At First Sight

At First Sight
Episode 52



Yuna POV


Aku merosot menjatuhkan tubuhku ke lantai berlapis karpet tebal yang terasa hangat ketika bersentuhan dengan kulit kakiku, sesaat setelah Azka menutup pintu kamarnya dan membiarkan aku sendiri didalamnya.


Kedua lutut ku benar-benar lemas, tubuhku bergetar hebat, dan didalam kepala ku berputar. Mengulang-ulang apa yang di ucapkan Azka tadi.


Permainan telah berakhir..


Dia sudah tahu apa yang ku rencanakan, apa yang mas Doni rencanakan. Dia mendengar pembicaraan kami pagi tadi dan bahkan sebelum malam pertunangan itu terjadi, dia telah mengetahui semua rencana itu. Tapi dia dengan sengaja menyembunyikan nya dan justru bermain dalam permainan kami, tanpa sedikitpun ku sadari.


Bagaimana bisa..


Dari mana dia tahu?


Siapa yang mengatakannya?


Aku sama sekali tak menemukan jawaban untuk itu.


Apa yang dikatakan Azka dan sekaligus ucapan Mas Doni memenuhi kepalaku. Berputar-putar dengan bergantian didalam benakku. Apa yang diucapkan keduanya sangatlah bertentangan. Bertolak belakang satu sama lain. Dan hal itu jelas membingungkan ku.


Kau salah mempercayai seseorang..


Benarkah seperti itu?


Azka mengatakan aku hanyalah gadis belia bodoh karna mempercayai apa yang diucapkan Mas Doni. Tapi aku merasa memang dia lah satu-satunya orang yang dapat ku percayai. Aku tak pernah mendapati Mas Doni membohongiku. Dia selalu berkata jujur. Aku telah lama mengenalnya, dan dia begitu baik padaku dan juga pada Kak Yuri.


Aku benar-benar bingung. Siapa yang harus kupercayai sekarang?


“Kakak.. Kakak, aku membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu Kak Yuri..”


Dengan memeluk kedua lututku, Aku terisak dengan cukup banyak airmata yang tertumpah. Aku tak bisa mengendalikannya. Aku tak bisa menahannya. Aku menangis hingga tersedak. Aku membutuhkan Kak Yuri disampingku. Aku lebih membutuhkannya sekarang untuk mengatakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padanya. Apa yang sesungguhnya membuatnya mengalami kesakitan seperti itu. Apapun itu aku jelas akan mempercayai ucapannya.


Aku selalu percaya padanya tanpa sedikitpun ada keraguan didalamnya. Dia kakakku, dia satu-satunya yang kumiliki dan yang selalu melindungiku. Kebutuhanku pada kehadiran Kak Yuri sama hal nya dengan kebutuhanku akan udara untuk ku bernapas. Kurasa aku akan segera terkapar tanpanya. Saat ini, saat aku benar-benar takut sendirian.


Dapatkah dia memelukku sekarang.


Membelai rambutku dengan sayang.


Menggenggam tanganku dengan erat dan mengatakan semua akan baik-baik saja.


Aku akan baik-baik saja, begitupun dengan dirinya yang dalam keadaan baik-baik saja.


Tuhan..


Dapatkah Kau membawa dia kehadapanku sekarang..


Ku mohon..


Setidaknya sekali ini saja, hanya saat ini saja, tunjukkanlah kebesaran Mu dengan nyata kehadapanku.


Bawa Kak Yuri padaku, kumohon..


Aku benar-benar memohon.


“Ka-kak.. Kak-Yu-ri..”


Aku tersedak oleh airmata dan merasa sesak didada ku. Aku yang telah membuat diriku terjerembab kedalam kubangan menyedihkan seperti ini dan aku mungkin akan segera tenggelam kedalamnya. Aku butuh berpegangan sebelum aku benar-benar tenggelam, jika tidak aku pasti takkan sanggup mengatasi kekacauan ini.


Aku membutuhkanmu Kak..


Aku butuh dirimu untuk menjadi pegangan dan menyelamatkanku..


Aku terus menangis. Aku tak bisa mengendalikan airmata yang terus mengalir seakan takkan pernah mengering seberapa banyakpun aku telah menumpahkannya dari kedua mataku.


