At First Sight

At First Sight
Episode 60



Semua terjadi begitu cepat, Yuna dan Azka begitu tak menyangka Doni pergi begitu cepat. Saat Yuna belum sempat membalas dendam nyan kepada Doni atas apa yang telah dilakukan laki-laki itu kepada kakaknya, begitupun dengan Azka yang belum sempat alasan Doni ingin menghancurkannya.


Kepergian Doni membuat banyak pihak begitu shock dan terpukul, Keluarga Azka juga begitu terkejut dengan berita kematian Doni. Yang tak kalah terpukul adalah Bibi Lia, ibu kandung Doni yang begitu shock dan sempat pingsan saat Azka mengabarkan berita kematian putra semata wayangnya.


Semua sudah terjadi, tidak ada yang bisa melawan takdir. Kini pengaman Doni sudah selesai, Azka dan keluarga yang menghadiri pemakaman bergegas untuk meninggalkan pemakaman. Ayah dan Ibu Azka kembali pulang ke rumah bersama bibi Lia sedangkan Azka memilih kembali ke rumah sakit, menemui Yuna yang tidak menghadiri pemakaman Doni karena lebih memilih menjaga kakaknya dirumah sakit.


“Bagaimana keadaan Yuri? Apa sudah ada perkembangan?” tanya Azka saat melihat Yuna yang masih dengan setia menunggu kakaknya sadar.


“Kak Yuri belum sadar Pak, kata dokter kakak akan sadar dalam waktu 24 jam.” Jawab Yuna, ia melirik Azka sebentar lalu kembali fokus menatap kakaknya.


Azka menghela nafas, ia begitu sedih melihat keadaan Yuna begitu kacau dengan air mata yang masih membekas di pipinya.


“Yuna, kau belum makan kan? Mau aku belikan apa?”


Yuna menggeleng rasanya dia tidak sanggup menelan apapun saat ini.


“Kalau kau juga sakit siapa yang akan menjaga kakakmu?” tanya Azka khawatir.


“Aku tidak bisa makan apapun sebelum kakakku sadar.”


Kembali Azka hanya bisa menghela nafas, gadis itu benar-benar keras kepala.


Yuna terus memfokuskan pandangannya pada sang kakak, Yuna tersenyum senang ketika tiba-tiba Yuri membuka matanya.


“Kakak, kau sudah sadar?”


Yuri mengangguk lemah, Yuna tersenyum senang dan berkali kali mengucap syukur begitupun dengan Azka yang begitu merasa lega.


“Yuna... Kau disini bersamaku, kau akan membawaku pulang kan?” kata Yuri lirih, masih suaranya masih bergetar menahan sakit.


“Iya kak, aku akan membawamu pulang. Kita akan terus bersama.” Jawab Yuna.


Yuri mengalihkan pandangannya pada sosok lelaki tampan yang sedari tadi hanya diam.


“Azka... Kau juga disini? Kau yang menolongku dari kecelakaan itu? Kau yang menolongku dari pria ******** itu kan?” Tanya Yuri.


Azka melirik Yuna yang juga menatapnya, Yuna mengangguk kepada Azka.


“Iya Yuri, eumm... Aku akan panggil dokter untuk memeriksa keadaanmu.”


Azka langsung keluar ruangan rawat untuk memanggil dokter, meninggalkan dua Kakak beradik yang sedang melepas rindu.


Yuna POV


Tatapan mata itu..


Tatapan mata Kak Yuri yang terus tertuju pada Azka, aku dapat menilai ada banyak emosi didalamnya.


Kakak menatapnya dengan penuh cinta dan kekaguman.


Tidak..


Lebih dari itu, Kak Yuri seakan sedang menatap pada sesosok dewa. Terdengar berlebihan namun itulah kenyataannya.


Kenyataan yang sekarang ku lihat.


Kak Yuri bukan hanya sedang menatap Azka dengan cinta yang masih dimilikinya untuk pria itu, melainkan juga menatap pria itu ibarat dewa penyelamat hidupnya.


Ya..


Sangat wajar bila kini Kakak menatapnya seperti itu, karna Azka adalah orang yang sangat dicintainya.


