At First Sight

At First Sight
Episode 104



Yuna secara perlahan mengambil sikap menghindar dari Azka. Dua hari ia telah tak bersitatap dengan pria itu, lantaran Azka sibuk dengan proyek baru yang ditanganinya. Tiga hari berikutnya Azka bahkan berada diluar negri, Tokyo tepatnya. Dan dari apa yang ia dengar dari pembicaraan kedua orangtua Azka, pria itu akan seminggu berada disana. Tn.Rian bahkan memutuskan untuk menyusul dan membantu Azka, meski sang putra tidak memintanya melakukan itu.


Semua itu membuat Yuna merasa mempermudahnya memulai niatannya untuk menghindar. Namun tetap tidak semudah itu meski Azka tak berada disekitarnya.


Pria itu menelponnya tiap hari, hampir setiap jam, namun Yuna tak menjawabnya. Beberapa pesan yang dikirimnya juga tidak ia balas. Azka bahkan menelpon melalui Jena, tapi Yuna selalu mencari-cari alasan untuk tak menerima telponnya. Meski rasanya menjadi bertambah sulit untuknya. Tak melihat Azka. Tak mendengar suaranya. Telah mengalirkan kerinduan didalam darahnya. Jika seperti ini, bagaimana ia bisa meneruskan rencananya untuk menghindar. Jika bayangan pria itu malah seakan terus mengikutinya dan membuatnya pusing setengah mati.


Oh Tuhan..


Jika sudah seperti itu Yuna hanya bisa terus mendesah.


Perasaan resah di hatinya tak jua berganti apalagi berhenti.


Puncaknya pada sore hari itu, didalam mobil yang menjemputnya usai dari universitas, Yuna hanya bisa memandangi ponselnya yang terus bernyanyi. Menginginkannya untuk menjawab panggilan yang masuk saat itu. Tertera nama Pak Azka disana. Dan kerinduannya pada sosok pria itu tak bisa ia pungkiri, kian menggelegak dalam aliran darahnya. Namun Yuna menguatkan hati untuk tetap mendiamkan ponselnya, tak menjawab panggilan itu meski setelahnya tiga pesan suara beruntun masuk kedalamnya. Pesan dari Azka yang kemudian ia dengarkan..


“Gadis belia-ku yang sibuk.. Kau benar-benar tak memiliki waktu untuk menjawab ponselmu? Siapa dosenmu? Aku pastikan akan mendatanginya..”


pesan kedua nya..


“Aku merindukanmu..”


Jika dalam pesan suara pertama yang didengarnya, Yuna dapat mendengar nada menggeram dari Azka. Pada pesan suara yang kedua itu, Suara Azka begitu lembut dan dengan segera menggetarkan hatinya. Menyusul pesan suara ketiga yang langsung berhasil membuatnya menjatuhkan airmata.


“**Aku mencintaimu..”


“Aku mencintaimu..”


“Aku mencintaimu**..”


Yuna bahkan terus mengulang memutarnya, hingga kemudian bibirnya menggumam lirih..


“Aku juga mencintaimu..”


Hatinya sakit tiada terkira. Ia mencintai pria itu, tapi ia juga mencintai kakaknya. Lebih dari apapun, ia mencintai Yuri diatas segala-galanya..


Yuna tersentak kaget, luar biasa terkejut, setelah sampai didepan rumah Azka, keluar dari dalam mobil dan masuk kedalam rumah itu, sebuah tangan menarik dan membekapnya dari belakang kemudian membalikkan tubuhnya, mendorongnya mundur hingga tubuhnya terpojok setelah punggungnya bersentuhan dengan dinding..


“Pak..”


Yuna mencoba menahan getaran dalam suaranya saat melihat Azka lah yang pada saat itu melakukannya. Pria itu kini menatapnya dengan pancaran penuh kerinduan dikedua matanya yang entah mengapa justru membuat dadanya sesak melihatnya..


“Pak Azka, kau pulang..? Bukankah, bukankah seminggu kau akan berada…”


Yuna tak bisa melanjutkan kata-katanya saat jemari Azka mulai menyentuh wajahnya. Sentuhan yang kemudian membuat kulit di sekujur tubuhnya terasa merinding..


“Kau coba menyiksaku? Aku begitu tersiksa karna merindukanmu, Yuna..”


“Pak, aku..”


Sepertinya, yang pertama dibutuhkan Azka bukanlah sebuah penjelasan mengapa Yuna tak menjawab ataupun membalas ponselnya. Yang pertama dibutuhkannya adalah menyalurkan kerinduannya terhadap gadis itu.


Maka yang kemudian dengan cepat dilakukannya adalah meraih pinggang Yuna merapat padanya, menarik tengkuknya dan selanjutnya menyatukan bibirnya dengan bibir gadis itu. Mencecap menikmati dengan suka cita..


Tidak..


Ini salah..


Sangat salah..


Pengkhianat..