Bahkan setelah beberapa waktu lamanya, aku masih merasakan wajahku yang basah.


Aku terdiam ketika memandang pada pintu kamarnya. Dia keluar membawa kemarahannya dan meninggalkanku disini setelah mengatakan mengusirku dari rumahnya.


Dimana dia sekarang?


Kemana Azka pergi saat dini hari seperti ini?


Aku tidak mendengar ada suara mobil, dia mungkin berada dalam salah satu ruang didalam rumahnya yang sebesar ini.


Apa aku harus menunggunya?


Apa aku perlu menunggunya kembali masuk dan kemudian berbicara lagi dengannya?


Tapi berada didalam kamar Azka, dengan bau parfum yang bercampur dengan aromatubuhnya, yang memenuhi seluruh ruang kamarnya hanya membuatku semakin merasakan sesak didada dan membuatku tertekan.


Aku si gadis belia bodoh yang telah diusir olehnya. Dan sudah seharusnya aku pergi dari sini.


Aku juga tidak ingin membuat kehebohan bila seseorang, terlebih ibunya menemukanku berada didalam kamarnya.


Maka dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, aku berusaha keras untuk berdiri dan menyeret kedua kakiku yang lemas dan telah menjadi seperti jeli untuk keluar dari dalam kamarnya.


Aku bergerak seperti siput saat mencoba menaiki anak tangga untuk mencapai kamar yang ku tempati. Meski Aku seharusnya pergi setelah dia mengusirku. Tapi ini masih dini hari dan aku tidak memiliki kunci untuk keluar dari rumah ini. Aku juga masih ingin menangis. Aku pasti akan menangis saat telah berada didalam kamarku.


Dan aku benar-benar melakukannya..


Dengan menjatuhkan tubuhku diatas tempat tidur, aku meredam jerit tangisanku diatas batal. Terus-terusan menangis dalam beberapa jam, membuat kepalaku terasa berat. Pusing menyerangku dengan luar biasa hebat, aku segera melarikan tubuhku ke kamar mandi ketika sesuatu didalam perutku bergolak. membuatku mual dan akhirnya muntah.


Lebih dari sepuluh menit aku berada didepan kloset, sampai benar-benar merasakan tak ada lagi sesuatu didalam perutku yang bisa dimuntahkan, aku baru beranjak.


Membasuh mulutku dengan air, tanganku kemudian bergerak mengatur suhu air agar menjadi hangat. Setelahnya aku menyalakan shower dan berdiri dibawahnya. Aku membuat seluruh tubuhku menjadi basah, sengaja melakukannya agar airmataku yang kembali menetes ikut terbawa oleh air yang mengguyur tubuhku. Ini telah menjadi kebiasaan. Aku selalu melakukannya saat tak bisa menghentikan airmataku.


Seperti sekarang ini, setelah aku mengetahui semua akan menjadi kekacauan. Setelah Aku benar-benar mengacaukan semuanya, aku hanya bisa menangis dan terus menangis..


Aku bersungguh-sungguh, airmataku seakan tak bisa mengering..


Apa yang akan dikatakan Mas Doni bila mengetahuinya nanti?


Aku tak dapat membayangkannya..


Aku tak ingin memikirkannya..


“Kakak.. kakak..”


Aku terus memanggil kak Yuri dalam isakan tangisku dan tubuhku yang mulai merosot. Lututku semakin lemas dan tak kuat lagi menahan berat tubuhku, membuatku terduduk dilantai kamar mandi dengan air dari shower yang terus mengalir membasahiku.


Aku tak bisa bergerak..


Aku memang tak ingin beranjak..


Aku pasti telah cukup lama berada didalam kamar mandi ketika kemudian ku dengar pintu diketuk dari luar..


Ibu Azka telah berada didalam kamarku..


“Yuna..”


“I.. iya, I-bu..”


Aku bergegas keluar dari bawah pancuran air yang berasal dari shower, mematikannya dan merasakan tubuhku menggigil setelahnya.


Aku benar-benar telah lama berada dibawahnya.


