At First Sight

At First Sight
Episode 68



“Ha-Halo..”


Yuna berucap ragu-ragu begitu menggeser tanda hijau dari layar ponselnya..


“Tak perlu se-kaku itu dengan tunanganmu sendiri..”


Menjauhkan ponsel yang menempel ditelinganya, Yuna mengetahui pemilik suara itu adalah benar-benar Azka yang berbicara dengannya..


“Darimana kau tahu nomer ponselku?”


Ucapnya setelah kembali mendekatkan ponselnya..


“Apa kau lupa pernah menjadi karyawanku? Dan sudah kukatakan, aku menghapal semua data mereka termasuk dirimu..”


Sesaat Yuna mendengus mendengarnya..


“Tapi darimana kau tahu aku sudah menggunakan ponsel?”


“Kau masih bersama, Mama..?”


“Kau tahu aku bersama Ibu? Bagaimana bisa..?”


“Oh, ayolah.. Aku tahu segalanya. Haruskah aku mengatakan hal seperti itu sekarang..”


“Kau sudah mengatakannya..”


Yuna makin mendengus menyadari dalam sambungan telponnya Azka justru sedang menertawakan dirinya.


“Aku menunggumu dibalkon rumah sakit, datanglah..”


Yuna memandangi layar ponselnya yang telah mati begitu Azka memutus sambungan telponnya setelah mengatakan kalimat terakhirnya.


Melakukan apa yang Azka minta, Yuna lantas meninggalkan tempatnya berbicara dengan Ny.Dania tadi dan mulai berjalan menuju balkon rumah sakit. Namun menyadari wanita bernama Jena itu berjalan dibelakangnya, mengikutinya, membuat Yuna merasa risih hingga kemudian membuatnya menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap yang juga langsung menghentikan langkahnya..


“Kau mengikutiku?”


Jena mengangguk..


“Tunggulah disini, aku ada perlu sebentar..”


“Saya bisa bersama anda, nona..”


Yuna mendesah..


“Itu apa yang Nyonya perintahkan pada saya, untuk selalu bersama dengan anda..”


Jena menambahkan, apa yang dikatakannya kemudian membuat Yuna berjalan mendekatinya.


“Aku ingin bertemu Pak.. emm, maksudku Azka.. Azka Rianda, kau tahu dia?”


“Tentu saja saya tahu Tn.muda Azka yang anda maksud, nona..”


“Kalau begitu biarkan aku menemuinya, dan kau tidak perlu mengikutiku..”


“Tapi..”


Sela Jena sebelum Yuna menyelesaikan kalimatnya..


“kau tahu kan Azka tunanganku?”


Jena mengangguk..


“Dan kau masih tetap akan bersamaku disaat aku ingin menemuinya, bersama dengannya?”


Jena kembali mengangguk tanpa keraguan diwajahnya..


“Bagaimana mungkin kau melakukannya.. Kau akan berada diantara pasangan yang ingin saling bertemu? Kau akan mendengar apa yang kami bicarakan? Kau juga akan melihat saat kami.. Ah, aku tak harus mengatakannya. Kau pasti tahu kan apa yang biasanya terjadi ketika seseorang bertemu dengan pasangannya? Kau memiliki pasangan kan?”


Yuna benar-benar memiliki niat membuat Jena berhenti mengikutinya, dan kata-kata yang diucapkannya sepertinya telah memunculkan gambaran-gambaran dalam benak Jena, hingga membuatnya menjadi kikuk..


“Eh, baiklah.. Saya akan menunggu disini. Tapi saya harus lebih dulu memastikan keberadaan anda. Dimana anda akan bertemu dengan Tn.muda Azka?”


“Kami akan berada dibalkon rumah sakit..”


Jena mengangguk mengerti..


“Emm, mungkin kau bisa pergi keruang ICU dan..”


“Saya sudah mengetahuinya nona, saya akan melakukannya..”


Yuna tersenyum mengetahui betapa cepat respon Jena dengan apa yang ia maksud..


“Kau bisa menghubungiku jika sesuatu terjadi pada kakak ku..”


Yuna baru saja berniat membuka ponselnya dan memberikan nomor ponselnya pada Jena, namun Jena telah lebih dulu mengatakan..


“Saya telah memiliki nomor ponsel anda, nona.. Jangan khawatir..”


