
Tak ada masalah dengan kondisi sang kakak saat itu, dan yang membuatnya luar biasa lega dan senang adalah saat Fariz mengatakan bila kemungkinan besarnya adalah Yuri tak lagi memerlukan kursi rodanya.
“Jadi kakak ku sudah bisa kembali berjalan, dokter?”
Fariz tersenyum sebelum kembali menanggapi..
“Keretakan tulang dibagian kakinya telah kembali sempurna.. Dan cukup kuat untuk menopang tubuhnya saat berjalan. Seorang suster yang sempat bersama dengannya juga mengatakan jika Yuri telah bisa berjalan dalam jarak yang cukup jauh. Memang dia mengalami pingsan tadi, sepertinya kelelahan”
Yuna bersyukur mendengar kesembuhan sang kakak saat itu. Dan sangat berharap itu menjadi awal yang baik dan sedikit demi sedikit membangun kepercayaan diri sang kakak kembali seperti dulu.
Ia sudah sangat merindukan Yuri yang seperti dulu. Yuna selalu tidak siap bila melihat Yuri merasa tertekan dan ketakutan, seperti tadi.
Kembali keruang kamar Yuri dengan senyum terkembang diwajahnya, Yuna masih mendapati Yuri terdiam dan sama sekali tidak melakukan pembicaraan dengan Azka.
“Kakak..”
Yuna yang lantas mendekatinya, meraih tangannya, lalu menceritakan apa yang tadi dikatakan dokter Fariz kepadanya.
“Aku benar-benar senang mendengar kakak tidak membutuhkan kursi roda lagi.. kakak bisa berjalan seperti dulu lagi..”
Yuri masih tidak meresponnya dan malah kembali menarik tangannya dari Yuna..
“Benarkah?”
Azka yang kemudian menyahuti, mengalihkan perasaan sedih yang kembali hadir dihatinya saat Yuri bahkan tak mencoba untuk melihatnya.
“Dokter Ahmad mengatakan seperti itu.. Kak Yuri sudah bisa berjalan. Kakak, apakah…”
“Aku masih membutuhkan kursi rodaku.. Aku tidak akan bisa berjalan. Kakiku terasa sangat sakit saat aku melakukannya..”
Menghentikan apa yang saat itu masih ingin dikatakan oleh Yuna, Yuri memberi pernyataan yang begitu mengejutkan..
“Tapi Kak, dokter Ahmad mengatakan..”
“Dokter itu, dia bisa saja mengatakan apapun dengan semua teori yang dipelajarinya.. Tapi dia tidak pernah bisa merasakan kesakitan yang kurasakan..”
Yuna benar-benar merasa bingung. Apa yang membuat sang kakak menolak kesembuhannya.
Bukankah selama ini ia telah begitu bersemangat melakukan terapi dan sangat ingin dapat kembali menggunakan kedua kakinya secara normal.
Tapi..
Sekarang, Yuri justru terkesan tidak menginginkan kesembuhan.
Atau memang benar sang kakak masih merasakan sakit dibagian kakinya. Jika seperti itu, Yuna tidak akan memaksa. Ia hanya perlu berbicara dengan dokter dan mengatakan apa yang dikeluhkan Yuri tadi, sehingga sang dokter bisa mengambil langkah penyembuhan.
***
Setelah menunggu cairan infus yang terpasang dipergelangan tangan Yuri habis, dan dokter memperbolehkannya pulang, Yuri benar-benar tak mencoba untuk menggerakkan kakinya. Ia kembali menempati kursi rodanya saat meninggalkan rumah sakit, dengan Azka yang mendorong dibelakangnya.
Tak ada satupun yang membuka suara ketika berada didalam mobil Azka saat dalam perjalanan pulang kerumahnya. Yuri terus saja diam, meski tangannya tak pernah lepas menggenggam erat tangan Azka yang duduk disampingnya.
Sementara Yuna yang menempati kursi depan disamping Jena yang mengemudikan mobil itu, juga ikut terdiam meski beberapa kali ia melihat kearah dibelakangnya melalui spion dan sempat membuat kedua matanya bertemu tatap dengan Azka.
Perjalanan yang biasanya memakan waktu tak lebih dari tiga puluh menit, kini menjadi terasa sangat lama karna kekakuan mereka yang berada didalamnya. Azka lah yang sesekali melakukan pembicaraan dengan Jena, itupun secara singkat dan lebih seperti usaha untuk mencairkan kebekuan yang terjadi. Dan selalu gagal karna minimnya topik yang bisa dijadikan bahan pembicaraan diantara keduanya.
Sampai kemudian suasana sunyi nan kaku itu seakan menguar begitu Amber membelokkan arah memasuki perumahan Azka dan akhirnya menghentikan laju mobil yang dikendarainya tepat didepan bangunan rumah nan mewah itu..
