
Beberapa jam berlalu dan Azka masih belum keluar, Yuna memutuskan untuk mempergunakan beberapa menit waktunya untuk berada di kamar mandi rumah sakit. Maka kemudian ia bergerak dari kursi tunggu yang didudukinya dan mulai melangkah. Namun dalam langkah itu, Yuna mendadak berhenti ketika mengetahui seorang wanita paruh baya yang sudah cukup dikenalnya sedang dalam langkah menuju kearahnya. Bersama dengan seorang pria..
Oh, Tidak..
Dia seorang wanita, hanya saja caranya berpenampilan seperti seorang pria.
Yuna merasa belum pernah melihatnya karna itu ia masih belum mengenalnya..
“Yuna..”
“Ibu..”
Yuna tidak lagi menghentikan langkahnya, namun kemudian Ia lebih dulu menghampiri Ibu Azka itu.
Ya..
Ny.Dania kembali terlihat datang pada tengah hari itu..
“Ibu.. Apa yang..”
Yuna tak meneruskan, Ia jelas cukup terkejut dengan kedatangannya. Setelah tadi wanita itu bahkan pergi meninggalkannya dengan membawa serta kemarahan terhadapnya.
Tapi sekarang Ny.Dania justru kembali menemuinya..
“Aku membawa pakaian ganti dan makanan untukmu..”
Yuna dapat melihat pada dua paper bag yang dibawa oleh seorang wanita yang saat itu berdiri satu langkah dibelakang Ny.Dania..
“Astaga apa kau benar-benar tak melihat bagaimana tampilanmu sekarang?”
Yuna menunduk, memperhatikan pada apa yang saat itu melekat ditubuhnya.
Ya..
Ibu Azka benar..
“Pakaianmu terlihat lusuh, Yuna..”
“Iya.. Maafkan aku, Bu..”
Ny.Dania mendesah..
“Ikut denganku, sekarang..”
Yuna ingin menolak namun melihat tatapan Ny.Dania padanya, Ia yakin wanita itu takkan menerima jenis penolakan apapun saat itu. Maka Yuna mengikuti ketika Ny.Dania mengarahkannya ke sebuah kamar mandi yang berada dirumah sakit itu.
“Setidaknya basuhlah wajahmu dan gantilah pakaianmu, setelahnya kau bisa makan dan kita akan berbicara..”
Sama sekali tak ada bantahan yang keluar dari bibir Yuna. Entah karna apa, Ia seakan memiliki rasa patuh didalam dirinya terhadap apa yang dikatakan Ny.Dania padanya.
Tatapan wanita itu mungkin adalah penyebabnya..
“Iya, Bu..”
Ny.Dania menyerahkan dua paper bag ketangannya. Dua paper bag yang sebelumnya berada ditangan seorang wanita yang masih belum dikenalinya.
“Aku akan menunggu diluar..”
Begitu Ny.Dania keluar, Yuna segera melakukan seperti apa yang dikatakan Ibu Azka padanya. Ia terlebih dulu membasuh muka sebelum kemudian membuka isi didalam paper bag itu.
Segala yang dibutuhkannya, terutama pakaian berada didalamnya. Dan Yuna tersenyum mengetahui hal itu.
Hatinya tersentuh..
Betapa Ibu Azka begitu peduli terhadapnya bahkan setelah kemarahan dan kata-kata kasar yang sebelumnya diucapkannya dan telah membuatnya menangis. Tapi wanita itu tetaplah masih peduli.
Yuna terpikir ia menemukan kesamaan antara wanita itu dengan Azka.
Sebelumnya Azka juga marah terhadapnya, namun kemudian Ia kembali datang untuknya. Sama hal nya seperti yang saat itu dilakukan Ny.Dania. Betapa Yuna kini menyadari, akan patutnya Ia bersyukur karna berada diantara orang-orang yang memiliki kebaikan hati yang luar biasa. Dan betapa Tuhan juga begitu baik karna telah menempatkannya diantara mereka..
“Terimakasih Ibu..”
Gumamnya kemudian, sebelum akhirnya mengganti pakaiannya.