“Oh, baiklah.. Terimakasih. Aku tidak akan lama, tunggulah disana..”


Selesai dengan Jena, Yuna kemudian meneruskan berjalan menuju balkon rumah sakit. Sesampainya disana, Ia mengarahkan pandangan matanya kesekeliling untuk mencari keberadaan Azka, namun tidak menemukannya..


“Pak..”


Yuna memutar tubuhnya, Apa ia terlalu lama untuk sampai disana hingga membuat Azka terlalu lama menunggu dan memutuskan untuk pergi?


Ya..


Pasti karna itu, Ia terlalu lama berbicara dengan Jena tadi?


“Pak.. Pak Azka..”


Yuna mendesah, saat benar-benar tak ada sahutan dari Azka..


“Bagaimana bisa dia tidak menunggu sebentar saja..”


Gerutu Yuna yang saat itu sudah berencana untuk beranjak, namun sesuatu yang dari belakang ia rasakan melingkupi tubuhnya, kemudian menghentikannya..


“Pak..”


“Bagaimana bisa Mama membiarkanmu memakai pakaian tipis seperti ini, udara akan semakin dingin menjelang malam..”


Azka yang ternyata melepas jas kerjanya, dan kemudian memasangkannya dari belakang tubuh Yuna. Ia juga yang kemudian mendekapnya dan tak membiarkan Yuna yang mencoba untuk melepaskannya..


“Pak..”


“hm..”


“Bagaimana dengan Kak Yuri?”


Sesaat Yuna merasakan Azka mencium rambutnya..


“Dia tidur setelah dokter memberinya obat, dan Yuri telah dipindahkan dari ruang ICU..”


“Benarkah?”


Dengan meraih kedua tangan Azka yang melingkari pada pinggangnya, Yuna melonggarkan pelukannya untuk dapat berbalik menatap pada Azka dan meyakinkan apa yang telah diucapkannya..


“Benarkah Kak Yuri sudah dipindahkan?”


Azka mengangguk..


“Ya, dia berada diruang perawatan sekarang..”


“Oh, syukurlah.. tapi tadi..”


Yuna teringat telah menyuruh Jena untuk berada diruang ICU..


“Aku menyuruh Jena untuk menunggu disekitar ruang ICU?”


“Jena?”


Azka mengerutkan kening mendengarnya, sementara Yuna malah mendesah mengingat Jena yang sebelumnya mengikutinya. Ia tidak terbiasa diperlakukan sedemikian dan jelas-jelas diikuti oleh seseorang seperti itu.


“Ibu memintanya untuk berada disini..”


Azka mengangguk seolah mengerti meski hanya dengan satu kalimat yang diucapkan Yuna..


“Kau tahu siapa dia?”


Azka mengangguk..


“Dia bekerja untuk Mama. Papa yang sebenarnya mempekerjakannya. Tidak apa-apa, dia cukup baik menangani banyak hal..”


“Tapi aku tidak terlalu menyukai hal seperti itu. Itu terlalu berlebihan..”


“Jena hanya melakukan tugasnya, jika kau menolaknya mungkin kau akan membuatnya kehilangan pekerjaan. Dan lagi pula, tidak ada yang berlebihan jika itu untuk kebaikanmu..”


Azka memutar tubuh Yuna agar ia dapat kembali mendekapnya. Membuat punggung Yuna menempel pada dadanya..


“Sudahlah, jangan memikirkan hal semacam itu. Hanya nikmatilah saat aku disini bersamamu..”


Yuna menarik sudut bibirnya dan hanya tersenyum, merasakan hangat saat memandang pada indahnya langit sore dari balkon rumah sakit itu.


***


Pada malam harinya ketika Yuri terbangun oleh mimpi buruk yang lagi-lagi menghantuinya, Azka sudah tidak berada dirumah sakit saat itu. Yuna yang telah memaksanya untuk pulang dan memintanya untuk beristirahat.


Karna itu, ketika Yuri mencari-cari keberadaannya, Yuna cukup kesulitan untuk menyadarkan Yuri bahwa dirinya berada disana dan terus menemaninya.


Yuna baru dapat menenangkan dan membuat kesadaran Yuri kembali, setelah Ia melepas jas kerja milik Azka yang sebelumnya dikenakannya dan memasangkannya ditubuh Yuri.


Yuri mencium pada aroma tubuh Azka disana..


“Azka..”


“Kakak..”


