
Ny.Dania kembali menaiki puluhan anak tangga kearah kamar Yuna. Memasuki kamar itu dan melihat Yuna telah mengenakan gaun pemberiannya dan tengah menyisir rambutnya. Saat Yuna menoleh kearahnya, untuk sesaat Ia dibuat terpaku dengan kepolosan wajahnya.
Yuna terlihat cantik saat itu. Gaun sewarna bunga tulip yang adalah gaun lama miliknya, terlihat cocok dan pas memeluk tubuh rampingnya.
“Ibu..”
“Euh.. Kau sudah selesai?”
Yuna mengangguk..
Ny.Dania lantas mendekat, mendudukkan tubuh Yuna pada kursi meja rias dan memulai memberikan riasan diwajahnya.
Menyapukan bedak, menambahkan sedikit perona pipi dan juga memberikan lipstik pada bibir Yuna. Ny.Dania merasa tak perlu menambahkan banyak polesan, kecuali pada seputaran mata Yuna yang menghitam. Yuna sudah mengesankan kecantikan naturalnya.
“Kau pasti kurang tidur kan”
“Iya?”
“Kau akan terlihat cantik jika tidak memiliki lingkaran hitam seperti ini dimatamu.. Jika aku melihatnya lagi dilain waktu, aku akan memarahimu.. Gunakanlah waktu tidur dengan baik, itu bisa untuk menjaga kesehatan kulitmu”
Ny.Dania menggumam dalam hati, tak menyangka dirinya akan mengatakan hal itu pada Yuna, terlebih menyebutnya dengan sebutan cantik meski hanya didalam hatinya saja.
Tak lama setelah selesai memoles wajah Yuna, keduanya keluar dan menuruni tangga dengan bersamaan, yang langsung disambut dengan tepukan tangan dan decak kekaguman dari Tn.Rian..
“Wah.. Aku melihat dua wanita cantik berada dirumahku.. Ini sungguh pagi yang indah..”
ketika itu pun Azka baru saja membuka pintu kamarnya, bersiap untuk sarapan dan selanjutnya berangkat kekantor seperti biasanya.
Pada saat melihat dan mendengar ayahnya yang menunjukkan pandangan dan suara kekagumannya, Azka mengikuti arah pandangan itu dan terpaku pada Yuna.
Rambutnya yang tergerai, berkilau dan bergerak dengan ringan seiring dengan langkah kakinya. Langkah-langkah dari kakinya yang bergerak semakin dekat padanya.
Setelah bibir sewarna merah jambu..
Setelah matanya yang indah..
Kini gadis itu memikat dengan kilauan rambutnya.
Sialan..
Azka membayangkan menyentuh, membelai rambut yang tergerai indah itu dengan menatap kedua mata beningnya, kemudian merasakan bibir yang kini dilihatnya bukan lagi sewarna merah jambu, namun merah dengan sempurna. Merah yang menantang. Mengundang untuknya dapat menciumnya..
Jantungnya kembali berdegup saat itu, dan ia pun menyadari semakin kencangnya debaran dari dalamnya..
Azka merasa perlu untuk buru-buru pergi dan melarikan diri dari pandangan matanya yang tak lepas dari gadis itu..
“Mama.. Aku memiliki janji pagi ini. Aku harus pergi.. Pa aku berangkat..”
Tn.Rian mengangguk menyetujui, namun Ny.Dania langsung bersuara dan berusaha untuk mencegahnya.
“Azka.. Azka..!”
Azka mengabaikannya, Ia tahu pasti sang ibu hanya akan memprotes karna dirinya melupakan untuk memberikan ciuman padanya.
Azka sudah memiliki firasat jika dirinya terlalu lama melihat Yuna, pagi itu akan menjadi kacau. Sama kacaunya dengan pada siang hari sebelumnya, dan mungkin akan semakin kacau dibanding semalam. Semalam yang dirasakannya adalah kamarnya dipenuhi dengan bayangan gadis itu, hingga membuatnya mengerang saat tak juga dapat memejamkan matanya dan tidur. Ketika berhasil untuk tidur, gadis itu bahkan hadir didalam mimpinya..
Yuna benar-benar telah mengacaukan dirinya…
***
Doni menajamkan pandangannya pada sebuah sedan hitam yang melaju didepannya. Ia telah mengikuti mobil itu sejak tadi dan sedang berusaha untuk menghadang dan menghentikan lajunya.