Ya Tuhan..


Mengapa kejadian buruk begitu bertubi-tubi dialami Kakak ku.


Aku tak dapat membayangkan bagaimana jadinya bila saat itu tidak selamat seperti yang dialami mas Doni.


Tidak..


Aku tak harus membayangkannya.


Sekarang Kak Yuri baik-baik saja, meski terlihat luka dibeberapa tubuhnya. Aku yakin, kakak ku akan bisa bertahan. Dia akan sembuh dan kami akan kembali bersama-sama.


“Yu-na..”


Aku menyeka airmata diwajahku..


“Yu-na..”


Kakak memanggilku setelah beberapa saat aku bahkan tak yakin dia melihatku. Tatapannya hanya terus tertuju pada Azka.


Tapi sekarang, Dia menatapku, mengulurkan sebelah tangannya yang lain dan aku dapat melihat airmatanya jatuh saat itu..


Tuhan..


Aku tidak ingin melihat Kak Yuri ku menangis.


Aku tidak akan lagi membiarkannya menangis..


“Kakak..”


Aku lantas meraih tangannya yang terulur dengan mempergunakan tanganku yang tidak mempergunakan cincin. Entah mengapa aku melakukan itu dan tetap menyembunyikan tangannku yang mempergunakan cincin dibelakang tubuhku. Aku hanya mencoba menghindari Kak Yuri menyadari dan akhirnya mempertanyakan maksud cincin itu yang melingkari jari manisku. Aku pasti akan memiliki kebingungan dan ketidak siapan untuk menjawab.


Sampai seorang Dokter dan suster masuk, bersamaan dengan Azka yang juga kembali masuk. aku masih memegang tangan Kak Yuri. Aku benar-benar tidak ingin melepasnya. Aku sangat rindu padanya dan ingin selalu berada disisinya, menjaganya. Menggantikan beberapa waktu yang kami lewatkan tanpa satu sama lain.


Namun Setelah dokter memeriksa keadaan Kak Yuri, sang Dokter itu mengatakan ingin berbicara. Tidak jelas pada siapa, namun aku menyimpulkan pasti dengan keluarga pasien. Dan itu aku.


“Biar aku saja yang menemui dokter..”


Tapi kemudian Azka membuka suara, dan saat mendengar kalimat itu aku dapat menangkap kepanikan diwajah Kakak ku.


“Tidak.. Azka, bisakah kau tetap disini bersamaku..”


Pintanya dengan raut penuh permohonan..


“Aku takut.. Aku..”


“Aku yang akan menemui dokter, Kak..”


Aku memotong kalimat Kak Yuri dengan mengatakan hal itu padanya. Memang aku lah yang seharusnya melakukan itu.


“Aku akan kembali lagi setelahnya..”


Kak Yuri mengangguk, sesaat kedua mataku bertemu tatap dengan Azka, namun aku tak mengerti dengan maksud tatapannya. Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya dan dengan segera keluar dari ruang ICU itu dan mengikuti suster menuju ruangan dokter yang berada tak jauh dari sana.


Didalam ruangannya, aku mendapatkan kelegaan setelah dokter mengatakan padaku Kak Yuri telah melewati masa kritis. Dia juga menunjukkan padaku beberapa hasil pemeriksaan dari Kak Yuri. Beberapa tulang yang mengalami keretakan dan bahkan patah telah mendapatkan tindakan operasi. Bagian yang mengalami patah itu adalah pada bagian kaki. Dokter mengatakan kemungkinan Kak Yuri harus melakukan terapi berjalan dan untuk kesehariannya sebelum kakinya benar-benar pulih Kakak bisa menggunakan kursi roda.


Aku berterimakasih untuk apa yang telah dilakukannya, dan memintanya untuk melakukan yang terbaik demi kesembuhan Kak Yuri. Dia menyanggupinya, dan membuatku merasakan kelegaan setelahnya.


Keluar dari dalam ruang sang dokter dan kembali menuju ruang ICU, aku melihat Azka berada diluar. Bersandar dengan punggung menempel pada dinding dan kedua tangan dilipat didepan dada.


