
“Apa yang sedang kau lakukan disini? Kupikir kau mengatakan akan mengambil air minum untuk Kak Yuri..”
“Ah, iya nona.. Saya, saya hanya sedang menerima telpon tadi. Maafkan saya nona..”
“Oh, siapa? Apakah tadi itu kekasihmu yang menelpon?”
Jena hanya menunjukkan cengiran sambil menggaruk tengkuknya.
“Bukan, nona.. Hanya seorang teman sekaligus senior”
Yuna bergumam ‘Oh’ sambil mengangguk paham.
“Kalau begitu saya permisi, nona. Saya akan langsung mengantarkan apa yang nona Yuri inginkan ke kamarnya”
“Baiklah, dan tolong jagalah kakak ku sebentar. Aku ingin menemui Bibi Lia..”
Jena mengangguk dan kemudian meninggalkannya. Yuna pun lantas meneruskan langkahnya. Ia berjalan menuju kamar Bibi Lia. Dan tepat pada saat ia ingin mengetuk pintu kamar itu yang tertutup, Ny.Dania lebih dulu keluar dari dalamnya.
“Ibu..”
Gumamnya sambil menundukkan wajahnya..
“Kita perlu berbicara, Yuna..”
“Iya, Bu. Tapi terlebih dulu ijinkan aku untuk menemui Bibi Lia..”
Yuna mengabaikan decakan Ny.Dania saat dirinya kemudian membuka pintu dan masuk kedalam kamar Bibi Lia.
Didalamnya sang Bibi sedang berbaring miring diatas tempat tidurnya.
“Bibi..”
Baru setelah Yuna berada dekat disisi tempat tidur itu, ia dapat mendengar isak tangisnya dan sekaligus melihat airmata yang membasahi wajahnya. Bibi Lia bahkan tengah mendekap pigura poto Doni dengan kedua tangannya.
“Bibi..”
Bibi Lia menoleh kearah Yuna begitu menyadari gadis itu telah mendudukkan tubuhnya dipinggir tempat tidurnya.
“Maafkan atas sikap Kak Yuri, bibi.. Aku juga bingung mengapa kakak seperti tidak mengenali Bibi. Tapi aku mungkin bisa sedikit menceritakan sesuatu pada Bibi”
Bibi Lia lantas bergerak mendudukkan tubuhnya menjadi berhadapan dengan Yuna.
“Aku begitu sedih melihat keadaan kakakmu, Yuna. Apakah dia seperti itu karna dia marah padaku? Apakah dia marah karna pada saat itu Doni menjemputnya? Karna kemudian dia mengalami kecelakaan itu yang mematahkan kakinya dan membuatnya tidak bisa berjalan seperti sekarang ini. Tapi Doni, dia sudah..”
Yuna menggeleng, meraih tangan Bibi Lia dan menghentikan apa yang dikatakannya.
Ya Tuhan..
Tapi bagaimana dia harus menjelaskannya.
Karna pada kenyataannya sang kakak lebih dari sekedar marah terhadap Doni. Karna sang kakak bahkan sampai mengalami depresi karna ulah Doni yang begitu tega.
“Tidak Bibi.. Tidak seperti itu. Tapi Kak Yuri memang mengalami sebuah trauma akibat dari kecelakaan itu..”
Jika Yuna jujur menjelaskan ia pasti akan menambahkan mengenai kejadian sebelum kecelakaan itu. Tapi bersama dengan Azka, Ia telah memutuskan untuk merahasiakan semua itu. Maka kemudian Yuna hanya menggulirkan cerita dari akibat kecelakaan itu yang menyisakan trauma bagi Yuri.
Yuna mengatakan awalnya Yuri juga seperti tidak mengenal dirinya sebagai adiknya. Itu terjadi bila Yuri tiba-tiba terjaga dari tidurnya karna mimpi buruk yang mungkin dialaminya. Yuri menjadi tidak bisa ditangani, kecuali oleh Azka.
Ya..
Yuna juga lantas menceritakan mengenai ketergantungan sang kakak terhadap kehadiran Azka.
Maka kemudian kisahnya bergulir pada keputusannya untuk merahasiakan pertunangannya dengan Azka, sampai pada akhir permintaannya yang menginginkan sang Bibi untuk juga tidak mengatakan fakta itu pada kakaknya.