Tak sampai lima belas menit kemudian ketika Yuna keluar, bukan Ny.Dania yang menunggunya didepan kamar mandi itu Melainkan seorang wanita yang masih belum dikenalnya, yang tadi juga bersama dengan Ny.Dania..
“Nyonya menunggu anda disana, nona..”
Ucapnya, sambil meminta Yuna agar mengikutinya. Yuna diarahkan kesebuah ruang tunggu dan Ny.Dania telah berada didalamnya, duduk pada salah satu kursi didepan sebuah meja yang diatasnya telah berisi beberapa jenis makanan..
“Ibu..”
Ny.Dania menoleh..
“Hm, duduklah..”
Yuna makin mendekat hingga kemudian menduduki kursi yang berada didepannya.
“Aku akan membiarkanmu makan terlebih dulu..”
“Tapi Bu, aku.. Sebelumnya Azka, emm.. Mas Azka telah memberikan makanan untukku. Kami telah makan bersama beberapa waktu yang lalu..”
“Sungguh?”
Yuna mengangguk..
Itu memang terjadi beberapa jam yang lalu, namun ia merasa perutnya masih terisi penuh dan belum ingin ada yang kembali memaksanya untuk makan.
“Harusnya aku tahu jika dia telah melakukannya.. Kalau begitu, aku akan langsung berbicara denganmu..”
Tatapan Yuna langsung penuh antisipasi mendengarnya. Kedua tangan yang berada dipangkuannya bahkan mendadak
gemetar..
“Ketahuilah Yuna, aku masih marah dan cenderung dapat kembali meradang pada apa yang kau inginkan..”
“Maafkan aku..”
“Seperti yang dikatakan suamiku, kakakmu akan semakin terluka bila suatu saat dia mengetahui kebohongan itu..”
“Tapi aku tak terpikir ada cara lain yang bisa untuk menyelamatkan kakak ku. Dia membutuhkan Azka.. Ibu, maafkan aku..”
Ny.Dania menghela napasnya..
“Bagaimana jika kakakmu justru akan semakin tergantung pada Azka? Bagaimana dengan status pertunangan kalian? Publik telah mengetahui itu dan kau tak bisa bertindak sembarangan dengan keberadaan Azka bersama kakakmu.. Apa yang akan dibicarakan oleh orang-orang diluar sana? Pikirkanlah itu, Yuna..”
Segalanya memang akan menjadi rumit..
“Seperti yang dikatakan dokter, Kak Yuri akan menjalani terapi.. Dia akan terlepas dari trauma kecelakaan itu..”
Dan trauma dari kekerasan yang dilakukan Doni terhadapnya..
Yuna meneruskan itu didalam hatinya.
“Aku tidak bisa memikirkan apapun selain kesembuhan Kak Yuri, Bu.. Maafkan aku. Aku memang tidak seharusnya menjadi egois dan membebani Mas Azka, tapi kakakku membutuhkannya. Dia membutuhkan mas Azka untuk menghadapi traumanya.. Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan kecuali meminta mas Azka untuk melakukannya. Maafkan aku Bu.. Aku hanya sangat takut kehilangan kakak ku. Dia satu-satunya keluargaku.. kakak segalanya untukku..”
Airmata Yuna kembali jatuh..
“Jadi kau masih belum menganggap kami sebagai keluargamu?”
“Ibu..”
“Jika memang hanya itu lah caranya..”
Ny.Dania menghentikan ucapannya, untuk sesaat menghela napasnya..
“Baiklah.. Kau bisa melakukannya. Tapi aku tidak akan ikut bertanggung jawab dengan sesuatu yang mungkin terjadi dikemudian hari. Maka kau harus menghadapi sendiri resiko kebohonganmu.. Termasuk sakit hati dari kakak mu.. Dan tentu saja jangan melakukan kebohongan itu terlalu lama, Yuna..”
Respon yang diberikan Yuna atas apa yang baru saja dikatakan oleh Ny.Dania padanya adalah, Yuna yang kemudian berdiri dari duduknya dan langsung memberikan pelukan pada Ny.Dania dari belakang kursi yang didudukinya.
