At First Sight

At First Sight
Episode 29



Author POV


Apa yang selanjutnya terjadi setelah siang itu..


Setelah Yuna kedapatan menjahili Azka. Dan setelah Azka dibuat terpesona, bahkan tak bisa beralih untuk terus memperhatikan bibir sewarna merah jambu milik Yuna, ialah kacau..


Azka benar-benar merasa kacau dengan apa yang berada dalam pemikirannya saat itu.


Ia merasa bodoh dan..


Dan mesum..


Astaga..


Sebelumnya tak ada seorang gadis pun yang pernah membuatnya berpikiran kotor terlebih membuatnya membicarakan kebodohan dengan mengatakan ia berani bertaruh akan dapat menciumnya hingga gadis itu kehabisan napas.


Ia tahu pasti..


Saat kalimat itu terucap. Ia telah menjadi gila..


Azka bahkan merasakan jantungnya berdegup kencang pada saat berniat untuk meminum kopi yang tadi dibawakan oleh Yuna, hanya karna membayangkan bibirnya akan menempel dengan bekas bibir Yuna yang tertinggal pada cangkir itu. Alhasil, Azka hanya memandangi dan sesekali memegang cangkir kopi itu tanpa berani untuk meminumnya.


Hingga malam menjelang, Azka bahkan tak tahu apa yang sudah dikerjakannya, atau memang tak ada yang benar-benar dikerjakannya dikarenakan dirinya tak bisa berkonsentrasi pada beberapa berkas dihadapannya.


Azka baru keluar dari ruang kerjanya pada saat Bibi Lia memanggilnya untuk makan malam.


“Azka.. Sudah waktunya makan malam.. Tinggalkanlah dulu pekerjaanmu..”


Andai Bibi Lia tahu tak ada yang pada saat itu dikerjakannya selain memikirkan bahwa Ia mungkin telah mengalami pemikiran yang menyimpang. Atau ketertarikan menyimpang sebenarnya.


Bagaimana mungkin Ia tertarik pada seorang gadis hanya karna bibirnya, terlebih gadis itu masihlah belia dan Yuna..


Jelas-jelas dirinya mengetahui pasti bahwa gadis itu memiliki niat terselubung untuk menghancurkannya.


Sial..


Azka menggeram sebelum kemudian menjawab Bibi Lia yang terus mengetuk pintu ruang kerjanya.


“Iya, bibi aku sudah selesai.. Aku akan segera keluar..”


Ayah dan ibu nya telah menunggu diruang makan, juga Yuna pastinya telah berada disana.


Membayangkan nanti Ia akan kembali bertemu dengan gadis itu membuat Azka kembali merasakan jantungnya berdegup lebih kencang dua kali lipat mungkin, dibanding biasanya.


Maka membiarkan berkas-berkasnya tetap berada diatas meja, Azka lantas keluar dari dalam ruang kerjanya. Melangkah kearah ruang makan dan mulai mendengar ada pembicaraan antara ayahnya dengan Yuna dan melihat ibunya yang juga berada disana, namun tak menunjukkan keterlibatan pada pembicaraan ayahnya..


“Oh, Azka..”


Azka menarik sudut bibirnya untuk tersenyum pada ayahnya yang saat itu menyapanya.


“Duduklah Azka.. Pekerjaan macam apa yang kau bawa pulang dan kau kerjakan hingga membuatmu terlihat kusut seperti itu..”


Ibunya mengungkapkan, dan Azka langsung memperhatikan dirinya sendiri. Apa yang ibunya katakan mengenai kekusutan dirinya mungkin terlihat dari rambutnya yang berantakan, Azka menyadari Ia telah berkali-kali menarik, mengacak-acak rambut di kepalanya karna frustasi dengan apa yang dipikirkannya mengenai Yuna.


Yuna..


Teringat akan kekacauan dirinya disebabkan oleh gadis itu,


Azka kemudian mengarahkan pandangannya pada Yuna. Ayahnya tak terdengar lagi mengatakan sesuatu dan telah menghentikan obrolannya dengan Yuna, dan gadis itu hanya menundukkan wajah setelahnya.


“Ck! Azka.. Kau tidak mendengar mama?”


Ny.Dania mendecak, menyadari kemana arah pandangan mata Azka pada saat itu. Putranya sedang terang-terangan memperhatikan Yuna yang entah mengapa pada saat itu, Ny.Dania menempatkannya untuk duduk disebelahnya dan bukannya seperti sebelumnya dimana Yuna akan duduk disamping Azka. Mungkin wanita itu sedang mencegah terjadinya kontak fisik antara keduanya, yang tidak diketahuinya.


