
Yuna melenguh saat merasakan sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela, mengganggu tidurnya. Yuna perlahan membuka matanya, senyum gadis itu mengembang seketika melihat pemandangan yang setiap pagi bisa dinikmatinya. Apalagi kalau bukan Wajah tampan suaminya, yang nampak polos ketika tertidur.
Yuna membelai wajah Azka dengan penuh kekaguman, tentu saja Yuna tidak bisa berhenti mengagumi pahatan sempurna yang diciptakan Tuhan pada wajah suaminya itu.
Yuna merasa sangat beruntung, ia tak pernah menayangkan akan sebahagia ini sebelumnya. Azka, saat pertama kali bertemu dengan pria itu, Yuna menatapnya penuh kebencian karena kesalah pahaman itu, siapa sangka kini Yuna hanya bisa menatap Azka penuh cinta.
“Sudah puas memandangi wajah tampanku Nyonya?”
Yuna membelalakkan matanya dan segera menarik tangannya dari wajah Azka, lagi-lagi Yuna kepergok memandangi wajah suaminya.
“Sejak kapan mas bangun?”
Azka tersenyum lalu merengkuh tubuh Yuna dalam pelukannya.
“Sejak kau membelai wajahku sayang.” Jawab Azka seraya mengecup puncak kepala istrinya.
“Yaudah, mas Azka mandi dulu. Biar aku siapkan sarapan.” Kata Yuna sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Azka, namun Azka malah mempererat pelukannya seolah tak ingin gadis itu menjauh selangkah pun darinya.
“Mas, ayo bangun.”
“Sebentar lagi sayang, aku ingin memelukmu sebentar lagi.”
Azka semakin mempererat pelukannya.
“Mas, nanti kau terlambat ke Kantor.”
“Aku bossnya, sekalipun aku telat tidak ada yang bisa memarahiku.” Jawab Azka santai.
“Tidak bisa begitu Mas, sekalipun kau boss nya kau juga tidak boleh terlambat.” Kata Yuna, gadis itu berhasil meloloskan diri dari pelukan Azka.
“Ayo bangun.”
Azka menurut, pria itu duduk di tempat tidur dengan mata yang masih terpejam.
Yuna menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya, ibu mertuanya pernah mengatakan kalau Azka itu sangat susah di bangunkan. Yuna melihatnya sendiri sekarang, kalau tidak ada yang membangunkannya mungkin Azka akan tidur sampai siang.
“Mas, ayo mandi biar kantukku cepat hilang.”
Yuna turun dari tempat tidur, mengambilkan handuk Azka. Yuna kemudian menyeret suaminya ke kamar mandi. Azka hanya menurut saja seperti anak kecil yang disuruh mandi oleh ibunya.
“Mau mandi bersama?” tawar Azka sambil mengedipkan sebelah matanya, saat mereka berada di pintu kamar mandi.
“Tidak, aku harus menyiapkan sarapan.”
Yuna buru-buru berlari keluar kamar, tentu saja gadis itu tidak mau menerima tawaran Azka untuk mandi bersama, pasalnya yang terjadi nanti bukan hanya mandi, tapi lebih dari itu. Yang akan membuat Azka semakin terlambat.
Azka terkekeh melihat kelakuan istrinya itu, kemudian langsung masuk ke kamar mandi.
***
Sesampainya didapur Yuna melihat bibi Lia sudah selesai membuatkan sarapan. Yuna hanya tinggal membantu menatanya saja di meja makan. Peraturan di rumah ini masih sama, Yuna dan Nyonya Dania dilarang memasuki dapur oleh Tuan Rian. Yuna hanya menurut saja, padahal dirinya sangat ingin sekali memasak sendiri untuk suami dan mertuanya. Tapi apa boleh buat, peraturan itu tak bisa di ganggu gugat.
“Ah, akhinya selesai. Bibi, apakah mama dan papa belum bangun?” tanya Yuna pada bibi Lia.
“Mungkin sebentar lagi mereka keluar, Yuna.” Jawab bibi Lia.
“Baiklah, aku panggil mas Azka dulu.”
Yuna kembali ke kamarnya untuk memanggil Azka, tak lama kemudian keduanya kembali turun untuk sarapan bersama. Disana, Nyonya Dania dan Tuan Rian sudah menunggu mereka di meja makan.
“Selamat pagi, Mama. Selamat pagi Papa.” Sapa Yuna dan Azka bersamaan.
“Selamat pagi.”
