
Yuna memejamkan mata dan membukanya, mengerjap beberapa kali hanya untuk memastikan semua itu nyata dan dirinya tidak sedang bermimpi ataupun tengah melintas kedalam kisah-kisah dongeng yang dulu sering dibacanya dan hanya bisa diimpikannya saja.
“bibi.. bibi..”
Ny.dania memanggil-manggil salah seorang pelayan rumahnya.
“iya.. nyonya..”
“bibi Lia, siapkan satu kamar untuknya..”
mata sang bibi mengikuti arah pandang Ny.dania dan menatap pada Yuna, kemudian keduanya sama-sama terkejut melihat satu sama lain.
“Ya Tuhan.. Yuna
“bibi..”
“Kau mengenalnya bi?”
Ny.dania kini yang terlihat bingung mengarahkan pandangannya bergantian pada sang bibi dan juga Yuna.
“iya.. Kami tadinya bertetangga sebelum Doni mengajakku untuk pindah.. Jadi Yuna, gadis yang bertunangan dengan Tuan muda Azka..?”
Yuna hanya bisa tersenyum kikuk dengan apa yang diucapkan bibit Lia, yang kemudian melangkah mendekatinya.
“Aku tidak menyangka jika Kau lah gadis yang disebut-sebut oleh Nyonya... Sepanjang pagi tadi”
Yuna sangat ingin bertanya apa yang dikatakan oleh ibu Azka tentangnya, namun mengetahui Ny.dania yang terus mengarahkan tatapan padanya membuat Yuna kembali menelan apa yang ingin ditanyakannya.
Rasanya memang tak perlu, karna sepertinya Ia telah bisa menebak jika apa yang diucapkan Ibu Azka untuknya pastilah sebuah caci maki dan kalimat penuh kemarahan seperti sebelumnya.
“Aku lebih tak menyangka Kau mengenalnya, bibi..”
“Dia gadis yang manis Nyonya...”
“Oh, aku akan percaya padamu andai aku tak melihat dengan mataku sendiri bagaimana liar-nya kelakuannya..!”
Bibi Lia justru tersenyum saat membelai rambut Yuna. Menyadari kekacauan diwajahnya, dan tahu jika telah terjadi sesuatu antara sang majikan dengan gadis itu. Yang membuat pagi tadi, saat Ia baru datang, bibi Lia langsung mendengar kemurkaannya.
“Tunjukkan padanya kamar yang bisa ditempati..”
“Saya akan melakukannya Nyonya..”
Bibi Lia kemudian meraih tangan Yuna dan menggandenganya, agar mengikutinya menaiki beberapa anak tangga menuju satu dari banyak kamar yang tersisa didalam rumah itu.
“Aku tidak tahu jika Bibi bekerja untuk Ny.dania..”
Bibi Lia hanya tersenyum sambil memasangkan seprai beserta selimut diatas tempat tidur yang akan digunakan Yuna.
“mas Doni tidak mengatakannya padaku”
“Aku sudah lama bekerja disini. Mereka keluarga yang baik. Meski Nyonya terkadang marah, dia selalu memiliki alasan untuk kemarahannya. Termasuk padamu, aku yakin telah ada sesuatu yang terjadi hingga kemudian Kau ditunangkan dengan Azka. Setauku gadis yang sering datang kemari dan bersama dengan Nyonya, yang akan menjadi tunangannya.. Jika aku boleh tahu apakah yang terjadi, Yuna?”
“bibi, aku bisa melakukan ini sendiri. Jangan melayaniku seperti bibi melayani Nyonya...”
Yuna jelas sedang menghindari apa yang ditanyakan ahjumma Lee padanya.
“baiklah, jika kau tak ingin menceritakannya padaku.. Aku tidak akan memaksa”
“maafkan aku..”
Yuna hanya bisa menunduk meminta maaf. Ia tak akan mungkin mengatakan semua itu terjadi karena rencananya bersama dengan Doni yang bertujuan untuk menghancurkan Azka.
Namun kini, Yuna mulai merasa dirinyalah yang akan hancur lebih dulu.
“Aku mendengar jika Yuna datang.. Benarkah itu kau?”
Yuna membalikkan tubuhnya pada arah suara yang didengarnya, dan mendapati Tn.Rian telah berdiri diambang pintu kamar yang akan mulai ditempati olehnya.
“Tuan..”
Yuna langsung membungkuk memberi hormat.