Namun bila mengetahui Azka tak lepas memperhatikan Yuna, Ny.Dania merasakan percuma saja Ia menempatkan gadis itu untuk duduk disebelahnya, dan menjauhkannya dari jangkauan tangan Azka saat makan malam itu. Karna dimanapun Yuna berada, Azka akan tetaplah memperhatikannya.


“Azka..!”


Ny.Dania merasa tak digubris oleh putranya. Dengan kesal ia menjatuhkan sebuah sendok, dan membuat benda itu mendenting saat terjatuh, hingga kemudian menarik perhatian Azka untuk menatap kearahnya.


“Ada apa ma?”


“Kau tidak mendengar apa yang mama tanyakan..?”


“Euh.. Aku dengar ma, tentu saja aku membawa pekerjaan kantor”


Ny.Dania tak cukup puas dengan jawaban yang diberikan oleh Azka, tapi apa yang bisa dilakukannya. Azka sudah kembali mengarahkan tatapannya kearah Yuna yang masih juga tak mengarahkan pandangan matanya kearahnya.


Yuna masih tertunduk, mungkin sedang memilin jemarinya diatas pangkuannya..


Dalam hati Azka mempertanyakan, apa yang mungkin sedang dipikirkan oleh Yuna setelah apa yang pada siang tadi dikatakannya?


Oh tentu saja..


Gadis itu akan semakin menanamkan pemikiran dalam kepalanya, bila dirinya adalah seorang ****..


Sial..


Mendadak Azka merasakan keinginan untuk membuat Yuna tidak memberikan penilaian pada dirinya sebagai seorang ****.


Sebenarnya yang dirasakan oleh Yuna pada saat itu adalah takut. Takut apakah dirinya akan sanggup menghadapi sikap Azka yang seperti itu terhadapnya.


Sikap yang sesungguhnya masihlah susah untuk dimengerti olehnya.


Azka menunjukkan padanya sikapnya yang seringkali berubah-ubah dan membuat Yuna tak dapat menerka ataupun memprediksi dan tak tahu pasti apa yang selanjutnya akan dilakukan pria itu.


Yang Yuna tahu Azka juga tidak menginginkan bertunangan dengannya, tapi pria itu melakukannya hanya dengan mengatakan alasan tak ingin mempermalukan kedua orangtua nya dan membuat Yuna bertanggung jawab atas aksinya mencium Azka hingga membuat pria itu bereaksi lebih.


“Sebaiknya kita mulai saja makan malamnya.. Aku sudah lapar. Bibi..”


Tn.Rian mengubah topik dan menyadari sang istri mendengus kesal kearahnya, namun kekesalan itu masihlah belum membuatnya melupakan apa yang seharusnya Ia lakukan.


Biasanya Ny.Dania akan melakukan hal yang sama pada Azka. Namun nampaknya Ia masih terlalu kesal untuk melakukannya.


Baru saja Ny.Dania berniat untuk mengambil makanan untuk dirinya sendiri ketika kemudian Bibi Lia muncul dan menghampiri tempat duduknya..


“Nyonya, maaf mengganggu anda.. Tapi seorang teman anda menelpon dan menginginkan untuk berbicara dengan anda..”


“Siapa bi?”


“Ny.Sri..”


“Sri Rahayu maksudnya?”


Bibi Lia mengangguk.


“Katakan padanya aku sedang tidak berada dirumah..”


Tn.Rian mengerutkan dahi dan Azka juga langsung mengarahkan tatapannya pada sang ibu, begitupun dengan Yuna. Ketiganya jelas menginginkan untuk tahu mengapa wanita itu meminta Bibi Lia untuk mengatakan kebohongan mengenai keberadaannya pada sang teman.


“Maaf Nyonya.. Tapi saya sudah terlanjur mengatakan keberadaan anda dirumah. Saya pikir ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan dengan anda..”


Bibi Lia sedikit membungkuk dan beralih. Ny.Dania lantas mendengus dan meletakkan sumpit ditangannya..


“Ada apa sih wanita itu menghubungiku..?”


Ny.Dania berdiri dari duduknya dengan menggumamkan gerutuan dibibirnya.


“Kenapa ma..?”