“Yuna, dimana Azka? Apa dia pergi? Dia meninggalkanku?”


Yuna terlebih dulu meraih tangan Yuri dan menggenggamnya..


“Tidak Kak.. Dia tidak benar-benar pergi. Dia memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan dan akan kembali setelah menyelesaikannya”


“Azka akan kembali..?”


Yuna mengangguk, lega Yuri dapat menerima penjelasannya..


“Bukankah Kakak pernah bekerja dengannya? Kakak pasti mengetahui betapa banyak pekerjaan yang membutuhkannya..”


Yuri mengangguk..


“Ya, Azka sangat sibuk. Aku juga menjadi sangat sibuk untuk membantunya..”


Yuna dapat melihat ketika sudut bibir Yuri tertarik membentuk senyum, saat sepertinya ia mengingat masa-masa bekerja sebagai sekretaris Azka.


“Kapan Azka akan datang?”


“Em, secepatnya.. Mungkin besok, dan untuk malam ini aku yang akan menemani kakak. Apakah tidak apa-apa aku yang menemani kakak?”


“Tidak Yuna, tentu tidak.. Selalu menyenangkan bersamamu.. Kemarilah..”


Yuri menggeser tubuhnya diatas tempat tidur, mengarahkan Yuna untuk berada diatasnya bersamanya..


“Kau terlihat lelah, Yuna.. Berbaringlah disini bersamaku..”


“Tidak kak, aku baik-baik saja disini. Aku bisa menyakiti kakimu nanti. Kakak baru menjalani operasi..”


“Tidak akan apa-apa, aku ingin bersamamu.. Kemarilah, aku akan bisa kembali tidur setelah memastikan kau tidak akan kemana-mana dan tetap bersama denganku..”


Yuna ingin menangis mendengarnya, namun Ia tak bisa melakukannya. Tangis nya pasti justru akan membuat kakak nya semakin mengkhawatirkannya..


“Suster bisa memarahiku jika aku melakukannya..”


“Aku yang akan memarahinya jika suster itu berani memarahimu..”


Ketika akhirnya Yuna benar-benar melakukan seperti apa yang Yuri katakan, Ia merasakan lagi kasih sayang yang sedang Yuri tunjukkan untuknya. Dengan itu Yuna berjanji akan mengganti setiap kesedihan yang telah Yuri rasakan..


“Aku merindukanmu kak.. Aku menyayangimu..”


“Aku juga merindukanmu Yuna, adik kecilku.. Aku selalu menyayangimu..”


Yuna kemudian dapat melihat Yuri menjatuhkan airmatanya, tangannya lantas bergerak untuk mengusapnya..


“Aku tidak akan membiarkan kakak menangis lagi..”


Yuri mengangguk setuju, dan keduanya kemudian sama-sama tersenyum untuk menguatkan satu sama lain.


***


Dipagi hari ketika Yuna terbangun, Ia begitu lega semalam Yuri tidak lagi terjaga dari tidurnya karna mimpi buruk. Sekarang bahkan Ia dapat melihat Yuri yang tertidur dengan lelap dan wajahnya yang terlihat tenang.


Memutuskan untuk beranjak dari atas tempat tidur itu, Yuna keluar dari dalam kamar rawat Yuri dan mendapati Jena menunggu didepan pintu kamar itu.


“Kau.. Bagaimana bisa kau berada disini sepanjang malam?”


“Saya sudah mendapatkan istirahat, nona.. Jangan merasa khawatir terhadap saya..”


Yuna mendesah, mau bagaimanapun Ia tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan untuk terus berada disana.


“Aku akan berada dikamar mandi sebentar..”


Jena mengangguk dan kemudian bergerak mengambil sesuatu yang diletakkannya pada kursi tunggu. Satu paper bag kemudian diserahkannya pada Yuna..


“Nyonya mengirimkan ini, pakaian ganti untuk anda..”


“Oh, apa Ibu datang?”


“Belum, hanya seorang supir yang mengantarkan itu tadi..”


Yuna lantas menerima paper bag itu ditangannya dan selanjutnya mempergunakan beberapa menit untuk mandi dan mengganti pakaiannya.


Sekitar lima belas menit setelahnya, Ia kembali masuk kedalam kamar Yuri. Disana, Ia melihat Yuri sudah duduk dengan bersandar pada bantal dan sedang tersenyum dengan sebuket bunga yang berada ditangannya dan sedang dipandanginya.


