
Merasakan berbagai pemikiran yang berkecamuk dibenaknya, menyertai kelebat gambaran dari beberapa kejadian yang dialaminya, Yuri masih tak melepaskan pelukannya ditubuh Azka.
Ia sedang teringat dengan bagaimana hari-hari yang dilewatinya saat masih menjadi sekertaris Azka. Pria itu selalu begitu memukau dan membuatnya terpesona. Bukan hanya dari tampilan fisiknya semata, melainkan juga dengan segala pemikiran-pemikiran dan ide briliant yang selalu dapat menghasilkan mitra-mitra bisnis berebut menjadi rekan kerja utama didalam perusahaannya.
Yuri kagum akan hal itu dan menjadi banyak belajar dari pengalaman-pengalamannya saat bekerja mendampingi Azka. Ia selaras mengimbangi ritme kerja pria itu yang cekatan. Hingga diam-diam dari kekagumannya dan seringnya ia berinteraksi dalam hubungan pekerjaan maupun diluar pekerjaan itu menyelipkan rasa yang lebih mendalam dihatinya.
Azka pasti tak pernah menyadari ketika kerap kali ia betah berlama-lama hanya memperhatikannya yang sedang bekerja. Atau memberinya perhatian-perhatian kecil semacam menanyakan menu makan siang yang diinginkannya. Yuri bahkan tak pernah absen menyeduh kopi untuknya. Kebiasaan-kebiasaan Azka selama dikantor seperti telah ia hapal diluar kepala.
Sampai pada suatu malam ia memiliki keberanian untuk mengutarakan perasaannya terhadap pria itu. Yuri tahu, bila tak segera mengambil inisiatif seperti itu, ia tak akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati Azka. Terlebih bila mengingat ia harus bersaing dengan banyak wanita yang juga menaruh hati padanya. Bukan ia merasa tak percaya diri, namun status sosial yang mereka miliki, kerap kali membuatnya merasa tak cukup setara bila dibandingkan dengan mereka.
Tapi malam itu..
Malam itu justru berakhir dengan kekecewaan yang teramat dalam melukai perasaannya. Sebuah penolakan yang diucapkan Azka atas pernyataan cintanya, membuatnya seakan merasakan langit diatasnya runtuh seketika. Dan dunianya bahkan bertambah hancur setelahnya..
Setelah Doni..
Setelah pria itu..
Tidak..
Yuri menutup rapat kedua matanya. Berharap ia tak melihat kejadian malam itu yang seakan tengah terputar jelas dihadapannya.
Airmatanya lolos, tangannya mengerat memeluk Azka seakan tubuhnya sedang mencari perlindungan dari pria itu.
Ia tidak akan membiarkan dirinya mengingat kejadian menjijikkan dimalam itu.
Tidak..
Tidak akan pernah.
“Azka.. Aku takut.. Aku benar-benar takut..”
gumamnya lirih, merasakan tangan Azka yang kemudian berada diatas kepalanya dan mengusap-usap pada rambutnya..
“Apa yang kau takutkan, Yuri? Kau tidak perlu merasa takut..”
Tapi kemudian..
Apa yang sebelumnya telah didengarnya?
Suara seorang wanita yang dengan yakin mengatakan bila Azka telah bertunangan. Bertunangan dengan Yuna, dengan adiknya.
Menggantikan ingatan dari kejadian menyakitkan malam itu, menjadi sesuatu yang tak kalah menyakitkan untuk ia terima.
Benarkah?
Benarkah bila Yuna melakukannya..?
Bagaimana bisa..
Bagaimana mungkin Yuna tega melakukan itu padanya.
Yang kemudian dirasakan olehnya adalah perasaan terluka yang disertai dengan kekecewaan yang luar biasa dalam dihatinya.
Yuna adiknya..
Adik manis kesayangannya, tahu akan betapa ia mencintai Azka. Maka tidaklah mungkin dia menjadi pengkhianat untuknya.
Tapi..
Tapi, Ya Tuhan..
