At First Sight

At First Sight
Episode 32



Setelah penggalangan dana pada acara amal itu usai, mereka yang hadir mendapatkan jamuan makan bersama. Entah oleh karna kegugupan menghadapi tatapan orang-orang yang tak henti mengawasinya atau karna seorang Jessica yang menunjukkan dominasinya diantara para gadis yang hadir, dengan terus berusaha mengintimidasinya, baik dengan ucapan ataupun tatapan tajam kearahnya, Yuna sampai dua kali menjatuhkan peralatan makannya. Membuat Ny.Dania memelototi dirinya. Dan beberapa gadis yang melihat menertawai, diantaranya Jessica dan Tania yang cekikikan karenanya.


Yuna merasa bodoh..


Dan telah mempermalukan ibu Azka diantara teman-temannya yang ada disana.


“Ibu.. Aku perlu untuk ke toilet sebentar”


Jessica melebarkan mata mendengar bagaimana cara Yuna memanggil pada Ny.Dania. Kecemburuan melandanya, seharusnya dirinyalah yang berada diposisi Yuna.


Andai pada malam itu gadis itu tidak mengacaukannya.


“Hm, cepatlah.. Kita akan pulang setelahnya”


Yuna mengangguk dan kemudian beranjak dari kursi yang didudukinya. Bertanya pada seorang pelayan yang ditemuinya, yang kemudian menunjukkan padanya dimana letak toilet disana.


Yuna bisa merasakan bernapas dengan lega ketika telah berada didalamnya. Sedari tadi Ia seakan menahan napas saat berada dibawah tatapan mata orang-orang yang dengan jelas sedang mencibir dirinya. Andaipun tidak ada Ibu Azka yang bersamanya, mungkin mereka akan lebih terang-terangan untuk menyuarakan penghinaan terhadapnya.


Tak terkecuali Jessica, wanita itu kerap kali melontarkan kata-kata tajam, berupa sindiran yang sudah pasti ditujukan untuknya.


Mendadak, Yoona merasakan kedua matanya memanas. Kesedihan menelusup, Ia sangat ingin menangis saat itu.


Tertekan oleh keadaan disekitarnya. Tempat itu bukanlah tempatnya. Ia tidak cocok berada disana. Diantara orang-orang kaya sombong itu, yang memandang mereka yang lain hanya dari apa yang mereka miliki, dari seberapa banyak perhiasan yang menempel ditubuhnya.


Menghirup dan menghembuskan napasnya berkali-kali sambil menatap dirinya pada cermin yang berada didalam toilet itu, Yuna berbicara pada dirinya sendiri. Berusaha untuk menguatkan hatinya. Hari itu pasti akan kembali bisa dilaluinya.


“Apa kau sedang menyadari ketidak pantasanmu berada disini..”


Tak perlu membalikkan tubuhnya, dari cermin yang berada dihadapannya, Yuna sudah bisa mengetahui siapa yang saat itu bersuara dibelakangnya. Jessica, wanita itu melangkah angkuh mendekatinya.


“Tidak ada seorangpun wanita jalang disini..”


Yuna membalikkan tubuhnya, berniat untuk keluar dari dalam toilet itu namun Sica dengan jelas menghadang dengan berdiri didepannya.


“Sangat tidak pantas.. Kau masih memakai sebuah gaun tua?”


Jessica mencibir pada apa yang saat itu dikenakannya. Dibandingkan dengan tampilannya yang wah, dengan satu set berlian yang berkilau ditubuhnya, apa yang dikenakan oleh Yuna jelaslah tidak ada apa-apa nya.


“Ini gaun milik Ibunya Azka, milik Ibu tunanganku..”


Dengan sengaja Yuna menegaskan. Bertujuan untuk memanas-manasi wanita itu. Sudah cukup Ia menahan kekesalannya tadi. Saat Jessica menyebutnya jalang, Ia merasa wanita itu telah melewati batas.