Yuna keluar lebih dulu, membukakan pintu bagian belakang untuk Yuri dan meminta Jena untuk mengeluarkan kursi roda dari dalam bagasi. Ia lantas menggeser tubuhnya ketika Azka keluar lebih dulu dan kemudian membantu Yuri untuk keluar dari dalam mobil dengan cara membopongnya.
Jena telah menyiapkan kursi roda untuknya, namun ketika Azka berniat menurunkan dan menempatkannya diatas kursi roda itu, Yuri justru mengalungkan erat kedua tangannya pada leher Azka..
“Bisakah kau membawaku masuk dengan cara seperti ini?”
Pintanya pada Azka yang akhirnya urung menurunkan Yuri dari gendongannya, dan mengangguk mengiyakan permintaannya dengan melangkah masuk kedalam rumah.
Jena telah bergerak cepat membukakan pintu rumah bagian depan, sedangkan Yuna untuk sejenak ia sempat hanya berdiri diam disana dan hanya menatap pada punggung Azka yang telah berjarak beberapa langkah didepannya, sampai kemudian ia mendengar suara dari Ny.Dania yang memanggil-manggilnya..
“Yuna..! Yuna, kau sudah pulang?”
Ny.Dania yang segera menuju kebagian depan rumahnya setelah mendengar suara kedatangan dari mobil Azka, cukup dikejutkan dengan apa yang pada saat itu dilihatnya.
Azka yang sedang membopong tubuh Yuri, sementara Yuna mengikuti dibelakangnya.
“Yuna..”
Azka mengabaikan sang ibu yang memberikan tatapan tajam padanya, dan langsung mengarahkan langkahnya menuju kamar Yuri.
Melihat tatapan Ny.Dania yang seperti itu, membuat Yuna kemudian mendekat padanya dan merangkul lengannya.
“Ibu..”
“Apa-apaan itu, Yuna?”
“Mas Azka hanya membantu Kak Yuri..”
“Tapi tidak dengan cara seperti itu. Kurasa aku perlu memperingatkan kakakmu.”
Yuna sedikit merasa panik saat Ny.Dania melepaskan rangkulan tangannya dan berniat melakukan apa yang dikatakannya, memperingatkan Yuri.
“Ibu.. Ibu, apa yang ingin Ibu lakukan?”
Yuna menarik lengan Ny.Dania dan langsung membuat wanita itu memutar mata padanya.
“Maaf Bu, tapi.. Ibu, jangan melakukannya..”
“Aku yang akan memperingatkan kakakmu atau kau yang mengatakan padanya kebenaran status pertunanganmu dan Azka.. Kau bisa memilih salah satu diantaranya..”
Ny.Dania memperingatkan, namun Yuna merasa keduanya bukanlah sesuatu yang tepat untuk dilakukan sekarang.
“Ibu.. Apa Ibu tidak ingin mendengar ceritaku dihari pertamaku masuk universitas?”
“Jangan coba mengalihkan pembicaraan, Yuna..”
“Tapi aku tidak sedang mengalihkan pembicaraan.. Aku benar-benar ingin Ibu mendengarku. Aku masih tidak mungkin berbagi cerita dengan Kak Yuri. Jadi siapa lagi kalau bukan Ibu yang mau mendengar ceritaku. Aku hanya memiliki ini dirumah ini yang bisa mengerti keadaanku..”
Yuna sedikit melirik pada Ny.Dania untuk melihat bagaimana reaksi wanita itu. Luluhkah dia oleh karna apa yang dikatakannya?
Oh, semoga saja..
“Dan juga, saat ini aku masih tidak bisa memilih salah satu dari kedua hal yang Ibu sebutkan tadi. Maaf..”
Yuna menundukkan wajahnya seolah pasrah pada apa yang selanjutnya akan diputuskan oleh Ibu Azka.
“Kalau begitu, ayo ke kamar ku dan kau bisa bercerita disana, sekalian aku ingin menunjukkan padamu beberapa pakaian yang kubeli untuk kau kenakan saat pergi mengikuti kelas.”
Jika pun bisa, ia sudah pasti akan bersorak saat itu juga. Namun ia menahan diri dengan hanya mengangguk dan sedikit menarik senyum dibibirnya..
“Tapi bagaimana dengan Bapak? bukankah..”
“tenang saja.. Ayah Azka sedang memiliki janji diluar. Dia belum pulang. Ayo..”
Yuna akhirnya mengikuti Ny.Dania masuk kedalam kamarnya dan menemukan Bibi yang yang juga berada didalam kamar itu. Terlihat sedang menyusun pakaian-pakaian dan memasukkannya kedalam lemari.
“Bibi..”
Yuna tersenyum kemudian menghampirinya, memeluk tubuhnya dan memberikan ciuman dipipinya.
“Aku merindukan bibi.. Beberapa hari sepertinya aku tak melihat Bibi, apa Bibi sakit?”
Bibi Lia tersenyum untuk menghilangkan gurat kekahawatiran yang sedang ditunjukkan oleh Yuna diwajahnya.