“Tapi bukankah pada saat Yuri berada diluar negri, kau sudah mengatakan mengenai pertunanganmu dan Azka?”
Yuna sedikit tak menyangka Bibi Lia akan mengingat hal itu, dan membuatnya menjadi gelagapan ketika memberikan jawabannya.
“itu, emm.. Iya Bibi, aku memang mengatakannya. Tapi Kak Yuri, sepertinya dia melupakan bagian itu. Ya, Kak Yuri pasti lupa aku pernah menceritakan itu padanya”
Bibi Lia menghembuskan napasnya dengan berat saat kemudian tangannya meremas dan menggenggam erat tangan Yoona.
“Aku mengerti apa yang kau rasakan, Yuna. Dan tentu saja aku akan membantumu untuk kesembuhan Yuri.. Aku bisa mengerti keadaannya sekarang”
Yuna merasakan airmata membasahi wajahnya saat kemudian ia memeluk sang Bibi.
“Terimakasih Bibi, terimakasih..”
Pada akhirnya Ia memang terpaksa menyeret orang-orang disekitarnya kedalam lingkaran kebohongan yang diciptakannya.
Demi kakaknya..
Demi Yuri..
Ia hanya berharap kedepannya semua akan menjadi baik-baik saja. Dan Yuri dapat segera disembuhkan.
***
Tn.Rian merasa begitu terkejut mendengar suara pintu kamarnya yang dibanting dengan begitu keras, dan ketika kemudian ia menhak, mengalihkan perhatiannya dari sebuah surat kabar yang belum habis ia baca. Tn.Rian langsung dapat melihat sang istri yang masuk kedalam kamar itu dengan wajah memerah karna kesal dan bibirnya yang menggumamkan kata-kata tak jelas.
“Sejak kapan kau memiliki kebiasaan membanting pintu seperti itu?”
Karna sebenarnya, kejadian semacam itu telah terjadi untuk yang ketiga kalinya dihari itu.
Tn.Rian lantas hanya menggelengkan kepalanya dan kembali pada surat kabar yang dibacanya, saat setelah melihat yang dilakukan oleh sang istri hanyalah mondar-mandir tak jauh dari depannya dan mengabaikan ucapannya.
“Apa dia akan seharian berada didalam kamar itu, keterlaluan..!”
Ny.Dania masih terus bersungut-sungut, entah siapa yang telah membuatnya kesal saat itu.
“Gadis itu benar-benar kelewatan, tidak cukupkah berhari-hari dia sudah berada dirumah sakit dan mengabaikan apa yang masih seharusnya ia kerjakan... Pa”
Ny.Dania lantas mendekat, duduk disofa love seat disamping suaminya yang kini tak bergeming dari surat kabar ditangannya.
“Papa..”
“Hmm..”
“Bukankah Yuna sudah keterlaluan. Kau tahu apa yang dia lakukan?”
“Apa yang Yuna lakukan?”
Tanya Tn.Rian mencoba menanggapi, meski pandangannya masih tak lepas dari surat kabar ditangannya yang kemudian membalik beberapa halamannya.
“Dia menyuruh Jena untuk memindahkan beberapa pakaiannya kekamar kakaknya”
“Oh ya.. Kenapa seperti itu? Ah, itu pasti karna dia ingin selalu menjaga kakaknya dan juga alasan yang dia katakan tinggal dirumah ini untuk bekerja tentulah juga menjadi pertimbangannya. Kakaknya akan mencurigainya bila dia menempati kamarnya..”
Ny.Dania mendesah mendengar pemikiran suaminya.
“Tapi seharusnya dia bertanya dulu padaku..”
“Dia mungkin hanya belum sempat memberitahumu..”
“Ck! Kau mulai membelanya, Pa..”
Ny.Dania beranjak dari samping suaminya, berdiri dan mulai lagi berjalan mondar-mandir.
