At First Sight

At First Sight
Episode 48



Yuna masih terbengong didepan pintu kamar mandi, heran dengan begitu cepatnya wanita itu berucap, membuatnya tak memiliki kesempatan untuk membantah.


Yuna hanya terus menatap mengikuti Ny.Dania yang kemudian membuka lemari pakaiannya yang kini telah penuh dengan berbagai pakaian yang hampir setiap hari menambah isi lemarinya. Ia memperhatikan ketika wanita itu memilih-milih gaun yang tergantung dan memerintahkan Yuna untuk mendekat padanya. Ny.Dania bahkan tak perlu bertanya apakah Yuna bersedia memakai gaun yang dipilihkannya atau tidak.


“Kau bisa memakai yang ini..”


“Benarkah aku harus menemani Pak Azka.. emm maksudku, Mas Azka?”


“Ya, itu yang akan kau lakukan”


Yuna merasa tak perlu bersusah-susah untuk membantah, karna ia telah meyakini fakta bahwa Ny.Dania tidak akan mendengarkannya pada saat itu.


Maka yang kemudian dilakukannya adalah berjalan ke konter yang berisi pakaian dalamnya. Ada lusinan pakaian dalam baru dengan berbagai warna yang berada didalamnya, dan Yuna memilih sepasang warna yang senada dengan gaun berwarna biru muda yang telah dipilihkan Ny.Dania untuknya.


“Kau tidak memerlukan bra untuk gaun ini, Yuna..”


Ny.Dania mengambil itu dari tangannya dan mengembalikan lagi kedalam konter yang menjadi tempatnya.


“Ibu..”


Yuna sedikit terperangah melihatnya.


“Gaunmu berpotongan seperti ini, bagaimana mungkin kau akan memakai bra.. Itu tidak akan terlihat bagus. Biar aku yang mengurusmu”


Yuna mendekap tubuhnya sendiri dengan kedua tangan ketika Ny.Dania memintanya untuk membuka kimono handuk yang dikenakannya. Hal itu jelas membuat Ny.Dania memutar mata kearahnya.


“Aku.. Aku tidak bisa memakai itu Ibu xc..”


“Tidak ada waktu lagi untuk menemukan gaun yang lebih bagus dari ini, Yuna..”


“Tapi aku.. aku harus memakai bra”


Yuna menunduk, memperhatikan pada dadanya. Ny.Dania mendesah melihatnya, Ia mungkin mengetahui apa yang pada saat itu berada dalam benak Yuna. Terbukti dengan Ny.Dania yang kembali beralih kehadapan lemari pakaiannya, membuka satu persatu gaun hingga kemudian menemukan satu gaun berwarna pitch yang menurutnya tak kalah bagus dengan gaun berwarna biru yang sebelumnya.


“Ini akan menjadi malam pertama kalian setelah pertunangan itu dimana kau dan Azka akan tampil bersama. Aku ingin menunjukkan jika gadis yang menjadi tunangan putraku memang pantas saat berdampingan dengannya.. Kau akan sempurna dengan gaun ini. Dan ya, kau memang memerlukan untuk memakai bra.. Setidaknya itu diperlukan untuk memberi kesan pada payudaramu agar terlihat lebih berisi”


Yuna melongo dengan bagaimana mudahnya wanita itu mengucapkan kata-katanya.


Namun Ny.Dania tampaknya mengabaikan bagaimana ekspresi diwajah Yuna pada saat itu, dengan tak menunggu lama ia beralih ke konter pakaian dalam dan menarik sepasang yang berwarna senada dari dalamnya.


“Kau akan memakai yang ini, dan cepatlah Yuna.. Aku masih harus merias wajah dan menata rambutmu”


apa yang bisa dilakukan olehnya?


Jawabannya adalah tidak ada selain menurut. Dengan terlebih dulu mengenakan pakaian dalamnya, Yuna lantas memakai gaunnya dan Ny.Dania meneruskan dengan membantu menarik resleting yang terlihat samar dibagian punggungnya.


“Benarkan.. Aku memilihkan gaun yang tepat untukmu”


Ny.Dania tersenyum sambil membenarkan lipatan pada bagian depan gaunnya, dan Yuna mengangguk menyetujui, menatapnya dengan dalam dan sekali lagi ia dibuat terpaku atas bagaimana Ny.Dania memperhatikan dirinya.