Namun nampaknya sang pengendara memiliki kelincahan dalam mengemudikan kendaraannya, hingga membuat Doni kesulitan untuk melakukan niatannya.
Baru pada jalanan yang lengang dan hanya beberapa mobil yang melintas, Doni bisa menyalip dan memberhentikan mobil yang dikendarainya didepan sedan hitam itu.
Terdengar bunyi klakson yang berbunyi keras setelahnya, yang seakan menyuarakan kemarahan seorang yang berada dibelakang kemudi mobil itu. Doni bahkan memastikan seseorang itu sedang mengumpat, atau bahkan menyumpahinya..
“Sialan.. Keluar Kau!!”
Benar saja..
Suara makian itu terdengar saat kemudian Doni keluar dari dalam mobilnya. Dan melihat seorang wanita yang tengan menatapnya tajam dengan kemarahan menggurat diwajah cantiknya..
“Maaf Nona..”
“Kau sudah gila.. Kau bisa membunuhku..!!”
Doni menangkap tangan wanita itu yang terayun untuk memberikan tamparan diwajahnya.
“Uh, Kau harus tenang nona..”
“Sialan.. Brengsek Kau..! Apa maumu..?”
Suaranya mendesis marah. Namun tak sedikitpun membuat Doni mundur, Ia justru menunjukkan senyum pada wanita itu..
“Kuharap kau akan mendengarkan ku.. Aku memiliki tawaran menarik untukmu, Jessica..”
Wanita itu yang adalah Jessica, melebarkan mata. Terkejut dengan siapa sesungguhnya pria itu dan apa yang dikatakannya..
Namun beberapa saat setelah mendengar Doni mengatakan memiliki tawaran untukknya, sesaat justru membuat Jessica tergelak. Bukan karna apa, melainkan sebagai bentuk cibiran pada pria berkacamata hitam itu yang kini berada dihadapannya, yang beberapa saat lalu sudah hampir membuatnya celaka ditengah jalan raya.
Siapa dia?
Dan apa yang ditawarkannya jelas sangat tak membuatnya tertarik saat itu.
Jessica hanya mendecakkan lidah sebagai respon dan tanpa bersuara lagi ia membalikkan tubuhnya. Berniat untuk menjauhi Doni yang menurutnya adalah seorang pria sakit jiwa. Tak ada gunanya bila dirinya berada disana dan meladeni omongannya.
Namun saat kakinya mulai melangkah, pergelangan tangannya merasakan tarikan dari sebuah tangan yang mencengkram, menahannya.
Membalikkan tubuhnya, matanya kini bertatapan dengan Doni. Melalui tatapan matanya itu, Jessica jelas sedang menegaskan ketidak senangannya terhadap apa yang saat itu dilakukan oleh Doni yang dirasa telah mengganggunya.
“Tunggu dulu nona.. Kau bahkan belum mendengar tawaranku..”
“Apa yang kau tawarkan jelaslah bukan sesuatu yang menarik untukku.. Maka simpan penawaran itu dalam kepalamu! Brengsek..!”
Kemarahan mendesis dalam nada suaranya.
Ketika Jessica menyentak pergelangan tangannya, Doni lantas melepas kacamata hitam yang sebagian menutupi wajahnya.
Jessica sudah akan beralih. Namun kesadarannya akan sosok Doni untuk sesaat menahan niatannya untuk melakukan itu.
“Kau..?”
Senyuman memikat yang Doni tunjukkan jelas tak mempengaruhi wanita cantik dihadapannya.
“Sialan.. Untuk apa si **** itu mengirimmu padaku. Katakan pada Azka aku tidak tertarik..!”
Jessica justru merasakan amarah mendidih dalam darahnya menyadari Doni sebagai salah satu orang yang berada disekitar Azka. Dan menganggap apa yang ditawarkan pria itu pastilah berdasar dari suruhan Azka.
“Aku tidak akan lagi berurusan dengan **** sepertinya..! Sampaikan itu padanya!!”
Membawa kemarahan mengalir dalam darahnya, Sica meninggalkan Doni disana dengan kembali memasuki sedan hitam miliknya.
Didalam mobilnya, Jessica mendapati ponselnya berdering. Panggilan dari ibunya.
“Iya bu..”
“Dimana kau?”
“Sedikit gangguan dijalan.. Aku akan sampai setidaknya dalam lima belas menit. Tidak perlu khawatir..”