“Tidak Yuna.. Kau lah yang terlalu sibuk. Hingga berada dirumah yang sama kita justru jarang saling menyapa..”
“Nyonya memberiku banyak kegiatan, bibi..”
Bisiknya lirih dan membuat bibi Lia tersenyum mendengarnya..
“Tapi terkadang dimalam hari aku memeriksa bibi dikamar.. aku melihatmu yang sudah tertidur dan aku tak ingin mengganggumu beristirahat”
“Oh, benarkah?”
Yuna tersenyum dan mengangguk..
“Kau benar-benar gadis yang manis sayang.. Nyonya bilang kau sudah masuk universitas?”
“Iya.. Dan aku sangat senang berada disana..”
“Aku ikut senang mendengarnya.. Kau gadis yang baik, Yuna. Sudah sepantasnya kau juga mendapatkan hal-hal yang baik dalam hidupmu..”
Bibi Lia menyentuh wajahnya dan mengusap pada pipinya.
“Terimakasih Bibi..”
“Sudah cukupkah kalian melepaskan rindu? Cepatlah kemari dan lihatlah pakaian-pakaian ini..”
Suara Ny.Dania yang berada tak jauh dari mereka, tepatnya berada disamping tempat tidurnya dengan tumpukan pakaian yang berada diatasnya, membuat Yuna dan Bibi Lia, saling mengangkat bahu masing-masing.
“Cepatlah kesana, sudah sejak tadi nyonya uring-uringan menunggumu yang tak pulang-pulang.”
Yuna sempat terkikik mendengar apa yang dikatakan sang Bibi, sebelum kemudian melangkah mendekati Ny.Dania yang sedang memilih beberapa pakaian dan kemudian mengepas ditubuhnya.
Sambil mencoba pakaian-pakaian itu, Yuna menceritakan apa yang tadi dilakukannya dihari pertamanya berada dikampus, termasuk dengan pandangan para penghuni kampus itu dengan keberadaannya disana.
“Aku sudah menduganya akan terjadi hal seperti itu.. Karna itu kau tidak boleh tampil sembarangan, Yuna. Jangan mempermalukan Azka dengan tampilan yang biasa dan terutama jangan mempermalukan ku. Karna itu aku sengaja menyiapkan semua ini untukmu..”
Sementara Yuna memberengut dengan tanggapan Ny.Dania yang berlebihan, dan menjadi tahu darimana asalnya gen ‘berlebihan’ milik Azka itu berasal. Darimana lagi kalau bukan keturunan dari ibunya.
Ny.Dania justru semakin bersemangat mempersiapkan kostum-kostumnya.
Kostum?
Astaga..
Yuna bahkan tak percaya ia baru saja menyebut pakaian-pakaian yang berjejer diatas tempat tidur itu sebagai kostum.
Bagaimana tidak, Ny.Dania memang terlihat sedang melakukannya. Ia mengepas pakaian itu mulai dari yang akan dikenakannya besok pagi, hingga setidaknya untuk tujuh hari ke depan.
Oh, Ya ampun..
Yuna benar-benar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala heran melihatnya.
Bagaimana ia akan memberitahu Yuri bila sikap ibu Azka seperti ingin membuka semuanya kehadapan oenni nya.
“Oh, Yuna.. Kau masih belum menceritakan, bagaimana perayaan yang kau lakukan bersama Azka? Apakah itu menyenangkan?”
“Iya? Jadi Ibu mengetahuinya?”
“Tentu saja.. Jadi bagaimana?”
Yuna lantas menceritakan apa yang tadi dilakukannya. Beberapa jam yang dihabiskannya bersama dengan Husna dan Siska, yang kemudian mendapat komentar sedikit tidak menyenangkan dari Ny.Dania yang masih tidak menyukai kedua temannya itu.
Namun kemudian Yuna berhasil membuat wanita itu tertawa ketika ia menceritakan bagian dimana ia melakukan kencan bersama dengan Azka. Bahkan bibi Lia, yang ternyata ikut mendengarkan ceritanya masih dengan melakukan pekerjaannya saat itu juga ikut tersenyum mendengarnya.
“Ya Tuhan.. Aku tidak percaya kau membuat Azka melakukannya, Yuna..”
“Keahlianku adalah merayunya, tapi Pa.. emm, Mas Azka hanya dengan satu kedipan mata dia akan melakukan yang kuinginkan”
Ny.Dania kembali tertawa mendengarnya. Kehadiran Yuna benar-benar telah memberi warna dalam hari-harinya yang biasanya sepi dan membosankan andai ia tak menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang dihabiskannya bersama teman-temannya diluar. Tapi setelah merasakan memiliki kedekatan dengan gadis itu, Ny.Dania merasa ia tidak akan pernah merasa bosan selama Yuna bersama dengannya. Entah sikap ceria, keras kepala atau sikap menjengkelkan yang dimilikinya, yang seringkali membuatnya harus mengomeli Yuna, tapi nyatanya gadis itu telah menjadi istimewa dalam hatinya.
***
to be continue