“Duduklah dan aku akan dengan cepat memaksimalkan kemampuanku untuk merias wajahmu..”


“Dan jangan lupakan untuk mengatur rambutku, Ibu..”


Yuna merasakan bibirnya tertarik untuk menunjukkan senyum diwajahnya.


“Ya ya.. Kau benar, penampilanmu malam ini haruslah spektakuler. Sekarang duduklah dan aku yang akan menanganinya. Mungkin aku harus mempertimbangkan untuk mempekerjakan seorang perias dirumah ini..”


Entah karna apa kedua wanita yang memiliki keterpautan umur cukup jauh itu, justru bisa cekikin bersama setelahnya.


Dan membuat Yuna terlupadengan hal-hal yang sebelumnya telah memenuhi pikirannya.


Sementara Azka yang berada dibawah telah bolak-balik melihat kearah anak tangga rumahnya, ia sudah selesai bersiap sekitar tiga puluh menit yang lalu dan masih harus menunggu sang ibu membawa Yuna turun dari kamarnya.


“Kau bisa naik keatas dan memanggilnya, jika sudah tak bisa menunggu”


Sang ayah menyarankan setelah menyaksikan Azka berkali-kali melihat jam pada pergelangan tangannya.


“Sebenarnya apa sih yang Mama lakukan untuk membuat Yuna bersiap?”


Sang ayah mengangkat kedua bahu.


“Seperti itulah wanita.. Sepertinya kau belum cukup memahaminya”


Azka berdiri dari duduknya..


“Aku akan menunggu lima menit lagi, jika tidak aku akan meninggalkannya”


“Mungkin kau bisa menggunakan lima menit itu untuk mendengar apa yang akan aku katakan..”


Azka menatap pada sang ayah dan kembali mendudukkan tubuhnya.


“Begini Azka.. Yang aku lihat dari sikap ibumu adalah, dia melakukan apa yang tidak Mamamu dapatkan dari nenekmu”


“Apa yang tidak Mama dapatkan dari nenek?”


“Perhatian.. Mamamu tak terlalu mendapatkan perhatian itu dari nenekmu, ibu mertuanya. Dia sedikit kurang menyetujui saat aku menikahinya. Mamamu masih terlalu muda saat itu. Karna itu nenekmu terkadang bersikap dingin padanya”


“Bukankah sebelumnya Mama juga bersikap kasar pada Yuna? Aku sedikit heran, Pa.. Bagaimana Mama bisa dengan cepat mengubah sikapnya?”


“Seperti yang kukatakan sebelumnya, Mamamu tahu bagaimana rasanya berada diposisi Yuna, ketika seorang ibu mertua tak dapat menerimanya dengan sepenuhnya. Mungkin Mamamu tak ingin hal itu dialami oleh Yuna, makanya dia dengan segera mengubah sikapnya.. Bukankah kau senang melihat keakraban mereka?”


Azka tak menjawab, ia kembali mendengarkan sang ayah yang mengatakan jika ibunya bahkan membatalkan rencananya hari itu hanya karna Yuna mengeluhkan sakit dan membuatnya tak bisa untuk ikut bersamanya.


Aneh..


Sejak kapan ibunya memiliki hobi menunjukkan Yuna ke muka umum.


“ini telah lewat dari lima menit, Pa..”


Azka mendesah, sebelum kemudian kembali berdiri dari duduknya, diikuti sang ayah, dan mulai melangkah mendekati anak tangga. Azka juga telah memiliki niat untuk meneriaki ibunya dan sekaligus Yuna pada saat itu, namun terhenti ketika melihat keduanya melangkah turun.


Mendadak ia seakan kehilangan suaranya..


Gadis itu kembali membuatnya terpesona dan itu tidak seharusnya dilakukan olehnya.


Gadis itu memiliki rambut brunette yang begitu indah. Dengan mengenakan gaun malam yang panjangnya menyapu lantai, kakinya yang jenjang sepenuhnya tertutupi, namun ketika ia melangkah sepasang sepatu berkilau silver terlihat menghiasi kakinya. Yuna juga mengenakan sepasang benda berkilau dikedua telinganya, kilauan yang sama juga terlihat dilehernya. Kilauan itu dari berlian yang menghiasi lehernya.