“Apa yang terjadi?”


Begitu mendengar suaraku, dia mengarahkan tatapan matanya padaku yang sedang melangkah mendekatinya..


“Kakak ku baik-baik saja kan..?”


Aku mencoba mencari tahu melalui kaca pada pintu yang tertutup itu dan melihat setidaknya dua orang suster berada didalamnya.


“Kenapa? Kenapa dengan Kak Yuri?”


Kepanikan dalam nada suaraku, Azka mungkin menyadari itu. Dia menarik pergelangan tanganku dan membawaku untuk duduk pada deretan kursi tunggu.


Ya..


Aku lega mendengarnya.


Perlahan-lahan tanpa aku meminta, Azka melepaskan pergelangan tanganku.


Aku terdiam, bingung dengan apa yang bisa ku mulai untuk dikatakan padanya. Dia juga sama sepertiku. Untuk beberapa saat aku hanya bisa mendengar suara tarikan napasnya.


“Anda bisa pulang Pak, aku yang akan menjaga Kak Yuri disini..”


Sampai kemudian aku berbicara, Azka hanya menatapku sekilas. Dia mengabaikan apa yang telah kukatakan.


“Terimakasih untuk semuanya.. Aku tak tahu bagaimana cara untuk membalasnya. Tapi aku benar-benar berterimakasih pada anda, Pak.. Terimakasih untuk telah menyelamatkan membantu ku.”


“Kau tidak perlu sungkan.. Yuri kakakmu dan kau adalah tunanganku..”


Aku menatapnya..


Benar-benar menatapnya. Bagaimana mungkin dia masih menyebutku sebagai tunangannya?


“Apa yang kulakukan adalah hal yang wajar untuk dilakukan. Jangan merasa terbebani karna hal itu..”


Dia menoleh, mengunci tatapannya padaku..


“Biarkan aku berada disini dan menemanimu. Aku ingin melakukan itu. Aku harus melakukannya..”


Dia meraih tangan yang berada dipangkuanku untuk kemudian menggenggamnya.


Mendadak aku menjadi gugup, dan sepertinya dia mengetahui itu.


“Apa kau akan selalu gugup seperti ini?”


ada senyum geli diwajahnya..


Bersyukur aku tak harus terlalu lama menghadapinya, dua suster keluar dari ruang ICU dan aku memanfaatkan itu untuk melepaskan tangan Azka dari pergelangan tanganku.


“Bagaimana kakak ku, suster?”


“Dia telah kembali tertidur..”


“Bisakah aku berada didalam dan menjaganya?”


Azka mendekat dan berdiri tepat disampingku..


“Biarkan dia beristirahat, kau pun juga memerlukannya.”


“Apa yang dikatakan tunangan anda benar, nona..”


aku mengerutkan dahi..


Darimana dia tahu?


Aku ingin menanyakan itu tapi melihat dia tersenyum, aku segera mengetahui Azka sedang mengedipkan mata padanya.


Ck! Apa Azka yang telah mengatakan mengenai status ‘tunangan’ itu padanya..


“Kalau begitu aku akan menunggunya disini..”


Aku membiarkan kedua suster itu pergi sementara aku kembali menduduki salah satu kursi tunggu, seperti tadi.


“Yang benar saja, Yuna.. Kau tak bisa sepanjang malam berada disini”


“Aku bisa, aku akan melakukannya dan menjaga Kak Yuri..”


“Aku tidak percaya kau bisa sebodoh ini. Akan ada suster yang setiap jam bergantian untuk melihatnya. Mereka memiliki sistem, yang akan mengetahui bila pasien dalam keadaan gawat.”


“Siapa yang bisa memastikan sistem itu akan bekerja dengan baik. Selalu ada kemungkinan human error dalam setiap kasus..”


Aku bahkan tak dapat mengerti dengan kalimatku. Tapi aku tak perduli. Aku berkeras untuk menjaga Kak Yuri, jika mereka tak membiarkanku berada didalam bersamanya tak masalah dengan berada diluar sini.


Aku melihat ketika Azka meremas rambutnya dan kemudian duduk disebelahku.