Kenyataan yang coba Yuri sangkal bahwa ia bahkan dapat melihat cincin yang melingkar dijari Azka saat itu, menggerus hatinya yang sedemikian terasa sakitnya.
Bukan selama ini ia tak menyadari, ia bahkan selalu terus memperhatikan pada cincin pria itu, namun juga terus mengingkari terhadap arti yang dimiliki benda itu hingga tak pernah terlihat lepas melingkari salah satu jarinya.
Seperti yang dikatakan wanita itu, benda itu mengartikan bahwa Azka telah bertunangan. Bertunangan dengan adiknya.
Tidak..
Tidak mungkin..
Karna Yuna tak memiliki cincin dijarinya.
Ya..
Yuna tidak memiliki itu.
Wanita itu berbohong. Dia jelas hanyalah seorang pembohong yang ingin menghancurkan kepercayaannya terhadap Yuna.
Tapi..
Ya Tuhan..
Sekali lagi, gambaran kejadian lain mendadak muncul dan seakan tengah mengitarinya.
“Kau tahu apa yang telah dilakukan adikmu, Yuri ah? Dia bertunangan.. Yuna bertunangan dengan Azka. Si brengsek itu.. Kau masih mengingatnya? Aku berharap kau tak lagi mengingat pria bodoh itu yang telah menolak cintamu. Tapi aku tetap akan mengatakan padamu bahwa adikmu, Yuna telah bertunangan dengan Azka Rianda, si brengsek yang kau cintai. Bukankah kau merasa tersakiti sekarang..”
Yuri mendadak dihantui kepanikan, ketika mendengar suara-suara yang seakan terus mencoba membuka kedua matanya.
“*Lihatlah, Yuna bahkan masih mengenakan cincin pertunangannya. Apakah kau masih akan mengelak, Yuna? Kaulah yang sebenarnya telah menyakiti kakakmu dan bukan aku..!”
“Tidak, Kak.. Itu tidak benar. Pertunangan itu sandiwara. Hanya main-main, bukan sesuatu yang sesungguhnya. Dan cincin ini..”
“Cincin ini juga main-main, kak.. Hanya main-main..”
“Tidak ada pertunangan yang sesungguhnya. Tidak Kak, itu tidak terjadi..”
“Dan bagaimana dengan kalian yang telah tingal bersama.. apakah hal itu juga hanyalah main-main saja*..”
Gambaran itu nyata, kejadian diapartemen Doni ketika itu dengan jelas mengingatkannya saat Yuna meyakinkannya dengan melepas dan membuang sebuah cincin ditangannya.
Cincin..
Cincin itu adalah..
Bagaikan kepingan-kepingan puzzle yang kemudian tersusun dan saling terhubung, Yuri seakan tengah menemukan jawaban atas semua kejanggalan dari sikap Azka, kedua orangtua Azka beserta orang-orang yang berada disekitarnya.
Yuna bukanlah seorang pekerja dirumah itu..
Adiknya adalah tunangan Azka..
Itulah mengapa ia melihat Yuna keluar dari dalam mobil Azka, dengan rangkulan pria itu ditubuhnya.
Adiknya adalah tunangan Azka..
Itulah mengapa ia melihat
kepanikan dan sekaligus perhatian ketika Yuna mendapatkan luka dari pecahan beling dari gelas yang dijatuhkannya..
Adiknya adalah tunangan Azka..
Itulah mengapa, dan baru disadarinya jika bukan secara kebetulan bila Azka selalu berada disekitar Yuna. Seperti yang sekarang ini dilihatnya..
Ya Tuhan..
Berbagai kejadian yang terekam olehnya terjadi beberapa waktu lalu itu, terus muncul kehadapannya.
Adiknya adalah tunangan Azka..
Itulah mengapa, Ibu Azka yang terlihat ketus justru menunjukkan kepanikan yang berlebih pada saat Yuna terluka.
