar mengejar mas Doni yang telah membawa kak Yuri. Ku lihat di luar mereka sudah tidak ada, aku kemudian melangkah menuju lift, mereka pasti sudah turun. Aku harus menemukan mereka sebelum kak Yuri di bawa pergi si brengsek itu.


Aku sudah sampai di lantai paling bawah, namun mataku belum juga bisa menangkap keberadaan kak Yuri dan mas Doni. Aku berlari keluar dan melihat Mas Doni menyeret Kak Yuri Kedalam mobil nya.


“Mas Doni, tunggu....”


Dia melirik kearahku dan menatapku tajam, tanpa memperdulikan ku, mas Doni masuk kedalam mobil nya dan langsung melajukan mobilnya.


“Kak Yuri....”


Ya Tuhan, kak Yuri ku, pria brengsek itu sudah membawa kak Yuri ku dan aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku terduduk lemas, aku tidak berdaya, aku tidak bisa menyelamatkan kakakku.


Menangis, hanya itu yang bisa kulakukan sekarang.


Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti dihadapanku, dan seorang pria menghampiriku dengan wajah cemasnya.


“Pak Azka.”


“Yuna, sedang apa kau disini? Dimana Yuri?”


Dia memegang kedua bahuku dan mengguncangnya. Dia terlihat khawatir, darimana dia tau aku disini untuk menemui kak Yuri. Tapi itu semua tidak penting, keselamatan kak Yuri lebih utama.


“Kak Yuri di bawa pergi mas Doni Baru saja, tolong aku pak, tolong selamatkan kakakku, aku mohon.”


“Baiklah, kita akan kejar mereka. Kita tidak bisa membuag waktu lagi atau kita akan kehilangan jejak mereka.”


Dia membuka pintu mobil dan aku segera masuk kedalam mobilnya, dengan langkah terburu-buru Azka juga masuk kedalam mobilnya dan dengan cepat melakukan mobilnya untuk mengejar mobil mas Doni.


Ya Tuhan, terimakasih sudah mengirimkan Azka padaku disaat aku sangat membutuhkan bantuan, setelah apa yang sudah aku lakukan padanya dia masih mau menolongku, semoga kami bisa menemukan kak Yuri.


***


to be continue