Yuna dan Azka duduk di kursi mereka masing-masing, kemudian semuanya memulai sarapan.
“Yuna, apa kau sudah ada tanda-tanda?” Suara nyonya Dania tiba-tiba menghentikan dentingan sendok yang beradu dengan piring.
“Tanda-tanda apa Ma?” Tanya Yuna tak mengerti.
“Ya, tanda-tanda kehamilan. Masa kau tidak tau.” Jawab Nyonya Dania santai.
Yuna menatap suaminya yang juga sedang menatapnya, Yuna kemudian menduk sambil menggigit bibirnya.
“Mama, kenapa menanyakan itu di saat kita sedang sarapan.” Sela Azka saat melihat raut wajah istrinya yang terlihat sedih.
“Azka, mama hanya ingin tau apa Yuna sudah hamil apa belum.”
“Ma, untuk apa kau bertanya? Lagipula kalau Yuna sudah mengandung pasti dia akan mengatakannya kok.” Sela tuan Rian. Nyonya Dania meletakkan sendok makannya kemudian menatap suaminya gusar.
“Pa, sudah 3 bulan mereka menikah. Wajar dong mama bertanya. Mama sudah tidak sabar ingin punya cucu.” Ujar nyonya Dania menggebu-gebu.
“Baru 3 bulan, Ma. Biarkan mereka menikmati masa-masa berdua dulu.” Kata tuan Rian.
“Papa betul Ma, lagian urusan anak itu kan urusan Tuhan. Kalau sudah waktunya pasti di kasih kok. Iya kan sayang?” Azka menggengam tangan istrinya, menyalurkan semangat untuk Yuna.
“I-iya.” Jawab Yuna terbata.
“Yuna, kau tidak menundanya kan?” tanya nyonya Dania, sambil menatap Yuna intens. Yuna, Azka dan tuan Rian jelas terkejut mendengarnya.
“Tidak Ma, untuk apa aku menundanya. Aku kan tidak bekerja, lagi pula aku juga sangat menginginkannya.” Jawab Yuna dengan raut wajah sedih.
“Bagus kalau begitu, Azka kau harus lebih berusaha lagi.” Ujar nyonya Dania sambil menatap putra semata wayangnya tersebut.
“Kalau itu tidak perlu Mama suruh, setiap malam aku usahakan. Iya kan sa... Ahhhh.”
Perkataan Azka terpotong karena tiba-tiba Yuna mencubit pinggangnya. Azka menatap ngeri Yuna yang melotot kepadanya.
“Mas ngomong apaan sih.” Kata Yuna yang hanya dibalas cengiran Azka.
“Sudah-sudah, teruskan sarapannya. Azka cepatlah nanti kau terlambat.” Instruksi Tuan Rian membuat semuanya melanjutkan kembali acara sarapan yang tertunda.
***
Yuna mengantarkan Azka sampai kedepan mobilnya, Yuna merapikan dasi yang dipakai suaminya.
“Sayang, jangan terlalu dipikirkan ucapan mama ya.”
“Tapi apa yang dikatakan mama ada benarnya juga Mas, sudah 3 bulan...”
“Baru 3 bulan sayang.” Azka memotong ucapan istrinya. “Ada yang baru menikah langsung hamil, bahkan ada yang bertahun-tahun menikah baru hamil.” Kata Azka sambil membelai rambut Yuna.
“Tapi aku takut...”
“Sstt... Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kita hanya perlu berusaha dan berdoa.”
Azka merengkuh wajah Yuna, menatapnya penuh cinta. Gadis belia itu kini menjelma menjadi wanita dewasa yang semakin hari semakin cantik.
“Aku berangkat kerja dulu sayang.” Kata Azka kemudian mengecup kening istrinya.
“Hati-hati dijalan mas.”
Yuna melambaikan tangannya saat mobil Azka melaju meninggalkan pekarangan rumah. Yuna menghela nafasnya, tiba-tiba Yuna dilanda rasa gelisah. Sejujurnya Yuna sangat takut, takut jika dirinya tak kunjung hamil.
Bagaimana kalau Nyonya Dania terus mendesak agar secepatnya menimang cucu, sepertinya Yuna harus mulai memikirkan bagaimana cara agar ia cepat mengandung.
“Kak Yuri bahkan sudah dua tahun menikah tapi belum hamil juga, apalagi aku yang baru 3 bulan.”
Yuna mendesah pasrah, sepertinya ia harus banyak bersabar.
***
bersambung