“Daripada terus-terusan berada dikamar itu bersama kakaknya, bukankah dia bisa menggunakan beberapa menit untuk bicara dan meminta ijin atas tindakannya. Tapi dia tidak melakukan itu. Dia berada dirumah ini, tapi dia bahkan tidak melakukan makan siang bersama kita tadi. Dia membawa makanannya kedalam kamar kakaknya. Apa menurutmu itu sopan? Sebelumnya dia selalu berada dimeja makan bersama kita, tapi tadi..”
“Jadi kau seperti ini hanya karna Yuna?”
“Kau pikir dia pantas bersikap seperti itu?”
Ny.Dania mendesah dan memberengut kesal mengingat kejadian siang tadi ketika dirinya memergoki Jena membawakan nampan berisi makanan itu kedalam kamar yang ditempati Yuri.
Ia telah merasa kesal sejak saat Yuri datang dan Yuna yang mulai mengarang kebohongan didepannya. Ditambah lagi gadis itu mengabaikannya dan lebih memilih menemui Bibi Lia, ketika ia menginginkan untuk berbicara. Lalu yang terakhir adalah ia melihat Jena yang memindahkan beberapa pakaian Yuna. Membuat kekesalannya makin menumpuk terhadap gadis itu.
Tn.Rian yang mendengarnya hanya geleng-geleng kepala. Ia telah mengenal sifat sang istri luar dalam, dan mengerti apa yang sebenarnya dimaksudnya.
“Apa kau mulai merasa kehilangan gadis itu? Kehilangan kesempatan untuk bersama dengannya?”
Ny.Dania memutar mata ketika Tn.Rian sedikit menertawainya..
“Ini bahkan baru hitungan jam Yuna membawa kakaknya kerumah kita, dan kau sudah uring-uringan seperti ini. Daripada sibuk mengawasi Yuna, sebaiknya carilah kesibukan lain. Kau bisa pergi berbelanja dengan teman-temanmu seperti yang biasa kau lakukan, agar kau tidak menjadi stres karna Yuna mengabaikanmu..”
Tn.Rian malah bersusah payah menahan tawa ketika kedua mata sang istri membulat memelototinya.
Merasa sang suami benar-benar dapat membaca pikirannya dan mengetahui apa yang dirasakannya, Ny.Dania kembali mendengus kesal dan kemudian keluar dari dalam kamar itu tanpa mengucapkan kata ataupun kalimat bantahan pada apa yang tadi telah Tn.Rian katakan.
“Ya ampun.. Sepertinya istriku benar-benar telah jatuh hati pada gadis itu.”
***
Yuna baru dapat keluar dari kamar Yuri pada sekitar sore hari. Setelah berbicara dengan Bibi Lia dan kembali menemani Yuri didalam kamarnya, Ia memang tak keluar lagi dari dalam kamar itu karna Yuri memaksanya untuk menceritakan bagaimana bisa kemudian ia bekerja pada Ny.Dania dan tinggal dirumah keluarga Azka.
Hasilnya, Yuna kembali harus memutar otak untuk membuat cerita. Yang sepertinya berhasil, Yuri dapat menerima meski dia terlihat begitu sedih karna harus membiarkan Yuna bekerja.
Baru kemudian, setelah Yuna menemani Yuri untuk makan siang didalam kamarnya, Ia merasa lelah dan tanpa sadar tertidur hingga cukup lama. Saat terbangun, Yuri pun ternyata tengah tertidur disampingnya. Tak ingin membangunkan sang kakak, Yuna memilih untuk meninggalkannya.
Berjalan keluar dari kamar itu, Yuna menuju kehalaman belakang dan justru menemukan Ny.Dania disana. Wanita itu sedang berkebun rupanya..
Pada akhirnya Ny.Dania memang lebih memilih menghabiskan waktu dengan tanaman-tanaman bunga miliknya, ketimbang mengikuti saran sang suami untuk pergi dengan teman-temannya.
“Ibu..”
Yuna tersenyum dan lantas menghampirinya. Tak menyadari Ny.Dania yang memasang wajah kesal dan mengabaikan sapaanya.
“jadi aku menjadi orang terakhir
yang kau datangi?”
Yuna mengerutkan dahi samar, tak mengerti dengan apa yang menjadi maksud dari perkataan Ny.Dania saat itu. Tapi kemudian ia memutuskan untuk mengabaikannya.
“Ibu.. Bisakah aku
membantumu?”