“Aku senang melihatmu berada disini”
“tapi saya merasa tidak nyaman Tuan, dapatkah saya kembali kerumah saya?”
“Oh, aku sangat berharap kau bisa nyaman tinggal bersama kami.. Kau telah menjadi bagian dari keluargaku. Kau sudah harus membiasakan dirimu mulai sekarang”
“tapi..”
“Aku sudah katakan padamu jika kau tak memiliki pilihan untuk menolak!”
Ny.dania tiba-tiba datang dan memotong apa yang ingin dikatakan oleh Yuna dengan kembali mengingatkan dan mempertegas apa yang diucapkannya melalui tatapan tajam nya pada Yuna.
“Kau harus menghargai istriku yang telah datang menjemputmu dan membawamu kemari..”
Tn.Rian sadar bila sang istri masih berada dalam tingkat emosional yang harus diwaspadai. Untuk itu Ia kemudian merangkulkan lengannya pada tubuh sang istri, menahannya agar tidak bergerak maju mendekati Yuna.
“tapi, saya tidak ingin berada dikamar ini..”
“Apa kau pikir aku akan menempatkanmu dalam satu kamar bersama putraku?”
Tidak..
Tidak seperti itu yang dimaksudkannya.
Yuna merasa kamar itu terlalu mewah untuknya. Luasnya bisa ia pastikan melebihi rumahnya. Ia takkan nyaman. Ia terbiasa tidur dalam kamar sempitnya yang berada didalam rumah kecilnya.
“bukan begitu Nyonya...”
“Ya, pasti begitu.. Aku bisa membaca pikiran gadis belia sepertimu. Dengarkan aku.. Kau akan terus berada dalam pengawasanku, jadi jangan harap kau bisa bersentuhan dengan Azka didalam rumahku. Jaga kelakuanmu..!”
Menunduk sambil menghela napas, Yuna tahu jika percuma untuk membantah apa yang dikatakan Ibu Azka saat itu.
“Pertama yang harus kau lakukan adalah bersihkan dirimu. Jangan lagi menunjukkan kekacauan wajahmu dihadapanku..!”
Yuna mengangguk dan melihat Ibu Azka meninggalkan kamarnya diikuti oleh Tn.Rian dibelakangnya.
“bibi kumohon jangan memperlakukanku seperti ini..”
“ini bagian dari pekerjaanku yuna, jangan merasa tidak enak padaku.. Aku senang kau berada disini. Jadi kita bisa kembali dekat seperti dulu..”
Bibi Lia kembali menunjukkan senyum ramahnya.
“Mandilah.. Kau perlu menyegarkan tubuhmu. Mungkin setelah ini ada yang ingin Nyonya bicarakan denganmu..”
Bibi Lia yang kemudian juga menunjukkan tempat-tempat yang berisi peralatan mandi yang berada didalamnya.
Setelah Bibi meninggalkannya didalam kamar mandi, untuk beberapa lama Yuna hanya terbengong didalamnya. Bingung dengan situasi hidupnya yang mengalami perubahan secara mendadak. Dan bagaimana cara untuk mengatasinya.
Dengan perlahan kemudian, Yuna mencelupkan kakinya kedalam bak mandi yang ternyata berisi air hangat dengan wangi aroma yang menguar dari sabun mandi yang tadi dituangkan oleh Bibi Lia.
Tergiur dengan wewangiannya, Ia lantas merendam tubuhnya didalamnya tanpa melepas gaunnya.
Setelah cukup lama berada didalam kamar mandi. Melihat kamar itu telah rapi dengan hordeng jendela kaca yang telah terbuka sepenuhnya.
Ia juga menemukan pakaian miliknya yang berada dalam kopernya telah tersusun didalam sebuah lemari. Yang kemudian ditertawakan oleh dirinya sendiri karna bahkan tak mampu mengisi penuh satu susun dalam lemari itu.
“menyedihkan..”
gumamnya sendiri sambil menarik salah satu kaos dari dalamnya.
“Yuna.. Apa kau sudah selesai? Ny.dania memanggilmu.. Dia sudah menunggumu dibawah..”
“iya, bi.. Sebentar lagi..”
Yuna buru-buru mengenakan pakaiannya dan sedikit menyisir rambutnya dengan sisir yang ditemukannya diatas meja rias, dan segera keluar dari dalam kamarnya.
Menuruni beberapa anak tangga, Ia melihat Ny.dania sedang merangkul suaminya, mengantarnya yang terlihat akan pergi sampai kedepan pintu rumah itu.