Aku telah menjadi penghianat Kak Yuri..


Yuna tersentak, oleh karena kelebat dalam pikirannya. Ia mendorong dada Azka, sesaat mencoba mengatur napasnya yang terengah. Baru saja akan bersuara, mengatakan pada Azka jika ia tak lagi bisa menerima perlakuannya, dan mungkin ia juga akan mengatakan untuk mengakhiri hubungannya. Namun sebuah tangan lebih dulu menarik pergelangannya. Kuat dan kasar..


“Kakak..”


Yuna terkejut luar biasa. Wajahnya pasti telah menjadi seputih mayat ketika melihat Yuri berdiri didepannya dengan wajah memerah dan mata berkilat kemarahan. Luka dan kecewa..


“kakak.. Aku…”


Tamparan keras ia terima diwajahnya..


“Pelacur..!”


Ucapan itu menyayat hatinya, bahkan sengatan rasa sakit dipipinya rasanya tidak sebanding dengan apa yang ia rasakan ketika mendengar kata hina itu meluncur dari bibir kakaknya..


“Kakak.. Kakak, maaf Kak.. Aku, Aku..”


“Aku akan jelaskan padamu, Yuri..”


Yuri menyentakkan tangan Azka, berbalik menatap pada pria itu dengan tatapan yang sama seperti saat ia menatap pada Yuna. Kebencian, kemarahan, kekecewaan dan keterlukaan yang dirasakannya melebur menjadi satu, menjadikan tatapan mata itu begitu tajam dan menusuk..


“Persetan dengan itu, aku tidak membutuhkan penjelasan apapun. Mataku tidak buta untuk melihat apa yang terjadi..!”


Yuri kembali mencoba melangkah, tapi kali ini Yuna yang meraih pergelangan tangannya. Sang adik bahkan kemudian duduk berlutut didepannya..


“Kumohon Kak.. Kumohon dengarkan aku..”


“Aku takkan mendengar apapun darimu. Pengkhianat..!!”


Yuna menangis penuh rasa penyesalan..


“Maafkan aku kak.. aku mohon, dengarkan dulu penjelasanku. Aku sama sekali tak bermaksud…”


“Dengar, Kau telah menjadi seorang yang menjijikkan dimataku..!!”


Yuri mendorongnya untuk selanjutnya melangkahkan kakinya, mempercepatnya. Tahu Yuna yang kemudian menyusulnya..


“Kakak.. Kak Yuri.. kumohon Kak..”


Suara memohon nya..


Tangisannya..


Dan airmata Yuna, justru membuat Yuri merasa muak.


“Kak Yuri..”


Yuna berhasil kembali meraih tangannya, meski hanya sesaat karna Yuri yang menyentakkannya dengan kasar..


“JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU..!!”


Yuri berteriak..


“AKU MUAK MELIHATMU..!!”


“Kakak maaf.. maafkan aku kak. Tapi dengarkan …”


“Berhenti.. cukup.. aku tak bisa mendengarmu!!”


“Kakak..”


“KU BILANG JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU.. AKU BUKAN KAKAKMU..!! KAU BUKAN ADIKKU..!!”


Tidak ..


Tidak mungkin apa yang dikatakan kakaknya adalah benar.


Dia hanya sangat marah padanya hingga mengatakan hal demikian menyakitkan untuknya.


“Tidak Kak.. jangan mengatakan hal seperti itu. Aku sangat menyayangimu.. kau satu-satunya yang kumiliki, kau segalanya bagiku, keluargaku. Kau adalah kakakku dan aku adalah adikmu..”


“Adikku tidak akan menjadi seorang penghianat. Dia tidak akan menghianatiku.. Tapi kau, kau bukan adikku. Kenyataannya kau bukan adikku!! Kau hanyalah bocah kecil yang ditemukan dipinggir jalan dan di pungut oleh orangtua ku. Kau bukanlah adikku. Bukan.. kau bukan adikku..”


Ucapan sedingin es, namun setajam belati itu menusuk kedalam jantung Yuna. Menghujam dadanya dengan begitu kerasnya hingga fungsi jantungnya melemah dan seakan tak mampu lagi memompa, mengalirkan darah ke tubuhnya.


Yuna tak tahu lagi apa yang dirasakannya saat itu. Sekujur tubuhnya ngilu dan lemas ketika mendengarnya, membuatnya jatuh bersimpuh dikaki Yuri. Mengiba pada sang kakak untuk tidak mengatakan kalimat yang menyakitinya seperti itu.


Namun Yuri justru meyakinkannya dengan mengulang kalimat yang terdengar perih itu sekali lagi, sebelum akhirnya ia berlari pergi meninggalkan Yuna yang menjerit-jerit memanggilnya…


Siapa yang sangka akan menjadi pelik seperti ini.


Dan benarkah ia bukanlah adik dari kakak nya?


Ya Tuhan..


Tidak…


***


tbc