Bukan hanya pada saat Yuna terkena pecahan beling ketika itu, Yuri juga melihat kecemasan yang menggurat diwajahnya saat Yuna mengalami luka terkilir pada kakinya. Ibu Azka bahkan yang memapah Yuna ketika masuk kedalam kamarnya.
Adiknya adalah tunangan Azka..
Itulah mengapa tampilan Yuna, mengalami perubahan seratus delapan puluh derajat. Kukunya menjadi bercat merah, rambutnya berwarna coklat mengkilat dan pakaian-pakaian yang dikenakannya, menjadi tak luput dari perhatiannya bila semua itu berharga mahal.
“Gadis murahan seperti itu memanglah pantas disebut pelacur.. Kau mau tau kenapa? karna dia, dengan cara murahannya telah merebut Azka Bu dariku. Dia menjual tubuhnya untuk mendapatkan kemewahan.. Aku bahkan memergoki saat mereka nyaris telanjang..! Menjijikkan..”
Ya Tuhan..
Benarkah sang adik melacurkan diri untuk sebuah kemewahan?
Seperti yang wanita itu katakan, yang telah memergokinya dalam keadaan nyaris telanjang..
Tidak..
Tidak mungkin..
Jika memang benar, tidaklah mungkin kedua orangtua Azka membiarkannya. Tidak mungkin kedua orangtua Azka sebegitu bodohnya membiarkan seorang yang melacurkan tubuhnya tinggal dalam satu atap yang sama dengan mereka. Dan bahkan membiarkan Yuna menjadi tunangan putra semata wayang mereka. Hal itu sudah jelas akan mencoreng nama baik mereka.
Adiknya adalah tunangan Azka, dan bukanlah seorang pekerja disana, apalagi pelacur..
Itulah mengapa ayah Azka terlihat begitu baik hingga mengijinkannya untuk tinggal bersama dengan mereka. Semua pasti karna adiknya, karna Yuna adalah tunangan Azka.
Ya Tuhan..
Bagaiamana pertunangan itu bisa terjadi?
Menyisakan satu pertanyaan itu, Yuri masih terus bergelung dengan pemikiran dan berbagai kejadian yang pernah dilihatnya. Fakta yang berasal dari penyimpulannya, yang kemudian meski tidak secara terang-terangan terbuka kehadapannya, membuat Yuri merasakan sesuatu yang sulit ia terima, pengkhianatan.
Kenyataan bahwa Yuna telah mengkhianati dirinya..
Yuna mengambil Azka darinya..
Yuna membohongi dirinya..
Telah memukulnya dengan begitu keras hingga kedasar sanubarinya.
Marah, kecewa dan terluka bercampur menjadi satu dalam dirinya. Namun Yuri masih kesulitan dengan bagaimana cara untuk meluapkan semuanya.
Ia terlalu marah..
Terlalu kecewa..
Dan sangat-sangat terluka..
Haruskah ia berteriak dan memaki semua yang telah membohonginya?
Ataukah menangis meratapi pengkhianatan yang dilakukan adiknya?
Tapi bahkan ia merasa tak lagi memiliki airmata sebagai bentuk dari kesakitan hati yang dirasakannya..
“Kau sudah merasa lebih baik?”
Yuri merasakan lagi usapan tangan Azka diatas kepalanya..
“Jika belum, akan lebih baik jika kau berbaring dan mengistirahatkan tubuhmu. Aku akan disini menemanimu..”
Tanpa mengatakan apapun, Yuri kemudian melepaskan pelukannya pada Azka. Menatapnya sejenak, melihat Azka yang tersenyum kepadanya justru menambah kesakitan yang dirasakannya.
Tuluskah senyumnya saat itu?
“Berbaringlah Kak, aku akan membantumu..”
Yuna mencoba untuk membenarkan posisi dari sebuah bantal yang digunakan sebagai penyangga dibagian kepala dan sekaligus sebagai alat penambah kenyamanan beristirahatnya, namun Yuri justru menolak apa yang ingin dilakukan Yuna untuknya..
“Tidak perlu melakukannya, aku hanya ingin Azka yang melakukannya..”