“Ya, kau memang sudah
seharusnya melakukannya.
Bukankah kau memang berada
dirumah ini untuk bekerja padaku..”
Yuna menggigit bibir bawahnya
mendengar kalimat sindiran yang
diucapkan Ny.Dania padanya.
Namun apa yang dilakukannya
kemudian pastilah diluar dugaan
wanita itu, ketika Ny.Dania
berpaling, berbalik memunggungi
Yuna dan menunjukkan ketidak
hirauannya pada kehadiran gadis
itu, Yuna malah memeluk Ny.Dania dari belakang tubuhnya. Membuat Ny.Dania terkejut dan menjatuhkan sebuah gunting pemotong ditangannya.
“Astaga.. Apa yang kau lakukan?”
Ny.Dania mencoba menyentakkan
tangan Yuna dari tubuhnya, namun gadis itu malah semakin erat memeluknya.
“Ibu, terimakasih.. terimakasih
ibu..”
“Kau tahu, aku sedang merasa
kesal padamu..”
“Aku tahu, Ibu..”
“kalau begitu lepaskan aku..”
Yuna menggelengkan kepalanya.
“Aku ingin berterimakasih pada
Ibu..”
“Apa kau berterimakasih karna aku memarahimu?”
Tidak..
Sedikit banyak Yuna telah mulai
memahami watak wanita itu. Kata-kata kasar dan tajam yang sering terucap dari bibir Ny.Dania tidaklah selalu sama dengan isi hatinya.
Yuna telah merasakan kelembutan hati itu, dan berbagai perhatian yang pernah entah dengan atau tanpa sengaja ditunjukkan Ny.Dania
terhadapnya.
Seperti Bibi Lia yang
menyiapkan kamar untuk Yuri tadi, sebuah kamar yang nyaman, yang dianggapnya lebih dari sekedar layak untuk ditempati.
Yuna yakin hal itu dilakukan pasti atas dasar perintah atau setidaknya persetujuan dari ibu Azka.
“Terimakasih untuk menerimaku
dan Kak Yuri disini.. Terimakasih banyak, Ibu. Aku janji, aku akan menjaga sikapku agar Ibu
tidak merasa kesal lagi padaku..”
Ny.Dania kemudian hanya menghela napasnya. Entah mengapa kekesalan yang sebelumnya
menumpuk didalam hatinya seakan menguar begitu saja setelah mendengar ucapan Yuna tadi.
“Baiklah, pada akhirnya kau
memang membuatku terpaksa harus berpartisipasi dalam
kebohonganmu. Tapi aku minta
padamu, Yuna. Jangan hanya
terpaku pada kepentingan kakakmu. Kau juga tak bisa mengabaikan apa
yang masih harus kau kerjakan.
Kelas kepribadian, kau masih harus menyelesaikannya”
Yuna kembali mengangguk-
anggukkan kepalanya..
“Iya, Bu.. Aku mengerti. Dan
aku akan bersungguh-sungguh
mengerjakan apa yang Ibu
perintahkan. Aku janji..”
Yuna melepaskan pelukannya dan justru dengan berani mencium pada pipi Ny.Dania.
“Terimakasih Ibu.. Aku
menyayangimu..”
Apa yang dilakukan Yuna jelas
membuat Ny.Dania terkejut,
sekaligus merasa kalimat sayang
yang diucapkan gadis itu padanya dapat dengan cepat membuat hatinya menghangat.
“Jadi, Ibu.. Apakah aku boleh
membantumu dengan memotong
rumput-rumput liar itu?”
Namun Yuna tidak menunggu
persetujuan dari Ny.Dania ketika
kemudian Ia mengambil gunting
pemotong yang tadi terjatuh, dan
memulai melakukan apa yang ingin dikerjakannya.
Tak perlu menunggu beberapa lama sampai kemudian keduanya terlibat kedalam obrolan-obrolan ringan ditengah kegiatan berkebun yang mereka lakukan.
Tn.Rian yang mengetahui hal itu, hanya mengamati dan ikut
tersenyum melihat sang istri yang
sebelumnya berwajah kesal, kini
justru terus tersenyum dan
beberapa kali tawanya terdengar
saat sedang bersama dengan
Yuna.
***
to be continue