“Oh, Yuna..”
Tn.Rian yang menyadari keberadaan Yuna langsung memanggilnya.
“Tuan..”
“Ya ampun.. Satu yang harus kau ubah dan biasakan mulai sekarang adalah kau tak boleh lagi memanggilku ‘Tuan’. Kau bisa memanggilku ayah, dan ibu pada istriku..”
Tn.Rian melihat kearah sang istri yang hanya mendecak, mungkin merasa berkeberatan dengan apa yang diucapkan namun tak menunjukkan penolakan berarti. Mungkin juga sang istri sudah terlalu lelah menguras energi nya untuk berdebat dengannya.
“tapi Tuan, saya…”
“Ck! Tidak bisakah kau hanya mengatakan ‘iya’? Kau terlalu banyak membantah..”
Tn.Rian tersenyum dan mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan istrinya.
“Aku pergi ma..”
Yuna menyaksikan keharmonisan diantara kedua orangtua Azka. Meski saat itu Ny.dania masih terlihat kesal pada suaminya namun hal itu tak menutup banyaknya cinta yang melingkupi mereka.
“Buatlah dirimu nyaman, Yuna..”
Yuna sedikit menarik senyum dari sudut bibirnya ketika melepas Tn.Rian pergi dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh seorang supir.
Setelahnya Ia langsung menerima tatapan dari Ny.dania yang jelas terlihat sedang meneliti tampilannya.
“ikut aku sekarang..”
Yuna hanya mengangguk dan dengan gelisah mengikuti langkah Ny.dania yang mengarah kehalaman belakang dari rumah itu. Ia kembali ternganga dengan pemandangan luasnya taman bunga yang berada disana.
“pertama-tama aku akan mengajarimu bagaimana cara merangkai bunga..”
Yuna hanya mengerutkan dahi ketika melihat Ny.dania mulai mengambil gunting dan peralatan lainnya untuk memotong beberapa tangkai dari banyaknya jenis bunga yang telah bermekaran disana.
Ia masih tak mengerti adakah kegunaannya bila dirinya kemudian bisa merangkai bunga?
“Ini akan membuatmu terampil.. Dan lebih terlihat anggun ketika kau melakukannya”
untuk pertama kalinya Yuna melihat senyum diwajah Ny.dania, ketika wanita itu mencium salah satu dari beberapa tangkai mawar ditangannya. Sangat terlihat bila wanita itu menyukai apa yang dilakukannya.
“Kau juga akan mendapatkan kesenangan bila kau bisa menikmatinya.. Bukan melulu kesenangan yang kau dapatkan dari putraku. Aishh.. Aku tak seharusnya mengatakan itu..”
Ny.dania lantas menunjukkan pada Yuna bagaimana kemahirannya merangkai beberapa jenis bunga yang semakin terlihat cantik saat sudah terangkai didalam sebuah vas.
“Waw.. Nyonya membuat bunga-bunga itu semakin cantik”
Yuna terang-terangan mengatakan pujiannya dengan mata berbinar penuh kekaguman.
“sekarang giliranmu untuk melakukannya..”
“Apa?”
“Aku ingin lihat apa kau tadi menyimak apa yang aku katakan..”
“tapi Nyonya..”
Yuna menggigit bibir bawahnya. Sangat tidak yakin jika dirinya bisa melakukan seperti apa yang Ny.Dania lakukan pada bunga-bunga itu.
Benar saja, Yuna berkali melakukan kesalahan yang membuat Ny.Dania terus mengomeli nya dan kembali merasakan kekesalan padanya.
Ia tak membiarkan Yuna berhenti sebelum berhasil mengerjakan rangkaian bunga yang menurutnya sempurna, meski Ia telah berkali mencoba dan menghabiskan beberapa jam waktunya disana.
“Aku akan meninggalkanmu sebentar.. Kau harus sudah menyelesaikan rangkaian itu dengan benar.. Jika tidak, Kau akan tetap berada disini bahkan hingga matahari tenggelam!”
Yuna menghela napasnya dengan kasar setelah Ny.Dania meninggalkannya sendirian disana dengan sebuah kalimat peringatan.
“memangnya apa gunanya bisa merangkai bunga? Bukankah dia punya cukup banyak uang untuk membayar seorang yang ahli merangkaikan bunga-bunga ini untuknya. Mengapa harus menyuruhku melakukannya? Menyebalkan..!”
“Apa kau baru saja menyebut ibuku menyebalkan..?!”
***
to be continued