“Aku menghargai pemberiannya dan dengan senang hati mengenakannya. Ibu bahkan memujiku cantik. Gaun Ini tidak buruk.. Setidaknya tidak terlalu buruk dibanding dengan kelakuan gadis ningrat sepertimu. Sikapmu jauh lebih tidak pantas, nona..!”


“Kurang ajar..!!”


Jessica meradang mendengar apa yang dikatakan Yuna. Ia dengan cepat menyiramkan segelas anggur merah ditangannya kearah wajah Yuna. Membuat Yuna cukup terkesiap. Gaun sewarna bunga tulip yang dikenakannya, kini bernoda merah dibagian depannya.


Wanita itu membawa segelas anggur kedalam toilet..


Jelas dia telah merencanakan hal itu dalam kepalanya.


“Tutup mulutmu..! Wanita murahan sepertimu tidak berhak menilai sikapku.. Aku memiliki sebab atas apa yang kulakukan. Kau jalang yang telah merebut tunanganku! Sialan..”


Jessica telah mengangkat tangannya, bersiap untuk memberikan tamparan pada Yuna, namun tak disangka olehnya bila kemudian Yuna bergerak menangkap tangannya..


“Jika seorang pria tidak menginginkanmu.. Kau tidak berhak menyalahkan wanita lain yang diinginkannya.. Azka menginginkanku dan bukan kau!!”


Statusnya sebagai tunangan Azka, sedikit banyak menguntungkan bagi Yuna untuk mengatakan apapun yang ingin dikatakannya pada Jessica. Dan membuat wanita itu merasakan kekesalan yang sama seperti yang telah dirasakannya.


“Azka menginginkanku.. Dia jelas menginginkan ku untuk bertunangan dengannya.. Tapi kau mengacaukannya! Malam itu kau pasti telah menggodanya..”


“Bukan hanya malam itu yang kumiliki bersama dengan Azka.. Kau lupa jika Aku sekretarisnya? Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan Azka didalam kantornya..”


Yuna seakan tak perduli dengan apa yang baru dikatakannya pada Sica. wanita itu sudah menilainya buruk sejak dia memergokinya berada dibawah tubuh Azka yang menindihnya. Maka Ia tak lagi memperdulikan bagaimana Jessica akan melihatnya setelah itu.


“Dan seharusnya kau bersyukur karna kejadian itu pertunangan kalian batal. Bukan aku tak kasihan padamu.. Hanya saja, Kau pasti akan jauh lebih kecewa bila setelah pertunangan kalian Azka masih terus mencariku, dan berselingkuh dibelakangmu. Kebanyakan pria menyukai gadis yang lebih muda kan? yang hanya memberinya kepuasan, kenikmatan dan tidak menuntutnya macam-macam. Seorang pria seperti Azka tidak suka dikekang, apalagi terikat oleh suatu hubungan..”


Yuna menunjukkan senyum mengejek dihadapan Jessica. Ia sendiri tak mengerti darimana kalimat yang dengan lancar terucap dari bibirnya itu berasal. Ingin menunjukkan bahwa dirinya bukanlah seseorang yang bisa untuk diremehkan mungkinlah yang menjadi penyebab dengan mudah kalimat itu terangkai hingga terucap dengan lantang.


Merasa telah cukup untuk mengatakan hal yang bisa untuk menyakiti wanita itu, Yuna memutuskan untuk meninggalkannya disana, namun selangkah Ia melewati tubuh Jessica, wanita itu menarik rambutnya, membuat Yuna menjerit merasakan sakit pada kulit kepalanya akibat tarikan kuat yang dilakukan Jessica pada rambutnya.


“Dasar jalang sialan..!”


Jessica mengamuk, seakan telah kehilangan darah yang mengalir ditubuhnya sebagai wanita ningrat yang pantang berlaku onar apalagi bertindak anarkis. Apa yang dikatakan Yuna menyulut emosinya semakin naik.


“Kau lah yang sialan.. Kau hanyalah bekas calon tunangan..!”


Yuna membalas dan keributan tak terelakkan terjadi. Suara jerit menjerit terdengar ketika Yuna tak tinggal diam dan pasrah, namun membalas perlakukan Jessica dengan sama menjambak rambutnya.