“Terimakasih, Ibu.. terimakasih..”
Ny.Dania hanya mendesah sambil mengusap tangan Yuna. Pada akhirnya Ny.Dania memang tak tega dengan situasi yang dihadapi oleh Yuna. Itu pasti sangat berat dirasakan oleh gadis belia seusianya..
Yuna melepas pelukan itu, menyeka airmata diwajahnya dan kemudian kembali menduduki kursinya..
“Untuk kesembuhan kakakmu, aku dan suamiku telah berencana mencari dokter khusus untuk melakukan terapi. Semakin cepat kakakmu disembuhkan, maka semakin cepat pula mengakhiri kebohongan yang kau inginkan.. ”
“Terimakasih Ibu, tapi Kak Yuri akan ditangani oleh dokter Sulis, dokter wanita yang tadi memeriksanya.”
“Apa kau yakin dia cukup baik untuk menangani kakakmu?”
Yuna mengangguk..
Sulis sudah cukup mengetahui seluk beluk trauma yang dialami Yuri, bahkan depresi yang dialaminya sebelum kejadian kecelakaan itu terjadi.
“Kau bilang kakakmu juga perlu melakukan terapi berjalan?”
“Iya, dokter mengatakan seperti itu..”
“Kalau begitu aku akan bertanya dan meminta pada pihak rumah sakit untuk mencarikan dokter khusus untuk itu..”
“Terimakasih Bu, aku tak tahu apa lagi yang dapat kuucapkan selain itu.. Ibu telah begitu baik padaku..”
“Maka jangan pernah lagi beranggapan jika kau hanya hidup dengan kakakmu. Aku, suamiku dan juga Azka, kami juga telah menjadi keluargamu. Kau telah bertunangan dengan putraku, meski aku awalnya membencimu tapi aku melihat Azka begitu tertarik padamu. Dan aku menerima itu.. Dan jelas kami akan membantumu jika kau mengalami kesulitan, Yuna..”
Yuna justru makin meneteskan airmata mendengarnya.
Ia begitu merasakan haru ketika kalimat demi kalimat itu diucapkan Ny.Dania didepannya..
Itu jelas berbeda bila dibandingkan dengan apa yang sebelumnya telah dikatakan Ibu Azka padanya, bahwa ia akan membiarkan Yuna menghadapi sendiri resiko kebohongannya.
Tapi ternyata dibalik sikap kerasnya, justru begitu besar kepedulian wanita itu terhadapnya dan juga pada Yuri..
“Dan ini untukmu, Yuna..”
Ny.Dania mengeluarkan sesuatu dari dalam tas tangannya.
“Aku telah menukar ponsel lama milikmu. Ponsel lama mu terlihat tak pantas bila kau pakai dengan statusmu yang sekarang sebagai tunangan putraku. Maka gunakan ini.. kau membutuhkannya agar aku bisa menghubungimu atau kau yang menghubungiku..”
Yuna tidak ingin menerima tapi Ia memang membutuhkan sebuah ponsel untuknya..
“Terimakasih, Bu..”
Ketika kemudian tangannya terulur untuk menerima ponsel pemberian Ny.Dania itu, Yuna tanpa sadar menunjukkan jari tangannya yang tidak memakai cincin. Hal itu jelas langsung mengundang tanya dari Ny.Dania..
“Dimana cincinmu? Kau tidak memakainya?”
Yuna sedikit terkejut mendengarnya..
“Euh, aku.. Aku melepasnya Bu..”
Ia melepas dan mengembalikannya pada Azka. Dan kemudian pria itu melemparnya..
Yuna semestinya mengatakan selengkapnya seperti itu, tapi hanya dengan kalimat ‘melepaskan’ yang diucapkannya, Ny.Dania sudah langsung melebarkan mata mendengarnya..
“Karna Kak Yuri, aku tak bisa memakainya sekarang.. Maaf..”
Ny.Dania kembali hanya bisa mendesah..
“Apa kau berpikir untuk pulang bersamaku?”
Yuna dengan cepat menggeleng..
“Aku masih harus berada disini. Aku tidak bisa meninggalkan Kak Yuri..”
