At First Sight

At First Sight
Episode 2



Oh dear..


Aku seharusnya ikut menundukkan


wajahku.


Bukan justru menatapnya kasar dan


mencaci didalam hatiku..


Bagaimana ini..?


Yang kemudian kulakukan hanyalah


menundukkan wajahku, menghindari


tatapan matanya yang lurus mengarah


padaku.


Sial..


Dari banyaknya orang yang berada


disini mengapa dia harus melihatku?


Oh, jelas..


Mereka semua menunduk memberi


hormat. Sedangkan yang kulakukan


justru menatapnya dengan marah dan


cacian yang siap kukatakan padanya


andai aku tak memikirkan


kewarasanku saat ini.


Tuhan..


Kali ini Kau harus menolongku.


Aku tak ingin menerima resiko


dimarahi Mas Doni karna


kecerobohanku.


Tapi bahkan setelah menyembunyikan


wajahku, aku masih bisa merasakan


tatapan matanya yang menusuk


kedalam tulang-tulangku.


Apakah dia benar-benar masih


menatapku?


Sayangnya aku tak bisa memastikan


itu.


Benar-benar sial..


Harusnya aku tak melakukan hal


bodoh seperti ini.


“Dia karyawan baru.. Dia pasti belum


mengerti apa yang harus dia lakukan


ketika anda datang..”


Itu suara Mas Doni..


Sejak kapan dia berada disana?


Aku bahkan tak bisa memandangnya


gara-gara pria itu..


Menyebalkan..


“Pastikan dia bekerja dengan benar.Jika tidak, kau boleh memecatnya..”


Sialan..


Harusnya aku bisa meneriakkan


didepan wajahnya jika bukan karna


Kak Yuri, aku takkan sudi


menginjakkan kakiku disini.


“Saya akan melakukan apa yang anda


katakan.. Tapi sebaiknya anda tak


berlama-lama disini. Ada rapat yang


harus anda pimpin..”


Aku sedikit bisa bernapas lega ketika


Pria itu meneruskan langkahnya


dengan diikuti beberapa orang


dibelakangnya, termasuk Mas Doni


Dengan hal itu saja aku sudah bisa


memastikan betapa yang aku pikirkan


adalah benar.


Pria itu tak lebih dari seorang


pecundang bodoh.


Bagaimana bisa dia tak menyadari


jika Mas Doni, salah satu yang


terlihat patuh dibelakangnya,


mengikuti langkahnya, ternyata


sedang merencanakan sesuatu


dikepalanya untuk menghancurkan


dirinya.


Oh..


Tapi akan lebih baik jika pria itu


mempertahankan kebodohannya yang


akan mempermudah kerjaku dan juga


Mas Doni dengan rencana kami..


Mengangkat wajahku untuk melihat


Mas Doni, Aku akan mencatat


telah menghindarkanku dari masalah.


“Astaga Yuna.. Apa kau menatapnya tadi?”


Husna mulai bersuara. Aku tahu dia akan mengoceh setelahnya..


“hmm..”


“Kau gila.. Aku bahkan tak berani melakukannya. Aku harus cukup puas dengan memandangi punggungnya..”


Menggelikan..


Apa yang bisa dia kagumi hanya dari sebuah punggung?


Wajahnya bahkan tak cukup menarik dimataku..


“Jadi selama ini kau tak tahu seperti apa wajahnya?”


“tentu saja aku tahu.. Jika tidak aku takkan menyebutnya pangeran. Aku bisa mencuri pandang darinya. Tidak seperti apa yang kau lakukan tadi..”


Husna mulai menarik lenganku


kembali kemeja resepsionis, sebelum


seseorang memberikan teguran pada


kami..


“Kau benar-benar menunjukkan


ke-terpesona-an mu tadi..”


“Aku tidak sedang melakukannya..”


“Jangan mengelak.. Kau pasti wanita


normal yang juga tertarik dengan


ketampanan dan kemapanannya”


Aku mengangkat bahu.


Bisakah Husna mengganti topik


pembicaraannya.


Ini benar-benar memuakkan..


“Tapi sayangnya Tuan muda itu


takkan menggunakan matanya untuk


melirik kita.. Apalagi kau..”


“Aku? Mengapa dengan ku?”


“Kau masih cukup belia untuknya..”


“Kau tahu berapa usianya?”


“Tentu saja aku tahu.. Dia 28 tahun..”


Husna menggunakan kedua


tangannya untuk mempertegas


penyebutan angkanya padaku.


“Kau 18 tahun, itu berarti kalian


terpaut sepuluh tahun.. Cukup jauh


untuk bisa disatukan”


Aku mendengus kearahnya.


Memangnya siapa yang ingin


disatukan dengan pria bajingan itu?


Ya..


Aku memang masih belia jika


dikategorikan kedalam gadis-gadis


kaya yang manja.


Aku delapan belas tahun. Dan hanya


menyelesaikan sekolah menengahku.


Karna apa yang dilakukannya pada


Kak Yuri, aku harus mengubur


dalam-dalam mimpiku untuk masuk


universitas dan mencantumkan gelar


sarjana dibelakang namaku.


Kehidupanku cukup keras untuk


menyebut diriku belia diusia ku saat


ini..


“dan berapa usiamu?”


Aku mencoba bertanya untuk


menghindari tatapan Husna yang


mulai menyelidik kearahku..


“Oh, Aku? Aku sudah 20 tahun..”


“Kau juga cukup muda untuk


disandingkan dengannya. Dan 20


tahun.. Kau seharusnya


memberitahukannya padaku. Aku


sangat tidak sopan.. Seharusnya aku


memanggilmu kakak bukan?”


“Ya ampun.. Setidaknya aku dua tahun


diatasmu dan hanya terpaut delapan


tahun dengannya. Dan jangan


memanggilku kakak saat dikantor,


biarkan mereka menganggap kita


seumuran”


Aku terkikik..


Terkadang Husna memang cukup


lucu disaat-saat tertentu.


***


To be continued