“Anda bisa pulang Pak.. Kapan saja, aku tidak keberatan..”


lagi-lagi dia mengabaikan ucapanku yang semacam itu. Azka justru menyandarkan tubuhnya kebelakang, kedua tangannya terlipat dan matanya mulai terpejam.


Apa yang dilakukannya?


“Aku juga akan berada disini jika itu apa yang kau lakukan..”


“Pak, anda..”


“Sayangnya kau bukan gadis penurut seperti saat bersama dengan ibuku dan aku sedang tak ingin memaksamu untuk menurut padaku. Lakukan sesukamu..”


Aku memberengut, dia mengatakan semua itu dengan memejamkan mata tak sedikitpun menatap padaku.


Beberapa saat setelahnya, aku menyadari tarikan napasnya yang teratur.


Apa dia telah benar-benar tertidur?


Aku tidak yakin..


Itu bukan posisi yang nyaman untuk tidur.


Tapi dia memang sudah tertidur.


Dia mungkin kelelahan. Aku menduga dia tidak memiliki waktu tidur sejak kejadian kecelakaan itu. Dia sibuk mengurusi banyak hal, termasuk aku.


Aku menghentikan seorang suster yang lewat, dan meminta sebuah selimut darinya. Dia kembali dengan selimut itu dan memberikannya padaku.


Beranjak dari kursi yang sedang ku duduki, aku kemudian memasangkan selimut itu ke tubuhnya. Udara tidak terlalu dingin saat ini, namun yang ku lihat Azka sedikit menggigil dalam tidurnya.


Aku telah melihatnya marah. Sangat marah hingga membuatku takut. Tapi sepanjang hari ini, aku disuguhi dengan kedewasaan yang dimilikinya. Sesuai dengan umurnya, Azka juga telah memiliki pemikiran yang matang. Dia memiliki kepedulian besar terhadap orang-orang disekitarnya, yang disayanginya.


Aku mengetahui itu dari alasannya yang mengatakan padaku, kenapa dia sampai harus membuat cerita yang seperti itu.


Untuk sesaat aku terdiam didepannya, memandanginya yang sedang tertidur.


Dia tidak mengatakan pada ayah dan ibunya alasan kepergianku akibat dari pengusiran yang dilakukannya setelah aku melakukan kesalahan besar dengan mencoba mengambil dokumen penting perusahaan mereka. Azka menutupi itu dengan mengatakan aku pergi untuk menjemput Kak Yuri dibandara dari kedatangan luar negri nya.


Terdengar masuk akal, meski pada kenyataannya dia menemukanku dalam keadaan luar biasa panik, saat Doni membawa pergi Kakak ku.


Azka bahkan mengatakan padaku untuk merahasiakan semua kebenaran yang terjadi. Hanya aku dan dia yang tahu. Azka jelas tidak ingin melihat sakit hati kedua orangtua nya atas apa yang telah direncanakan dan sebagian besar telah dilakukan oleh Doni untuk menghancurkannya. Dan terutama, Azka berusaha untuk menjaga Bibi Lia agar dalam kesedihan yang dirasakannya, dia tak juga merasakan perasaan kecewa terhadap putranya. Aku juga tidak ingin mereka tahu apa yang telah dialami Kakak ku. Aku tidak ingin membuka luka yang dialaminya.


Hanya saja Aku tidak pernah menyangka dia sampai berpikir sejauh itu.


Kepeduliannya begitu besar, bahkan padaku yang telah begitu jahat terhadapnya.


“Maafkan aku.. Aku benar-benar meminta maaf padamu..”


Meski dia telah sangat sering menggenggam tanganku, namun aku masih tak berani untuk memegang tangannya.


“Terimakasih untuk semua kebaikanmu padaku dan pada Kak Yuri. Aku sangat berterimakasih, Pak..”


Yang kemudian berani kulakukan hanyalah sedikit membenarkan selimut ditubuhnya, sebelum kemudian aku beranjak dari hadapannya, melihat melalui kaca pada Kak Yuri yang berada didalam dan kembali duduk setelah aku mengetahui Kak Yuri juga masih tertidur.


***


to be continue