Basah kuyup, aku melepas semua pakaianku dan mengambil handuk untuk menutupi tubuhku. Setelah terlebih dulu mengatur pernapasanku, aku membuka kuncian pada pintu. Berjalan keluar, aku mendapati Ibu Azka sedang berdiri didepan lemari pakaianku dengan beberapa pakaian yang telah berada diatas tempat tidurku.


Tidak..


Aku tidak bisa lagi menganggap semua itu milikku. Aku akan pergi dan meninggalkannya. Aku telah diusir..


Mengingat kembali apa yang Azka katakan semalam hanya membuatku semakin menggigil. Gigiku pasti sedang membuat suara bergemeletuk, saat Ibu Azka kemudian beralih menatapku.


“Ada apa?”


Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, dan mencoba menunjukkan senyum dibibirku..


“Berapa lama kau telah berada didalam kamar mandi?”


Dia berjalan mendekatiku, mengamatiku dengan kedua matanya yang menatapku dengan awas..


Ibu Azka pasti menyadari aku sedang menggigil. Dia memutar matanya kearahku..


“Kau tidak bertingkah seperti anak kecil yang bermain air disaat sedang mandi kan?”


“I-ibu.. A-ku.. Aku..”


Astaga..


Aku benar-benar menggigil.


“Jawab aku Yuna? Berapa lama kau berada didalam kamar mandi?”


“Tidak terlalu lama Bu.. Mungkin, mungkin sekitar tiga puluh menit..”


Aku berbohong..


Aku pasti telah berada didalam sana lebih dari satu jam lamanya. Mungkin telah mencapai dua jam.


“Dan apa yang terjadi? kau menangis?”


Aku tahu, dia memperhatikan mataku yang sudah pasti membengkak, disebabkan oleh tangisan yang terus-menerus..


“Tiga puluh menit berada didalam kamar mandi sudah termasuk waktu yang lama, Yuna. Apa saja yang kau lakukan?”


“Aku.. Aku, kepalaku terasa pusing.. Aku mual dan muntah..”


Ibu Azka melebarkan mata kearahku..


“Apa? Apa yang kau katakan tadi?”


“Tadi kepalaku terasa pusing. Perutku mual dan kemudian aku muntah, Ibu..”


Aku mengulang apa yang sebelumnya kukatakan. Aku mengatakan apa yang sejujurnya tapi mengapa wanita itu masih tetap melebarkan matanya kearahku. Aku justru merasa dia berubah panik setelahnya.


“Ya Tuhan.. Bagaimana ini? Mengapa sampai sejauh itu..?”


Dia beranjak dari hadapanku dan terlihat mondar-mandir disekitar tempat tidur.


“Astaga Yuna.. Bagaimana kau bisa membiarkan hal seperti itu terjadi?”


“Aku.. Aku tak bisa menahan diriku, Ibu. Aku..”


Dia melotot kearahku.


“Apa Kau baru saja mengatakan tidak bisa menahan diri? Ya Tuhan.. Mengapa ada gadis sepertimu..”


aku tak mengerti..


apa maksudnya?


Aku memang merasakan pusing, kepalaku sakit. Perutku tiba-tiba bergolak mual. Aku tak bisa menahan diriku untuk muntah.


“Kau pikir apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Nanti.. Dengan itu.. Dengan janin didalam perutmu..”


Janin?


Aku melongo ketika dia mengarahkan tatapannya pada tubuhku, tertuju pada perutku.


Jadi..


Jadi maksudnya?


Oh ya ampun..


“Kau pikir kau akan bisa mengatasinya..! Astaga.. Kau tidak sadar kau masih gadis belia?! Bagaimana bisa kau tidak memikirkan masa depanmu, Yuna!”


“Ibu.. ibu, aku tidak..”


“Kau tidak berhati-hati.. Kau ceroboh.. Kau gadis yang liar, Yuna..!”


Dia terduduk diatas tempat tidur dan menghela napasnya berkali-kali.


“Ibu..”


Aku mendekat, berada dihadapannya dan mencoba meraih tangannya namun dia menepisnya.


“Aku marah padamu, Yuna.. bukan hanya kau tapi juga Azka. Astaga.. aku sudah memperingatkannya untuk berhenti menyentuhmu..”


Oh Ya Tuhan kenapa Ibu Azka bisa punya pemikiran seperti itu...


Astaga.


***


to be continue