Untuk pertama kalinya, Yuna mendapati Yuri tidak terbangun dalam keadaan panik dan berteriak..


“kakak..”


“Oh, Yuna.. Kemarilah, lihatlah ini..”


Yuri tersenyum kearahnya sambil menyerahkan sebuah kartu ucapan kecil padanya.


Yuna menerima dan kemudian membaca kalimat yang tertulis didalamnya..


“Tersenyumlah seindah bunga yang bermekaran ini”


Yuna menyuarakan isi kalimat itu dan lantas menatap pada Yuri yang masih terus mempertahankan senyum itu diwajahnya..


“Kak, siapa yang telah mengirimkan ini?”


“Pasti Azka yang mengirimnya.. Aku terbangun dan tidak melihat siapapun disini, tapi aku melihat bunga ini berada diatas tempat tidur, disampingku..”


Yuri menciumi kelopak-kelopak bunga yang bermekaran itu.


Yuna kemudian diam dan hanya terus memperhatikannya..


Benarkah Azka yang telah mengirimnya?


Ia mempertanyakan itu didalam hatinya..


Tapi kenapa?


Kenapa Ia sampai mempertanyakan hal itu?


Pikirnya kemudian..


Bukankah seharusnya Ia merasa senang karna Azka menunjukkan perhatian terhadap Yuri?


Tapi..


Tapi..


Hati kecilnya kembali menyuarakan rasa kecemburuan lah yang menjadi penyebabnya.


Ah,


lagi-lagi Yuna menepiskan rasa semacam itu dan tak ingin terus bergelung dengan rasa yang tak jelas dapat dimengerti olehnya.


Kecemburuan pasti tidak termasuk kedalam perasaan yang sedang dirasakan olehnya. Yakinnya kemudian..


Dan rasa itu segera teralihkan ketika ketukan pada pintu kamar Yuri terdengar, dengan Sulis yang kemudian masuk kedalamnya..


“Selamat pagi..”


“Oh, dokter Sulis.. Anda datang..”


Sulis tersenyum dan melangkah semakin dekat..


“Aku ingin melihat bagaimana keadaanmu, Yuri?”


Yuna lantas mengatakan pada Yuri bahwa Ia akan berada diluar dan membiarkannya untuk berbicara dengan Sulis. Sulis mungkin akan memulai sesi terapi pada Yuri, maka akan lebih nyaman bila dirinya membiarkan Yuri untuk mengatakan apa yang dirasakannya pada Sulis, tanpa kehadirannya disana..


Berada diluar dan langsung menerima secangkir teh hangat yang diberikan Jena padanya, Yuna mendengar bunyi pada ponselnya ketika dirinya baru memulai untuk menyesap teh didalam cangkirnya..


*Merindukanmu..


Isi pesan teks yang dibacanya dari kontak dengan nama ‘Tunanganku’ sesaat membuat Yuna mengernyit, sebelum akhirnya menyadari Azka lah yang mengirim pesan itu kedalam ponselnya..


*Sebelum berada dikantor, Aku akan datang untuk memeriksamu..


Satu pesan lagi masuk, dan Yuna lantas membalasnya.


****Tidak perlu datang..


*Aku akan datang, aku sudah berada diperjalanan..


*Kak Yuri baik-baik saja, tidak perlu datang..


*Aku datang untukmu, bukan karna Yuri***..


Yuna kembali mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya, tanpa sadar dengan ekspresi memberengut diwajahnya. Teringat akan buket bunga yang dilihatnya dikamar Yuri tadi..


*Urus saja kantormu. Masih Ada Jena disini..


Yuna meletakkan ponselnya segera setelah mengirimkan pesan itu, namun kemudian bukan lagi pesan teks yang didapatkannya sebagai balasan, melainkan panggilan yang langsung dilakukan Azka..


“Hei, apa kau marah padaku?”


Yuna hanya dapat menggigit bibir bawahnya begitu mendengar suara Azka disambungan telponnya..


“Jika kau terus menggigit bibir mu seperti itu dan tidak menjawab pertanyaanku, jangan salahkan aku karna dalam hitungan detik aku akan berada dihadapanmu..”


Yuna menoleh..


Oh dear..


Nyatanya Azka memang telah berada tak jauh darinya..


***


to be continue