Yuna terpekur dalam diam. Bahkan tangannya yang telah terulur untuk membenahi posisi bantal itu, seakan menjadi tak bisa digerakkan. Sampai kemudian Azka menyentuh kedua bahunya, sedikit remasan ia rasakan disana..
“Biar aku yang melakukannya.. Tidak apa-apa..”
“Biar aku yang melakukannya.. Tidak apa-apa..”
Sedikit mundur dari tempat tidur Yuri, Yuna hanya bisa terus menatap dengan kesedihan dimatanya pada kondisi sang kakak yang seperti itu. Yuri acuh dan begitu dingin terhadapnya. Seperti hanya menginginkan Azka untuk berada disisinya.
Hal yang kemudian juga membuat Arkhan memilih untuk meninggalkan kamar itu. Tak sanggup rasanya menyaksikan semua itu dengan jarak yang terlalu dekat dengan kedua matanya.
“Yuna, bisa kita bicara
sebentar..”
Dokter Fariz masuk kedalam kamar itu dan mengisaratkan agar Yuna keluar untuk berbicara dengannya.
Yuna mengangguk, sesaat menatap pada Azka dan menemukan pria itu
yang dengan awas sedang
mengarahkan tatapannya kearah
Fariz yang kembali meninggalkan kamar itu.
“Kak, aku akan berbicara dengan dokter Ahmad sebentar..”
Yuna tak dapat mengerti mengapa Yuri justru memalingkan wajah
darinya, dan justru Azka yang
kemudian memberikan respon atas ucapannya..
“Minta Jena untuk menemanimu, jangan pernah sendirian..”
Kalimat itu bernada peringatan yang sebenarnya sangat ingin dibantah olehnya, namun keadaan yang tak memungkinkan saat itu untuknya melakukannya, membuat Yuna mengangguk mengiyakan.
Ia keluar untuk menyusul sang dokter, namun sempat menghentikan langkahnya untuk menanyakan keberadaan Arkhan pada Jena yang menunggu diluar kamar itu.
“Dimana pria itu, Jena?”
“Siapa yang anda maksud, nona..?”
“Pria yang sebelumnya berada didalam kamar Kak Yuri, bagaiamana pria itu bisa berada disini?”
“Saya tidak tahu, nona. Dia keluar dan kemudian pergi begitu saja. Yang saya ketahui, dialah yang menolong nona Yuri ketika pingsan tadi..”
“Benarkah?”
“Iya, pria itu sudah ada saat saya datang tadi.. saya mengira dia adalah salah satu kerabat atau mungkin teman dekat nona Yuri. Saya melihatnya sangat cemas tadi..”
“Teman dekat kakakku? tapi…”
Teman dekat?
Sepertinya tidak..
Karna yang ia ketahui pria itu adalah teman Azka yang belum lama ini baru diperkenalkan pada Yuri dan juga padanya dengan tanpa kesengajaan.
“Kalau begitu aku akan keruangan dokter Ahmad sebentar..”
Jena mengangguk dan membiarkan Yuna yang kemudian beranjak darinya. Namun tak kurang dari lima langkah Yuna berlalu dari hadapannya, Jena mengejarnya..
“Nona tunggu.. Tunggu nona..!”
“Ada apa?”
“Tuan meminta saya untuk bersama anda..”
Jena menunjukkan pesan singkat yang baru saja dikirimkan Azka ke ponselnya, yang memerintahkan agar Jena menemani Yuna dan tidak membiarkannya sendirian, sedetikpun.
Astaga..
Yuna tak habis mengerti dengan betapa berlebihannya pria itu. Ia hanya akan berbicara dengan dokter Ahmad. Memangnya apa yang Azka kira akan ia lakukan?
Yuna mendengus dalam hati, namun tak ada yang bisa dilakukannya kecuali membiarkan Jena bersama dengannya masuk keruangan Fariz dan ikut mendengarkan ketika sang dokter menjelaskan padanya mengenai kondisi Yuri.
***
To be continue