“Tidak apa-apa Pa, teruskanlah makan kalian, aku akan mengurus wanita itu terlebih dulu..”


Jelas terlihat bila Ny.dania tak terlalu senang terhadap telpon dari seorang wanita yang menghubunginya.


Terlebih untuk berbicara lagi dengan seseorang itu, wanita yang menghubunginya itu adalah salah satu dari beberapa temannya yang membuatnya kesal dengan terus membicarakan dan mempertanyakan mengenai Yuna, disiang hari tadi saat janji makan siang yang kemudian ditinggalkannya.


“Halo..”


Ny.Dania memulai dengan sapaan yang terdengar datar dan sama sekali tidak antusias. Mendengar wanita itu mengoceh melalui sambungan telponnya. Mengatakan bahwa sesaat setelah Ny.Dania meninggalkan acara makan siang bersama tadi, Ibu Jessica muncul, datang dengan mengajak sang putri bersamanya.


Jelas tersirat niatan dari wanita itu yang sedang memancingnya untuk membicarakan Yuna dan lantas membandingkannya dengan Jessica.


Ny.Dania sadar, Yuna masih tidak sebanding dengan Jessica..


“Kau pikir aku pergi karna menghindar untuk bertemu dengan mereka? Aku bahkan tidak mengetahui kalian juga mengundangnya..”


Ny.Dania sudah merasakan kekesalan pada saat itu..


“Beberapa orang dari kami mengira seperti itu, kau juga tahu kan kami sempat percaya jika kalian akan berbesanan dengan Jessica yang menjadi tunangan putramu.. Dan bukan gadis…”


wanita itu menghentikan ucapannya..


“Tapi percayalah.. Aku bukan seseorang itu yang berpikiran semacam itu terhadapmu..”


Ny.Dania sama sekali tak berpikir akan mempercayai omongan sang teman. Ia tahu pasti seperti apa karak


ter dari wanita itu. Seseorang yang gemar bergosip..


“Kau menghubungiku hanya untuk menyampaikan hal tidak penting seperti ini?”


“Oh, tentu saja tidak.. Aku ingin mengundangmu pada acara amal yang diselenggarakan suamiku. Dan..emm, bisakah kau mengajak tunangan putramu?”


“Apa maksudmu?”


“Tentu saja kau harus memperkenalkannya pada kami bukan? Kau begitu saja pergi pada acara setelah pertunangan putramu.. Gadis itu tentu harus diperkenalkan dengan lingkungan barunya. emm.. Kau tidak sedang mencoba untuk menyembunyikan gadis itu dengan statusnya sebagai tunangan putramu kan?”


Ny.Dania menahan geraman kekesalannya atas tuduhan menyembunyikan tunangan putranya, yang dikatakan wanita itu terhadapnya..


“Bagaimana? Kau akan datang?”


“Aku akan memikirkannya..”


“Oh, katakanlah kau akan datang.. Aku benar-benar mengharapkan kehadiranmu. Semua diantara kita tahu, bahwa kau salah satu yang sering beramal dan tentu saja dengan jumlah yang besar. Kau tentu tidak akan melewatkan acara semacam ini hanya karna aku memintamu untuk membawa tunangan Azka..”


Wanita itu benar-benar bermulut besar..


Ny.Dania menggumam didalam hati. Dan menyesalkan mengapa dirinya bisa berteman dengan wanita itu.


“Aku juga akan mengajak Tania, putriku..”


Ny.Dania teringat ketika dirinya juga pernah berniat untuk menjodohkan Azka dengan putri dari wanita itu. Wanita itu memiliki seorang putri berwajah cantik dan manis, Ia takkan mengingkari hal itu. Namun pada saat itu Azka terus beralasan dan pada akhirnya menolak.


Dan sekarang sepertinya Ny.Dania mensyukuri penolakan Azka. Ia pasti akan menyesalkan bila Azka memiliki seorang ibu mertua yang menyebalkan menurutnya, seperti wanita itu..


“Ayolah.. Katakan padaku kau akan datang..”


Ny.Dania menghela napas sebelum memberikan jawaban..


“Baiklah..”


“Bersama gadis itu kan? Tunangan putramu..?”


“Hm, aku akan membawanya bersamaku..”


Wanita itu memekik senang dan Ny.dania sama sekali tak mengerti ada maksud apa dibalik kesenangan wanita itu hanya karna dirinya mengatakan akan datang dengan membawa Yuna bersamanya.


***


to be continue