Dan Azka berani bertaruh dirinya tak mengetahui kapan sang ibu membelikan Yuna benda-benda itu dan membuatnya terlihat begitu mempesona. Pasti terlalu banyak waktunya yang telah ia habiskan dikantor dan berkutat dengan perusahaan ayahnya hingga banyak hal yang tidak diketahui olehnya bahkan yang berada dalam rumahnya sendiri.


Azka masih terus memperhatikan Yuna yang melangkah semakin dekat untuk turun, dan pada saat itu ia yakin telah beberapa kali menggumamkan kata ‘cantik’ didalam hatinya. Untuk beberapa saat kedua matanya bahkan seakan terkunci pada bibirnya. Azka harus mendorong keinginan untuk merasakan bibir itu, jauh dari dirinya.


Sial..


Setelah mendengar pembicaraan Doni dan Yuna tadi, ia seharusnya membencinya bukan malah mengaguminya dan menginginkan rasa dari bibirnya saat berada dimulutnya.


Untuk itu, Azka mungkin akan menyalahkan ibunya untuk pertama kali karna telah membuatnya menjadi seperti itu.


Namun saat itu Ibu nya jelas sedang tersenyum kearahnya, berbeda hal nya dengan Yuna yang masih lebih sering menundukkan wajahnya.


“Oh Azka.. Kau sudah menunggu?”


Sudah sangat lama, Mama..!


Azka seharusnya mengatakan kalimat itu dengan nada kesal, tapi yang dilakukannya justru diam dan hanya terus menatap pada Yuna.


“Lihatlah.. Masalalu Mamamu yang kemudian membuatnya menyukai gadismu. Itulah salah satu alasan yang bisa kukatakan padamu, mengapa sikapnya berubah dengan begitu cepat”


Tn.Rian berbicara pelan disisi Azka, kemudian ia tersenyum dengan tatapan matanya tertuju pada sang istri dan juga Yuna yang tinggal menuruni beberapa anak tangga lagi untuk dapat menghampirinya.


“Kerja bagus, Ma..”


Pujian Tn.Rian jelas tertuju pada sang istri untuk apa yang telah dilakukannya pada Yuna.


“Benarkah? Kupikir memang seperti itu..”


Ny.Dania tersenyum saat menghampiri sang suami dan melingkarkan lengan untuk merangkulnya. Ia sudah bisa melihat tatapan Azka yang terus hanya tertuju pada Yuna.


“Sekarang kau bisa membawa Yuna bersamamu..”


Ketika Yuna sampai di anak tangga yang terakhir, Azka mengulurkan tangannya untuk diraih oleh Yuna. Terlihat ragu-ragu, Yuna justru terdiam menghentikan langkahnya dan hanya memandangi tangan Azka yang terulur kehadapannya.


“Ayo, kurasa kita akan sedikit terlambat. Tapi itu tidak akan jadi masalah..”


Azka menggerakkan tangannya, namun Yuna masih belum meraihnya. Sampai Azka sendiri yang kemudian bergerak maju untuk meraihnya.


Persetan dengan semua omong kosong yang didengarnya. Persetan dengan rencana gadis itu untuk menghancurkannya. Dan persetan dengan permainan yang sedang dimainkan oleh Yuna maupun oleh dirinya sendiri. Karna untuk malam itu, Azka jelas takkan memperdulikannya. Ia hanya akan menikmati kebersamaannya bersama dengan gadis itu.


Ia tidak jadi menyalahkan sang ibu, melainkan mengucap..


“Terimakasih Mama..”


“Hm, semoga jamuan makan malam nanti menyenangkan untuk kalian.. Dan jangan membawa Yuna pulang terlalu malam..”


Azka mengangguk pada kalimat terakhir yang tersirat sebagai peringatan dari sang ibu. Ia kemudian merangkul Yuna keluar dari dalam rumah, dan langsung menuju mobil yang telah menunggu dengan seorang supir yang siap untuk mengantar keduanya.


***


to be continue