“Sudah kuduga kau akan melakukan itu..”
Ny.Dania kemudian menyerukan sebuah nama, dan seorang wanita tadi yang berpenampilan seperti pria yang tak dikenali Yuna kemudian masuk kedalamnya.
“Selama berada disini, dia akan menemanimu. Dan membantumu jika kau membutuhkan sesuatu. Namanya Jena.. Dia dari perusahaan penyedia keamanan. Dia sudah beberapa lama bekerja untukku. Kau belum pernah melihatnya karna dia mengambil cuti beberapa waktu. Tapi mulai hari ini, Jena akan kembali bekerja. Dan tugas barunya adalah menemanimu disini..”
Wanita itu yang telah diperkenalkan oleh Ny.Dania kemudian membungkuk pada Yuna.
“Anda bisa mengandalkan saya, nona..”
Yuna sedikit terbengong..
Apakah Ibu Azka baru saja menempatkan seorang pengawal untuknya?
Oh..
“Ibu, tapi aku.. Aku merasa tidak membutuhkannya. Aku bisa menjaga Kak Yuri sendirian..”
“Tidak.. Kau pasti masih akan berada disini sepanjang hari, maka jelas kau membutuhkan seseorang. Jangan makin membebani putraku untuk urusan keamananmu. Azka masih harus memikirkan perusahaan, dan suamiku juga telah menyetujui Jena berada disini selama kau juga berada disini..”
Ny.Dania lantas berdiri dari duduknya dan Yuna pun kemudian melakukan hal yang sama..
“Ibu..”
Ny.Dania menggeleng, menolak apapun itu yang ingin Yuna katakan..
“Aku harus pergi.. Ada kegiatan amal yang harus ku hadiri. Oh, kau seharusnya ikut bersamaku, Yuna..”
“Maafkan aku, tapi aku pasti akan menemani Ibu dilain waktu..”
“Baiklah, aku akan pergi sekarang.. Dan Jena, kau bisa memulai tugas baru mu..”
“Baik Nyonya..”
Bergerak dari kursi yang didudukinya, Ny.Dania kemudian mengambil langkah untuk pergi sesuai dengan apa yang telah dikatakan olehnya. Namun baru beberapa langkah, Yuna menyusulnya dan menghentikannya dengan sebuah pelukan dari belakang tubuhnya..
“Ibu..”
Airmata kembali menetes membasahi wajahnya..
“Kau kenapa?”
“Ibu, Terimakasih.. sungguh terimakasih banyak.. Terimakasih untuk bersikap baik, terimakasih untuk tidak marah padaku..”
“Aku marah, Yuna.. Jelas-jelas aku marah padamu. Apa kau sedang mengabaikan kemarahanku tadi?”
Yuna menggeleng..
“Tidak, Aku tahu ibu tidak lagi marah padaku. Terimakasih untuk semuanya.. Aku.. Aku menyayangimu ..”
Ny.Dania mendesah dan lantas mengusap pada tangan Yuna..
“Sudahlah, aku harus pergi..”
Yuna kemudian melepaskan pelukannya, dan menyeka airmata diwajahnya. Membiarkan Ny.Dania untuk selanjutnya berbalik menghadapnya..
“Jaga dirimu, aku akan kembali datang nanti..”
Yuna mengangguk..
“Jena, pastikan kau selalu bersamanya”
“Saya mengerti Nyonya..”
Tak lama setelah kepergian Ny.Dania yang meninggalkannya disana bersama dengan seorang wanita, yang diyakini Yuna ditugaskan untuk mengawalnya, Yuna mendengar suara dari ponsel ditangannya dan sekaligus merasakan getarannya.
Ia sedikit melebarkan mata ketika mendapati nama ‘Tunanganku’ sebagai nama kontak yang pada saat itu sedang menunggunya menjawab panggilan diponselnya..
Oh..
Siapa yang sudah menuliskannya disana?
***
to be continue
Note : jika kalian ingin novel ini terus berlanjut sampe episode terakhir jangan lupa like, comment and vote terus ya biar author semangat up tiap hari. thanks