Menutup ponsel, Jessica dengan cepat melajukan mobilnya. Suara laju nya menderu seakan membelah jalanan yang dilaluinya.
“Sialan..!”
Melihat hal itu, Doni menggeram kesal. Jessica jelas telah salah mengartikan maksudnya. Ia datang bukan karna membawa tawaran dari Azka, melainkan memiliki tawarannya sendiri.
***
Bagaimana dengan Yuna?
Bagaimana dengannya yang harus mengikuti Ibu Azka menghadiri acara amal yang sebelumnya dirinya sama sekali tak pernah berada dalam acara yang semacam itu.
Gugup dan tegang, seperti itulah apa yang dirasakan oleh Yuna ketika memasuki tempat berlangsungnya acara amal itu.
Meski sepanjang perjalanan menuju ketempat itu, Ny.Dania telah mengatakan setidaknya apa saja yang harus dilakukannya selama berada dalam acara, bahkan sudah sejak semalam hal itu telah dijelaskan oleh Ny.Dania pada Yuna. Tetap saja, berada diantara banyak nya orang yang sama sekali tak dikenalnya membuat kegugupan itu semakin nyata tergurat di wajah Yuna. Yuna hanya mengekor dibelakang Ny.Dania, mengikuti langkahnya.
Tangannya berkeringat dingin, ketika beberapa wanita paruh baya yang disebutkan Ny.Dania dengan berbisik sebagai teman-temannya, mulai mendekatinya..
“Wah.. Akhirnya kau datang.. Senang melihatmu disini..”
Yuna memperhatikan bagaimana Ny.Dania tersenyum tanggung, menyambut sapaan dari wanita yang telah mengundangnya. Salah satu wanita paruh baya yang cantik dengan tentengan tas mahal ditangannya.
Hanya dengan melihat kedua wanita itu, Yuna menyimpulkan sendiri dalam kepalanya, rasanya sedikit tak pantas menyebut acara yang saat itu dihadirinya sebagai acara amal, melainkan Ia langsung menggantinya sebagai ajang pamer kekayaan. Yuna meyakini bila mereka mengeluarkan sejumlah uang besar untuk beramal, semata hanya demi gengsi dan harga diri.
Tidakkah itu terdengar sentimentil..
Biarkanlah, itu memang yang ada dalam pemikirannya.
Setelah terjadi sapaan basa-basi diantara Ibu Azka dan beberapa temannya yang lain, mereka mulai atau sebenarnya telah sedari tadi mengarahkan perhatian pada Yuna.
Tatapan mereka menyelidik, meneliti wajah dan apa yang pada saat itu dikenakannya. untuk pertama kalinya Ia membiarkan orang-orang itu menilainya.
Biasa..
Kata itu seakan sedang Yuna baca dari tatapan mata mereka. Tidak dengan tas mahal. Tidak ada pula kilauan berlian yang melekat ditubuhnya.
Segalanya telah menunjukkan dari kalangan mana dirinya berasal..
“Oh, inikah gadis beruntung itu?”
Wanita itu memulai, Ny.Dania lantas menggeser tubuhnya dan menarik Yuna yang sebelumnya berada dibelakangnya, agar sedikit lebih maju dan berada tepat disampingnya.
“Sedikit lebih baik bila dibandingkan dengan malam pertunangan itu. emm.. Malam itu dia terlihat…”
“Perkenalkan dirimu, Yuna..”
Ny.Dania menghentikan apa yang Ia yakin akan dikatakan wanita itu adalah cemoohan untuk Yuna. Dengan segera ia tersenyum pada Yuna, menekan kejengkelannya pada sang teman agar tak meluap dan berakhir dengan sindiran sarkartis, Ny.Dania meminta Yuna dengan suara lembut agar memperkenalkan dirinya.
Maka dengan menunjukkan senyum yang sama kearah Ny.Dania, Yuna lantas memperkenalkan dirinya kepada beberapa wanita paruh baya dihadapannya.
Respon yang langsung diterimanya adalah beberapa diantara mereka saling berbisik, mungkin sedang bertukar penilaian tentang dirinya. Dan beberapa yang lain langsung melontarkan berbagai macam pertanyaan mengenai bagaimana dirinya bertemu dengan Azka dan apa yang telah dilakukannya hingga mampu memikat putra satu-satunya dari keluarga Rianda. Terang-terangan mereka menanyakan meski Ny.Dania dengan jelas dapat mendengarnya.