Sontak suara dari dalam toilet itu menarik perhatian orang-orang yang mendengarnya, terlebih seorang pelayan berlarian memberitahukan sedang terjadi keributan disana.


Ny.Dania langsung teringat bila Yuna berada didalam toilet itu. Dan mungkinkah..?


Ya Tuhan..


Dengan cepat kemudian Ny.Dania mencoba mencari tahu, melihat apa yang terjadi didalam toilet itu. Bukan hanya Ny.Dania saja yang dibuat penasaran dengan keributan macam apa yang telah menimbulkan suara jerit menjerit itu terdengar kencang.


“YUNA.. YA TUHAN..!!”


Ny.Dania memekik, mendapati dua orang yang sama-sama bergulingan dilantai sambil tarik menarik rambut itu, salah satunya adalah Yuna.


“Apa yang kau lakukan! Ya Tuhan.. Kenapa kau tak bisa menjaga kelakuanmu..!”


Segera Ny.Dania menghentikan perkelahian yang menjadi tontonan gratis teman-temannya itu dengan menarik tangan Yuna hingga kemudian berdiri disampingnya.


“Ibu..”


Dengan napasnya yang masih menderu tak teratur, Yuna menangkap nyata kemarahan dari Ny.Dania atas apa yang baru saja terjadi.


Sica juga lantas berdiri, dengan rambut pirangnya yang acak-acakan, Ia menatap Yuna dengan penuh kemarahan.


“Oh, Jessi.. Apa yang terjadi sayang..? ya Tuhan.. Siapa yang membuatmu seperti ini?”


Ibu Jessica muncul ditengah keramaian kerumunan orang-orang yang melihat, dan menghampiri sang putri dengan mata melebar.


“Apa gadis itu yang telah melakukan ini padamu?”


Jessica mengangguk dengan mata masih tak lepas menatap pada Yuna.


“Astaga..! Siapa yang memasukkan gadis liar seperti itu kemari.. Hah? Kau yang membawanya..?”


Ibu Jessica bertemu tatap dengan Ny.Dania yang kemudian menjawab..


“Ya.. Aku yang membawanya.. Sri Rahayu yang mengundangku untuk mengajak tunangan putraku..”


“Tapi aku tidak mengundangnya untuk membuat keributan pada acara yang diselengagarakan suamiku. Aku tidak menyangka gadis itu akan melakukannya..”


Ny.Sri berkomentar membuat Ny.Dania melotot tajam mendengar apa yang dikatakannya. Pasti telah terjadi persengkongkolan antara wanita itu dengan ibu Jessica. Seperti itu yang diduganya.


“Oh, Jadi seperti ini kelakuan tunangan putramu yang kau banggakan itu?”


“Jauh lebih bijak jika Kau terlebih dulu menanyakan apa yang sebelumnya telah terjadi. Jangan langsung menyalahkan Yuna atas kejadian ini..”


“Begitukah? Aku yakin semua orang telah mengetahui siapa putriku.. Jessica tak sekalipun pernah melakukan keributan. Putriku adalah wanita terhormat.. Tidak seperti gadis liar itu! Pelacur kecil yang telah kau jadikan tunangan putramu! Benar-benar memalukan..!”


Ny.Dania tak dapat mencegah tangannya untuk tidak melakukan tamparan pada ibu Jessica setelah apa yang dikatakannya. Ia bukan bertujuan untuk membela Yuna melainkan membela harga diri putranya.


“Aku sudah memperingatkan untuk menjaga apa yang kau ucapkan..! Dia tunangan putraku.. Dan bukanlah pelacur nya..!”


Kesal dan marah, Ny.Dania lantas menarik tangan Yuna. Meninggalkan Ibu Jessica yang telah menjadi sama seperti putrinya, kehilangan darah ningratnya. Wanita itu mengeluarkan makian pada Ny.Dania dan juga Yuna yang telah berlalu dari hadapannya.


***


to be continue


Like and comment please.... biar author semangat up tiap hari... 😘