Yuna tak menjawab kecuali tersenyum. Senyum yang dibuatnya seolah menunjukkan bahwa dirinya malu untuk menceritakan apa yang telah dilakukannya untuk menarik hati Azka. Padahal yang sebenarnya adalah Yuna sama sekali tak memiliki jawaban untuk itu. Ia mengetahui dengan pasti tak ada yang sedang terpikat dengan dirinya.
Semua hanya sandiwara belaka. Ia bersandiwara, Azka pun diyakininya juga sedang bersandiwara hanya untuk menempatkannya kedalam situasi yang menyulitkan, karna dirinya adalah penyebab pertunangan yang sesungguhnya harus terjadi namun justru batal.
Satu situasi yang cukup bisa Ia atasi, membuat Yuna lega. Namun tak berlangsung lama, sampai kemudian seorang wanita muda yang dikenalinya hadir disana dengan seorang wanita muda lainnya dan juga seorang wanita paruh baya yang terlihat mirip dengan wanita muda yang dikenalinya sebagai calon tunangan Azka yang batal.
Jessica berada tak jauh darinya, bersama sang ibu dan menatapnya tajam seakan hendak menelannya..
Oh dear..
“Oh, itu putriku.. Tania..”
Ny.Sri begitu wanita itu dikenal sebagai istri dari penyelenggara acara memanggil sang putri yang sedang bersama dengan Jessica dan Ibunya.
“Aku sengaja meminta kalian mengajak gadis-gadis karna Anak muda seperti mereka sudah sewajarnya diperkenalkan dengan acara amal semacam ini kan..”
Ny.Dania mendesah melihatnya, jelas akan terjadi pembandingan yang dilakukan oleh wanita itu dan mungkin teman lainnya, terhadap Tania, Yuna dan pastilah Jessica. Kedua gadis dari keluarga ningrat itu jelas jauh lebih unggul bila dibandingkan dengan Yuna.
Ketika kemudian mereka mendekat, Ibu Jessica memperlihatkan keengganannya untuk bertatapan langsung dengan Ny.Dania. Dia hanya menyapa pada sang empunya acara sebelum kemudian beranjak meninggalkan Jessica bersama Tania, dengan membawa serta amarah dan Kebencian yang masih menggurat diwajahnya.
Ia jelas terlihat sebagai wanita berkelas yang tak mungkin berlaku bar-bar ditengah acara. Meski merasa tak cukup hanya dengan memaki melalui telpon, namun Ia juga takkan mungkin menyerang Ny.Dania disana. Hal itu hanya akan mempermalukannya dan menjatuhkan harga dirinya.
Begitupun dengan Jessica, gadis itu seakan mengancam dengan hanya menatap penuh kebencian pada Yuna yang kini berada tepat dihadapannya.
Mengetahui ketidak senangan Jessica terhadapnya, sebagai bentuk proteksi diri, Yuna kemudian merangkulkan tangannya pada lengan Ny.Dania. Bersyukur, setidaknya ibu Azka tidak menyingkirkan tangannya.
“Tania.. Jessica, kalian tidak ingin berkenalan dengan gadis belia ini? Dia tunangan Azka..”
Apa yang didengar Ny.Dania dari apa yang dikatakan sang teman dengan menyebutkan Yuna sebagai gadis belia, dianggap sebagai ejekan. Terlebih hal itu juga tersirat dari senyum tak tulus yang ditunjukkan wanita itu.
“Oh, kurasa aku salah.. Kalian berdua jelas lebih dewasa dibanding dengannya, sebaiknya gadis belia itu yang memperkenalkan dirinya. Siapa namamu tadi..?”
Ny.Sri mengarahkan tatapannya pada Yuna, Yuna sudah akan menjawab namun kemudian Ny.Dania menghentikannya dengan menarik tangan Yuna.
“Tak perlu lagi berbasa-basi.. Yuna pun tak perlu memperkenalkan dirinya. Kurasa mereka sudah mengetahui dia adalah tunangan putraku. Kabar pertunangan mereka telah menyebar bukan? Aku harus permisi, sepertinya suamimu sudah akan memulai acara..”
Ada decak kesal dari wanita itu, namun Ny.Dania mengabaikannya. Ia mengajak Yuna ketengah ruangan, duduk berdampingan pada kursi yang telah disediakan, hingga acara berlangsung.
***
to be continue